Kamis, 01 Oktober 2026
17:33 WIB
TERKINI
Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti
Koteka

Koteka

Bagikan:
250px-Koteka.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Koteka

Koteka adalah pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki dalam budaya sebagian penduduk asli Pulau Papua. Kata koteka sendiri berasal dari bahasa mee yang berarti pakaian, dalam bahasa dani disebut holim.[1] Koteka terbuat dari kulit labu atau juga bisa terbuat dari moncong burung khawil atau taun-taun (Rhyticeros plicatus),[2] yang dalam bahasa korowai disebut khawisip. Mulut burung taun-taun ini dapat diperoleh dengan cara berburu, sedangkan labu air (lagenaria siceraria) ini ditanam dan diproses sehingga berbentuk yang dinamakan koteka yang digunakan oleh kaum laki-laki.

Bagi masyarakat Hubula (Dani) di Lembah Baliem, bentuk holim berkaitan dengan status pemakainya. Koteka dengan ujung melengkung ke depan (kolo) dipakai oleh Ap Kain (pemimpin konfederasi), koteka yang melengkung ke samping (haliag) dipakai golongan menengah seperti Ap Menteg (panglima perang) atau Ap Ubalik (tabib atau pemimpin adat). Sedangkan koteka yang bentuknya tegak lurus digunakan oleh masyarakat biasa.[1]

Namun, setiap suku memiliki perbedaan bentuk koteka. Orang suku Yali, misalnya, menyukai bentuk labu yang panjang untuk humi mereka.[3] Sedangkan orang Lani di Tiom biasanya memakai dua labu untuk membentuk kobeba.

Operasi Koteka

Artikel utama: Operasi Koteka

Sejak 1950-an, para misionaris mengampanyekan penggunaan celana pendek sebagai pengganti koteka. Ini tidak mudah. Suku Dani di Lembah Baliem saat itu kadang-kadang mengenakan celana, tetapi tetap mempertahankan koteka.

Pemerintah RI sejak 1960-an pun berupaya mengurangi pemakaian koteka. Melalui para gubernur, sejak Frans Kaisiepo pada 1964, kampanye antikoteka digelar.[4]

Pada 1971, dikenal istilah "operasi koteka" dengan membagi-bagikan pakaian kepada penduduk. Akan tetapi karena tidak ada sabun, pakaian itu akhirnya tak pernah dicuci. Pada akhirnya warga Papua malah terserang penyakit kulit.

Walau seiring waktu, koteka semakin kurang populer dipakai sehari-hari. Pada tahun 2019 diperkirakan hanya 10% dari penduduk pegunungan (sekarang Papua Tengah dan Papua Pegunungan) yang menggunakan koteka,[5] dan penggunaannya lebih sering dalam upacara adat atau sebagai cendera mata.[6]

Galeri

  • Dua orang suku Hubula memakai holim
    Dua orang suku Hubula memakai holim
  • Koteka asli suku Mee diikat dengan tali anggrek
    Koteka asli suku Mee diikat dengan tali anggrek
  • Humi suku Yali diikat dengan tali rotan
    Humi suku Yali diikat dengan tali rotan
  • Kobeba milik suku Lani
    Kobeba milik suku Lani

Referensi

  1. 1 2 Sitompul, Oleh Martin (2017-07-04). "Ada Apa dengan Koteka". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. Diakses tanggal 2024-06-08.
  2. ↑ "Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat". jurnalarkeologipapua.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2022-02-08.
  3. ↑ Suroto, Hari (2021-01-03). "Fakta-fakta Koteka dan Rok Rumput Khas Suku Yali di Papua". detikTravel. Diakses tanggal 2023-02-04.
  4. ↑ Wiryono, Singgih. Asril, Sabrina (ed.). "Masa Kelam Koteka Era Orba, Warga Papua Dirazia dan Dipaksa Pakai Celana Pendek". Kompas.com. Diakses tanggal 2020-02-27.
  5. ↑ Tim detikcom (2019-08-06). "Anggota DPRD di Papua 2019-2024 Diminta Pakai Koteka Saat Pelantikan". detiknews. Diakses tanggal 2024-06-08.
  6. ↑ Wargadiredja, Arzia Tivany (2019-08-07). "Koteka Terancam Punah, Muncul Gerakan Mahasiswa Papua Memakainya di Kampus". VICE. Diakses tanggal 2024-06-08.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan