Kamis, 24 September 2026
22:52 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum
Operasi Koteka

Operasi Koteka

250px-Koteka.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Koteka

Operasi Koteka adalah sebuah operasi yang dilancarkan oleh pemerintahan Orde Baru di Indonesia pada tahun 1971-1972 dengan tujuan untuk menghapuskan penggunaan koteka (penutup kelamin laki-laki) di kalangan masyarakat Papua dan menggantikannya dengan celana dan baju yang dianggap lebih "modern". Kampanye antikoteka ini dicanangkan pada masa Gubernur Frans Kaisiepo.[1]

Petugas-petugas yang terlibat dalam Operasi Koteka terbagi menjadi tim yang ditugaskan di berbagai tempat di dataran tinggi Papua dan Lembah Baliem. Upaya penghapusan koteka dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan. Beberapa tindakan yang menjadi bagian dari Operasi Koteka meliputi pengenalan praktik pertanian dan peternakan yang baru beserta tanaman baru dan pemakaian baju. Penghapusan koteka dijadwalkan akan diwujudkan dalam kurun waktu dua tahun.[2]

Menurut Larry L. Naylor, Operasi Koteka adalah "contoh klasik ketika agen dari luar memaksakan perubahan terhadap suatu kelompok meskipun [agen luar tersebut] tidak memiliki pemahaman yang cukup [mengenai kelompok tersebut]."[3]

Kegagalan

Operasi Koteka mengalami kegagalan. Masyarakat Papua tidak beralih dari tradisi pemakaian koteka. Selain itu, operasi ini malah menimbulkan masalah. Masyarakat Papua pada saat itu tidak memiliki sabun dan tidak mengetahui cara menjaga kebersihan pakaian, sehingga baju dan celana yang belum dicuci mengakibatkan penyakit kulit. Selain itu, dilaporkan terdapat orang Papua yang menjadikan celana sebagai topi, sementara para wanita memanfaatkan pakaian sebagai tas.[4]

Larry L. Naylor menjelaskan bahwa pakaian harus dibeli dan dirawat, sehingga membutuhkan uang, padahal masyarakat tradisional Papua pada saat itu tidak memiliki akses ke pasar ataupun uang. Oleh sebab itu, pengenalan penggunaan pakaian dianggap sebagai suatu hal yang tidak dapat diadopsi oleh masyarakat tradisional Papua pada saat itu.[5] Selain itu, pengenalan praktik pertanian dan peternakan yang baru juga gagal karena tidak ada rencana untuk mendorong penerimaan jenis makanan yang baru oleh masyarakat Papua. Tanaman baru malah lebih menguntungkan pendatang dari pulau lain. Selain itu, daerah masyarakat Papua saat itu terpencil dan tidak memiliki akses infrastruktur ke pasar, sehingga hasil panen dari Papua tidak dapat bersaing dengan daerah lain.[3]

Catatan kaki

  1. Ama, Kornelis Kewa (25 Februari 2005). "Koteka, antara Identitas Diri dan Kemajuan Masyarakat Papua". Kompas. hlm. 29. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-12-15. Diakses tanggal 13 Desember 2020.
  2. Naylor 1996, hlm. 116-117.
  3. 1 2 Naylor 1996, hlm. 117.
  4. "Cover up.(modernization programs in Iran Jaya province in Indonesia)". The Economist (US). 29 Juli 1995. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-11-05.
  5. Naylor 1996, hlm. 116.

Daftar pustaka

  • Naylor, Larry L. (1996), Culture and Change: An Introduction, Greenwood Publishing Group, ISBN 9780897894647
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan