Sabtu, 17 Oktober 2026
23:36 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Kongkang jeram

Kongkang jeram

Bagikan:
Kongkang jeram
250px-Huia_masonii_060615_jbti.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
W. masonii
Nama binomial
Wijayarana masonii
(Boulenger, 1884)
Sinonim

Huia javana Yang, 1991

Artikel takson sembarang

Kongkang jeram adalah nama sejenis kodok dari suku Ranidae. Nama ilmiahnya adalah Wijayarana masonii Boulenger, 1884; diberikan untuk mengenang Mason, seorang naturalis Inggris. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Javan torrent-frog (Iskandar, 1998).

Pemerian

250px-Huia_masonii_060615_7264_jbti.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kongkang jeram

Kodok yang bertubuh sedang dan ramping, panjang tubuh antara 30–50 mm SVL (snout-to-vent length, dari ujung moncong hingga ke anus). Kodok jantan lebih kecil dari kodok betina. Kaki kurus dan sangat panjang, mengingatkan pada kaki belakang belalang.

Sisi dorsal (punggung) kecoklatan atau coklat hijau zaitun, sering dengan bercak-bercak berwarna gelap atau terang. Kulit punggung halus. Lipatan dorsolateral tidak begitu jelas, terputus-putus, dan berbintik-bintik gelap atau hitam. Satu pita hitam berjalan dari depan mata ke belakangnya di sekitar timpanum (gendang telinga) sampai ke bahu. Sisi luar tangan dan kaki dengan belang-belang gelap atau kehitaman. Sisi ventral (perut) berwarna putih.

Bibir bergaris-garis samar. Timpanum berwarna daging dan melekuk di tengahnya. Jari-jari tangan dan kaki dengan piringan yang melebar.

Kebiasaan dan penyebaran

Kodok ini terutama hidup di sekitar sungai kecil dan anak sungai yang berarus deras di hutan-hutan primer dan sekunder. Aktif di malam hari (nokturnal), kongkang jeram menyukai sungai berbatu-batu dan berair jernih. Kodok jantan menggunakan batu-batu besar atau kayu yang melintang di tengah sungai sebagai tempatnya bertengger dan bersuara memanggil betinanya. Pada saat bulan purnama, jantan tinggal di antara rerumputan di tepi sungai.

Kongkang jeram adalah jenis yang endemik di Jawa. Iskandar (1998) memperlihatkan jenis ini banyak tercatat dari daerah pegunungan, seperti Gunung Salak (Ciapus), G. Gede (Perbawati, Cibodas), G. Halimun (Citalahab), Bandung (Lembang, Maribaya), G. Slamet (Baturraden), G. Ungaran, dan Peg. Tengger. Meskipun spesimen tipe jenis ini tercatat berasal dari Batavia (Jakarta), yang terletak dekat laut.

Kurniati (2003) mengamati di G. Halimun kongkang jeram terutama menyebar antara ketinggian 800-1.000 m dpl., sementara di G. Gede mencapai 2.000 m dpl.

Kodok ini berstatus ‘Rentan’ (Vulnerable) menurut IUCN, karena sebarannya yang terbatas dan habitatnya yang terus menyusut oleh sebab aktivitas manusia.

Rujukan

  • Iskandar, D.T. 1998. Amfibi Jawa dan Bali. Puslitbang Biologi LIPI, Bogor.
  • Iskandar, D. & Mumpuni. 2004. Huia masonii pada IUCN Red List of Threatened Species. Diakses pada 24 Juli 2007.
  • Kurniati, H. 2003. Amphibians and Reptiles of Gunung Halimun National Park, West Java, Indonesia. LIPI, Bogor.

Pranala luar

(Inggris) Amphibian Species of the World 3.0, an Online Reference.


Ikon rintisan

Artikel bertopik hewan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan