Rabu, 30 September 2026
18:08 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh
Khiton

Khiton

pakaian wanita Yunani Kuno

Bagikan:
250px-Young_man_exomis_Musei_Capitolini_MC892.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Patung dengan khiton pendek
250px-AurigaDelfi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Khiton kusir Ionia

Khiton (bahasa Yunani Kuno:χιτών, translit. khitōn) adalah sejenis tunik yang diikatkan di bahu, dikenakan oleh pria dan wanita Yunani Kuno dan Romawi.[1][2] Ada dua jenis utama khiton. Salah satunya adalah khiton Doria dan kemudian khiton Ionia. Menurut Herodotus, legenda terkenal adalah bahwa wanita Athena mulai memakai khiton sebagai lawan dari peplos setelah beberapa wanita menikam seorang utusan sampai mati dengan pin perunggu yang menjadi ciri khas peplos.[3]

Etimologi

250px-Women_fountain_MNA_Inv11117.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dua wanita mengenakan khiton poderes sederhana, tanpa ikat pinggang atau apoptygma (lipatan). Karena tidak memakai himation, jadi disebut monokhiton.

Kata khiton (χιτών) diserap dari *kittan dalam suatu bahasa Semit Tengah (bandingkan כֻּתֹּנֶת kuttṓnĕṯ dalam bahasa Ibrani), kata yang untuk menyebut rami.[4][5]

Berbagai bentuk dan gaya

Versi khiton yang lebih pendek disebut khitoniskos.

Khiton Doria

Khiton Doria adalah satu persegi panjang dari kain wol atau linen. Bisa dipakai polos atau dengan terlipat yang disebut apoptygma, yang lebih umum untuk wanita. Kain ini bisa dibungkus dan diikat di bahu dengan pin (Yunani: peronai;[6] Latin: fibulae) atau menjahit, atau dengan kancing.[7]

Khiton Ionia

Khiton Ionia juga dapat dibuat dari linen atau wol dan dibungkus tanpa lipatan dan ditahan dari leher ke pergelangan tangan dengan beberapa pin atau kancing kecil.

Herodotos menyatakan bahwa pakaian para wanita di Athena diubah dari peplos menjadi Ionic chiton setelah janda dari pria yang terbunuh dalam serangan ke Aigina menikam dan membunuh satu-satunya yang selamat dengan pin peplos mereka, masing-masing menuntut keberadaan suami mereka. Hukuman mati tanpa pengadilan 'terlihat lebih mengerikan daripada bencana'. Setelah itu tunik mereka dipegang dengan kancing, sering ditata dengan wajah Gorgon.

Zoster

Sabuk besar yang disebut zoster dapat dikenakan di atas khiton, biasanya di bawah payudara (""sabuk tinggi") atau atau di sekitar pinggang ("sabuk rendah") atau "zone" atau korset yang lebih sempit dapat digunakan. Panjang khiton lebih besar dari tinggi pemakainya, sehingga kain yang berlebihan ditarik di atas ikat pinggang, seperti blus. Gaya sabuk ganda juga ada. Khiton sering dipakai dalam perpaduan dengan himation yang lebih berat di atasnya, yang berperan sebagai jubah.

Monokhiton

250px-Aurige_back.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sabuk yang dipegang patung Kusir Delfi (tampilan depan di atas).

Saat digunakan sendiri (tanpa himation), khiton disebut monokhiton. Khiton panjang yang mencapai tumit disebut khiton poderes, sedangkan khiton panjang yang menyeret tanah disebut khiton syrtos atau helkekhitōn (ἑλκεχίτων) (secara harfiah berarti "khiton yang menyeret tanah").[8][9] Khiton wanita akan selalu dikenakan sepanjang mata kaki. Pria mengenakan tunik panjang selama periode Arkais, tetapi kemudian memakainya sepanjang lutut, kecuali untuk pekerjaan tertentu seperti pendeta dan kusir, dan juga orang tua.

Bentuk berlengan dikenakan oleh para pendeta dan aktor. Warna atau pola sering menunjukkan status, tetapi bervariasi dari waktu ke waktu. Khiton merupakan pakaian Afrodite karena dianggap sangat feminin, meski pria juga memakainya. Dionysus sering digambarkan memakainya. Khiton juga dipakai oleh orang Romawi setelah abad ke-3 SM. Namun, mereka menyebutnya sebagai tunica. Contoh khiton dapat dilihat, dikenakan oleh para karyatis, di serambi Erekhtheion di Athena. Khiton kusir dapat dilihat pada patung Kusir Delfi (474 SM) pada gambar di samping ini.[10]

Di Sparta, pakaian wanita sederhana dan pendek. Mereka mengenakan peplos Doria, dengan rok berbelahan yang memperlihatkan paha mereka.[11] Peplos Doria terbuat dari bahan wol yang lebih berat daripada yang umum di Ionia, dan diikat di bahu dengan pin.[12] Saat balap lari, gadis-gadis Sparta mengenakan khiton selutut berbahu tunggal yang khas.[13]

Referensi

Catatan kaki

  1. ↑ Wilson, Nigel, ed. (2006). Encyclopedia of Ancient Greece. Psychology Press. hlm. 245–. ISBN 978-0-415-97334-2.
  2. ↑ Radicke, Jan (2022-11-07). 1 tunica – Roman tunica and Greek chiton (dalam bahasa Inggris). De Gruyter. doi:10.1515/9783110711554-017. ISBN 978-3-11-071155-4.
  3. ↑ Garland, p. 144
  4. ↑ "Dress in the International Standard Bible Encyclopedia". International Standard Bible Encyclopedia Online.
  5. ↑ Blinderman, Charles (Januari 1, 1990). BIOLEXICON: A Guide to the Language of Biology. Charles C Thomas Publisher. ISBN 9780398082277 – via Google Books.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ περόνη. Liddell, Henry George; Scott, Robert; A Greek–English Lexicon at the Perseus Project.
  7. ↑ Elderkin, Kate (1928). "Buttons and their Use in Greek Garments". The American Journal of Archaeology. 32 (3): 333–345. JSTOR 497471.
  8. ↑ Autenrieth, Georg (1984). Homeric Dictionary. Duckworth Press. hlm. 330. ISBN 0-7156-1773-7.
  9. ↑ ἑλκεχίτων in Liddell and Scott.
  10. ↑ "Charioteer of Delphi, Museum of Antiquities, Delphi". Usask.ca. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-10-06. Diakses tanggal 2018-04-19.
  11. ↑ Pomeroy 1994, hlm. 36
  12. ↑ Pomeroy 2002, hlm. 134
  13. ↑ Pomeroy 2002, hlm. 31

Daftar pustaka

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Chiton.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan