Minggu, 18 Oktober 2026
21:07 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Kata madya

kosakata bahasa Jawa

Bagikan:

Kata madya atau tembung madya (aksara Jawa: ꦠꦼꦩ꧀ꦧꦸꦁꦩꦢꦾ; sekarang disebut sebagai kata krama madya) adalah kosakata bahasa Jawa yang digunakan dalam bahasa madya. Untuk artinya kini, kata madya adalah kata krama yang disingkat (tidak utuh), oleh karena itu disebut sebagai kata krama madya. Bersama dengan kata krama desa dan kata krama enggon-enggonan, kata madya merupakan kelompok kata krama yang tidak baku.[1] Dahulu, kata madya tidak terbatas hanya untuk kata krama yang disingkat. Kata madya juga mengandung kata-kata utuh dan kata-kata ngoko.[2]

Tidak seperti kata ngoko dan kata krama, kamus-kamus bahasa Jawa biasanya tidak menandai kata madya. Meskipun demikian, beberapa kamus menandainya dengan md atau MD terhadap kata-kata madya.

Contoh

Versi lama

Untuk versi yang lama, kata-kata berikut ini tergolong kata madya: ènten, onten, okèh, ajeng lunga, kula ajeng, ampun, empun, engga, enggih, nika, niki, niku, napa, napaa, nedha nrima, negalé, galé, negalo, galo, negilé, gilé, negilo, gilo, negulo, gulo, ninga, rupiné, kéntun, kéndhut, kriyin, klèntu, kepripun, keng sarira, dika, daweg, deg, turèné, tosé, tasih, tesih, teng, sanèn, senunggal, senunggil, sedanten, siyin, siyèn, sengiyèn, semènten, semonten, samang, mang, wikana, la, mekèten, mekoten, melih, mawon, mengké, mengkèten, dan mengkoten.[2]

Kata krama yang biasanya digunakan dalam bahasa madya, contohnya adalah sebagai berikut: ajeng, kula, dèrèng, dédé, sinten, saprika, sapriki, sapriku, sampéyan wau, pundi, pinten, mrika, mriki, mriku, malih, boten, ngrika, ngriki, dan ngriku.[2]

Untuk kata ngoko, contohnya adalah sebagai berikut: kur, gur, mung, kang, sing, dan dhing. Lazimnya, kata ngoko dalam bahasa madya golongan singkatan hanya memiliki satu kecapan.[2]

Versi baru

Untuk versi yang baru, contoh kata madya beserta kata bakunya di dalam tanda kurung adalah sebagai berikut: onten (wonten), ampun (sampun), teng (dhateng), engga (mangga), napa (punapa), mawon (kémawon), njing (bénjing), jengen (kajengipun), seking (saking), ngéten (makaten), nggih (inggih), niki (punika; ngoko: iki), niku (punika; ngoko: iku), tasih (taksih), ajeng (badhé), kalih (kaliyan), samang (sampéyan), seg (saweg), dan turé (cariyosipun; ngoko: jaré).[1]

Lihat pula

Rujukan

Catatan kaki

  1. 1 2 Suwadji 2013, hlm. 7–8.
  2. 1 2 3 4 "Antya basa lan basa antya". Sasadara. 9 Agustus 1903.

Daftar pustaka

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Krama madya word.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan