Johan Pandapotan Silitonga | |
|---|---|
| Bupati Simalungunke-12 | |
| Masa jabatan 1980–1990 | |
| Presiden | Soeharto |
| Pendahulu | Bonifacius F. Silalahi |
| Pengganti | Djabanten Damanik |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | (1926-01-02)2 Januari 1926 |
| Meninggal | 20 September 2007(2007-09-20) (umur 81) |
| Suami/istri |
|
| Anak | 8, termasuk Magdalena Silitonga |
| Orang tua |
|
| Almamater | HIS Sigompulon Cultuur School (Sekolah Perkebunan), Malang |
| Profesi | Militer, Politikus, Akademisi |
Penghargaan sipil |
|
| Karier militer | |
| Pihak | |
| Dinas/cabang | TNI Angkatan Darat |
| Pangkat | Kolonel |
| Satuan | Tentara & Teritorium I Sumatera Utara Kodam II Bukit Barisan |
| Pertempuran/perang |
|
Johan Pandapotan Silitonga, atau lebih dikenal dengan sebutan JP Silitonga (2 Januari 1926 – 20 September 2007), adalah seorang purnawirawan perwira TNI Angkatan Darat berpangkat Kolonel yang menjabat sebagai Bupati Simalungun selama dua periode, dari tahun 1980 hingga 1990. Sebelum berkarier di pemerintahan, ia menempuh masa dinas panjang di kemiliteran, termasuk terlibat dalam berbagai operasi penumpasan pemberontakan di Sumatera dan Aceh. Ia dikenal luas atas perannya membangun sarana fisik Universitas Simalungun serta tetap aktif sebagai dosen Kewiraan di Universitas Sumatera Utara hingga akhir hayatnya.[1]
Riwayat Hidup
Masa Muda dan Pendidikan
JP Silitonga lahir di Desa Tigabolon, Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun, pada 2 Januari 1926, dari pasangan GM Kalvin Silitonga dan Doriana boru Simanjuntak. Ayahnya merupakan seorang guru zending di sebuah sekolah di Sidamanik.[1] Ketika ia masih balita, ayahnya dipindahtugaskan ke Sipahutar, Tapanuli Utara, dan di sanalah ia disekolahkan di HIS Sigompulon.[1]
Setelah menamatkan pendidikannya di HIS Sigompulon, ia berangkat ke Jawa dan melanjutkan sekolah di Cultuur School (Sekolah Perkebunan) di Malang, Jawa Timur. Tidak lama setelah ia memasuki sekolah tersebut, pendudukan Jepang mengambil alih sekolah itu dan mengubah namanya menjadi Noogokai. Meski demikian, ia bersama teman-temannya tetap dapat menyelesaikan pendidikannya di sana dan sempat bekerja sebagai pegawai perkebunan.[1]
Karier Militer
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia mengubah arah hidupnya. Ia meninggalkan pekerjaannya di perkebunan dan bergabung sebagai laskar di Surabaya, lalu resmi menjadi tentara. Ia mengikuti pendidikan militer di Gombong selama empat bulan, kemudian melanjutkan pendidikan Cadet di Malang (1945–1948). Selanjutnya ia ditugaskan untuk misi khusus di Sumatera hingga masa pengakuan kedaulatan oleh Belanda kepada Indonesia.
Kariernya di militer terbilang menonjol. Ia pernah menjabat sebagai perwira seksi I (intelijen) di Tentara dan Teritorium I Sumatera Utara, dan terlibat dalam sejumlah operasi, di antaranya penumpasan gerombolan di sekitar Tanah Karo (1951–1953) dan penumpasan gerombolan DI pimpinan Daud Beureueh di Aceh (1953–1954). Ia juga pernah menjadi Komandan Kodim di Sampit, Wakil Komandan Rindam II di Pematangsiantar, Asisten 2 Kepala Staf Kodam II/Bukit Barisan (1970–1973), dan terakhir menjabat sebagai Komandan Resimen Infanteri Kodam II Bukit Barisan (1973–1980). Ia pensiun dari dinas militer dengan pangkat terakhir Kolonel.
Selama masa kariernya, ia menerima sejumlah tanda jasa, di antaranya Bintang Gerilya atas keikutsertaannya dalam Aksi Militer Belanda I dan II (1945–1950), Medali Sewindu, Satya Lencana Peristiwa Aksi Militer I dan II, Satya Lencana GOM VII atas operasi melawan DI di Aceh Tengah, Satya Lencana Kesetiaan XVI Tahun, Satya Lencana Guru atas tugasnya mengajar di Koplat (1964–1968), Satya Lencana Sapta Marga atas perannya melawan PRRI (1958–1959), Satya Lencana Penegak atas perannya dalam pembersihan pascaperistiwa Gerakan 30 September (1965–1968), serta Bintang Oranye van Nassau dari Belanda atas jasanya menjaga keselamatan Pangeran Bernhard ketika berkunjung ke Sumatera Utara.
Bupati Simalungun (1980–1990)
Usai menuntaskan tugas kemiliterannya, JP Silitonga menjabat sebagai Bupati Simalungun periode 1980–1990, menggantikan B.F. Silalahi.[2] Salah satu prioritas utamanya adalah menjadikan Simalungun sebagai daerah lumbung beras, antara lain melalui pembangunan saluran irigasi dalam Proyek Irigasi Simalungun (PIS) yang mendapat dukungan dana dari Asian Development Bank. Proyek ini turut diwarnai persoalan lingkungan, karena penebangan hutan lindung Sibatuloting oleh perusahaan swasta Indorayon terus berlangsung meski kawasan itu merupakan sumber resapan air yang disyaratkan ADB tetap terjaga demi keberlanjutan irigasi.[1]
Ia juga mengembangkan sektor pariwisata, khususnya dengan menata kawasan Parapat sebagai kota tujuan wisata. Kawasan tepi Danau Toba yang semula banyak dihuni penduduk dan menjadi sumber pencemaran limbah rumah tangga dibebaskan, dengan memindahkan warga Sosor Pasir ke Sosor Saba secara damai.[1]
Di bidang pemerintahan, ia memprioritaskan pembangunan kantor kecamatan beserta rumah dinas camat, agar para camat tidak lagi tinggal jauh di Pematangsiantar dan dapat lebih dekat dengan wilayah tugasnya. Ia juga mendorong penyediaan lahan untuk pembangunan sekolah tingkat SD, SMP, hingga SMA di tiap kecamatan, serta pembangunan Puskesmas untuk menunjang layanan kesehatan masyarakat.[1] Kepeduliannya terhadap purnawirawan TNI juga terlihat dari inisiatifnya menyediakan perumahan bagi sekitar seratus prajurit dan perwira pensiunan Rindam di Jalan Sisingamangaraja, Pematangsiantar.[1]
Pada masa jabatannya pula dilakukan pemugaran kedua terhadap Museum Simalungun, setelah pemugaran pertama dilakukan pada 1968 di bawah pemerintahan Bupati Rajamin Purba.[3]
Pengembangan Universitas Simalungun
Sejalan dengan perhatiannya pada dunia pendidikan, JP Silitonga menaruh perhatian khusus pada pengembangan Universitas Simalungun (USI) agar menjadi perguruan tinggi swasta yang besar dan terbuka, mengingat tidak semua lulusan SMA di wilayah itu mampu melanjutkan kuliah ke Medan. Selama menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Universitas Simalungun (1982–1990), ia memimpin pembangunan fisik dalam skala yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya di kampus tersebut, meliputi Biro Rektor, Fakultas Hukum, Aula Rajamin Purba, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Pertanian, perpustakaan, mess dosen, hingga perbaikan jalan di lingkungan kampus, yang dilaksanakan bertahap bekerja sama dengan perusahaan lokal serta pemerintah daerah dan pusat.[1] Jika Brigjen Rajamin Purba dipandang sebagai pendiri Universitas Simalungun, JP Silitonga kerap disebut sebagai sosok yang membangun sarana fisiknya.[1]
Ia turut berperan dalam pendirian Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP) di kompleks Universitas Simalungun sekitar tahun 1989, setelah melihat potensi pariwisata di Simalungun dan Pematangsiantar yang besar namun belum didukung tenaga terampil di bidang tersebut. Sekolah ini kemudian menjadi salah satu tulang punggung keuangan Yayasan Universitas Simalungun.[1]
Masa Purnabakti
Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai bupati, JP Silitonga memutuskan menetap di Medan, antara lain karena istrinya saat itu masih mengajar sebagai dosen di Universitas Sumatera Utara (USU) dan ia sendiri masih ingin menyumbangkan tenaganya.[1] Ia kemudian aktif mengajar mata kuliah Kewiraan di USU, sebuah tugas yang terus ia jalani hingga akhir hayatnya.
Di luar kegiatan akademik, ia aktif dalam organisasi kemasyarakatan, antara lain terpilih sebagai Ketua Depidar SOKSI untuk satu periode, serta menjadi pengurus Persatuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah Sumatera Utara (PGIW SU).[1]
Dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-80, pada 2 Januari 2006 diluncurkan buku otobiografinya yang berjudul Bicaralah Tuhan Hambamu Mendengarkan.
JP Silitonga meninggal dunia di Rumah Sakit Permata Bunda, Medan, pada Kamis, 20 September 2007.[1]
Kehidupan Pribadi
JP Silitonga menikah dengan Ida Pola br. Pasaribu pada tahun 1951. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai delapan anak, tujuh putri dan satu putra, salah satunya Magdalena Silitonga sebagai putri tertua.[1] Istrinya, Ida Pola br. Pasaribu, meninggal dunia pada tahun 1985. Pada tahun 1988, JP Silitonga menikah kembali dengan Dr. Datten br. Bangun, staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, yang kemudian mendampinginya hingga akhir hayat.[1]
Karya
- Bicaralah Tuhan Hambamu Mendengarkan (autobiografi, diluncurkan 2 Januari 2006)
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Harian Analisa. 27-09-2007. hlm. 29.
{{cite news}}:|title=tidak ada atau kosong; Periksa nilai tanggal dalam:|date= - ↑ "Inilah Daftar Bupati Simalungun Dari Masa Ke Masa". BeritaSimalungun.com. 05-01-2017. Diakses tanggal 15-07-2026.
{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam:|access-date=and|date= - ↑ "Ingin Tahu Sejarah Simalungun, Bisa Datang ke Museum Ini". IDN Times Sumut. Diakses tanggal 15-07-2026.
{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam:|access-date=
| Jabatan politik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: S.P. Silalahi |
Bupati Simalungun 1980–1990 |
Diteruskan oleh: Djabanten Damanik |
Artikel bertopik biografi politikus Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |