Sabtu, 07 November 2026
18:41 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Infrabunyi

Infrabunyi

getaran dengan frekuensi lebih rendah dari 20 hertz

Bagikan:
250px-Infrasound_FFT.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
infrabunyi

Infrabunyi atau bunyi infrasonik adalah bunyi dengan frekuensi yang terlalu rendah untuk dapat didengar oleh telinga manusia.[1] Infrabunyi berada dalam rentang 20 Hertz sampai 0,001 Hertz. Rentang frekuensi tersebut sama dengan frekuensi yang digunakan oleh seismometer untuk mendeteksi gempa bumi. Gelombang infrabunyi mampu menjangkau jarak yang jauh dan dapat melewati halangan tanpa kehilangan kekuatannya atau relatif kecil. Gelombang infrabunyi pertama kali yang diamati kemungkinan adalah letusan Gunung Krakatau yang menghasilkan gelombang atau getaran yang mengelilingi bumi lebih dari tiga kali[2]: 63  dan terdengar di beberapa daerah di dunia, termasuk Perth, Australia Barat, dan Rodrigues dekat Mauritius.[3][4]

Sejarah

Salah satu perintis penelitian infrabunyi adalah ilmuwan Prancis Vladimir Gavreau (lahir di Rusia dengan nama Vladimir Gavronsky).[5] Ketertarikannya dalam infrabunyi awalnya bermula pada tahun 1960 ketika ia dan asistennya menderita sakit pada gendang telinga serta peralatan laboratorium yang bergetar tetapi tidak ada suara yang ditangkap oleh mikrofonnya. Ia kemudian menyimpulkan bahwa itu disebabkan oleh infrabunyi.[5]

Ia memahami bahwa suara dengan frekuensi serendah itu tidak dianggap ada, maka tidak ada peralatan yang dikembangkan untuk mendeteksinya. Maka, ditentukan bahwa suara tersebut adalah gelombang infrabunyi 7 siklus per detik yang menimbulkan mode resonansi pada saluran dan arsitektur bangunan, yang secara signifikan memperkuat suara tersebut.[5] Dari penemuan ini, para peneliti kemudia mulai bekerja untuk membuat percobaan infrabunyi pada laboratorium. Salah satu eksperimennya adalah peluit infrabunyi, sebuah pipa organ besar.[6][7][8] Sebagai hasil dari insiden yang mirip, hal ini menjadi rutinitas pada konstruksi arsitektur yang baru dan mengeliminasi resonansi infrabunyi manapun dan memperkenalkan material tahan suara dan properti suara spesial lainnya.

Referensi

  1. ↑ "A Study of Low Frequency Noise and Infrasound from Wind Turbines" (PDF). Ia.cpuc.ca.gov. Diakses tanggal 12 Maret 2022.
  2. ↑ Symons, G.J., ed. (1888). The Eruption of Krakatoa and Subsequent Phenomena (Report of the Krakatoa Committee of the Royal Society). London, 1888 – via Internet Archive.
  3. ↑ 20px-Wikisource-logo.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Chisholm, Hugh, ed. (1911). "Krakatoa" . Encyclopædia Britannica. Vol. 15 (Edisi 11). Cambridge University Press. hlm. 923.
  4. ↑ Serena, Katie (18 Mei 2019). Kuroski, John (ed.). "The 1883 Krakatoa Eruption: The Explosion Heard Round The World And The Loudest Sound Ever". Diakses tanggal 14 Desember 2024.
  5. 1 2 3 "Gavreau", di Lost Science Diarsipkan 19 Februari 2012 di Wayback Machine by Gerry Vassilatos. Signals, 1999. ISBN0-932813-75-5
  6. ↑ Gavreau, V. (1966). "Infra Sons: Générateurs, Détecteurs, Propriétés physiques, Effets biologiques". Acustica. 17 (1): 1–10.
  7. ↑ V., Gavreau (1968). "Infrasound". Science journa. 4 (1): 33.
  8. ↑ Gavreau, V. (Sept. 1968). "Sons graves intenses et infrasons". Scientific Progress – la Nature: 336–344.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=


Ikon rintisan

Artikel bertopik fisika ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan