Ibnu Hajar al-'Asqalani (Arabic :ابن حجر العسقلاني) adalah seorang ahli hadits dari mazhab Syafi'i yang terkemuka (lahir di Mesir tahun 22 Sya'ban 773 H/1372 M – wafat tahun 852 H/1449 M).[1] Nama lengkapnya adalah Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar, tetapi lebih dikenal sebagai Ibnu Hajar al-Asqalani karena kemasyhuran nenek moyangnya yang berasal dari Ashkelon, Palestina.[2]
Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitab Fathul Bari (Kemenangan Sang Pencipta), yang merupakan penjelasan dari kitab shahih milik Imam Bukhari dan disepakati sebagai kitab penjelasan Shahih Bukhari yang paling detail yang pernah dibuat. Ia mempunyai tinggi badan sedang, berkulit putih, mukanya bercahaya, bentuk tubuhnya indah, berseri-seri mukanya, lebat jenggobrya dan berwama putih serta pendek kumisnya.[3] Ia hidup di masa akhir Dinasti Mamluk dan kekhalifahan Abbasiyah.
Perjalanan menuntut ilmu
Ketika ayah Ibnu Hajar meninggal, ia masih berumur empat tahun. Ayahnya meninggal pada bulan Rajab tahun 777 Hijriyah. Adapun ibunya sudah meninggal seberumnya yaitu ketika ia masih berumur balita. sebelum meninggal, sang ayah berwasiat kepada anak tertuanya yaitu seorang saudagar kaya bernama Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ahmad Al-Kharubi untuk menanggung dan membantu adik-adiknya. Begitu juga sang ayah berwasiat kepada syaikh syamsuddin bin Al-Qaththan karena kedekatannya dengan Ibnu Hajar kecil.[3]
Ibnu Hajar tumbuh dan besar sebagai anak yatim, seorang yang sangat iffah (menjaga diri dari dosa), sangat berhati-hati dan mandiri di bawah asuhan Az-Zaki Al-Kharubi sampai sang pengasuh itu meninggal. Ia hidup sengsara dan tidak pernah mengenal kasih sayang. Az-zaki Al-Kharubi kurang serius dalam mengasuhnya, dan juga kurang perhatian dalam mengurus pendidikannya. Ibnu Hajar menyertai Az-Zaki ketika ia tinggal di Makkah hingga akhimya ia memasukkan Ibnu Hajar ke Al-Maktab (sekolahan untuk belajar dan menghafal Al-Qur'an) ketika ia berumur lima tahun.
Salah seorang guru yang mengajar di situ adalah Syamsuddin bin Al-Alaf yang saat itu menjadi gubemur Mesir dan juga syamsuddin Al-Athrusy. Akan tetapi, Ibnu Hajar belum berhasil menghafalkan Aleur,an sampai ia diajar oleh orang yang menjadikannya seorang yang fakih dan merupakan pengajar sejatinya, seorang yang ahli fakih penyarah kitab Mukhtashar At-Tibrizi Shadruddin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazaq As-Safthi Al-Muqri. Kepada sang guru inilah ia akhirnya dapat mengkhatamkan menghafal Al-Qur'an ketika berumur sembilan tahun.
Ketika Ibnu Hajar menginiak usia dua belas tahun, ia ditunjuk sebagai imam shalat Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 Hijriyah. Ketika orang yang diberikan wasiat untuk menjaganya yaitu Al-Kharubi berhaji pada tahun 784 Hijriyah, Ibnu Hajar menyertai Al-Kharubi. sampai pada tahun 786 Ibnu Hajar menyertai Al-Kharubi sampai ke Mesir.
Semangat dalam menggali ilmu ditunjukkannya dengan tidak mencukupkan mencari ilmu di Mesir saja, tetapi dengan melakukan rihlah (perjalanan) ke banyak negeri. Negeri-negeri yang pernah disinggahi dan tinggal disana, di antaranya:
- Dua tanah haram (Al-Haramain), yaitu Makkah dan Madinah. Ia tinggal di Makkah al Mukarramah dan shalat Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H. Yaitu pada umur 12 tahun. Dia mendengarkan Shahih Bukhari di Makkah dari Syaikh al-Muhaddits ‘Afifuddin an-Naisaburi al-Makki. Dan Ibnu Hajar berulang kali pergi ke Makkah untuk melakukan haji dan umrah.
- Damaskus, Di negeri ini, dia bertemu dengan murid-murid ahli sejarah dari kota Syam, Ibnu ‘Asakir. Dan dia menimba ilmu dari Ibnu Mulaqqin dan al-Bulqini.
- Baitul Maqdis, dan banyak kota-kota di Palestina, seperti Nablus, Khalil, Ramlah dan Ghuzzah. Dia bertemu dengan para ulama di tempat-tempat tersebut dan mengambil manfaat.
- Shan’a dan beberapa kota di Yaman dan menimba ilmu dari mereka.
Perjalanan ini dilakukan oleh al-Hafizh untuk menimba ilmu, dan mengambil ilmu langsung dari ulama-ulama besar. Sehingga dikenal Ibnu Hajar memiliki banyak guru yang besar dan masyhur.[1]
Pandangan Ulama
Ibnu Taghri Birdi mengatakan, "Ibnu Hajar adalah seseorang yang bersinar mukanya, tenang, wibawa, cerdas, bijak, pendiam, pintar dalam memberikan putusary jarang sekali pembicaraannya membuat orang yang mendengamya tidak suka, bahkan ia baik terhadap orang yang berbuat jahat kepadanya dan suka memberi maaf."[3]
Guru Ibnu Hajar, Burhanuddin Ibrahim Al-Abnasi mengatakan, "Dia adalah salah satu dari orang yang menurut penghematanku orang yang akan berbahagia dan orang yang tahu tentang Azali. Dia adalah seorang syaikh, seorang imam, Al-Allamah, seorang ahli hadits, seorang yang taat, seorang pentahqiq, syaikh Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Asy-Syaikh Al-Imam Al-Alim, pioner bagi para guru, mufti kaum muslimin Abul Hasan Ali yang lebih terkenal dengan Ibnu Hajar Nuruddin Asy-Syafi'i."
Karya
Al-Hafizh Ibnu Hajar mulai menulis pada usia 23 tahun, dan terus berlanjut sampai mendekati ajalnya. Karya-karya dia banyak diterima umat islam dan tersebar luas, semenjak dia masih hidup. Para raja dan Amir biasa saling memberikan hadiah dengan kitab-kitab Ibnu hajar. Menurut murid utamanya, yaitu Imam As-Sakhawi, karya dia mencapai lebih dari 270 kitab. Kebanyakan karyanya berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat. Di antarakarya tulis Ibnu Hajar tersebut:
- Fathul Bari
- Ad-Durar al-Kaminah, kamus biografi tokoh-tokoh abad ke-8
- Tahdzib at-Tahdzib
- Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, kamus biografi sahabat nabi.
- Bulughul Maram
- Al-Isti'dad Liyaumil Mii'aad
- Nukhbatul Fikr, (tentang Musthalah hadits)
Kematian

Ibnu Hajar jatuh sakit di rumahnya setelah ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai qadhi pada tanggal 25 Jumadal Akhir tahun 852 Hijriyah. Dia adalah seorang yang selalu sibuk dengan mengarang dan mendatangi majelis-majelis taklim hingga pertama kali penyakit menjangkitinya yaitu pada bulan Dzulqa'dah tahun 852 Hijriyah.[3]
Ketika sakit yang membawanya meninggal, ia berkata, "Ya Allah, bolehlah Engkau tidak memberikanku kesehatan, tetapi janganlah Engkau tidak memberikanku pengampunan." Pada malam Sabtu malam tanggal 28 Dzulhijah berselang dua jam setelah shalat lsya', orang-orang dan para sahabatnya berkerumun di dekatnya untuk membacakannya surat Yasin. Ketika sampai pada ayat 58 ia pun meninggal.

Pada hari itu juga, Pasar-Pasar ditutup demi untuk menyertai kepergiannya. Banyak orang mengantar jenazahnya, dimana jumlah para pelayat saat itu tiada bandingannya kecuali saat melayat Ibnu Taimiyah. Sampai-sampai As-Sakhawi mengatakary "Para pelayat yang datang sampai tidak dapat dihitung jumlahnya, dan menurutku semua pembesar saat itu datang melayat, pasar-pasar dan toko-toko ditutup." Orang-orangberebut untuk dapat ikut serta mengangkat peti jenazahnya. Mereka yang mengangkat adalah para raia, Penguasa dan para ulama. Orang-orang berusaha sekuat tenaga untuk dapat meraih peti jenazahnya meski hanya dapat menyentuhkan ujung jari-jarinya. Al-Biqa'i berkata, "Orang-orang berjejal mulai dari rumah Ibnu Hajar dari dalam pintu Al-Qantharah sampai Al-Qarafah di tempat ia dimakamkan. Sultan Azh-Zhahir Saifuddin Jaqmaq datang dan menyalatinya. Khalifah Al-Mustakfi Billah Aburrabi' Sulaiman, para qadhi, para ulamat pdro. penguasa, orangorang terkenal dan orang umum lainnya ikut serta mengiring jenazahnya. Ada yang mengatakan bahwa pelayat yang datang saat itu mencapai 50.000 (lima puluh ribu) orang. Jenazahnya kemudian di pindah ke Al-Qarafah Ash-Shughra untuk dikubur di pekuburan Bani Al-Kharrubi yang berhadapan dengan masjid Ad-Dailami di antara makam Imam Syafi'i dengan Syaikh Muslim As-Silmi.
Sumber
- 1 2 http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/06/ibnu-hajar-al-%E2%80%98asqolani-773-852-h/
- ↑ "USC-MSA Compendium of Muslim Texts". Usc.edu. Diarsipkan dari asli tanggal 2006-08-29. Diakses tanggal 2010-03-21.
- 1 2 3 4 Farid, Syaikh Ahmad (2006). 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. ISBN 9795923692
Pranala luar
- Biografi lengkap Al-Hafizh Ibnu Hajar Diarsipkan 2013-12-11 di Wayback Machine
- Fath al-Bari Diarsipkan 2010-05-03 di Wayback Machine
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Orang | |
| Lain-lain | |
| Abad ke-3 H | Imam Asy-Syafi'i (wafat 204 H) • Imam Ahmad (wafat 241 H) • Imam Bukhari (wafat 256 H) • Imam Abu Dawud (wafat 275 H) • Imam At-Tirmidzi (wafat 279 H) • Syeikh Juneid al-Bagdadi (wafat 298 H) |
|---|---|
| Abad ke-4 H | Imam An-Nasa'i (wafat 303 H) • Abu Hasan al Asy'ari (wafat 324 H) • Ibnul Haddad (wafat 345 H) • Ar-Razi (wafat 347 H) • Ibnul Qathan (wafat 359 H) • Ibnul Bahran (wafat 361 H) • Al-Qaffal al-Kabir (wafat 366 H) • Ad-Daruquthni (wafat 385 H) • Al-Isma'ili (wafat 392 H) • Al-Qadhi Al-Jurjani (wafat 392 H) • As-Susi (wafat 396 H) • Ibnu Laal (wafat 398 H) |
| Abad ke-5 H | |
| Abad ke-6 H | Imam Al-Ghazali (wafat 505 H) • Imam Al-Baghawi (wafat 516 H) • Ibnu Asakir (wafat 576 H) • Abu Syuja (wafat 593 H) |
| Abad ke-7 H | Al-Mundziri (wafat 656 H) • Imam An-Nawawi (wafat 676 H) • Imam Ar-Rafi'i (wafat 623 H) • Ibnu Malik (wafat 672 H) • Al-Baidhawi (wafat 691 H) • Syaikh Ibrahim ad Dasuqi (wafat 696 H) • Izzuddin bin Abdussalam (wafat 660 H) |
| Abad ke-8 H | Ibnu Katsir (wafat 774 H) • Ibnu Daqiq al-Ied (wafat 702 H) • Quthbuddin asy-Syirazi (wafat 710 H) • Taqiyuddin as-Subki (wafat 756 H) • Az-Zarkasyi (wafat 794 H) |
| Abad ke-9 H | Ibnu Al-Mulaqqin (wafat 804 H) • Ibnu Ruslan (wafat 844 H) • Ibnu Hajar Al 'Asqalani (wafat 852 H) • Jalaluddin al-Mahalli (wafat 864 H) • Imamul Kamiliyah (wafat 874 H) |
| Abad ke-10 H | Jamaluddin An-Nasyiri (wafat 911 H) • Imam As-Suyuthi (wafat 911 H) • Jalaluddin al-Karaki (wafat 912 H) • Ibnu Abi Syarif (wafat 923 H) • Abul Fatah al-Mishri (wafat 963 H) • Hasanuddin (wafat 964 H) • Ibnu Qassim al-'Ubaidi (wafat 994 H) • Mirza Makhdum (wafat 995 H) |
| Abad ke-11 H | Nuruddin al-Raniri (wafat 1068 H) • Syamsuddin as-Syaubari (wafat 1069 H) • Syihabuddin al-Qaliyubi (wafat 1070 H) • Abdul Birri al-Ajhuri (wafat 1070 H) • Al-'Urdli (wafat 1071 H) • Ibnu Jamal al-Makki (wafat 1072 H) • Al-Qinai (wafat 1073 H) • Ibrahim al-Marhumi (wafat 1073 H) • Muhammad al-Bathini (wafat 1075 H) • Muhammad al-Kurani (wafat 1078 H) • Ibrahim al-Maimuni (wafat 1079 H) • Abdul Qadir as-Shafuri (wafat 1081 H) • Ibnu Jam'an (wafat 1083 H) • Ibrahim al-Khiyari (wafat 1083 H) • Al Kurdi (wafat 1084 H) • 'Al al-Ayyubi (wafat 1086 H) • Muhammad al-Bakri (wafat 1087 H) • Abdul Rauf al-Fanshuri (wafat 1094 H) |
| Abad ke-12 H | Abdullah bin Alawi al-Haddad (wafat 1123 H) • Muhammad al-Kurani (wafat 1145 H) • Al 'Ajaluni (wafat 1148 H) • Hasan al-Bani (wafat 1148 H) • As-Safar Jalani (wafat 1150 H) • Ad-Diri (wafat 1151 H) • As-Suwaidi (wafat 1143 H) • Zainuddin ad-Dirbi (wafat 1155 H) • Al-Busthami (wafat 1157 H) • Athaulah al-Azhari (wafat 1161 H) |
| Abad ke-13 H | Abdus Shamad al-Falimbani (wafat 1203 H) • Muhammad Arsyad al-Banjari (wafat 1227 H) • Al-Yamani (wafat 1201 H) • Ahmad al-Khalifi (wafat 1209 H) • Al-Baithusyi (wafat 1211 H) • At-Takriti (wafat 1211 H) • Ibnu Jauhari (wafat 1215 H) •Ad-Damanhuri (wafat 1221 H) |
| Abad ke-14 H | Abdul Karim Tebuwung (wafat 1313 H) • Nawawi al-Bantani (wafat 1315 H) • Ahmad Khatib al-Minangkabawi (wafat 1334 H) • Muhammad Saad Munqa (wafat 1339 H) • Syeikh Muhammad Saleh al-Minankabawi (wafat 1351 H) • Syeikh Khatib 'Ali (wafat 1353 H) • Muhammad Jamil Jaho (wafat 1360 H) • Hasjim Asy'ari (wafat 1367 H) • Abdul Wahid Tabek Gadang (wafat 1369 H) • Musthafa Husein al-Mandili (wafat 1370 H) • Dimyathi Syafi'ie (wafat 1378 H) • Abdul Qadir bin Abdul Mutalib al-Mandili (wafat 1385 H) • Al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (wafat 1388 H) • Habib Salim bin Djindan (wafat 1389 H) • Sulaiman ar-Rasuli (wafat 1390 H) • Abdul Wahab Hasbullah (wafat 1391 H) • Al-Habib Ali bin Husein al-Attas (wafat 1396 H) |
| Abad ke-15 H | Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani (wafat 1410 H) • Muhammad Zaini Abdul Ghani (wafat 1426 H) • Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa (wafat 1434 H) • Sahal Mahfudz (wafat 1435 H) • Wahbah al-Zuhayli (wafat 1436 H)
|
Cetak tebal adalah yang sangat terkemuka di zamannya, metode penentuan abad seorang ulama dengan tahun kematiannya, Lihat Panduan Penggunaan | |
| Sejarawan |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Karya terkenal |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Konsep | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||