Kamis, 08 Oktober 2026
19:53 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Hamdan Zoelva

Hamdan Zoelva

politisi Indonesia

Bagikan:
Hamdan Zoelva
250px-Hamdan_Zoelva%2C_Buku_Kenangan_Anggota_Dewan_Perwakilan_Rakyat_Republik_Indonesia_1999-2004%2C_p475.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Potret resmi, 1999
Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesiake-4
Masa jabatan
6 November 2013 –7 Januari 2015
PendahuluAkil Mochtar
PenggantiArief Hidayat
Hakim Konstitusi Republik Indonesia
Masa jabatan
1 April 2008 –7 Januari 2015
PendahuluAbdul Mukthie Fadjar
PenggantiI Dewa Gede Palguna
Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
Masa jabatan
13 Agustus 2013 –6 November 2013
KetuaAkil Mochtar
PendahuluAbdul Mukthie Fadjar
PenggantiArif Hidayat
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat
Masa jabatan
1 Oktober 1999 –30 September 2004
PendahuluDaerah pemilihan multi anggota
PenggantiMuhammad Zainul Majdi
Daerah pemilihanNusa Tenggara Barat (Kabupaten Lombok Barat)
Informasi pribadi
Lahir21 Juni 1962 (umur 64)
Partai politikIndependen (sejak 2010)
Afiliasi politik
lainnya
PBB (1998–2010)
Suami/istriNina Damajanti
Anak3
AlmamaterUniversitas Hasanuddin
Universitas Padjadjaran
Pekerjaan
  • Hakim
  • advokat

Hamdan Zoelva (lahir 21 Juni 1962) adalah Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia yang keempat periode 2013–2015. Ia juga pernah menjadi salah satu pengurus Partai Bulan Bintang. Setelah tidak menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia, selain menjadi konsultan hukum dan pengajar di beberapa perguruan tinggi, juga mendapat amanah sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat/Laznah Tanfidziyah Syarikat Islam (ejaan lama: Sarekat Islam)[1] dan juga dipercaya sebagai Koordinator Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI).[2]

Masa kecil

Hamdan Zoelva lahir dari pasangan K.H. Muhammad Hasan, B.A., yang merupakan pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukhlisin di Bima, dan Hj. Siti Zaenab.[3] Hamdan menghabiskan masa kecil di Desa Parado, sekitar 50 kilometer dari Bima.[3] Ia dibesarkan dalam tradisi keluarga santri dan disekolahkan di Madrasah Ibtidaiyah.[3] Menginjak kelas 4, ia dipindahkan ke Sekolah Dasar Negeri No. 4 Salama Nae Bima pada 1974 sambil menjalani pendidikan agama di Madrasah Diniyah.[3] Setelah lulus SD, ia melanjutkannya ke Madrasah Tsanawiyah Negeri Padolo Bima pada 1977 dan menamatkan pendidikan tingkat atasnya di Madrasah Aliyah Negeri Saleko Bima pada tahun 1981.[4]

Pendidikan tinggi

Gelar sarjana hukumnya ia dapatkan dari Universitas Hasanuddin, di mana ia mengambil jurusan Hukum Internasional.[4] Saat menjalani kuliah di Universitas Hasanuddin, ayahnya meminta Hamdan untuk mengambil pendidikan tinggi di bindang agama untuk melanjutkan tradisi keluarganya yang berlatar belakang pesantren.[3] Oleh karena itu, Hamdan memutuskan mendaftar ke Fakultas Syari'ah IAIN Alauddin, Ujungpandang (1981-1984).[3] Semasa mahasiswa, Hamdan aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, salah satunya adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).[3] Di organisasi tersebut, ia menjabat sebagai Ketua Badan Koordinasi HMI Indonesia Timur.[3] Karena kegiatannya mengurus organisasi, ia memilih untuk melepas pendidikannya di IAIN Alauddin meski sudah berkuliah selama tiga tahun dan hampir mendapatkan gelar sarjana muda.[3]

Hamdan juga sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (1998–2001), yang juga tidak diselesaikan.[4] Pada tahun 2004, ia berhasil mendapatkan gelar magister hukum dari Universitas Padjajaran dan meraih gelar doktor S3 di bidang Ilmu Hukum Tata Negara dari universitas yang sama pada tahun 2010, dengan disertasi berjudul Pemakzulan Presiden di Indonesia.[4]

Karier

Awal karier

250px-ConstitutionalCourtIndonesia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gedung Mahkamah Konstitusi, sebuah lembaga di mana Hamdan ikut terlibat dalam pendiriannya.

Hamdan memulai kariernya dengan menjadi asisten dosen di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin serta Fakultas Syariah IAIN Ujungpandang (1986-1987).[4] Ia sempat melamar menjadi dosen, tetapi ditolak.[3][4] Atas saran dosen pembimbingnya, ia merantau ke Jakarta dan bekerja selama tiga tahun sebagai asisten pengacara dan konsultan hukum pada Kantor Hukum OC. Kaligis & Associates Jakarta yang secara khusus menangani bidang nonlitigasi, pembuatan kontrak dan perjanjian-perjanjian dagang, investasi PMA, perburuhan, negosiasi, dan lain-lain sebelum akhirnya mendirikan kantor hukum sendiri, SPJH&J Law Firm.[3][4] Pada tahun 1989, ia diangkat dan dilantik sebagai pengacara dalam lingkungan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.[3] Pada tahun 1997, Hamdan memutuskan untuk memisahkan diri dan membangun kantor advokat Hamdan, Sujana, Januardi, dan Partner (HSJ&P) hingga dibubarkan tahun 2004.[4]

Karier politik

Saat reformasi terjadi pada tahun 1998-1999, Hamdan bersama sejumlah rekannya di Forum Ukuwah Islamiyah (FUI) mendirikan partai baru, Partai Bulan Bintang (PBB) dan ditunjuk sebagai wakil sekretaris jenderal.[3] Di Pemilihan Umum 1999, ia ikut dalam pemilihan calon anggota legislatif dan akhirnya terpilih sebagai anggota DPR mewakili daerah kelahirannya, Nusa Tenggara Barat.[3] Berkat pengalaman organisasinya, ia juga dipercaya menjadi Sekretaris Fraksi PBB di DPR dan kemudian duduk di badan Musyawarah (Bamus) DPR sekaligus menjadi Wakil Ketua Komisi II DPR bidang Hukum dan Politik.[3]

Posisinya di DPR menjadikannya terlibat langsung merumuskan berbagai kebijakan negara yang strategis, termasuk pemilihan calon presiden dan wakil presiden serta proses pemakzulan presiden.[3] Pada periode 1999–2002, Hamdan menjadi satu-satunya wakil Fraksi PBB di Panitia Ad Hoc (PAH) I MPR yang membidani perubahan Undang-Undang Dasar 1945.[3] Ia juga menjadi salah satu tokoh yang turut melahirkan MK lewat perannya sebagai anggota Panitia Khusus Penyusun Rancangan Undang-Undang MK.[3] Dalam posisi ini, ia terlibat langsung merumuskan berbagai hal mengenai MK, baik organisasi maupun hukum beracara di MK.[3] Ia juga terlibat sebagai salah satu anggota DPR yang terlibat dalam uji kelayakan dan kepatutan calon hakim konstitusi periode pertama dari unsur DPR.[3]

Karier di Mahkamah Konstitusi

Setelah MK terbentuk, ia bergabung dalam Forum Konstitusi (FK), organisasi yang didirikan para pelaku perubahan UUD 1945, sebagai sekretaris dan bekerja sama dengan MK melakukan sosialisasi dan peningkatan pemahaman tentang UUD 1945 ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk lewat buku Naskah Komprehensif Perubahan UUD RI 1945 yang diterbitkan MK.[3] Selain buku tersebut, ia juga menerbitkan buku Pendidikan Kesadaran Berkonstitusi untuk Siswa Tingkat SD/Madrasah Ibtidaiyah, SMP/Madrasah Tsanawiyah, dan SMA/Madrasah Aliyah.[3] Ia juga mengikuti sidang-sidang penting di MK dengan berbagai kedudukan, antara lain mewakili DPR dalam sidang pengujian undang-undang dan berkali-kali menjadi saksi ahli di ruang sidang MK.[3]

Pada tahun 2004, ia bersama Januardi S. Hariwibowo mendirikan kantor hukum Hamdan & Januardi Law Firm, yang ia tutup ketika ia diangkat menjadi hakim konstitusi di awal tahun 2010.[3][4] Dengan usia 47 tahun, ia merupakan hakim konstitusi termuda pada periode tersebut.[3] Selain berhenti menjadi advokat, Hamdan juga meninggalkan semua aktivitas politiknya untuk menghindari konflik kepentingan.[3] Pada 2015, masa tugasnya berakhir dan digantikan oleh I Dewa Gede Palguna, dosen hukum tata negara Fakultas Hukum Universitas Udayana.[5]

Sebagai ketua Mahkamah Konstitusi

Hamdan Zoelva diangkat menjadi ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia menggantikan Akil Mochtar yang diberhentikan pada 5 Oktober 2013 karena ditetapkan sebagai tersangka kasus suap sengketa pemilihan kepala daerah, gratifikasi, serta pencucian uang.[6] Hamdan terpilih melalui mekanisme pemungutan suara dua putaran.[6] Pemilihan ini diikuti delapan hakim konstitusi, yaitu Hamdan, Harjono, Arief Hidayat, Anwar Usman, Ahmad Fadhil Sumadi, Patrialis Akbar, Muhammad Alim, dan Maria Farida Indriarti, serta dipimpin oleh Hamdan Zoelva sendiri.[6] Proses voting atau pemungutan suara dipimpin oleh Hamdan dengan disaksikan oleh Sekretaris Jenderal MK Janedjri M Gaaffar dan para pegawai MK.[6]

Pada putaran pertama, Hamdan mengantongi 4 suara, hakim konstitusi Arief Hidayat mengantongi 3 suara, dan Ahmad Fadhil Sumadi dengan 1 suara.[6] Karena tidak ada yang mencapai perolehan 5 suara untuk memenuhi ketentuan harus meraih suara dari setengah jumlah hakim, maka pemungutan suara putaran kedua digelar.[6] Pada putaran kedua, Hamdan memenangi pemilihan setelah mengantongi 5 suara. Sementara itu, Arief hanya mengantongi 3 suara.[6] Dengan hasil ini, Hamdan Zoelva diangkat menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dan dilantik pada 1 November 2013.[6] Posisi Wakil Ketua MK yang sebelumnya ditempati Hamdan menjadi kosong, sehingga dilakukan pemilihan lagi beberapa waktu kemudian.[6]

Pengangkatan Hamdan Zoelva sebagai ketua Mahkamah Konstitusi sempat mengalami polemik mengingat statusnya sebagai mantan politikus Partai Bulan Bintang (PBB).[7] Hamdan sendiri menyatakan bahwa ia telah melepas semua posisi dan kegiatan politiknya semenjak menjabat menjadi hakim konstitusi pada tahun 2010.

Kehidupan pribadi

Hamdan Zoelva menikah dengan Nina Damayanti dan memiliki tiga orang anak, [8] Hamdan memiliki hobi bermain golf dan menguasai bahasa Inggris aktif serta bahasa Arab pasif.[8]

Referensi

  1. ↑ Okezone (2016-01-01). "Hamdan Zoelva Terpilih Jadi Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam". Okezone.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-03-14. Diakses tanggal 2019-10-29.
  2. ↑ Tilik.ID. "Kordinator Presidium MN KAHMI Berganti". http://www.tilik.id (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2019-08-28. Diakses tanggal 2019-10-29.{{cite web}}: Tautan eksternal dalam |website=
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Profil Hakim Mahkamah Konsistusi. sfn error: tanpa target: CITEREFProfil_Hakim_Mahkamah_Konsistusi (bantuan)
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 TokohIndonesia.com, 11 September 2013.
  5. ↑ "Artikel:"Suhartoyo dan Palguna Resmi Jabat Hakim MK" di Kompas.com". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-03-07. Diakses tanggal 2015-01-07.
  6. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kompas.com, 1 November 2013. sfn error: banyak target (2×): CITEREFKompas.com,_1_November_2013 (bantuan)
  7. ↑ Okezone.com, 2 November 2013.
  8. 1 2 TokohIndonesia.com, 14 September 2013. sfn error: banyak target (2×): CITEREFTokohIndonesia.com,_14_September_2013 (bantuan)

Daftar pustaka

Pranala luar

Jabatan peradilan
Didahului oleh:
Akil Mochtar
Ketua Mahkamah Konstitusi
Republik Indonesia

2013–2015
Diteruskan oleh:
Arief Hidayat
Didahului oleh:
Achmad Sodiki
Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi
Republik Indonesia

2013
  1. A. Roestandi (2003–08)
  2. Soedarsono (2003–08)
  3. A.S. Natabaya (2003–08)
  4. A.M. Fadjar (2003–09)
  5. J. Asshiddiqie (2003–09)
  6. M. Siahaan (2003–09)
  7. M.L. Marzuki (2003–08, 2008–09)
  8. Harjono (2003–08, 2008–14)
  9. I.D.G. Palguna (2003–08, 2015–20)
  10. M.A. Sanusi (2008–11)
  11. M. Mahfud MD (2008–13)
  12. A. Sodiki (2008–13)
  13. A. Mochtar (2008–13)
  14. M. Alim (2008–15)
  15. Maria F. Indrati (2008–18)
  16. H. Zoelva (2010–15)
  17. A.F. Sumadi (2010–15)
  18. A. Usman (2011–kini)
  19. P. Akbar (2013–17)
  20. A. Hidayat (2013–2026)
  21. Aswanto (2014–2022)
  22. W. Adams (2014–2024)
  23. Suhartoyo (2015–kini)
  24. M.M.P Sitompul (2015–2023)
  25. S. Isra (2017–kini)
  26. E. Nurbaningsih (2018–kini)
  27. D.Y.P. Foekh (2020–kini)
  28. M.G. Hamzah (2022–kini)
  29. R. Mansyur (2023–kini)
  30. A. Sani (2024–kini)
  31. A. Kadir (2026–kini)
  32. L.P. Adi (2026–kini)
Dicetak tebal menandakan Ketua
120px-Lambang_Mahkamah_Konstitusi_Republik_Indonesia.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan