Kamis, 22 Oktober 2026
12:24 WIB
TERKINI
Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal
Gunung Kitanglad

Gunung Kitanglad

Bagikan:
250px-View_from_Dulang-dulang_Summit.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gunung Kitanglad (kiri) dilihat dari Gunung Dulang-dulang

Gunung Kitanglad adalah gunung berapi tidak aktif[1] yang terletak di Pegunungan Kitanglad di provinsi Bukidnon di pulau Mindanao, Filipina. Gunung ini merupakan gunung tertinggi keempat di Filipina dan memiliki perkiraan ketinggian 2.899 meter (9.511 kaki). Gunung ini terletak di antara Malaybalay dan munisipalitas Lantapan, Impasugong, Sumilao, dan Libona. Gunung ini adalah rumah bagi salah satu dari sedikit hutan hujan yang tersisa di Filipina.[2] Gunung ini merupakan bagian dari wilayah adat leluhur masyarakat Higaonon, Talaandig, dan Bukidnon.[3]

Etimologi dan cerita rakyat

Gunung Kitanglad adalah bagian dari tanah leluhur tiga kelompok suku Lumad: Higaonon, Talaandig, dan Bukidnon. Dalam legenda lisan mereka yang umum diketahui, Olaging, pernah terjadi banjir besar yang menenggelamkan daerah tersebut, hanya menyisakan puncak-puncak gunung saja yang terlihat (sebuah cerita yang juga dimiliki oleh penduduk Gunung Kalatungan di sebelahnya). Selama banjir, bagian Gunung Kitanglad yang terlihat menyerupai sejumput serai (tanglad), sebuah tanaman obat yang penting. Oleh karena itu, gunung tersebut dinamai "Kitanglad" (juga dieja Katanglad) oleh seorang datu legendaris, Agbibilin.[3]

Konservasi

Gunung Kitanglad diproklamasikan sebagai kawasan lindung di bawah kategori taman alam melalui Proklamasi Presiden No. 896 tertanggal 24 Oktober 1996.[4] Pada 9 November 2000, Gunung Kitanglad akhirnya menjadi kawasan lindung penuh ketika Kongres menyetujui Undang-Undang Republik (R.A.) 8978, yang juga dikenal sebagai "Undang-Undang Kawasan Lindung Pegunungan Kitanglad tahun 2000."[5]

Gunung Kitanglad adalah rumah bagi lebih dari 600 spesies langka dan endemik, termasuk tarsius filipina dan Rafflesia schadenbergiana, bunga terbesar kedua di dunia.[6] Gunung ini merupakan tempat bersarang bagi elang filipina yang terancam punah.[2] Spesies endemik lain yang ditemukan di sini adalah codot kerdil mindanao (Alionycteris paucidentata) dan dua tikus asli, tikus-celurut katanglad dan tikus gunung perut-abu.[2]

Pada tahun 2009, Taman Alam Pegunungan Kitanglad (MKRNP) dideklarasikan sebagai Taman Warisan ASEAN.[7]

Referensi

  1. ↑ PHIVOLCS' List of Inactive Volcanoes Diarsipkan Mei 15, 2008, di Wayback Machine
  2. 1 2 3 "The spirits, flora, fauna thrive in Mount Kitanglad". MindaNews (dalam bahasa American English). Desember 15, 2010. Diakses tanggal Juni 21, 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 Canoy, Easterluna Luz S.; Suminguit, Vellorimo J. (2001). "The Indigenous Peoples of Mt. Kitanglad Range Natural Park" (PDF). Social Watch Annual Report 2001: 62–74.
  4. ↑ "Proclamation No. 896, s. 1996". Official Gazette of the Republic of the Philippines. Diarsipkan dari asli tanggal Maret 8, 2019. Diakses tanggal Maret 8, 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ "R.A. No. 8978: An Act Declaring the Mt. Kitanglad Range in the Province of Bukidnon as a Protected Area and its Peripheral Areas as Buffer Zones, Providing for its Management and for Other Purposes". The Corpus Juris (dalam bahasa Inggris). November 9, 2000. Diarsipkan dari asli tanggal Agustus 2, 2018. Diakses tanggal Maret 8, 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Panlilio, Cai (Oktober 7, 2013). "Tribal folk guard sacred Mount Kitanglad". Philippine Daily Inquirer (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal Juni 21, 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ De Vera, Ellalyn B. (November 2, 2009). "Mount Kitanglad named an ASEAN Heritage Park". Manila Bulletin. Diakses tanggal April 29, 2010.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan