Sabtu, 17 Oktober 2026
20:58 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Gunung Kitanglad

Gunung Kitanglad

Bagikan:
250px-View_from_Dulang-dulang_Summit.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gunung Kitanglad (kiri) dilihat dari Gunung Dulang-dulang

Gunung Kitanglad adalah gunung berapi tidak aktif[1] yang terletak di Pegunungan Kitanglad di provinsi Bukidnon di pulau Mindanao, Filipina. Gunung ini merupakan gunung tertinggi keempat di Filipina dan memiliki perkiraan ketinggian 2.899 meter (9.511 kaki). Gunung ini terletak di antara Malaybalay dan munisipalitas Lantapan, Impasugong, Sumilao, dan Libona. Gunung ini adalah rumah bagi salah satu dari sedikit hutan hujan yang tersisa di Filipina.[2] Gunung ini merupakan bagian dari wilayah adat leluhur masyarakat Higaonon, Talaandig, dan Bukidnon.[3]

Etimologi dan cerita rakyat

Gunung Kitanglad adalah bagian dari tanah leluhur tiga kelompok suku Lumad: Higaonon, Talaandig, dan Bukidnon. Dalam legenda lisan mereka yang umum diketahui, Olaging, pernah terjadi banjir besar yang menenggelamkan daerah tersebut, hanya menyisakan puncak-puncak gunung saja yang terlihat (sebuah cerita yang juga dimiliki oleh penduduk Gunung Kalatungan di sebelahnya). Selama banjir, bagian Gunung Kitanglad yang terlihat menyerupai sejumput serai (tanglad), sebuah tanaman obat yang penting. Oleh karena itu, gunung tersebut dinamai "Kitanglad" (juga dieja Katanglad) oleh seorang datu legendaris, Agbibilin.[3]

Konservasi

Gunung Kitanglad diproklamasikan sebagai kawasan lindung di bawah kategori taman alam melalui Proklamasi Presiden No. 896 tertanggal 24 Oktober 1996.[4] Pada 9 November 2000, Gunung Kitanglad akhirnya menjadi kawasan lindung penuh ketika Kongres menyetujui Undang-Undang Republik (R.A.) 8978, yang juga dikenal sebagai "Undang-Undang Kawasan Lindung Pegunungan Kitanglad tahun 2000."[5]

Gunung Kitanglad adalah rumah bagi lebih dari 600 spesies langka dan endemik, termasuk tarsius filipina dan Rafflesia schadenbergiana, bunga terbesar kedua di dunia.[6] Gunung ini merupakan tempat bersarang bagi elang filipina yang terancam punah.[2] Spesies endemik lain yang ditemukan di sini adalah codot kerdil mindanao (Alionycteris paucidentata) dan dua tikus asli, tikus-celurut katanglad dan tikus gunung perut-abu.[2]

Pada tahun 2009, Taman Alam Pegunungan Kitanglad (MKRNP) dideklarasikan sebagai Taman Warisan ASEAN.[7]

Referensi

  1. ↑ PHIVOLCS' List of Inactive Volcanoes Diarsipkan Mei 15, 2008, di Wayback Machine
  2. 1 2 3 "The spirits, flora, fauna thrive in Mount Kitanglad". MindaNews (dalam bahasa American English). Desember 15, 2010. Diakses tanggal Juni 21, 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 Canoy, Easterluna Luz S.; Suminguit, Vellorimo J. (2001). "The Indigenous Peoples of Mt. Kitanglad Range Natural Park" (PDF). Social Watch Annual Report 2001: 62–74.
  4. ↑ "Proclamation No. 896, s. 1996". Official Gazette of the Republic of the Philippines. Diarsipkan dari asli tanggal Maret 8, 2019. Diakses tanggal Maret 8, 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ "R.A. No. 8978: An Act Declaring the Mt. Kitanglad Range in the Province of Bukidnon as a Protected Area and its Peripheral Areas as Buffer Zones, Providing for its Management and for Other Purposes". The Corpus Juris (dalam bahasa Inggris). November 9, 2000. Diarsipkan dari asli tanggal Agustus 2, 2018. Diakses tanggal Maret 8, 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Panlilio, Cai (Oktober 7, 2013). "Tribal folk guard sacred Mount Kitanglad". Philippine Daily Inquirer (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal Juni 21, 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ De Vera, Ellalyn B. (November 2, 2009). "Mount Kitanglad named an ASEAN Heritage Park". Manila Bulletin. Diakses tanggal April 29, 2010.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan