Rabu, 21 Oktober 2026
15:33 WIB
TERKINI
Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama
Sejarah Filipina (1565–1898)

Sejarah Filipina (1565–1898)

Bagikan:
Bagian dari seri artikel mengenai
Sejarah Filipina
Philippine_History_Collage.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Garis waktu

Sejarah Filipina dari tahun 1565 hingga 1898, juga dikenal sebagai periode kolonial Spanyol, sebuah periode dengan jangka waktu selama Kapten Jenderal Filipina yang terletak di gugusan Kepulauan di Asia Tenggara dijajah oleh Spanyol yang dikenal sebagai "Las Islas Filipinas", di bawah Spanyol Baru hingga kemerdekaan Meksiko yang mengakibatkan penguasaan langsung Madrid atas daerah tersebut. Daerah ini juga dikenal sebagai Hindia Timur Spanyol bagi penjajah. Dimulai dengan penaklukan Spanyol oleh Miguel López de Legazpi pada tahun 1565, yang menandai periode ketika Filipina menjadi koloni Kekaisaran Spanyol, dan diakhiri dengan pecahnya Revolusi Filipina pada tahun 1898, yang menandai awal era kolonial Amerika dalam sejarah Filipina.

Kolonisasi Spanyol

Latar belakang

Bagian dari seri mengenai
Sejarah Spanyol Baru
Flag of Cross of Burgundy.svg
250px-San_Agustin_Church_in_Intramuros_%28Manila%29_20180703%2C_bild_8.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Makam Miguel López de Legazpi, pendiri Kota Manila yang menjadi ibu kota Kepulauan Filipina, Gereja Santo Agustinus, Intramuros

Bangsa Spanyol telah menjelajahi Filipina sejak awal abad ke-16, ketika Ferdinand Magellan, seorang navigator Portugis, memimpin ekspedisi Spanyol untuk mengelilingi dunia. Ia sendiri tewas dalam Pertempuran Mactan oleh pasukan Datu Lapulapu. Pada tahun 1543, Ruy López de Villalobos tiba di Kepulauan Leyte dan Samar dan menamainya kepulauan tersebut Las Islas Filipinas sebagai bentuk penghormatan kepada Pangeran Asturias Felipe.[1] Felipe kemudian menjadi Raja Spanyol pada tanggal 16 Januari 1556, ketika ayahnya, Carlos I dari Spanyol (yang juga memerintah sebagai Karl V, Kaisar Romawi Suci), turun takhta. Meski demikian, Felipe baru dapat kembali ke Spanyol karena pada waktu itu ia masih berada di Brussel dan terhambat oleh adanya peperangan di Eropa utara. Tak lama setelah kembali ke Spanyol, Felipe memerintahkan sebuah ekspedisi ke Kepulauan Rempah-rempah, dengan maksud "untuk menemukan pulau-pulau di barat".[2] Pada kenyataannya, tugas ekspedisi tersebut memiliki tujuan lain, yakni menjadikan Filipina sebagai wilayah Spanyol.[3]

Sebelum penaklukan, diperkirakan jumlah penduduk Luzon dan Visayas adalah 1 dan 1,5 juta jiwa, dengan kepadatan penduduk keseluruhan yang rendah.[4]

Penaklukan

Pada tanggal 19 atau 20 November 1564, Miguel López de Legazpi memimpin ekspedisi ke Filipina dengan 500 prajurit dari Barra de Navidad (saat ini bagian dari Jalisco, Meksiko). Dalam perjalanannya, ia juga didampingi oleh biarawan dan penjelajah Andrés de Urdaneta. Pada tanggal 13 Februari 1565, mereka tiba di pesisir Pulau Cebu dan menyatakan pulau tersebut sebagai milik Spanyol. Mengikuti hukum Spanyol, Legazpi memberi para pemimpin Orang Cebu tiga hari untuk menyetujui tawaran hubungan persahabatan sebelum memulai perang penaklukan.[5][6]: 77 [7][8]: 20–23  Pada waktu itu, sebagian besar dari tentaranya merupakan Orang Tlaxcala, yang bersekutu dengan Spanyol selama penaklukan Spanyol atas Meksiko. Beberapa tentara Tlaxcala kemudian menetap secara permanen di pulau Cebu dan sekitarnya, dan banyak kata bahasa Nahuatl diserap ke dalam berbagai bahasa-bahasa Filipina.[9]

Semenjak penaklukan tersebut, lebih dari 15.000 tentara tiba dari Spanyol Baru sebagai migran baru, jauh melebihi jumlah kedatangan warga sipil. Sebagian besar tentara ini adalah mantan narapidana dan pria muda yang tidak berkarakter.[a][10] Akibatnya, terdapat berbagai insiden di mana tentara tersebut melakukan penjarahan dan perbudakan, kendati ada permohonan dari perwakilan gereja untuk menghentikan hal tersebut. Pada tahun 1568, Mahkota Spanyol mengizinkan pembentukan sistem encomienda yang dihapuskannya di Spanyol Baru. Meskipun perbudakan telah dihapuskan di Imperium Spanyol, butuh waktu sekitar satu abad untuk dihapuskan sepenuhnya di Filipina karena sistem perbudakan, terutama perbudakan debitur (alipin), merupakan hal biasa dan sudah ada di kepulauan tersebut sebelum kolonialisasi.[11][12]

250px-A_Spaniard%2C_a_Criollo%2C_Aetas%2C_and_a_cockfight%2C_detail_from_Carta_Hydrographica_y_Chorographica_de_las_Yslas_Filipinas_%281734%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Detail dari Carta Hydrographica y Chorographica de las Yslas Filipinas (1734) yang menggambarkan berbagai klasifikasi masyarakat di Filipina. Dari kiri ke kanan: Peninsulares, Criollo, Orang Filipina (Indios), Aeta.

Pada tahun 1568, Imperium Portugis, yang kala itu berperang melawan Spanyol, memblokade Cebu. Selama 2 bulan blokade, pemerintahan kolonial di Cebu mengalami kekurangan pasokan terus-menerus.[13] Mengingat hal itu, Legazpi memutuskan untuk pindah ke Pulau Panay pada tahun 1569 dan mendirikan permukiman kedua di tepi Sungai Panay. Pada tahun 1570, Legazpi mengirim cucunya, Juan de Salcedo, yang tiba dari Meksiko pada tahun 1567, ke Pulau Mindoro untuk melakukan ekspedisi hukuman terhadap perompak Muslim Moro yang telah menjarah desa-desa di Pulau Panay. Selama ekspedisi tersebut, Salcedo juga menghancurkan benteng-benteng di Pulau Ilin dan Pulau Lubang, masing-masing di selatan dan barat laut Mindoro.

Pada tahun 1570, Martín de Goiti, yang diutus oleh Legazpi ke Luzon, menaklukkan Kerajaan Manila. Legazpi kemudian menyusul dengan armada yang lebih besar yang sebagian besar diisi oleh prajurit dari Visayas.[6]: 79-80  Penaklukan tersebut juga berdampak pada penyerahan diri negara tetangga Manila, seperti Tondo. Meski demikian, beberapa pemimpin lokal, mencoba untuk mengalahkan armada Spanyol, tetapi rencana yang dikenal sebagai Konspirasi Tondo berhasil digagalkan.

Legazpi kemudian mengganti nama Manila menjadi Nueva Castilla, dan mendeklarasikannya sebagai ibu kota Kepulauan Filipina,[6]: 80  kemudian menjadi ibu kota seluruh Hindia Timur Spanyol, yang mencakup wilayah Spanyol di Asia dan Pasifik.[14] Legazpi menjadi gubernur jenderal pertama negara itu.[15][16] Meskipun pemerintahan Legazpi yang masih muda awalnya kecil dan rentan terhadap serbuan penjajah Portugis dan Tiongkok, penggabungan kerajaan Spanyol dan Portugis di bawah Uni Iberia tahun 1580–1640 membantu mempermanenkan klaim Spanyol atas Filipina. Sebagai gantinya, Imperium Portugis kemudian mempermanenkan klaim atas Kepulauan Maluku.[17]

Pada tahun 1573, Jepang memperluas hubungan dagang dengan kota-kota di Luzon utara.[18] Pada tahun 1580, penguasa Jepang Tay Fusa mendirikan negara wokou Tay Fusa di Cagayan.[19] Ketika Spanyol tiba di wilayah tersebut, mereka menaklukkan permukiman tersebut dalam Pertempuran Cagayan pada tahun 1582.[20] Seiring waktu, pengaruh Cebu merosot karena pusat kolonial telah bergeser ke Pulau Luzon. Pada akhir abad ke-16, populasi Manila meningkat, sementara populasi permukiman Spanyol di Visayas menurun.[21]

Catatan

  1. ↑ Hal ini didasarkan pada keterangan Gubernur Jenderal Filipina, yakni Fernando de Silva (1626) dan Diego Fajardo Chacón (1650).[10]

Referensi

  1. ↑ Scott 1985, hlm. 51
  2. ↑ Williams 2009, hlm. 14
  3. ↑ Williams 2009, hlm. 13–33
  4. ↑ Newson 2009, hlm. 4.
  5. ↑ De Lario, Damaso, ed. (2008). "Phillip II and the "Philippine Referendum" of 1599". Reshaping the World | Phillip II of Spain and His Time. Ateneo de Manila University Press. hlm. 98–99. ISBN 9789715505567.
  6. 1 2 3 Halili, Maria Christine N. (2004). Philippine History. Manila: Rex Bookstore, Inc. ISBN 978-971-23-3934-9.
  7. ↑ Education, United States. Office of (1961). Bulletin. U.S. Government Printing Office. hlm. 7.
  8. ↑ de Borja, Marciano R. (2005). Basques In The Philippines. University of Nevada Press. ISBN 9780874175905. Diarsipkan dari asli tanggal Maret 26, 2022. Diakses tanggal Februari 19, 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ "When Tlaxcalan Natives Went to War in the Philippines". Latino Book Review (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-04-01.
  10. 1 2 Mawson, Stephanie J. (Agustus 2016). "Convicts or 'Conquistadores?' Spanish Soldiers in the Seventeenth-Century Pacific". Past & Present (232). Oxford University Press on behalf of The Past and Present Society: 87–125. doi:10.1093/pastj/gtw008. JSTOR 44015364.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ Newson 2009, hlm. 5–7.
  12. ↑ Seijas, Tatiana (2014). Asian Slaves in Colonial Mexico: From Chinos to Indians cover. Cambridge University Press. hlm. 36–37. ISBN 9781107477841.
  13. ↑ Newson 2009, hlm. 61.
  14. ↑ Fernando A. Santiago Jr. (2006). "Isang Maikling Kasaysayan ng Pandacan, Maynila 1589–1898". Malay. 19 (2): 70–87. Diakses tanggal Juli 18, 2008.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  15. ↑ Manuel L. Quezon III (Juni 12, 2017). "The Philippines Isn't What It Used to Be". SPOT.PH. Diakses tanggal Oktober 24, 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  16. ↑ Andrade, Tonio (2005). "La Isla Hermosa: The Rise of the Spanish Colony in Northern Taiwan". How Taiwan Became Chinese: Dutch, Spanish and Han colonialization in the Seventeenth Century. Columbia University Press.
  17. ↑ Barrows, David P. "A History of the Philippines". Gutenberg.org. Diakses tanggal 2022-03-08.
  18. ↑ "조선왕조실록". Sillok.history.go.kr. Diakses tanggal Februari 23, 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. ↑ Barreveld, Dirk J. (Februari 23, 2019). The Dutch Discovery of Japan: The True Story Behind James Clavell's Famous Novel Shogun. iUniverse. ISBN 9780595192618. Diakses tanggal Februari 23, 2019 – via Google Books.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. ↑ Borao, José Eugenio (2005), p.2
  21. ↑ Newson 2009, hlm. 120.

Sumber

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan