Kamis, 29 Oktober 2026
01:32 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Evolusi divergen

Evolusi divergen

Bagikan:
Darwin%27s_finches.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Ketilang Darwin adalah sebuah contoh jelas dan terkenal evolusi divergen, yang mana sebuah spesies leluhur beradiasi menjadi beberapa spesies keturunan dengan ciri-ciri yang mirip dan berbeda.
Bagian dari serial tentang
Biologi evolusioner

Evolusi divergen atau seleksi divergen adalah akumulasi perbedaan di antara populasi-populasi suatu spesies yang berkerabat dekat, yang terkadang mengarah ke spesiasi. Evolusi divergen biasanya terjadi saat dua populasi terpisah oleh sebuah pembatas geografis (seperti pada spesiasi peripatrik atau alopatrik) dan mengalami tekanan selektif yang mendorong adaptasi terhadap lingkungan baru. Setelah banyak generasi dan evolusi berkelanjutan, populasi-populasi tersebut makin sulit untuk saling kawin dengan satu sama lainnya.[1] Naturalis asal Amerika Serikat John Thomas Gulick (1832–1923) adalah orang pertama yang menggunakan istilah evolusi divergen,[2] dan penggunaannya kini tersebar luas literatur evolusi modern. Contoh divergensi di alam adalah radiasi adaptif burung ketilang di Galápagos, perubahan dalam perilaku pengeroyokan burung Camar tiga-jari, dan evolusi anjing modern (Canis lupus familiaris) dari serigala (Canis lupus).

Istilah tersebut juga dapat diterapkan dalam evolusi molekuler, seperti pada protein yang berasal dari gen homolog. Baik gen ortolog (yang dihasilkan dari peristiwa spesiasi) maupun gen paralog (yang dihasilkan dari duplikasi gen) dapat mengilustrasikan evolusi divergen. Melalui duplikasi gen, evolusi divergen sangat mungkin terjadi di antara dua gen dalam satu spesies. Kemiripan antar spesies yang telah mengalami divergensi disebabkan oleh asal-usul leluhur yang sama, sehingga kemiripan tersebut merupakan homologi.[3]

Kemiripan antar spesies yang terlah ter-divergen adalah karena mereka memiliki leluhur bersama, jadi kemiripan tersebut adalah sebuah homologi. Sebagai kontras, evolusi konvergen terjadi saat sebuah adaptasi terjadi secara independen, menghasilkan struktur-struktur serupa seperti sayap pada burung dan serangga.

Referensi

  1. ↑ "Sympatric speciation". Diakses tanggal 2 Februari 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Akses tertutup Gulick, John T. (September 1888). "Divergent Evolution through Cumulative Segregation". Journal of the Linnean Society of London, Zoology. 20 (120): 189–274. doi:10.1111/j.1096-3642.1888.tb01445.x. Diakses tanggal 26 September 2011.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) (perlu berlangganan)
  3. ↑ Zuckerkandl, E., & Pauling, L. (1965). Evolutionary divergence and convergence in proteins. In Evolving genes and proteins (pp. 97-166). Academic press.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan