Kamis, 22 Oktober 2026
03:02 WIB
TERKINI
Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama
Djojo Dirono

Djojo Dirono

Bagikan:
Djojo Dirono
DjojoDirono-bptLMG.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Bupati Lamongan21
Masa jabatan
1885–1937
PendahuluRT Kromo Djojo Adirono
PenggantiRT Moerid Tjokronegoro
Informasi pribadi
Lahir(1883-02-04)4 Februari 1883
MeninggalKesalahan ekspresi: Karakter tanda baca "{" tidak dikenal. Parameter salah (harus 1 — 12) 24 Juni 1945(24 Juni 1945-Kesalahan ekspresi: Kata "februari" tidak dikenal.-{{{3}}}) (umur Error: Need valid year, month, day)Kesalahan ekspresi: Kata "juni" tidak dikenal.
Suami/istriRA. Siti Ngaisah
HubunganKen Arok, Sinuhun Brawijaya V, Joko Tingkir dan Mangkunegara I (leluhur)
Raden Tumenggung Kromo Djojo Adirono (ayah)
Latief Hendraningrat (cucu)
Buyut-putriRASitiNgasiah.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
RA. Siti Ngasiah. Istri Raden Mas Djojo Dirono

Raden Mas Djojo Dirono (4 Februari 1883 – 24 Juni 1945; Gelar: Raden Mas Adipati Aryo Djojo Adinegoro) adalah bupati Lamongan yang memerintah pada periode 1885-1908 dan 1908-1937.

Riwayat Hidup

Keluarga dan Leluhur

Ia adalah anak dari bupati sebelumnya Raden Tumenggung Kromo Djojo Adirono. Ia adalah keturunan dari garis trah/marga Kasepuhan-Kromodjajan yang berleluhurkan singkat Ken Arok, Sinuhun Brawijaya V, Joko Tingkir dan Mangkunegara I. Ia memiliki istri bernama Raden Ajeng Siti Ngaisah, yang merupakan putri dari Raden Mas Panji Djojo Diningrat yang Bergelar Raden Mas Haji Muhammad Yasien Efendi yang membabat sebagian hutan menjadi perkebunan dan perkampungan yang kini bernama Kecamatan Glenmore di selatan lereng Gunung Raung, Banyuwangi. Ia merupakan kakek dari pengibar bendera Indonesia pada saat Proklamasi Kemerdekaan, Brigadir Jendral (Purn.) Raden Mas Abdul Latief Hendroningrat.

Bupati Lamongan

Pada saat pemerintahannya ia berhasil membangun rel kereta api, sekolah dan rumah sakit sehingga gelarnya dinaikkan menjadi Raden Adipati Aryo Djojo Adinegoro.[1]

Kematian

Ketika Jepang memasuki Kabupaten Lamongan kondisi menjadi banyak ketidak stabilan dalam kehidupan sosial, perekonomian dan kerusuhan akibat kesemena-menaan tentara Jepang kala masa transisi perpindahan kekuasaan dari pihak Belanda kepada pihak Jepang di kabupaten Lamongan. Saat-saat itulah guna untuk menyelamatkan diri dari berbagai tindakan tentara Jepang, istri dari RM Adipati Aryo Djojo Adinegoro menyarankan agar dia untuk mengungsi saja untuk berkumpul dengan di Rumah kediaman saudara nya di Sidoarjo.

Saat itu, di dalam pikiran Djojo Adinegoro adalah ingin tetap mempertahankan tanah Lamongan dan tetap ingin menjadi pelayan dan pelindung masyarakat Lamongan ketika saat itu, namun keinginan untuk tetap bertahan di Lamongan harus berhenti karena keadaan fisik tidak mendukung. Ia jatuh sakit dan terpaksa harus mendapatkan perawatan di Sidoarjo sampai keadaannya pulih lagi. Setelah pulih, Adipati Aryo Djojo Adinegoro ingin kembali ke Lamongan tetapi saat itu sistem kepemimpinan daerah sudah tidak sama ketika Belanda masih menduduki indonesia, hingga akhirnya dengan hati kecewa Raden Mas Adipati Aryo Djojo Adinegoro terpaksa memutuskan tetap tinggal di Sidoarjo bersama keluarga yang lain.

Pada tanggal 24 Juni 1945 dia meninggal dunia dan dia di kebumikan di samping makam istrinya Raden Ajeng Siti Ngasiah. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga Tjondronegoro di belakang Masjid Agung Alun - Alun Sidoarjo.

Referensi

Jabatan politik
Didahului oleh:
RT Kromo Djojo Adirono
Bupati Lamongan
1885–1937
Diteruskan oleh:
RT Moerid Tjokronegoro
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan