Jumat, 25 September 2026
09:28 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum
Diluvium

Diluvium

500px-%D0%A3%D1%81%D1%82%D1%8C%D0%B5_%D0%A7%D1%83%D0%B8.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Teras diluvial di Sungai Katun, Altai Scabland, Republik Altai
500px-%D0%A0%D1%8F%D0%B1%D1%8C_%D1%82%D0%B5%D1%87%D0%B5%D0%BD%D0%B8%D1%8F.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Riak arus besar di Cekungan Kuray, Altai, Rusia

Diluvium adalah sebuah istilah dalam geologi untuk endapan superfisial yang dibentuk oleh aliran air mirip banjir, dan sangat berbeda dengan endapan aluvium atau aluvial yang terbentuk melalui perantara cair lambat dan stabil. Istilah ini sebelumnya digunakan untuk menyebut endapan tanah liat batuan yang diduga muncul setelah banjir besar zaman Nabi Nuh.

500px-Diluvial_bars_in_Central_Altay_Mountains_July_2011_by_Alexei_Rudoy.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Teras diluvial di Pegunungan Altay Tengah, Sungai Katun, Little Yaloman Village. Juli 2011

Pada akhir abad ke-20, geolog Rusia Alexei Rudoy mencetuskan istilah "diluvium" untuk menjelaskan endapan yang tercipta akibat luapan dahsyat danau bendungan gletser pada masa Pleistosen di cekungan antarpegunungan Altai.[1] Danau terbesar, Chuya dan Kuray, memiliki volume air dalam jumlah ratusan kilometer kubik, dan pelepasan dalam tingkat aliran hidrografnya melampaui tingkat maksimum banjir Danau Missoula pada masa Pleistosen di Amerika Utara. Istilah "diluvium" menurut A. N. Rudoy mulai diterima, dan proses morfolitogenesis diluvial dapat ditemukan di berbagai buku teks modern.

Endapan banjir di Altai

Hampir semua depresi antarpegunungan di Siberia selatan dan Mongolia utara memiliki danau-danau bendungan gletser selama zaman es Pleistosen. Perubahan iklim dan hidrostatis bendungan es diikuti oleh pengisian dan pengeringan berulang di danau-danau cekungan. Luapan danau memiliki karakter kataklismik. Sesuai kondisi iklimnya, gletser akan terbentuk lagi di lembah-lembah drainase utama sesaat setelah deformasi bendungan dan luapan danau, lalu kembali membendung cekungan tersebut.

Danau-danau besar (Chuya, Kuray, Uymon, Darkhat, dll.) memiliki volume ratusan kilometer kubik, sementara debit banjir luapan mencapi jutaan meter kubik per detik. Beberapa banjir tersebut membentuk lembah drainase yang menghasilkan endapan sedimen baru secara terus-menerus. Penanggalan endapan baru tersebut membuktikan adanya banjir berskala besar di lembah Sungai Chuya dan Katun dalam interval antara 23 dan 7 ribu tahun yang lalu. Pada masa itu, ada lima peristiwa banjir berskala besar. Jumlah air yang luar biasa mengering begitu saja dan mengalir ke selatan Siberia Barat. Volume air total yang keluar dari cekungan Altai pernah mencapai 10 ribu kilometer kubik. Dengan periodisitas, seluruh cekungan di Siberia Selatan mampu mengirimkan air ke utara dengan jumlah 60 ribu kilometer kubik dalam bentuk air banjir.[2]

Lihat pula

Catatan kaki

  1. ↑ "Lee, Keenan, 2004, The Altai Flood" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2011-10-09. Diakses tanggal 2012-02-11.
  2. ↑ Rudoy A.N. Mountain Ice-Dammed Lakes of Southern Siberia and their Influence on the Development and Regime of the Runoff Systems of North Asia in the Late Pleistocene. Chapter 16. (P. 215—234.) — Palaeohydrology and Environmental Change / Eds: G. Benito, V.R. Baker, K.J. Gregory. — Chichester: John Wiley & Sons Ltd, 1998. 353 p.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan