Kamis, 08 Oktober 2026
03:26 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya

Dicky Budiman

Bagikan:

dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH. (lahir 9 September 1971) adalah seorang dokter, epidemiolog, dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Australia. Ia pernah menjabat Sekretaris Dewan Pengawas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada 2016–2018. Ia dikenal secara luas sebagai analis Covid-19 untuk Indonesia.

Latar belakang dan pendidikan

Dicky lahir di Bandung pada 9 September 1971.[1] Bapaknya adalah seorang dokter lulusan Universitas Padjadjaran yang pernah berkarier di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan menjabat Direktur Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Departemen Kesehatan Republik Indonesia.[2]

Dicky mulai aktif menulis sejak menjabat Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA). Secara otodidak ia mengasah kemampuannya dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan selama bersekolah. Ia turut bergabung dalam klub majalah dinding (mading) sekolah dan sering mengikuti kompetisi dan memenangkannya hingga tingkat nasional.[3]

Dicky sering memenangkan kompetisi olimpiade fisika saat bersekolah. Ia ingin mendaftar beasiswa STAID (Science, Technology, and Industrial Development) dari Presiden B.J. Habibie[4] untuk mendapatkan berkuliah ke Jerman. Namun, ia akhirnya memilih kuliah kedokteran karena mengikuti keinginan bapaknya. Ia mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) dan lulus sesuai keinginan bapaknya.[2]

Saat berkuliah, ia aktif menulis surat pembaca untuk surat kabar untuk mengasah opininya. Sebelum media online menjamur, ia sering mengirimkan tulisan-tulisannya kepada orang sekitarnya melalui surat elektronik (e-mail). Ia meraih gelar dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran pada 1997. Ia lalu meraih gelar magister sains dalam bidang epidemiologi penyakit menular dari Universitas Griffith, Australia pada 2004. Ia menerima beasiswa magister dari Bank Pembangunan Asia (ADB) pada 2003. Tesisnya yang menbahas HIV/AIDS berhasil menjadi tesis terbaik dan dipresentasikan di Bangkok. Ia sedang menempuh studi doktoral di Universitas Griffith sejak 2019.[2][3]

Awalnya Dicky tidak menyukai kedokteran yang dianggapnya "diam begini", tetapi ia menjadi suka ketika menemukan bidang kesehatan masyarakat yang sesuai dengan minatnya.[2]

Karier

Dicky memulai kariernya sebagai Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Cisaruni, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.[3] Dari sana ia mengenal berkenalan dengan penyakit, wabah, seperti TBC, malaria, diare, termasuk HIV/AIDS.[2]

Sejak 2000 hingga 2020, ia juga berpengalaman di Kementerian Kesehatan,[5] Bappenas, BPJS Kesehatan, UNDP, ASEAN, dan Organisasi Kerja Sama Islam.[3] Ia merupakan seorang pegawai negeri sipil sejak 2005. Jabatannya ialah analis data dan informasi di Subbagian Kerja Sama Bilateral II, Biro Kerja Sama Luar Negeri, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.[1]

Dicky mengidolakan penulis Stephen R. Covey yang menulis buku The 7 Habits. Menurutnya buku itu ringan, tetapi penuh makna sehingga ia terinspirasi. Ia sering berkonsultasi dalam hal menulis karya ilmiah kepada Profesor Cordia Chu, seorang profesor Universitas Griffith yang memiliki ribuan karya.[3]

Pandemi Covid-19 di Indonesia

Pada Oktober 2019, Dicky Budiman memperoleh informasi dari konferensi internasional yang diikutinya di Guangdong, Tiongkok bahwa segera akan terjadi pandemi. Ia lalu mengambil riset tentang virus korona pada November 2019.[2] Ia lalu memperingatkan bahaya pandemi kepada rekan di Kementerian kesehatan dan beberapa instansi pemerintah Indonesia lainnya. Namun, peringatannya tidak terlalu diacuhkan. Ia lalu mengirimkan tulisan ke Harian Kompas dan cuitan di akun Twitter pribadinya tentang prediksi terjadinya pandemi Covid-19 di bulan Maret 2020. Keesokan harinya, pada 2 Maret 2020, pemerintah mengumumkan 2 kasus Covid-19 perdana di Indonesia. Segera setelah kenyataan prediksi itu, ia mendapat atensi dari media massa Indonesia dan internasional. Ia diwawancari oleh banyak stasiun televisi, surat kabar, dan media online. Ia sering menerima serangan pendengung/buzzer pro kebijakan pemerintah di Twitternya.[6]

Organisasi

Dicky ikut bergabung menjadi anggota Ikatan Dokter Indonesia sejak 1998, Perhimpunan Kesehatan Masyarakat Indonesia dan Perhimpunan Epidemiologi Indonesia sejak 2005, Public Health Association of Australia (PHAA) sejak 2004, dan Asosiasi Manajemen Risiko Indonesia sejak 2016. Ia juga menjadi anggota Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) As Syifa Universitas Padjadjaran dan Direktur Dhitani Foundation, sebuah yayasan relawan untuk komunitas marginal.[3]

Rujukan

  1. 1 2 "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-01-05. Diakses tanggal 2022-01-05.
  2. 1 2 3 4 5 6 Yuliastuti, Dian (25 Jul 2021). "Dicky Budiman: Yang Saya Sasar Pembuat Kebijakan". Tempo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-07. Diakses tanggal 16 Agu 2024.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
  3. 1 2 3 4 5 6 "Sapa Penulis #5 dr. Dicky Budiman M.Sc.PH, PhD : Intermediate Writer Bidang Kesehatan". The Columnist. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-04. Diakses tanggal 16 Agu 2024.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
  4. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-01-05. Diakses tanggal 2022-01-05.
  5. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-03. Diakses tanggal 2022-01-05.
  6. ↑ "Ahli Epidemiologi di Pusaran Panas Buzzer dan Corona". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-09-27. Diakses tanggal 16 Agu 2024.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=

Pranala luar

Lokasi
Jawa
Kalimantan
Maluku & Papua
Nusa Tenggara
Sulawesi
Sumatra
Lainnya
Tanggapan
Institusi
Kebijakan
Tokoh
Terlibat
Lainnya
Lain-lain
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan