Jumat, 09 Oktober 2026
00:36 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Diastereomer

Diastereomer

Bagikan:
Diastereomer yang juga epimer
250px-D-threose.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 250px-D-erythrose.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-DThreose_Fischer.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 250px-DErythrose_Fischer.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
D-treosa D-eritrosa

Dalam stereokimia, diastereomer (terkadang disebut pula diastereoisomer) adalah suatu jenis stereoisomer[1] yang bukan cerminan satu sama lain dan tidak identik. Dengan demikian, jenis isomer ini muncul ketika dua atau lebih stereoisomer dari suatu senyawa memiliki konfigurasi yang berbeda pada satu atau lebih (namun tidak pada seluruh) pusat kiral yang ekuivalen (saling berkaitan), dan tidak saling membentuk bayangan cermin.[2] Ketika dua diastereoisomer berbeda hanya pada satu pusat kiral, keduanya disebut sebagai epimer. Setiap pusat kiral dapat membentuk dua konfigurasi berbeda, sehingga umumnya menambah jumlah stereoisomer secara bertambah dua kali lipat untuk setiap pusat kiral tambahan.

Diastereomer berbeda dari enansiomer karena enansiomer merupakan pasangan stereoisomer yang memiliki perbedaan konfigurasi pada seluruh pusat kiral, sehingga keduanya menjadi bayangan cermin satu sama lain.[3] Enansiomer dari suatu senyawa yang memiliki lebih dari satu stereosenter juga merupakan diastereomer terhadap stereoisomer lain dari senyawa tersebut yang bukan merupakan bayangan cerminnya (yakni selain enansiomer pasangannya). Diastereomer memiliki sifat fisik yang berbeda (tidak seperti kebanyakan sifat enansiomer) dan sering kali menunjukkan perbedaan dalam reaktivitas kimia.

Diastereomer tidak hanya berbeda dalam sifat fisiknya, tetapi juga dalam reaktivitas kimianya — yakni cara suatu senyawa berinteraksi dengan senyawa lain. Sebagai contoh, glukosa dan galaktosa merupakan diastereomer. Meskipun keduanya memiliki massa molar yang sama, glukosa lebih stabil dibandingkan galaktosa. Perbedaan stabilitas ini menyebabkan galaktosa diserap sedikit lebih cepat daripada glukosa di dalam tubuh manusia.[4][5]

Diastereoselektivitas merupakan kecenderungan terbentuknya satu atau lebih diastereomer tertentu dibandingkan diastereomer lainnya dalam suatu reaksi organik. Secara umum, stereoselektifitas dipengaruhi oleh interaksi torsi dan sterik pada pusat kiral yang muncul akibat pendekatan elektrofil menuju pusat kiral selama reaksi berlangsung.[6]

Syn / anti

Ketika ikatan tunggal antara dua pusat stereogenik dapat berputar bebas, penanda cis/trans tidak lagi berlaku. Dua awalan yang diterima secara luas untuk membedakan diastereomer pada ikatan berorbital sp³ dalam molekul rantai terbuka adalah syn dan anti. Masamune mengusulkan deskriptor ini karena tetap dapat digunakan meskipun gugus-gugusnya tidak terikat pada atom karbon yang bersebelahan.[7] Sistem ini juga bekerja tanpa bergantung pada aturan prioritas CIP. Istilah syn menggambarkan gugus yang berada pada sisi yang sama, sedangkan anti menggambarkan gugus yang berada pada sisi berlawanan. Konsep ini hanya berlaku untuk proyeksi zigzag dan menjelaskan stereokimia relatif, bukan stereokimia absolut.[8]

Semua isomer tersebut berada dalam kategori yang sama.[9]

Eritro / treo

Dua awalan lama yang masih sering digunakan untuk membedakan diastereomer adalah treo dan eritro. Pada sakarida yang digambar menggunakan proyeksi Fischer, isomer eritro memiliki dua substituen identik berada pada sisi yang sama, sedangkan isomer treo menempatkannya pada sisi berlawanan.[10] Ketika digambar sebagai rantai zigzag, isomer eritro menempatkan dua substituen identik pada sisi berlawanan bidang (anti). Penamaan ini berasal dari pasangan diastereomer aldosa empat karbon, yaitu eritrosa dan treosa. Penggunaan awalan ini tidak direkomendasikan secara umum karena sering sulit menentukan penerapannya untuk senyawa tertentu.[11]

Namun, awalan tersebut tetap bermanfaat untuk menggambarkan konfigurasi relatif pada senyawa yang memenuhi kriteria berikut: memiliki sedikitnya empat atom karbon, tepat dua di antaranya merupakan pusat kiral, kedua pusat kiral tersebut bersebelahan, dan masing-masing pusat kiral memiliki dua substituen yang jelas dapat diklasifikasikan sebagai “lebih besar” (biasanya heteroatom seperti N, O, atau S) dan “lebih kecil” (biasanya H).[12]

Treitol dan eritritol merupakan alkohol gula empat karbon. Eritritol bersifat akiral (memiliki setidaknya satu konformasi dengan bidang atau pusat simetri), sedangkan treitol bersifat kiral. Sebuah mnemonik dalam bahasa Inggris yang sering digunakan adalah bahwa “treitol” dan “kiral” sama-sama dimulai dengan konsonan, sedangkan “eritritol” dan “akiral” sama-sama dimulai dengan huruf vokal.

Contoh senyawa threo lainnya adalah treonina, salah satu asam amino yang dikodekan oleh DNA. Diastereomer eritro-nya, yaitu alotreonina, tidak dikodekan oleh DNA dan sangat jarang ditemukan di alam.

250px-L-Threonin_-_L-Threonine.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 250px-D-Threonine.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
L-Treonina (2S,3R) dan D-Treonina (2R,3S)
250px-L-allo-Threonine.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 250px-D-allo-Threonine.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
L-Alotreonina (2S,3S) dan D-Alotreonina (2R,3R)

Dalam reaksi adisi pada alkena, adisi syn pada alkena trans, atau adisi anti pada alkena cis, menghasilkan produk treo; sedangkan adisi syn pada alkena cis, atau adisi anti pada alkena trans, memberikan produk eritro.[13]

Aplikasi

Dua diastereomer, seperti telah dijelaskan sebelumnya, tidak memiliki sifat kimia yang identik. Prinsip ini dimanfaatkan dalam sintesis kiral untuk memisahkan campuran enansiomer. Konsep tersebut menjadi dasar dari teknik resolusi kiral. Setelah pasangan diastereomer terbentuk, pemisahan dapat dilakukan menggunakan kromatografi atau rekristalisasi. Contoh lain penerapan prinsip ini dapat ditemukan pada stereokimia ketonisasi enol dan enolat.[14][15][16]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ IUPAC "Gold Book" diastereoisomerism  DOI:10.1351/goldbook.D01679
  2. ↑ Garrett, R.H.; Grisham, C.M. (2005), Biochemistry 3rd ed., Belmont CA: Thomson, hlm. 205, ISBN 0-534-41020-0.
  3. ↑ IUPAC "Gold Book" enantiomer  DOI:10.1351/goldbook.E02069
  4. ↑ McCance, Robert Alexander; Madders, Kate (1930). "The comparative rates of absorption of sugars from the human intestine". Biochemical Journal. 24 (3): 795–804. doi:10.1042/bj0240795. ISSN 0264-6021. PMC 1254520. PMID 16744419.
  5. ↑ Chao, Hsi-Chun; McLuckey, Scott A. (2020-10-06). "Differentiation and Quantification of Diastereomeric Pairs of Glycosphingolipids using Gas-phase Ion Chemistry". Analytical Chemistry. 92 (19): 13387–13395. doi:10.1021/acs.analchem.0c02755. ISSN 0003-2700. PMC 7544660. PMID 32883073.
  6. ↑ Lavinda, Olga; Witt, Collin H.; Woerpel, K. A. (2022-03-28). "Origin of High Diastereoselectivity in Reactions of Seven-Membered-Ring Enolates". Angewandte Chemie International Edition in English. 61 (14) e202114183. doi:10.1002/anie.202114183. ISSN 1521-3773. PMC 8940697. PMID 35076978.
  7. ↑ Masamune, Shunichi (1984). "Multiple Asymmetric Induction". Pure and Applied Chemistry. 56 (1): 1–30. doi:10.1351/pac198456010001.
  8. ↑ Trost, Barry M.; Brindle, Cheyenne S. (2010). "The Direct Catalytic Asymmetric Aldol Reaction". Chemical Society Reviews. 39: 1600–1630. doi:10.1039/B923537J.
  9. ↑ Evans, David A.; McGee, Lawrence R. (1981). "Enantioselective Aldol Condensations. 3. Erythro-Selective Condensations via Zirconium Enolates". Journal of the American Chemical Society. 103: 2876–2878. doi:10.1021/ja00400a071.
  10. ↑ Modern Physical Organic Chemistry Eric V. Anslyn, Dennis A. Dougherty (2006)
  11. ↑ IUPAC, Compendium of Chemical Terminology, edisi ke-2 ("Buku Emas") (1997). Versi koreksi daring:  (2006–) "erythro, threo".
  12. ↑ Eliel, Ernest L. (1967). "Conformational and Stereochemical Principles". Topics in Stereochemistry. 1: 1–54. doi:10.1002/9780470147085.ch1.
  13. ↑ Carey, Francis A.; Sundberg, Richard J. (2007). "Control of Stereochemistry in Alkene Additions". Advanced Organic Chemistry. Part A.
  14. ↑ Seeman, Jeffrey I. (1983). "Chiral Resolution". Chemical Reviews. 83 (2): 83–134. doi:10.1021/cr00054a001.
  15. ↑ Heathcock, C. H. (1976). "The Stereochemistry of Enolate Formation and Reactions". Organic Reactions. 23: 1–294.
  16. ↑ Eliel, Ernest L.; Wilen, Samuel H. (1972). "Applications of Diastereomer Formation in Chiral Resolution". Journal of Organic Chemistry. 37: 3608–3617. doi:10.1021/jo00794a002.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan