Minggu, 11 Oktober 2026
13:25 WIB
TERKINI
Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober

Demam kuning

Bagikan:
Demam kuning
SpesialisasiPenyakit menular Sunting ini di Wikidata

Demam kuning (dijuluki "Yellow Jack") adalah sebuah penyakit hemoragik virus akut.[1] Virus ini berupa virus RNA sebesar 40 hingga 50 nm dengan sense positif dari famili Flaviviridae.

Virus demam kuning ini ditularkan melalui gigitan nyamuk betina (nyamuk demam kuning, Aedes aegypti, dan spesies lain) dan ditemukan di kawasan tropis dan subtropis di Amerika Selatan dan Afrika, namun tidak di Asia.[2] Makhluk hidup yang menjadi inang virus ini hanyalah primata dan beberapa spesies nyamuk. Penyakit ini diyakini berasal dari Afrika, kemudian dari sana diperkenalkan ke Amerika Selatan melalui perdagangan budak pada abad ke-16. Sejak abad ke-17, beberapa epidemi besar penyakit ini tercatat muncul di Amerika, Afrika dan Eropa. Pada abad ke-19, demam kuning dianggap sebagai salah satu penyakit menular paling berbahaya.[3]

Demam kuning terjadi dengan gejala demam, mual dan nyeri; penyakit ini umumnya menghilang setelah beberapa hari. Pada beberapa pasien, fase beracunnya terjadi setelah itu, dan kerusakan hati dengan jaundis (penguningan kulit yang menjadi bakal penamaan penyakit ini) dapat terjadi dan mengakibatkan kematian. Karena kecenderungan perdarahan yang meningkat (diatesis perdarahan), demam kuning termasuk dalam kelompok demam hemoragik. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa demam kuning mengakibatkan 200.000 korban sakit dan 30.000 kematian setiap tahunnya di daerah berpenduduk tanpa vaksin;[4] sekitar 90% infeksi terjadi di Afrika.[5]

Vaksin teraman dan efektif melawan demam kuning sudah ada sejak pertengahan abad ke-20 dan beberapa negara mensyaratkan vaksinasi untuk pelancong.[6] Karena belum ada terapi (antivirus) yang pasti untuk penyakit ini selain penanganan gejala penyakit, program vaksinasi, bersama kebijakan mengurangi populasi nyamuk pengangkut virus (inang), sangat penting bagi daerah-daerah terjangkit. Sejak 1980-an, jumlah kasus demam kuning terus meningkat dan menjadikannya sebagai penyakit yang bangkit kembali.[7]

Catatan kaki

  1. ↑ Schmaljohn AL, McClain D. (1996). "Alphaviruses (Togaviridae) and Flaviviruses (Flaviviridae)". Dalam Baron S (ed.). Medical Microbiology (Edisi 4th). Univ of Texas Medical Branch. ISBN 0-9631172-1-1.
  2. ↑ "CDC Yellow Fever". Diakses tanggal 2010-03-13.
  3. ↑ Oldstone, Michael B. A. (2000). Viruses, Plagues, and History (Edisi 1st). Oxford University Press. hlm. 45. ISBN 0195134222.
  4. ↑ "Yellow fever fact sheet". WHO—Yellow fever. Diakses tanggal 2006-04-18.
  5. ↑ Tolle MA (2009). "Mosquito-borne diseases". Curr Probl Pediatr Adolesc Health Care. 39 (4): 97–140. doi:10.1016/j.cppeds.2009.01.001. PMID 19327647.{{cite journal}}: Parameter tidak dikenal |month= diabaikan
  6. ↑ Ryan KJ; Ray CG (editors) (2004). Sherris Medical Microbiology (Edisi 4th). McGraw Hill. ISBN 0-8385-8529-9.{{cite book}}: |author= memiliki nama generikPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  7. ↑ Barrett AD, Higgs S (2007). "Yellow fever: a disease that has yet to be conquered". Annu. Rev. Entomol. 52: 209–29. doi:10.1146/annurev.ento.52.110405.091454. PMID 16913829.

Bacaan lanjutan

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik senjata ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan