Jumat, 16 Oktober 2026
04:25 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M

Cakraningrat II

Bagikan:

Panembahan Cakraningrat II, memerintah antara 1680-1707, adalah seorang penguasa wilayah Madura Barat dan pesisir utara Jawa Timur.[1] Namanya sebelum naik takhta adalah Raden Undagan atau Pangeran Sampang.[2] Kekuasaan Cakraningrat II mendapat dukungan kuat dari para penguasa Surabaya, yang juga adalah menantu dan cucu menantunya, yaitu Ngabehi Jangrana I dan anaknya Jangrana II.[1] Pada masa pemerintahannya, ia juga terlibat dalam kemelut suksesi Mataram, yang antara lain melibatkan Trunojoyo, Amangkurat II, Untung Surapati, Pakubuwana I, Amangkurat III, serta VOC.[1]

Cakraningrat II adalah anak kedua dari Cakraningrat I, penguasa pertama Madura Barat yang diangkat sebagai vasal dari Mataram oleh Sultan Agung; sedangkan ibunya adalah putri keturunan Sunan Giri yang bernama Nyi Ageng Sawu, atau gelarnya Ratu Ibu.[2] Raden Undagan diangkat sebagai penguasa untuk menggantikan ayahnya oleh Susuhunan Amangkurat I.[1] Pada masa pemberontakan Trunojoyo yang terjadi antara 1674-1679, Cakraningrat II sempat disingkirkan dari kekuasaannya; tetapi setelah pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan maka ia pun berkuasa kembali.[1] Trunojoyo sesungguhnya adalah keponakannya sendiri, yaitu anak dari Demang Melayakusuma, kakaknya yang tidak naik takhta.[3]

Ketika usianya telah lanjut, Cakraningrat II turut berpihak kepada Pakubuwana I dalam suksesi kekuasaannya melawan Amangkurat III dan sekutunya Untung Suropati.[4] Pasukan gabungan Kartasura, Madura, Surabaya, dan VOC berhasil menang pada tahun 1706.[4] Untung Suropati terbunuh, Amangkurat III diasingkan ke Srilangka hingga wafatnya, dan Cakraningrat II juga meninggal tak lama kemudian.[4] Ia jatuh sakit dan meninggal di Kamal, Bangkalan, sehingga mendapat gelar anumerta Panembahan Siding Kamal ('Panembahan wafat di Kamal') oleh masyarakat.

Setelah Cakraningrat II wafat, pemerintahannya dilanjutkan oleh anaknya yaitu Cakraningrat III.[1]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 Ricklefs, Merle Calvin; Nugraha, Moh. Sidik (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Penerbit Serambi. ISBN 978-979-024-115-2., hlm. 186-191.
  2. 1 2 de Graaf, Hermanus Johannes (1987). Runtuhnya Istana Mataram. Grafitipers. ISBN 978-979-444-036-0., hlm. 51-52.
  3. ↑ Kartodirjo, Sartono (1973). Sejarah perlawanan-perlawanan terhadap kolonialisme. Pusat Sejarah ABRI., hlm. 4.
  4. 1 2 3 Kumar, Ann (1976). Surapati: Man and Legend : a Study of Three Babad Traditions. Brill Archive. ISBN 978-90-04-04364-0., hlm. 32-39.
Didahului oleh:
Cakraningrat I
Panembahan Madura Barat
1647-1707
Diteruskan oleh:
Cakraningrat III
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan