Minggu, 27 September 2026
04:29 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG

Wangsa Cakraningrat

Wangsa Cakraningrat
ꦕꦏꦿꦤꦶꦁꦿꦠꦿ꧀
NegaraKadipaten Sampang (kini bagian dari Indonesia)
Gelar-gelarAdipati, Sultan, Bupati
PendiriRaden Prasena (Cakraningrat I)
Penguasa terakhirR.A.A. Tjakraningrat (Cakraningrat XII)
Didirikan pada1624
Pembubaran1950 (pembubaran Negara Madura)
EtnisMadura, Jawa

Wangsa Cakraningrat (EVO: Tjakraningrat) adalah garis keturunan bangsawan, pangeran, sultan, dan regent (bupati) yang memegang kekuasaan politik di wilayah Madura Barat (terutama berpusat di Sampang dan Bangkalan) sejak abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20.[1] Dinasti ini didirikan oleh Raden Prasena, seorang pangeran Madura yang diangkat oleh Sultan Agung dari Kesultanan Mataram dengan gelar Cakraningrat I pada tahun 1624.[2]

Selama berabad-abad, dinasti ini memainkan peran politik yang sangat krusial dalam dinamika kekuasaan di Pulau Jawa dan Madura, sering kali menjadi penentu dalam konflik suksesi di Mataram, serta menjalin hubungan pasang-surut dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan pemerintah Hindia Belanda.

Sejarah

Asal-usul

Sebelum dinasti ini terbentuk, Pulau Madura terpecah ke dalam beberapa penguasaan lokal yang saling bersaing. Pada tahun 1624, Sultan Agung dari Mataram melakukan penaklukan besar-besaran di Madura untuk menyatukan wilayah tersebut di bawah kendali Mataram. Dalam peristiwa penaklukan tersebut, hampir seluruh penguasa lokal tewas, kecuali seorang pangeran muda bernama Raden Prasena.[2]

Sultan Agung kemudian membawa Raden Prasena ke keraton Mataram, merawatnya, dan menikahkannya dengan salah satu putri keraton. Raden Prasena kemudian dianugerahi gelar Cakraningrat I dan diserahkan mandat untuk memimpin seluruh Pulau Madura di bawah panji Mataram dengan pusat pemerintahan di Sampang. Sebagai adipati bawahan, ia dikenal sangat loyal kepada Mataram hingga akhir hayatnya dalam pertempuran pada tahun 1647.[2]

Era kolonial Belanda

Pada awal abad ke-19, ketika Herman Willem Daendels dan kemudian Thomas Stamford Raffles berkuasa di Hindia Belanda, posisi Wangsa Cakraningrat kembali diperkuat demi kepentingan militer kolonial. Pemerintah kolonial menyematkan tambahan kata "adi" pada nama wangsa ini menjadi Cakraadiningrat, serta memberikan gelar sultan kepada para penguasanya, dimulai dari Sultan Cakraningrat VII (Sultan Bangkalan I).

Namun, memasuki paruh kedua abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda mulai menerapkan kebijakan pasifikasi dan pemangkasan kekuasaan otonom swapraja. Status para penguasa Madura diturunkan secara bertahap dari sultan menjadi pegawai negeri kolonial biasa yang memegang jabatan regent atau bupati.[1]

Akhir kekuasaan

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_R.R.A._Tjakraningrat_Regent_van_Bangkalan_TMnr_10001734.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Potret R.A.A. Tjakraningrat, Regent Bangkalan. Tanggal tidak diketahui.

Peran politik formal dinasti ini berakhir pada pertengahan abad ke-20 seiring dengan perubahan lanskap politik pasca-kemerdekaan Indonesia. Tokoh penting terakhir dari dinasti ini adalah Raden Adipati Ario Tjakraningrat XII, yang menjabat sebagai Bupati Bangkalan (1918–1948).[3] Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), ia ditunjuk menjadi Wali Negara Negara Madura antara tahun 1948 hingga 1950.[3] Seiring dengan dibubarkannya RIS dan integrasi Madura ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, hak istimewa kedinastian dan politik wangsa ini secara resmi berakhir.[4]

Dinamika politik

Sepeninggal Sultan Agung, loyalitas Wangsa Cakraningrat terhadap Mataram mulai goyah akibat ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Amangkurat I dan para penerusnya.

Perang suksesi Jawa

Di bawah pemerintahan Cakraningrat II (1680–1707), dinasti ini mulai terlibat aktif dalam kemelut suksesi Mataram dan Pemberontakan Trunajaya (yang merupakan kerabat mereka sendiri dari Madura). Cakraningrat II memindahkan pusat pemerintahan ke Bangkalan dan menjadi tokoh kunci penentu dukungan VOC terhadap Pangeran Puger (Pakubuwana I) dalam Perang Takhta Jawa Pertama.[5]

Penerusnya, Cakraningrat III (1707–1718), mulai menunjukkan sikap membangkang secara terbuka dengan menolak menghadap ke keraton Mataram. Ia akhirnya tewas dalam insiden kesalahpahaman militer di atas armada kapal VOC.[6]

Persekutuan dengan VOC dan Pengasingan

Cakraningrat IV (1718–1746) merupakan penguasa yang paling vokal menentang hegemoni Mataram. Ia memilih bersekutu secara militer dengan VOC untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mataram.[7] Namun, kemitraan ini berakhir tragis setelah VOC menolak tuntutan perluasan wilayah kekuasaannya. Konflik bersenjata pun pecah, hingga akhirnya Cakraningrat IV ditangkap di Banjarmasin dan diasingkan oleh VOC ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan pada tahun 1746.[7][8]

Daftar penguasa

Berikut adalah daftar para penguasa utama dari Dinasti Cakraningrat yang memerintah di wilayah Madura Barat:[6]

Nama/gelarMasa jabatanKeterangan
Cakraningrat I (Raden Prasena)1624–1647Pendiri dinasti, bawahan setia Sultan Agung Mataram. Berpusat di Sampang.[2]
Cakraningrat II (Raden Undagan)1680–1707Memindahkan pusat pemerintahan ke Bangkalan; terlibat dalam Perang suksesi Jawa.[5]
Cakraningrat III1707–1718Menolak tunduk pada Mataram; tewas dalam bentrokan dengan VOC.
Cakraningrat IV (Raden Djoerit)1718–1746Menentang Mataram secara radikal; ditangkap dan diasingkan VOC ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan.[7]
Cakraadiningrat V1745–1770Menggantikan ayahnya yang diasingkan; bersekutu dengan VOC.
Cakraadiningrat VI1770–1780Cucu dari Cakraningrat V.
Cakraningrat VII (Sultan Cakraadiningrat I)1780–1815Diberi gelar Sultan Bangkalan oleh Daendels; membantu Inggris pada 1811.
Cakraningrat VIII (Sultan Cakraadiningrat II)1815–1847Dikenal taat mengamalkan ritual Islam di lingkungan keraton.
Cakraadiningrat IX1847–1862Mulai mengalami pengurangan kekuasaan politik oleh Belanda.
Cakraadiningrat X1862–1882Penguasa Bangkalan terakhir yang memegang gelar panembahan.
Cakraadiningrat XI1885–1918Penguasa pertama pasca-penghapusan sistem kerajaan otonom; menjabat sebagai Bupati Bangkalan.
Tjakraningrat XII (R.A.A. Tjakraningrat)1918–1948 (Bupati)
1948–1950 (Wali Negara)
Wali Negara Madura pada era RIS; penguasa politik formal terakhir dinasti.[3]

Lihat juga

Referensi

  1. 1 2 Lontar Madura (2018-09-05). "Berakhirnya Dinasti Cakraningrat di Madura Barat". Lontar Madura. Diakses tanggal 2026-09-09.
  2. 1 2 3 4 Setyawan, A. (2023). "Sejarah Cakraningrat I dari Tawanan Perang Hingga Menjadi Korban Politik Mataram". El-Tarikh: Journal of History, Culture and Islamic Civilization. 4 (2).
  3. 1 2 3 Indonesiana (2026-08-07). "Kisah Lahir dan Runtuhnya Negara Madura (1948-1950)". Indonesiana.id. Diakses tanggal 2026-09-09.
  4. ↑ Mata Madura (2017-03-23). "Sebelum Wacana Provinsi Madura, Sudah Berdiri Negara Madura". Mata Madura News. Diakses tanggal 2026-09-09.
  5. 1 2 Ramadhan, F. (2024). Peran Cakraningrat II dalam perang suksesi tahta Jawa pertama 1703–1708 (Tesis). UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
  6. 1 2 Lontar Madura (2018-09-09). "Sekilas Raja dan Tokoh Penting di Bangkalan". Lontar Madura. Diakses tanggal 2026-09-09.
  7. 1 2 3 Purba, F. (2023-10-30). "Cakraningrat IV, Pemimpin Madura yang Bersekutu dengan VOC". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-09-09.
  8. ↑ Universitas Narotama (2015). "Kraton Cakraningrat IV Disulap Jadi Ponpes Sembilangan". Situs Resmi Universitas Narotama. Diakses tanggal 2026-09-09.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan