| Negara | Kadipaten Sampang (kini bagian dari Indonesia) |
|---|---|
| Gelar-gelar | Adipati, Sultan, Bupati |
| Pendiri | Raden Prasena (Cakraningrat I) |
| Penguasa terakhir | R.A.A. Tjakraningrat (Cakraningrat XII) |
| Didirikan pada | 1624 |
| Pembubaran | 1950 (pembubaran Negara Madura) |
| Etnis | Madura, Jawa |
Wangsa Cakraningrat (EVO: Tjakraningrat) adalah garis keturunan bangsawan, pangeran, sultan, dan regent (bupati) yang memegang kekuasaan politik di wilayah Madura Barat (terutama berpusat di Sampang dan Bangkalan) sejak abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20.[1] Dinasti ini didirikan oleh Raden Prasena, seorang pangeran Madura yang diangkat oleh Sultan Agung dari Kesultanan Mataram dengan gelar Cakraningrat I pada tahun 1624.[2]
Selama berabad-abad, dinasti ini memainkan peran politik yang sangat krusial dalam dinamika kekuasaan di Pulau Jawa dan Madura, sering kali menjadi penentu dalam konflik suksesi di Mataram, serta menjalin hubungan pasang-surut dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan pemerintah Hindia Belanda.
Sejarah
Asal-usul
Sebelum dinasti ini terbentuk, Pulau Madura terpecah ke dalam beberapa penguasaan lokal yang saling bersaing. Pada tahun 1624, Sultan Agung dari Mataram melakukan penaklukan besar-besaran di Madura untuk menyatukan wilayah tersebut di bawah kendali Mataram. Dalam peristiwa penaklukan tersebut, hampir seluruh penguasa lokal tewas, kecuali seorang pangeran muda bernama Raden Prasena.[2]
Sultan Agung kemudian membawa Raden Prasena ke keraton Mataram, merawatnya, dan menikahkannya dengan salah satu putri keraton. Raden Prasena kemudian dianugerahi gelar Cakraningrat I dan diserahkan mandat untuk memimpin seluruh Pulau Madura di bawah panji Mataram dengan pusat pemerintahan di Sampang. Sebagai adipati bawahan, ia dikenal sangat loyal kepada Mataram hingga akhir hayatnya dalam pertempuran pada tahun 1647.[2]
Era kolonial Belanda
Pada awal abad ke-19, ketika Herman Willem Daendels dan kemudian Thomas Stamford Raffles berkuasa di Hindia Belanda, posisi Wangsa Cakraningrat kembali diperkuat demi kepentingan militer kolonial. Pemerintah kolonial menyematkan tambahan kata "adi" pada nama wangsa ini menjadi Cakraadiningrat, serta memberikan gelar sultan kepada para penguasanya, dimulai dari Sultan Cakraningrat VII (Sultan Bangkalan I).
Namun, memasuki paruh kedua abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda mulai menerapkan kebijakan pasifikasi dan pemangkasan kekuasaan otonom swapraja. Status para penguasa Madura diturunkan secara bertahap dari sultan menjadi pegawai negeri kolonial biasa yang memegang jabatan regent atau bupati.[1]
Akhir kekuasaan

Peran politik formal dinasti ini berakhir pada pertengahan abad ke-20 seiring dengan perubahan lanskap politik pasca-kemerdekaan Indonesia. Tokoh penting terakhir dari dinasti ini adalah Raden Adipati Ario Tjakraningrat XII, yang menjabat sebagai Bupati Bangkalan (1918–1948).[3] Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), ia ditunjuk menjadi Wali Negara Negara Madura antara tahun 1948 hingga 1950.[3] Seiring dengan dibubarkannya RIS dan integrasi Madura ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, hak istimewa kedinastian dan politik wangsa ini secara resmi berakhir.[4]
Dinamika politik
Sepeninggal Sultan Agung, loyalitas Wangsa Cakraningrat terhadap Mataram mulai goyah akibat ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Amangkurat I dan para penerusnya.
Perang suksesi Jawa
Di bawah pemerintahan Cakraningrat II (1680–1707), dinasti ini mulai terlibat aktif dalam kemelut suksesi Mataram dan Pemberontakan Trunajaya (yang merupakan kerabat mereka sendiri dari Madura). Cakraningrat II memindahkan pusat pemerintahan ke Bangkalan dan menjadi tokoh kunci penentu dukungan VOC terhadap Pangeran Puger (Pakubuwana I) dalam Perang Takhta Jawa Pertama.[5]
Penerusnya, Cakraningrat III (1707–1718), mulai menunjukkan sikap membangkang secara terbuka dengan menolak menghadap ke keraton Mataram. Ia akhirnya tewas dalam insiden kesalahpahaman militer di atas armada kapal VOC.[6]
Persekutuan dengan VOC dan Pengasingan
Cakraningrat IV (1718–1746) merupakan penguasa yang paling vokal menentang hegemoni Mataram. Ia memilih bersekutu secara militer dengan VOC untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mataram.[7] Namun, kemitraan ini berakhir tragis setelah VOC menolak tuntutan perluasan wilayah kekuasaannya. Konflik bersenjata pun pecah, hingga akhirnya Cakraningrat IV ditangkap di Banjarmasin dan diasingkan oleh VOC ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan pada tahun 1746.[7][8]
Daftar penguasa
Berikut adalah daftar para penguasa utama dari Dinasti Cakraningrat yang memerintah di wilayah Madura Barat:[6]
| Nama/gelar | Masa jabatan | Keterangan |
|---|---|---|
| Cakraningrat I (Raden Prasena) | 1624–1647 | Pendiri dinasti, bawahan setia Sultan Agung Mataram. Berpusat di Sampang.[2] |
| Cakraningrat II (Raden Undagan) | 1680–1707 | Memindahkan pusat pemerintahan ke Bangkalan; terlibat dalam Perang suksesi Jawa.[5] |
| Cakraningrat III | 1707–1718 | Menolak tunduk pada Mataram; tewas dalam bentrokan dengan VOC. |
| Cakraningrat IV (Raden Djoerit) | 1718–1746 | Menentang Mataram secara radikal; ditangkap dan diasingkan VOC ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan.[7] |
| Cakraadiningrat V | 1745–1770 | Menggantikan ayahnya yang diasingkan; bersekutu dengan VOC. |
| Cakraadiningrat VI | 1770–1780 | Cucu dari Cakraningrat V. |
| Cakraningrat VII (Sultan Cakraadiningrat I) | 1780–1815 | Diberi gelar Sultan Bangkalan oleh Daendels; membantu Inggris pada 1811. |
| Cakraningrat VIII (Sultan Cakraadiningrat II) | 1815–1847 | Dikenal taat mengamalkan ritual Islam di lingkungan keraton. |
| Cakraadiningrat IX | 1847–1862 | Mulai mengalami pengurangan kekuasaan politik oleh Belanda. |
| Cakraadiningrat X | 1862–1882 | Penguasa Bangkalan terakhir yang memegang gelar panembahan. |
| Cakraadiningrat XI | 1885–1918 | Penguasa pertama pasca-penghapusan sistem kerajaan otonom; menjabat sebagai Bupati Bangkalan. |
| Tjakraningrat XII (R.A.A. Tjakraningrat) | 1918–1948 (Bupati) 1948–1950 (Wali Negara) | Wali Negara Madura pada era RIS; penguasa politik formal terakhir dinasti.[3] |
Lihat juga
Referensi
- 1 2 Lontar Madura (2018-09-05). "Berakhirnya Dinasti Cakraningrat di Madura Barat". Lontar Madura. Diakses tanggal 2026-09-09.
- 1 2 3 4 Setyawan, A. (2023). "Sejarah Cakraningrat I dari Tawanan Perang Hingga Menjadi Korban Politik Mataram". El-Tarikh: Journal of History, Culture and Islamic Civilization. 4 (2).
- 1 2 3 Indonesiana (2026-08-07). "Kisah Lahir dan Runtuhnya Negara Madura (1948-1950)". Indonesiana.id. Diakses tanggal 2026-09-09.
- ↑ Mata Madura (2017-03-23). "Sebelum Wacana Provinsi Madura, Sudah Berdiri Negara Madura". Mata Madura News. Diakses tanggal 2026-09-09.
- 1 2 Ramadhan, F. (2024). Peran Cakraningrat II dalam perang suksesi tahta Jawa pertama 1703–1708 (Tesis). UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
- 1 2 Lontar Madura (2018-09-09). "Sekilas Raja dan Tokoh Penting di Bangkalan". Lontar Madura. Diakses tanggal 2026-09-09.
- 1 2 3 Purba, F. (2023-10-30). "Cakraningrat IV, Pemimpin Madura yang Bersekutu dengan VOC". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-09-09.
- ↑ Universitas Narotama (2015). "Kraton Cakraningrat IV Disulap Jadi Ponpes Sembilangan". Situs Resmi Universitas Narotama. Diakses tanggal 2026-09-09.