| PLATO | |
|---|---|
Ilustrasi wahana antariksa PLATO milik Badan Antariksa Eropa | |
| Jenis | Observatorium luar angkasa |
| Operator | Badan Antariksa Eropa (ESA) |
| Nama lengkap | PLAnetary Transits and Oscillations of stars |
| Status | Dalam pengembangan |
| Masa misi | 4 tahun, dengan kemungkinan perpanjangan hingga 4 tahun |
| Pabrikan | OHB System AG |
| Massa peluncuran | 2.134 kg |
| Massa muatan | 533 kg |
| Peluncur | Ariane 62 |
| Peluncuran | Maret 2027 |
| Tujuan orbit | Titik Lagrange Matahari–Bumi L2 |
| Jumlah kamera | 26 |
| Diameter lensa | 120 mm per kamera |
| Spektrum | Cahaya tampak, 500–1.000 nm |
| Program | Cosmic Vision |
PLATO (PLAnetary Transits and Oscillations of stars) adalah observatorium luar angkasa yang sedang dikembangkan oleh Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk mencari dan mempelajari planet ekstrasurya, terutama planet berbatu yang mengorbit bintang terang yang menyerupai Matahari. Misi ini dirancang untuk mendeteksi transit planet di depan bintangnya sekaligus mempelajari osilasi bintang. PLATO merupakan misi kelas menengah ketiga dalam program ilmiah ESA Cosmic Vision dan dijadwalkan diluncurkan pada Maret 2027 menggunakan roket Ariane 62 menuju orbit di sekitar titik Lagrange Matahari–Bumi L2.[1]
Tujuan utama PLATO adalah menemukan planet berukuran mendekati Bumi dan super-Bumi yang berada di zona laik huni bintang induknya, khususnya bintang yang relatif terang dan menyerupai Matahari. Zona laik huni merupakan wilayah di sekitar sebuah bintang yang secara teoritis memungkinkan keberadaan air dalam bentuk cair di permukaan planet apabila kondisi atmosfernya mendukung. Selain mendeteksi planet, PLATO juga akan mengukur sifat-sifat bintang induknya melalui asteroseismologi, sehingga ukuran, massa, usia, dan karakteristik sistem planet dapat ditentukan dengan lebih akurat.[2]
Nama
Nama PLATO merupakan singkatan dari PLAnetary Transits and Oscillations of stars. Nama tersebut juga merujuk kepada Plato, filsuf Yunani Klasik. Pemilihan nama tersebut berkaitan dengan gagasan Plato mengenai keteraturan gerak benda langit. Dalam konteks misi antariksa, nama tersebut sekaligus menggambarkan dua metode utama yang digunakan, yaitu pengamatan transit planet dan pengukuran osilasi bintang.[3]
Latar belakang
Gagasan PLATO pertama kali diajukan kepada ESA pada 2007 sebagai tanggapan terhadap program Cosmic Vision 2015–2025. Tahap penilaian selesai pada 2009 dan misi tersebut memasuki tahap definisi pada Mei 2010. Setelah ESA membuka seleksi misi kelas menengah pada 2010, PLATO termasuk salah satu dari empat konsep yang dipertimbangkan untuk misi kelas M3. Pada Februari 2011, PLATO bersama beberapa konsep lain dipilih untuk memasuki tahap lanjutan.[4]
Pada 19 Februari 2014, ESA menetapkan PLATO sebagai misi kelas M3 yang dipilih untuk dilaksanakan dalam program Cosmic Vision. Keputusan tersebut menjadikan PLATO sebagai misi yang berfokus pada pencarian dan karakterisasi planet ekstrasurya di sekitar bintang terang. Pada Januari 2015, ESA memilih Thales Alenia Space, Airbus Defence and Space, dan OHB System AG untuk melakukan studi fase B1 secara paralel guna menentukan rancangan sistem dan subsistem wahana. Studi tersebut selesai pada 2016.[5]
Pada 20 Juni 2017, ESA secara resmi mengadopsi PLATO ke dalam Program Sainsnya sehingga misi dapat beralih dari tahap rancangan menuju tahap pembangunan. Pada Oktober 2018, ESA menandatangani kontrak dengan OHB System AG untuk memimpin pembangunan wahana antariksa tersebut.[6]
Pengembangan PLATO melibatkan konsorsium ilmiah internasional. PLATO Mission Consortium dipimpin oleh Pusat Dirgantara Jerman (DLR) dan mencakup berbagai lembaga penelitian, universitas, serta perusahaan industri di Eropa. Pengembangan kamera melibatkan tim dari Italia, Swiss, dan Swedia, sedangkan sejumlah komponen elektronik muatan berasal dari Spanyol. Konsorsium tersebut juga bertanggung jawab terhadap sejumlah kegiatan ilmiah, termasuk penyusunan katalog target, pemilihan wilayah pengamatan, koordinasi pengamatan tindak lanjut dari Bumi, serta validasi produk data ilmiah.[7]
Tujuan ilmiah
Tujuan utama PLATO adalah mendeteksi dan mengkarakterisasi planet ekstrasurya terestrial hingga wilayah zona laik huni bintang-bintang bertipe mirip Matahari. Pengamatan tersebut diharapkan menghasilkan informasi mengenai ukuran, massa, kepadatan, serta karakteristik bintang induk dari sistem planet yang ditemukan.
Secara umum, tujuan ilmiah PLATO meliputi:
- menemukan dan mengkarakterisasi berbagai sistem planet ekstrasurya di sekitar bintang yang relatif dekat dan terang;
- mendeteksi planet berukuran Bumi dan super-Bumi di zona laik huni bintang bertipe Matahari;
- mempelajari susunan sistem planet dan hubungannya dengan sifat bintang induknya;
- mengukur osilasi bintang untuk mempelajari struktur internal dan evolusi bintang;
- menentukan parameter dasar bintang induk, termasuk usia;
- menyediakan target yang sesuai untuk pengamatan spektroskopi lebih lanjut guna mempelajari atmosfer planet.
Dalam rancangan misi, PLATO ditujukan untuk memperoleh ketelitian penentuan radius planet hingga sekitar 3 persen dan usia bintang hingga sekitar 10 persen. Penentuan massa planet dengan ketelitian sekitar 10 persen akan dilakukan melalui kombinasi data PLATO dengan pengukuran kecepatan radial dari observatorium berbasis Bumi.[2]
PLATO memiliki perbedaan tujuan pengamatan dibandingkan beberapa teleskop pemburu planet sebelumnya seperti Kepler, TESS, CoRoT, dan CHEOPS. PLATO terutama akan mengamati bintang yang relatif terang, dengan magnitudo tampak sekitar 4 hingga 11. Bintang yang lebih terang memungkinkan karakterisasi sistem planet dan pengamatan lanjutan menggunakan metode kecepatan radial dilakukan dengan lebih mudah. Masa pengamatan pada suatu wilayah langit juga dirancang cukup panjang untuk mendeteksi planet dengan periode orbit yang lebih panjang dibandingkan sebagian target TESS.[2]
Desain
PLATO menggunakan pendekatan teleskop jamak dengan 26 kamera yang bekerja secara bersamaan. Muatan ilmiahnya terdiri atas 24 kamera standar dan dua kamera cepat. Dua jenis kamera tersebut dirancang untuk mengamati bintang dengan tingkat kecerlangan yang berbeda.[8]
- Spesifikasi utama
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Jumlah kamera | 26 |
| Kamera standar | 24 |
| Kamera cepat | 2 |
| Diameter lensa setiap kamera | 120 mm |
| Bidang pandang setiap kamera | sekitar 1.100 derajat persegi |
| Bidang pandang gabungan | sekitar 2.250 derajat persegi |
| Sensor | CCD |
| CCD per kamera | 4 |
| Resolusi setiap CCD | 4.510 × 4.510 piksel |
| Panjang gelombang | 500–1.000 nm |
| Waktu pembacaan kamera standar | 25 detik |
| Waktu pembacaan kamera cepat | 2,5 detik |
Ke-24 kamera standar dibagi menjadi empat kelompok yang masing-masing terdiri atas enam kamera. Garis pandangnya diatur dengan kemiringan sekitar 9,2° terhadap sumbu +ZPLM. Susunan tersebut memungkinkan PLATO mengamati wilayah langit yang sangat luas secara bersamaan, dengan bidang pandang total sekitar 2.250 derajat persegi dalam satu arah pengamatan.[8]
Setiap kamera menggunakan sistem teleskop refraktor dengan enam lensa dan dilengkapi rangkaian CCD yang terdiri atas empat sensor. Kamera standar bekerja dengan waktu pembacaan sekitar 25 detik dan ditujukan untuk bintang yang lebih redup dari magnitudo tampak 8. Sementara itu, dua kamera cepat memiliki waktu pembacaan sekitar 2,5 detik dan digunakan untuk mengamati bintang dengan magnitudo antara 4 dan 8.[9]
PLATO dirancang untuk mempertahankan pengamatan terhadap wilayah langit yang sama dalam jangka waktu panjang. Wahana akan berputar terhadap garis pandang rata-rata sekitar satu kali dalam setahun. Pengamatan kontinu tersebut diperlukan untuk mendeteksi perubahan kecil pada kecerlangan bintang yang disebabkan oleh transit planet maupun osilasi bintang.[1]
Metode pengamatan
PLATO menggunakan metode transit untuk mendeteksi planet ekstrasurya. Ketika sebuah planet melintas di depan bintang induknya dari sudut pandang teleskop, sebagian cahaya bintang terhalang sehingga kecerlangannya turun sedikit. Penurunan tersebut direkam sebagai kurva cahaya dan dapat digunakan untuk menentukan ukuran relatif planet serta periode orbitnya.
Pengamatan transit kemudian dapat dikombinasikan dengan data pengamatan dari teleskop berbasis Bumi, khususnya pengukuran kecepatan radial. Kombinasi kedua jenis pengamatan memungkinkan para astronom memperkirakan massa planet dan, bersama dengan radius yang diperoleh dari transit, menghitung kepadatannya. Informasi tersebut dapat digunakan untuk membedakan karakteristik umum planet berbatu, planet kaya gas, dan jenis planet lainnya.[2]
Selain mengamati transit, PLATO akan melakukan pengukuran osilasi bintang atau asteroseismologi. Variasi kecil dalam kecerlangan bintang membawa informasi mengenai struktur internal bintang. Dengan menganalisis variasi tersebut, para ilmuwan dapat memperoleh perkiraan massa dan usia bintang secara lebih akurat. Informasi tersebut penting karena karakteristik planet sangat bergantung pada sifat bintang induknya.[2]
Pengolahan dan pelepasan data
Data fotometri, termasuk kurva cahaya, akan diproses berdasarkan periode pengamatan atau kuartal. Pembagian tersebut berkaitan dengan rotasi wahana sebesar 90° yang menjadi batas antara satu periode pengamatan dan periode berikutnya.
Data publik untuk setiap kuartal akan tersedia setelah proses validasi selesai. Untuk kuartal pertama, proses validasi dirancang membutuhkan waktu sekitar enam bulan karena pipeline pengolahan data masih harus diperbarui. Untuk kuartal berikutnya, waktu validasi diperkirakan sekitar tiga bulan. Data tingkat tinggi dan produk ilmiah lainnya kemudian akan dirilis kepada masyarakat ilmiah.[10]
Sebagian kecil target dapat memperoleh status kepemilikan sementara. Jumlahnya dirancang tidak lebih dari sekitar 2.000 bintang dari sekitar 250.000 target, dengan data untuk target tersebut pada periode tertentu hanya dapat diakses oleh anggota PLATO Mission Consortium. Target akan dipilih berdasarkan hasil pengamatan awal terhadap setiap bidang langit. Periode kepemilikan tersebut dibatasi hingga enam bulan setelah pengamatan berbasis Bumi selesai atau sampai berakhirnya fase pengarsipan misi, bergantung pada ketentuan yang berlaku.[10]
Pembangunan
Pada Januari 2022, PLATO berhasil melewati tinjauan penting yang memungkinkan pengembangan misi dilanjutkan. Pada Mei hingga Agustus 2023, model struktural PLATO menjalani serangkaian pengujian di pusat pengujian ESTEC di Noordwijk, Belanda. Pengujian tersebut bertujuan memastikan struktur wahana mampu menahan beban dan tekanan yang akan dialami selama peluncuran.[11]
Pada Juni 2024, integrasi kamera PLATO dimulai di fasilitas OHB di Oberpfaffenhofen, Jerman. Pada September 2024, Mullard Space Science Laboratory dari University College London menyerahkan elektronik pembacaan kamera kepada pusat antariksa di Liège, Belgia.[12]
Pada Januari 2025, ESA dan Arianespace menandatangani kesepakatan peluncuran PLATO menggunakan Ariane 6. Pada Mei 2025, sebanyak 24 dari 26 kamera telah dipasang pada wahana, sedangkan dua kamera cepat masih dalam tahap pemasangan.[2][13]
Pada 11 Juni 2025, modul muatan yang telah dilengkapi 26 kamera disatukan dengan modul layanan. Modul muatan membawa kamera-kamera ilmiah, sedangkan modul layanan menyediakan sistem yang diperlukan untuk tenaga, komunikasi, propulsi, pengendalian sikap, dan pengoperasian wahana.[14]
Pada 1 September 2025, PLATO tiba di fasilitas ESTEC milik ESA di Noordwijk, Belanda. Wahana tersebut dikirim dari Oberpfaffenhofen melalui Sungai Rhein menggunakan kapal kargo. Pada September 2025, pemasangan gabungan pelindung Matahari dan panel surya diselesaikan sehingga wahana memasuki tahap pengujian akhir.[15]
Pengujian
Pada Januari 2026, PLATO berhasil menyelesaikan pengujian getaran dan akustik yang dirancang untuk mensimulasikan kondisi yang akan dialami wahana selama peluncuran. Pengujian tersebut merupakan bagian dari verifikasi bahwa struktur dan sistem wahana mampu bertahan terhadap lingkungan peluncuran.[16]
Pada Februari 2026, PLATO ditempatkan di dalam Large Space Simulator (LSS) di ESTEC untuk menjalani pengujian lingkungan. Pengujian dimulai pada awal Maret dan bertujuan mensimulasikan kondisi vakum serta perubahan suhu ekstrem yang akan dihadapi wahana di ruang angkasa.[17]
Dalam pengujian tersebut, ruang LSS dikosongkan hingga mencapai kondisi vakum dan dinding ruang menggunakan nitrogen cair untuk menghasilkan kondisi suhu rendah. Elemen pemanas digunakan untuk mensimulasikan panas Matahari. Kamera PLATO juga diuji dalam kondisi panas dan dingin untuk memastikan fokus dan kinerjanya tetap sesuai dengan kebutuhan ilmiah misi.[17]
Pada April 2026, PLATO berhasil menyelesaikan pengujian di LSS. Data yang diperoleh selama pengujian kemudian dianalisis untuk memahami perilaku wahana dan memperbaiki model termal yang akan digunakan untuk memprediksi respons kamera selama operasi di ruang angkasa.[17]
Pada Juli 2026, pengujian yang berfokus pada sistem elektronik PLATO juga telah diselesaikan di Maxwell Test Chamber di ESTEC.[18]
Peluncuran dan operasi
PLATO dijadwalkan diluncurkan pada Maret 2027 dari Pusat Antariksa Guyana di Kourou, Guyana Prancis, menggunakan roket Ariane 62. Setelah meninggalkan Bumi, wahana akan menuju titik Lagrange Matahari–Bumi L2 yang terletak sekitar 1,5 juta kilometer dari Bumi pada arah berlawanan dengan Matahari.[2]
Dari wilayah sekitar L2, PLATO akan melakukan pengamatan jangka panjang terhadap sejumlah besar bintang. Wahana dirancang untuk mengamati sekitar 200.000 bintang dan mencari perubahan kecil pada kecerlangannya yang dapat menunjukkan keberadaan planet yang sedang transit.[2]
Masa operasi nominal PLATO dirancang selama empat tahun dengan kemungkinan perpanjangan hingga empat tahun tambahan, bergantung pada kondisi teknis wahana dan keputusan program misi.
Perbandingan dengan misi lain
| Misi | Pengelola | Fokus utama | Karakteristik pengamatan |
|---|---|---|---|
| PLATO | ESA | Planet terestrial dan sistem planet di sekitar bintang terang | 26 kamera, pengamatan jangka panjang |
| Kepler | NASA | Pencarian planet ekstrasurya melalui transit | Survei fotometri skala besar |
| TESS | NASA | Pencarian planet ekstrasurya di sekitar bintang terang | Survei sebagian besar langit |
| CHEOPS | ESA | Pengukuran ukuran planet ekstrasurya yang telah diketahui | Fotometri presisi tinggi |
| CoRoT | CNES dan mitra | Pencarian transit planet dan asteroseismologi | Salah satu misi awal survei transit dari luar angkasa |
Perbedaan utama PLATO dibandingkan beberapa misi tersebut terletak pada kombinasi jumlah kamera yang besar, pengamatan terhadap bintang yang relatif terang, serta masa pengamatan yang panjang. Kombinasi tersebut memungkinkan pencarian planet dengan periode orbit yang lebih panjang sekaligus memberikan data yang lebih baik untuk karakterisasi bintang induknya.[2]
Garis waktu
| Tahun/tanggal | Peristiwa |
|---|---|
| 2007 | Konsep PLATO pertama kali diajukan kepada ESA. |
| 2009 | Tahap penilaian selesai. |
| Mei 2010 | Memasuki tahap definisi. |
| Februari 2011 | PLATO dipilih sebagai salah satu kandidat misi kelas menengah. |
| 19 Februari 2014 | PLATO dipilih sebagai misi kelas M3 untuk implementasi. |
| Januari 2015 | ESA memilih tiga perusahaan untuk studi fase B1. |
| 20 Juni 2017 | PLATO diadopsi ke dalam Program Sains ESA. |
| Oktober 2018 | OHB System AG ditunjuk sebagai kontraktor utama pembangunan. |
| Januari 2022 | PLATO melewati tinjauan penting pengembangan. |
| Mei–Agustus 2023 | Model struktural menjalani pengujian di ESTEC. |
| Juni 2024 | Integrasi kamera dimulai di fasilitas OHB. |
| Januari 2025 | Kesepakatan peluncuran dengan Ariane 6 ditandatangani. |
| Mei 2025 | 24 dari 26 kamera telah terpasang. |
| 11 Juni 2025 | Modul muatan dan modul layanan disatukan. |
| September 2025 | PLATO tiba di ESTEC dan penyelesaian wahana dilakukan. |
| Januari 2026 | Pengujian getaran dan akustik berhasil diselesaikan. |
| Februari–April 2026 | Pengujian lingkungan di Large Space Simulator diselesaikan. |
| Juli 2026 | Pengujian elektronik diselesaikan. |
| Maret 2027 | Peluncuran dijadwalkan. |
Lihat pula
- Badan Antariksa Eropa
- Cosmic Vision
- Teleskop luar angkasa
- Planet ekstrasurya
- Zona laik huni
- Ariane 6
Referensi
- 1 2 "Plato". European Space Agency. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "Planet hunter Plato to fly on Ariane 6". European Space Agency. 29 Januari 2025. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
- ↑ "Planetary Transits and Oscillations of Stars: the ESA M3 mission in the Cosmic Vision 2015-2025". PLATO Mission Consortium. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
- ↑ "PLATO". European Space Agency. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
- ↑ "ESA selects planet-hunting PLATO mission". European Space Agency. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
- ↑ "Construction of Europe's exoplanet hunter Plato begins". European Space Agency. 4 Oktober 2018. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
- ↑ "PLATO". European Space Agency. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
- 1 2 "Plato's cameras". European Space Agency. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
- ↑ "PLATO Definition Study Report" (PDF). European Space Agency. April 2017. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Plato Science Management Plan" (PDF). European Space Agency. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
- ↑ "Plato's structural test campaign". European Space Agency. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
- ↑ "First PLATO camera". European Space Agency. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
- ↑ "Plato grows its many eyes". European Space Agency. 8 Mei 2025. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
- ↑ "Plato's eyes meet brain". European Space Agency. 30 Juni 2025. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
- ↑ "Plato arrived at ESA's test centre by boat". European Space Agency. 11 September 2025. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Plato passes vibe check". European Space Agency. 15 Januari 2026. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
- 1 2 3 "Plato aces space-like tests". European Space Agency. 23 April 2026. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Plato's electronics ready for space". European Space Agency. 4 Agustus 2026. Diakses tanggal 21 Agustus 2026.