Senin, 26 Oktober 2026
05:52 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung
Bola memantul

Bola memantul

Bagikan:
250px-Bouncing_ball_strobe_edit.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah bola yang memantul. Geraknya tidak terlalu parabola karena gaya hambat udara.

Fisika bola memantul memperhatikan sifat fisik bola yang memantul, terutama geraknya sebelum, sesaat, dan setelah tumbukan terhadap permukaan benda lain. Beberapa aspek sifat bola memantul menjadi pengenalan mekanika di materi fisika sekolah menengah atas dan strata satu. Namun, pemodelan yang lebih tepat dari sifat bola memantul sebenarnya rumit dan termasuk dalam teknik olahraga.[1]

Gerak bola secara umum dideskripsikan sebagai gerak parabola (yang dapat dipengaruhi oleh gravitasi, gaya hambat, efek Magnus, dan gaya apung), sedangkan tumbukannya biasanya dicirikan melalui koefisien lenting (yang dapat dipengaruhi sifat bola, sifat menumbuk permukaan, kecepatan tumbukan, rotasi, dan keadaan medan sepereti suhu dan tekanan). Untuk memastikan pertandingan berlangsung adil, ada banyak induk organisasi olahraga yang memberi batas pantulan bolan dan melarang perusakan dengan properti aerodinamika bola. Pantulan bola telah menjadi fitur olahraga, bahkan pada olahraga kuno seperti permainan bola Mesoamerika,[2]

Gaya ketika melayang dan efek pada gerak

Catatan: Di artikel ini, vektor dilambangkan dengan huruf tebal, sedangkan ukuran dan besaran skalar dilambangkan dengan huruf miring.
250px-Ball_forces_during_flight.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gaya yang bekerja pada bola berputar saat melayang: gaya gravitasi (FG), gaya hambat (FD), gaya Magnus (FM), dan gaya apung (FB).

Gerak bola memantul mengikuti gerak parabola. Ada banyak gaya yang bekerja pada bola nyata, yakni gaya gravitasi (FG), gaya hambat karena hambatan udara (FD), gaya Magnus karena perputaran bola (FM), dan gaya apung (FB). Secara garis besar, untuk menganalisis gerak bola, hukum kedua Newton harus digunakan dengan memasukkan semua gaya yang ada:[3]

∑ F = m a , F G + F D + F M + F B = m a = m d v d t = m d 2 r d t 2 , {\displaystyle {\begin{aligned}\sum \mathbf {F} &=m\mathbf {a} ,\\\mathbf {F} _{\text{G}}+\mathbf {F} _{\text{D}}+\mathbf {F} _{\text{M}}+\mathbf {F} _{\text{B}}&=m\mathbf {a} =m{\frac {d\mathbf {v} }{dt}}=m{\frac {d^{2}\mathbf {r} }{dt^{2}}},\end{aligned}}} {\displaystyle {\begin{aligned}\sum \mathbf {F} &=m\mathbf {a} ,\\\mathbf {F} _{\text{G}}+\mathbf {F} _{\text{D}}+\mathbf {F} _{\text{M}}+\mathbf {F} _{\text{B}}&=m\mathbf {a} =m{\frac {d\mathbf {v} }{dt}}=m{\frac {d^{2}\mathbf {r} }{dt^{2}}},\end{aligned}}}

di mana m adalah massa bola. Dalam rumus tersebut, a, v, r mewakili percepatan, kecepatan, dan kedudukan bola terhadap waktu t.[3][4]

Tumbukan

250px-Bouncing_ball_compression_and_decompression.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kompresi (A→B) dan dekompresi (B→C) dari sebuah bola yang menumbuk terhadap eprmukaan. Gaya tumbukan biasanya proporsional dengan jarak kompresi, setidaknya untuk kompresi kecil, dan bisa dimodelkan sebagai gaya pegas.[5][6]

Ketika bola menumbuk permukaan, permukaan akan menolak balik dan bergetar, begitu pun bola; menciptakan bunyi dan panas dan bola pun kehilangan energi kinetik. Selain itu, tumbukan dapat memberi sedikit rotasi pada bola, mengubah sebagian energi kinetik translasional menjadi energi kinetik rotasional. Energi yang hilang biasanya dicirikan (secara tidak langsung) melalui koefisien lenting (dilambangkan e):[7][catatan 1]

e = − v f − u f v i − u i , {\displaystyle e=-{\frac {v_{\text{f}}-u_{\text{f}}}{v_{\text{i}}-u_{\text{i}}}},} {\displaystyle e=-{\frac {v_{\text{f}}-u_{\text{f}}}{v_{\text{i}}-u_{\text{i}}}},}

di mana vf dan vi adalah kecepatan akhir dan awal bola, sedangkan uf dan ui adalah kecepatan akhir dan awal saat menumbuk permukaan masing-masing. Dalam kasus khusus di mana bola menumbuk permukaan yang tak dapat bergerak, koefisien lenting menjadi lebih sederhana, yakni[7]

e = − v f v i . {\displaystyle e=-{\frac {v_{\text{f}}}{v_{\text{i}}}}.} {\displaystyle e=-{\frac {v_{\text{f}}}{v_{\text{i}}}}.}

Untuk bola yang jatuh terhadap lantai, koefisien lenting akan berkisar antara 0 (tidak lenting, kehilangan energi total) dan 1 (lenting sempurna, tidak ada energi yang hilang). Nilai koefisien lenting di bawah 0 atau di atas 1 secara teoretis mungkin, tetapi akan menandakan bahwa bola menembus permukaan (e<0) atau permukaan tidak "kendur" ketika bola menumbuknya (e>1), seperti dalam kasus bola mendarat di atas platform berisi pegas.[7]

Catatan

  1. ↑ Dalam kasus ini, v dan u bukan hanya besaran kecepatan, tetapi juga termasuk arahnya (tanda).

Rujukan

  1. ↑ Cross, Rod (11 November 2002). "Grip-slip behavior of a bouncing ball" (PDF) (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 6 Juli 2019.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Whittington, E. M., ed. (2001). The Sport of Life and Death: The Mesoamerican Ballgame. Thames & Hudson. ISBN 0-500-05108-9.
  3. 1 2 Brancazio, P. J. (1985). "Trajectory of a fly ball". The Physics Teacher. 23 (1): 20. Bibcode:1985PhTea..23...20B. doi:10.1119/1.2341702.
  4. ↑ Walker, J. (2014). Fundamentals of Physics (10th Extended ed.). John Wiley & Sons. Figure 4-8, p. 70. ISBN 978-1-118-23072-5.
  5. ↑ Cross, R. (1999). "The bounce of a ball" (PDF). American Journal of Physics. 67 (3): 222. Bibcode:1999AmJPh..67..222C. doi:10.1119/1.19229.
  6. ↑ Georgallas, A.; Landry, G. (2016). "The coefficient of restitution of pressurized balls: A mechanistic model". Canadian Journal of Physics. 94 (1): 42. Bibcode:2016CaJPh..94...42G. doi:10.1139/cjp-2015-0378.
  7. 1 2 3 "Coefficient of restitution". RacquetResearch.com. Archived from the original on 2016-11-23. Retrieved 2017-01-27.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan