Minggu, 04 Oktober 2026
02:33 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan
Biokoenosis

Biokoenosis

Bagikan:
330px-FoodWeb.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rantai makanan darat dan air tawar.

Biokoenosis (juga disebut sebagai biokoenos, komunitas biotik, komunitas biologis, komunitas ekologi, atau himpunan hidup), diciptakan oleh Karl Möbius pada 1877, mendeksripsikan interaksi organisme-organisme yang hidup bersama di suatu habitat (biotop).[1] Penggunaan dari istilah ini sudah menurun pada abad ke-21.

Pada literatur paleontologis, istilah ini membedakan "himpunan hidup", yang mencerminkan komunitas hidup yang asli, yang hidup bersamaan pada satu tempat dan waktu yang sama. Dalam kata lain, hal tersebut adalah susunan fosil-fosil atau sebuah komunitas dari sebuah waktu spesifik, yang berbeda dengan "himpunan mati" (thanatokoenosis).[2] Tidak ada dan tidak pernah akan ada susunan fosil paleontologis yang dapat mewakili komunitas biologis asli secara keseluruhan (dalam kata lain, biokoenosis dalam konteks yang digunakan oleh ekolog); sehingga istilah ini memiliki perbedaan makna pada konteks paleontologi dan ekologi.[2]

Bedasarkan konsep biokoenosis, komunitas ekologi memiliki beberapa jenis wujud:

Cakupan geografis dari sebuah biokoenos dibatasi oleh kebutuhan dari sebuah komposisi spesies yang kurang lebih seragam.

Referensi

  1. ↑ Möbius, Karl. 1877. Die Auster und die Austernwirtschaft. Verlag von Wiegandt, Hemple & Parey: Berlin, . (English translation: The Oyster and Oyster Farming. U.S. Commission Fish and Fisheries Report, 1880: 683-751, .)
  2. 1 2 e.g. Ager, 1963, Principles of Palaeoecology
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan