Sabtu, 31 Oktober 2026
13:21 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Bajilah

Bajilah

suku Arab

Bagikan:
Bajilah
بجيلة
Qahthani
250px-Bajila.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Panji Bajilah pada Pertempuran Shiffin (657)
EtnisArab
NisbahAl-Bajali
Lokasi asal leluhurMakkah
Irak (setelah 634)
AgamaPoliteisme Arab, kemudian Islam

Suku Bajīlah (Arab: بجيلة) adalah suku Arab yang mendiami pegunungan di selatan Makkah pada era pra-Islam dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah Arabia dan kemudian Irak di bawah kekuasaan Muslim. Suku ini, di bawah salah satu kepala sukunya, Jarir bin Abdullah, memainkan peran penting dalam pasukan Muslim yang menaklukkan Irak pada pertengahan abad ke-7.

Silsilah

Dalam tradisi silsilah Arab, asal usul suku Bajilah tidak pasti,[1] Nenek moyang suku ini konon adalah seorang wanita.[1] Menurut sejumlah ahli silsilah tradisional, mereka, bersama dengan suku Khats'am, merupakan subdivisi dari suku Anmar yang lebih besar, yang diidentifikasi sebagai Qahthani (Arab selatan) atau Adnani (Arab utara).[1] Nisbah dari anggota suku Bajilah adalah "al-Bajalī".[1]

Sejarah

Suku Bajilah, bersama dengan suku saudaranya Khats'am, dan suku Bani Tamim, Bani Bakar, dan Abdul Qais, melancarkan serangan terhadap Mesopotamia Hilir yang dikuasai Sasaniyah selama pemerintahan Syapur II (309–379 M), tetapi menderita kerugian besar ketika pihak Sasaniyah membalas.[1] Pada tahun-tahun awal Nabi Muhammad, suku Bajilah mendiami pegunungan di selatan Makkah, tetapi karena perseteruan berdarah dengan suku-suku tetangga dan pertempuran antar klan, yaitu Ahmas, Qasr, Zaid bin al-Ghauts dan Urainah, suku tersebut terpecah dan tersebar.[1] Banyak klannya bergabung dengan suku-suku yang lebih besar,[1] seperti Bani Amir antara Tha'if dan Jabal Tuwaiq atau Jadila dari Qais yang mendiami daerah di selatan Tha'if.[2] Salah satu klan yang tetap tinggal di Sarat adalah Qasr.[2]

Pada tahun-tahun terakhir Muhammad, seorang kepala suku Qasri, Jarir bin Abdullah al-Bajali, memimpin delegasi yang terdiri dari 150 orang dari sukunya dan masuk Islam di hadapan Nabi.[1] Mereka kemudian dikirim untuk menghancurkan tempat suci Dzul-Khalasah, yang disembah oleh suku Bajilah dan Khats'am yang menganut politeisme hingga saat itu.[1] Banyak klan Bajilah, khususnya yang mendiami Arab selatan, kembali menganut politeisme setelah kematian Muhammad pada tahun 632, tetapi kembali ke kekuasaan Muslim setelah kampanye hukuman yang dilakukan oleh kerabat mereka, Jarir, yang tetap setia kepada kaum Muslim.[3] Jarir menjadi komandan Muslim yang efektif di bawah khalifah Abu Bakar (m. 632–634) dan Umar bin Khattab (m. 634–644).[1] Selama pemerintahan Umar, suku Bajilah di bawah Jarir merupakan komponen yang kuat dari tentara Muslim yang menaklukkan Irak (Mesopotamia Hilir), dengan jumlah prajurit antara 700 hingga lebih dari 1.500 orang,[2] dan diberi seperempat tanah di wilayah Sawad yang kaya akan pertanian.[1][2] Banyak klan Bajali yang telah bergabung dengan suku lain diperintahkan oleh Umar untuk berada di bawah kepemimpinan Jarir.[1] Menurut sejarawan Julius Wellhausen, kebangkitan Islam telah membangkitkan kembali suku Bajilah sampai batas tertentu setelah periode penurunan yang parah.[4]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Watt 1960, hlm. 55.
  2. 1 2 3 4 Donner 1981, hlm. 196.
  3. ↑ Donner 1981, hlm. 201.
  4. ↑ Wellhausen 1927, hlm. 328.

Bibliografi

Suku-suku Arab dalam sejarah
Awalan yang dihiraukan dalam pengurutan abjad: Al, Bani, Banu.
Bagian dari Suku-suku Arab
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan