Senin, 12 Oktober 2026
17:40 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM
Babi celeng

Babi celeng

sejenis babi hutan dari wilayah Erasia

Bagikan:
Babi celeng
Rentang waktu: Pleistocene awal–sekarang
250px-Wild_Boar_Habbitat_3.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Babi celeng (Sus scrofa) merupakan nenek moyang babi domestik (Sus scrofa domesticus)
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Artiodactyla
Famili: Suidae
Genus: Sus
Spesies:
S. scrofa
Nama binomial
Sus scrofa
250px-Sus_scrofa_range_map.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Babi celeng

Babi celeng[3] secara umum dikenal sebagai babi hutan adalah nenek moyang babi liar yang menurunkan babi domestik (Sus scrofa domesticus). Daerah persebarannya berada di wilayah hutan-hutan Eropa Tengah, Mediterania (termasuk Pegunungan Atlas di Afrika Tengah) dan sebagian besar Asia hingga wilayah paling selatan di Indonesia. Babi hutan termasuk famili Suidae yang mencakup babi liar Afrika dan babi semak di Afrika, babi kerdil di utara India, dan babirusa di Indonesia.

Pengenalan

Babi ini memiliki ukuran yang besar dengan berat dapat mencapai 200 kg (400 pound) untuk jantan dewasa, serta panjang hingga 1,8 m (6 kaki). Babi celeng di Indonesia panjang tubuhnya hingga 1.500 mm, panjang telinga 200–300 mm, dan tinggi bahunya 600–750 mm.[3]

Anak jenis S.s. vittatus didapati di Semenanjung Malaya, Sumatra dan Jawa; kemungkinan pula di Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, hingga Pulau Komodo. Anak jenis ini dibedakan dari subspesies lainnya karena memiliki tulang hidung (nasal) yang relatif lebih pendek, yakni 45-48% panjang tengkorak (48-51% pada anak jenis lainnya).[4]

Kebiasaan

Jika terkejut atau tersudut, hewan ini dapat menjadi agresif - terutama betina dewasa yang sedang melindungi anak-anaknya, dan jika diserang akan mempertahankan dirinya dengan taringnya.

Di Jawa, babi celeng diketahui berkawin silang dengan babi bagong (S. verrucosus).[5] Di tempat-tempat lain, kemungkinan pula dengan babi berjenggot (S. barbatus) dan babi sulawesi (S. celebensis).[4]

Hewan ini sempat punah di Britania pada abad ke-17, tetapi populasinya telah kembali di beberapa tempat terutama di Weald akibat terlepas dari peternakan.

Galeri

  • Induk celeng dengan anak-anaknya
    Induk celeng dengan anak-anaknya
  • Tengkorak babi celeng
    Tengkorak babi celeng

Referensi

  1. ↑ IUCN Detail 41775
  2. ↑ Linné, C. von. 1758. Caroli Linnæi Systema naturæ. Regnum animale. Editio decima, 1758: 49. Lipsiæ: Sumptibus Guilielmi Engelmann, 1894.
  3. 1 2 Payne, J., C.M. Francis, K. Phillipps, S.N. Kartikasari. 2000. Panduan Lapangan Mamalia di Kalimantan, Sabah, Sarawak & Brunei Darussalam: 365. Bogor: WCS-IP, The Sabah Society & WWF Malaysia.
  4. 1 2 Corbet, G.B. & J.E. Hill. 1992. The Mammals of Indomalayan Region: a systematic review: 246. Oxford: Nat. Hist. Mus. Publ. & Oxford Univ. Press.
  5. ↑ Corbet, G.B. & J.E. Hill. 1992. op. cit.: 248.

Pranala luar

Anggota Suina yang masih hidup
Berikut ini adalah genus dan spesies dalam kelompok Suina
Suidae
Babyrousa
Hylochoerus
Phacochoerus
Porcula
Potamochoerus
Sus
Babi celeng (S. scrofa)
Tayassuidae
Tayassu
Catagonus
Dicotyles


Ikon rintisan

Artikel bertopik hewan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan