Kamis, 29 Oktober 2026
04:01 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Asmara Hadi

penyair asal Indonesia

Bagikan:

Asmara Hadi (8 September 1914 – 3 September 1976) adalah seorang penyair Indonesia dan juga merupakan anggota MRPS sampai tahun 1966. Asmara Hadi menyuarakan semangat kebangsaannya dan mulai terkenal tahun 1930-an.

Kehidupan awal

Asmara Hadi lahir di Talo, Bengkulu pada 8 September 1914. Asmara Hadi berasal dari keluarga terpelajar. Ibunya bernama Khamaria dan ayahnya Khobri bin Merah Hosen gelar "Raja Api" yang berasal dari Bengkulu. Asmara Hadi memiliki empat saudara kandung, yaitu Hanafi, Arifin,Abi dan Maimunah Khamaria.

Pendidikan yang pernah dilalui Asmara Hadi diantaranya HIS Bengkulu, kemudian MULO di Jakarta, dan terakhir Sekolah Menengah Taman Siswa Bandung.

Dalam pergerakan masa penjajahan dia sering dihukum buang. Tahun 1934-1935 dia dibuang ke Ende, Flores bersama Bung Karno. Dia juga beberapa kali dipenjara oleh Pemerintah Belanda. Selepas dari Ende, Asmara Hadi masih tetap berjuang bersama Amir Syarifuddin dan pada tahun 1937 dia harus meringkuk lagi dalam penjara.

Di bidang politik ia aktif di Partindo dan terakhir sebagai anggota MPRS sampai tahun 1966. Sebelumnya, saat konstituante pertama dibentuk, dia menjabat sebagai menteri negara dan Wakil Ketua DPRGR (Kabinet Dwikora II dan Kabinet Dwikora III).[1]

Sebagai penyair Pujangga Baru, Asmara Hadi banyak menggunakan nama samaran diantaranya Ipih A, Abdul Hadi, Hadi-Ratna (HR, sebagai sebagai lambang persatuan antara Asmara Hadi dan Ratna Juami), dan Ibnu Fatah (ketika menulis di majalah Mandala).[2].

Referensi

  1. ↑ "Asmara Hadi - GPPS (Gerakan Pembela Pantja Sila) - Profil Anggota". Konstituante.Net. Diakses tanggal 2021-10-24.
  2. ↑ ENSIKLOPEDIA SASTRA INDONESIA MODERN. BANDUNG: PT REMAJA ROSDA KARYA. 2009. hlm. 45. ISBN 9796922835.{{cite book}}: |first= tidak memiliki |last=


Ikon rintisan

Artikel bertopik biografi politikus Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan