Sabtu, 26 September 2026
17:04 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG

Apofenia

kecenderungan menghubungkan hal-hal yang sebenarnya tidak berhubungan

Apofenia atau atau dalam bahasa sehari-sehari sering disebut cocoklogi adalah suatu kondisi psikologi ketika seseorang memiliki kecenderungan untuk melihat adanya hubungan atau pola yang bermakna dengan hal-hal yang bahkan tidak terkait dan terjadi secara acak.[1]

Menurut Petter Brugger, seorang profesor Neurologi dari University Hospital of Zürich, istilah 'apofenia' pertama kali diperkenalkan oleh Klaus Conrad pada 1958. Pada 1958, Klaus Conrad menerbitkan sebuah monografi berjudul Die beginnende Schizophrenie. Versuch einer Gestaltanalyse des Wahns. Dalam monografi tersebut, dia menjabarkan secara detail tentang prodromal mood dan tahap awal skizofrenia. Dia menciptakan kata ‘apofenia’ untuk mengarakterisasi timbulnya pemikiran delusi dalam psikosis. Apofenia diterjemahkan sebagai “apofani” dari bahasa Yunani, [apo] 'jauh dari' + [phaenein] 'untuk menunjukkan'. Ini menggambarkan fakta bahwa penderita skizofrenia awalnya mengalami delusi sebagai "wahyu".[2]

Apofenia dapat tergambarkan pada kasus James A. Pike, seorang uskup episkopal. Dia mulai melihat “pesan-pesan bermakna” seperti jam yang berhenti, sudut peniti yang terbuka, dan sudut yang dibentuk oleh dua kartu pos yang tergeletak di lantai, sesaat sebelum putranya menembak dirinya sendiri. Hal itu diyakininya–dengan apa yang mungkin masyarakat kita sebut–sebagai “pertanda”.[2]

Referensi

  1. ↑ "Definition of APOPHENIA". www.merriam-webster.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-26.
  2. 1 2 "apophenia - The Skeptic's Dictionary - Skepdic.com". skepdic.com. Diakses tanggal 2021-11-26.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan