Rabu, 30 September 2026
14:32 WIB
TERKINI
Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu
Antipositivisme

Antipositivisme

Bagikan:
 
Sosiologi
Diagram Analisis Jejaring Sosial
Diagram Analisis Jejaring Sosial
Portal
Teori dan Sejarah
Metode penelitian
Topik dan Cabang

Antipositivisme (juga dikenal sebagai interpretatif atau negativisme) adalah sudut pandang dalam sosiologi yang meyakini bahwa ilmu sosial membutuhkan metode ilmiah yang berbeda dengan metode yang umum digunakan dalam bidang ilmu alam. Para akademisi ilmu sosial bekerja tidak hanya menggunakan empirisme dan metode ilmiah. Antipositivis berpendapat bahwa para peneliti perlu pada awalnya menyadari bahwa konsep, pemikiran, dan bahasanya membentuk cara pikir mengenai dunia sosial.

Perkembangan konsep

Dimulai dengan Giambattista Vico pada awal abad ke-18, lalu Montesquieu, ada pemisah antara sejarah alam dan sejarah manusia. Sejarah alam bukan di bawah kendali manusia, tetapi sejarah manusia pada faktanya adalah kreasi manusia. Dengan demikian, terjadi perbedaan epistemologis antara dunia alami dan ranah sosial yang melatarbelakangi antipositivisme. Dunia alami hanya dapat dimengerti dari karakteristik eksternalnya, tetapi ranah sosial dapat dimengerti bagi dari eksternal dan internal, sehingga dapat diketahui sepenuhnya.[1] Fokus internal terlihat sepenuhnya dikembangkan dalam metode-metode antipositivis.

Awal abad ke-19, positivisme dan naturalisme mulai dipertanyakan oleh para peneliti, seperti Wilhelm Dilthey dan Heinrich Rickert, yang berpendapat bahwa dunia kemasyarakatan berbeda dengan dunia fisik alam karena masyarakat memiliki aspek yang unik, seperti makna, simbol, norma, dan nilai-nilai yang kesemuanya dapat dikelompokkan menjadi budaya.

Cara pandang ini dikembangkan lebih lanjut oleh Max Weber, yang mengenalkan istilah antipositivisme (disebut juga sebagai sosiologi humanistik). Menurut cara pandang ini, penelitian sosial harus menggunakan metode dan alat bantu yang khusus, dan menitikberatkan pada nilai-nilai budaya dan kemanusiaan. Hal ini mengakibatkan kontroversi tentang cara membedakan antara penelitian subjektif dan objektif.

[Sociology is ] ... the science whose object is to interpret the meaning of social action and thereby give a causal explanation of the way in which the action proceeds and the effects which it produces. By 'action' in this definition is meant the human behaviour when and to the extent the agent or agents see it as subjectively meaningful ... the meaning to which we refer may be either (a) the meaning actually intended either by an individual agent on a particular historical occasion or by a number of agents on an approximate average in a given set of cases, or (b) the meaning attributed to the agent or agents, as types, in a pure type constructed in the abstract. In neither case is the 'meaning' thought of as somehow objectively 'correct' or 'true' by some metaphysical criterion. This is the difference between the empirical sciences of action, such as sociology and history, and any kind of a priori discipline, such as jurisprudence, logic, ethics, or aesthetics whose aim is to extract from their subject-matter 'correct' or 'valid' meaning.

— Max Weber, The Nature of Social Action 1922[2]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Hamilton, Peter (1974). Knowledge and Social Structure. London: Routledge and Kegan Paul. hlm. 4. ISBN 0710077467.
  2. ↑ Weber, Max The Nature of Social Action in Runciman, W.G. 'Weber: Selections in Translation' Cambridge University Press, 1991. p7.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan