Senin, 21 September 2026
23:50 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya
Angkatan Perang Ratu Adil

Angkatan Perang Ratu Adil

Untuk peristiwa kudeta APRA, lihat Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil.
250px-Flag_of_Legion_of_Ratu_Adil.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bendera Angkatan Perang Ratu Adil
250px-Emblem_of_Legion_of_Ratu_Adil.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lambang Angkatan Perang Ratu Adil
Bagian dari seri mengenai
Sejarah Indonesia
250px-Nicolaes_Visscher_Indiae_Orientalis.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kerajaan Kutai 4001635
Tarumanagara 450900
Kerajaan Kalingga 500782
Kerajaan Melayu 6711347
Sriwijaya 6711028
Kerajaan Sunda 6621579
Kerajaan Galuh 6691482
Kerajaan Bima 7091621
Mataram Kuno 7161016
Kerajaan Bali 9141908
Kerajaan Kahuripan 10191046
Kerajaan Janggala 10421135
Kerajaan Kadiri 10421222
Kerajaan Singasari 12221292
Majapahit 12931478
Kesultanan Peureulak 8401292
Kerajaan Haru 12251613
Kesultanan Ternate 12571914
Kesultanan Samudera Pasai 12671521
Kesultanan Bone 13001905
Kerajaan Kaimana 13091963
Kesultanan Gowa 13201957
Kesultanan Limboto 13301863
Kerajaan Pagaruyung 13471833
Kesultanan Brunei 13681888, sekarang Brunei
Kesultanan Gorontalo 13851878
Kesultanan Melaka 14051511
Kesultanan Sulu 14051851
Kesultanan Cirebon 14451677
Kesultanan Demak 14751554
Kerajaan Giri 14811680
Kesultanan Bolango 14821862
Kesultanan Aceh 14961903
Kerajaan Balanipa 1511sekarang
Kesultanan Banten 15261813
Kesultanan Banjar 1526sekarang
Kerajaan Kalinyamat 15271599
Kesultanan Johor 15281877
Kesultanan Pajang 15681586
Kesultanan Mataram 15861755
Kerajaan Fatagar 16001963
Kesultanan Jambi 16151904
Kesultanan Bima 16201958
Kesultanan Palembang 16591823
Kesultanan Sumbawa 16741958
Kesultanan Kasepuhan 16791815
Kesultanan Kanoman 16791815
Kesultanan Siak 17231945
Kesunanan Surakarta 1745sekarang
Kesultanan Yogyakarta 1755sekarang
Kesultanan Kacirebonan 18081815
Kesultanan Deli 18141946
Kesultanan Lingga 18241911
Awal Kemerdekaan 19451949
Republik Indonesia Serikat 19491950
Demokrasi Liberal 19501959
Demokrasi Terpimpin 19591965
Transisi 19651966
Orde Baru 19661998
Reformasi 1998sekarang
Garis waktu
20px-Flag_of_Indonesia.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalIndonesia

Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) adalah milisi pro-Belanda dan tentara swasta yang dibentuk setelah Revolusi Nasional Indonesia. Didirikan oleh mantan Kapten KNIL Raymond Westerling setelah demobilisasi pada tanggal 15 Januari 1949.[1] Nama milisi ini diambil dari sebuah bagian dari Kitab Ramalan Jayabaya pada abad pertengahan yang menubuatkan kedatangan Ratu Adil yang berasal dari keturunan Turki dan datang untuk menyelamatkan rakyat Jawa serta menegakkan perdamaian dan keadilan. Dengan latar belakang keturunan Turki, Westerling menggunakan mitos Ratu Adil untuk menarik simpati masyarakat.[2]

Westerling mengaku berjuang untuk mempertahankan negara-negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat melawan apa yang ia anggap sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang didominasi oleh orang Jawa yang dipimpin oleh Soekarno dan Hatta.[3] APRA direkrut dari beberapa faksi anti-Republik termasuk mantan gerilyawan Republik, pejuan Darul Islam, Ambon, Melayu, Minahasa, KNIL yang telah didemobilisasi, Korps Speciale Troepen, dan Angkatan Darat Kerajaan Belanda.[4] Pada tahun 1950, APRA telah berevolusi dari serangkaian unit pertahanan diri di pedesaan menjadi pasukan tempur berkekuatan 2.000 orang.[5] Tidak senang dengan pengaruh pemerintahan Soekarno yang semakin besar, Westerling bersekongkol dengan Sultan Hamid II dari Pontianak yang federalis untuk melancarkan kudeta pada Januari 1950.[6]

Peristiwa kudeta Angkatan Perang Ratu Adil

330px-Siliwangi_headquarter_occupied_by_the_APRA.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Markas Divisi Siliwangi yang diduduki APRA pada Januari 1950 di Bandung

Tidak senang dengan pertumbuhan pengaruh pemerintahan Soekarno, Westerling bersekongkol dengan Sultan Pontianak Sultan Hamid II yang berhaluan federalis untuk meluncurkan kudeta pada bulan Januari 1950.[7]

Pada tanggal 23 Januari 1950, APRA meluncurkan kudeta menentang pemerintah Republik Indonesia. Walaupun milisi ini berhasil untuk sementara menduduki Bandung, mereka gagal untuk menduduki Jakarta dan Blora. Mereka telah merencanakan untuk menggulingkan Kabinet RIS dan membunuh beberapa tokoh Republik terkemuka termasuk Menteri Pertahanan Sultan Hamengkubuwana IX dan Sekretaris-Jenderal Ali Budiardjo. Kegagalan kudeta ini menyebabkan adanya demoralisasi anggota milisi terhadap Westerling dan terpaksa melarikan diri ke Belanda. Tanpa pemimpin yang kuat, APRA akhirnya berhenti berfungsi pada Februari 1950.[7] Tindakan APRA tersebut pada akhirnya menyebabkan penahanan Sultan Hamid II dan justru mempercepat pembubaran Republik Indonesia Serikat pada tanggal 17 Agustus 1950, mengubah Indonesia menjadi negara kesatuan yang didominasi oleh pemerintahan pusat di Jakarta.[8]

Referensi

  1. Westerling (1952), hal 146
  2. Westerling (1952), hal 154-56
  3. Westerling (1952), hal 151
  4. Westerling (1952), hal 152
  5. Westerling (1952), hal 153
  6. Kahin 1952, hlm. 454-56.
  7. 1 2 Kahin (1952), hal 454-56
  8. Kahin (1952), p. 456

Rujukan


Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan