Rabu, 14 Oktober 2026
07:08 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM
7,5 cm Pak 41

7,5 cm Pak 41

meriam anti-tank Jerman

Bagikan:
7,5 cm Pak 41
330px-75_mm_PaK_41fort_nelson2010.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jenis Meriam antitank
Negara asal Nazi Jerman
Sejarah pemakaian
Digunakan oleh Nazi Jerman
Pada perang Perang Dunia II
Sejarah produksi
Perancang Krupp, Essen
Diproduksi 1941-1943
Jumlah produksi 150
Spesifikasi
Berat 1.390 kg (3,064 lbs)
Panjang 4,325 m (14 ft 2,3 in)
Panjang laras 2,95 m (9 ft 8 in)
Awak 5
Selongsong peluru Fixed QF 75×543 mm R
Berat Selongsong peluru 2,5 kg (5 pon 8 oz)
Kaliber 75 mm (2,95 in) menyempit menjadi 55 mm (2,16 in); 57 kaliber
Rangka pembawa Kaki belah
Elevasi –12.5° hingga +16°
Sudut putar 60°
Kecepatan peluru AP 1.230 m/s (4,035 ft/s)
Jarak efektif 2.000 m (2,185 yds)
Amunisi tembakan tunggal, pemuatan sungsang
Alat bidik disetel hingga 1500 m

Meriam 7,5 cm Pak 41 adalah salah satu dari meriam antitank Jerman terakhir yang digunakan pada Perang Dunia II dan tercatat sebagai salah satu meriam antitank terbesar yang mengandalkan prinsip Gerlich (diprakarsai oleh perancang senjata Jerman Hermann Gerlich, yang mengembangkan prinsipnya pada 1920an, dilaporkan untuk membuat senapan berburu) untuk menghasilkan kecepatan luncur peluru yang lebih tinggi dan karenanya menghasilkan penetrasi yang lebih besar untuk kaliber seukurannya.[1]

Meriam ini mirip, tetapi memiliki perbedaan dengan Waffe 0725, yang juga berdasarkan prinsip Gerlich namun dengan kaliber laras yang berbeda.[2]

Desain dan pengembangan

Dirancang dan dibuat oleh Krupp AG untuk bersaing dengan Rheinmetall 7,5 cm Pak 40, Pak 41 sejak awal dimaksudkan untuk memanfaatkan keunggulan prinsip Gerlich untuk meningkatkan kecepatan luncur peluru. Sebagai tambahan dari rancangan laras menyempit dan penggunaan peluru berinti tungsten, Pak 41 menggabungkan beberapa fitur terobosan. Salah satu fiturnya adalah membagi laras menjadi tiga bagian: bagian belakang merupakan laras berulir biasa; bagian tengah menyempit dan tidak berulir; pada ujung moncong, 276 inci (7.000 mm) terakhir merupakan laras lurus tetapi tidak berulir. Fitur terobosan lainnya adalah pemasangan kaki-belah dan ban karet langsung pada perisai meriam untuk menghemat beban. Penyangga meriam dipasang dalam dudukan berbentuk bola yang terpasang pada perisai meriam. Penyangganya berbentuk silindris, menutupi bagian belakang laras meriam.

Bobot bubuk peledak yang ditembakkan mencapai 95 persen dari bobot proyektil, yang memiliki perkiraan kecepatan hingga 1.200 m/s (4.000 f/s), dan penetrasi perisai homogen setebal 15 cm (5.94 inches) pada jarak 900 m (1,000 yards). Sungsangnya diperkuat dan merupakan jenis wedge vertikal, dengan mekanisme semi-otomatis. Jika dibandingkan dengan PaK 38 dan PaK 40, meriam ini tampak panjang, rendah, dan kokoh.

Meriam ini disetel hingga 1.500 meters; pembidiknya memiliki empat skala yang digunakan berdasarkan kecepatan luncur peluru. Umur pakai larasnya diperkirakan mencapai 500 hingga 600 tembakan.

Penggunaan

Ketika pertama kali diperkenalkan, kinerja 7,5 cm Pak 41 mengindikasikan bahwa meriam ini mungkin akan menggantikan Pak 40 sebagai meriam antitank standar Wehrmacht. Kecepatan peluru meriam ini cenderung berkurang secara signifikan pada jarak yang jauh. Maka sebagai akibatnya akurasi dan penetrasi juga berkurang. Faktor ini, bersama dengan kelangkaan tungsten yang dibutuhkan untuk pembuatan amunisi khusus, menjamin bahwa hanya 150 pucuk Pak 41 yang akan diproduksi. Sebagian besar Pak 41 dibesituakan ketika larasnya telah aus dan/atau persediaan amunisinya telah habis, meskipun dipercaya sejumlah kecil Pak 41 dikonversi untuk menerima laras dan komponen 7,5 cm Pak 40.

Sejumlah kecil meriam diketahui terpasang pada halftrack dan digunakan sebagai penghancur tank ringan.

Amunisi

Pzgr 41 (HK)

250px-APBCT.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peluru 7,5 cm Pak 41 APCNR Jerman

Sebuah proyektil penembus perisai, komposit, tidak kaku dengan inti tungsten subkaliber dan penanda.

  • Berat peluru: 2.6 kg
  • Kecepatan luncur: 1230 m/s
Jarak Penetrasi

pada 30 derajat dari sumbu vertikal [3]
100 m 198 mm
500 m 172 mm
1.000 m 140 mm
1.500 m n/a

Pzgr 41 (W) - APCNR

Sebuah proyektil penembus perisai, tidak kaku dengan penanda untuk latihan.

  • Berat peluru: 2,5 kg
  • Kecepatan luncur: 1.230 m/s
Jarak Penetrasi

pada 30 derajat dari sumbu vertikal
100 m 97 mm
500 m 80 mm
1.000 m 70 mm
1.500 m 60 mm

Lihat juga

Referensi dan sumber-sumber

Catatan
  1. ↑ "Mile-A-Second Rifle Bullet Is Squeezed In Firing" Popular Mechanics, August 1933
  2. ↑ 'daveh' (2 Juni 2003). "Question about the waffe 0725". Axis History Forum. Diakses tanggal 25 Okt 2015. Given the standards of research of T Jentz ... It would appear that the waffe 0725 is a different weapon to the Pak 41.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Nachrichtenblatt zur Panzerbeschusstafel 7,5 cm Pak 41 L/74.5* dated Nov. 1942
Sumber
  • Gander, Terry and Chamberlain, Peter. Weapons of the Third Reich: An Encyclopedic Survey of All Small Arms, Artillery and Special Weapons of the German Land Forces 1939-1945. New York: Doubleday, 1979 ISBN0-385-15090-30-385-15090-3
  • Hogg, Ian V. German Artillery of World War Two. 2nd corrected edition. Mechanicsville, PA: Stackpole Books, 1997 ISBN1-85367-480-X1-85367-480-X

Pranala luar

Artileri Jerman pada Perang Dunia II
Meriam tank
Meriam antitank
Meriam infanteri dan gunung
Meriam tanpa tolak balik
Mortir
Mortir berat
Artileri roket
Artileri medan, sedang, dan berat
Artileri superberat dan pengepungan
Artileri jalur kereta
Artileri laut
Meriam antipesawat
Peledak
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan