Minggu, 11 Oktober 2026
17:18 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka
5 cm FlaK 41

5 cm FlaK 41

senjata anti-pesawat

Bagikan:
5 cm FlaK 41
330px-5-cm_Flak_41.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jenis Meriam antipesawat
Negara asal Jerman Nazi
Sejarah pemakaian
Masa penggunaan 1941–1945
Digunakan oleh  Nazi Germany
Pada perang Perang Dunia II
Sejarah produksi
Tahun 1936
Produsen Rheinmetall-Borsig
Diproduksi 1940
Jumlah produksi 60 [1]
Varian rangka pembawa dua poros dan dudukan tetap
Spesifikasi (Flak 41 on trailer[2])
Berat 4.300 kg (9.500 pon)
Panjang 605 cm (19 ft 10 in)
Panjang laras 434 cm (14 ft 3 in) bore (86.8 calibers)
Lebar 239 cm (7 ft 10 in)
Tinggi 216 cm (7 ft 1 in)
Awak 7
Selongsong peluru HE; 225 kg (496 pon 1 oz)
Kaliber 50 mm (2,0 in)
Popor gas-operated bolt
Elevasi -10° hingga +90°
Sudut putar 360°
Rata² tembakan 180 peluru/menit (siklis)
Kecepatan peluru 840 m/s (2.800 ft/s)
Jarak efektif 3,050 m (10,01 ft)
Jarak jangkauan 10.350 m (33.960 ft)
Amunisi klip 5 peluru

5 cm FlaK 41 (Flugabwehrkanone 41) adalah sebuah senjata antipesawat Jerman 50 mm (2,0 in) yang diproduksi untuk mempertahankan zona ketinggian udara menengah di atas jangkauan senjata yang lebih ringan (37 mm (1,5 in)), tetapi di bawah jangkauan minimal senjata yang lebih berat (75 mm (3,0 in) ke atas). Meriam ini terbukti tidak memadai dan diproduksi hanya dalam jumlah kecil.

Pengembangan

Pengembangan senjata ini berjalan lambat, dimulai pada 1936, tetapi kontrak baru diberikan kepada Rheinmetall-Borsig pada tahun 1940. Meriam ini diproduksi dalam dua model, satu dipasang pada trailer dua poros, yang lainnya pada dudukan tetap dan digunakan untuk mempertahankan instalasi industri yang penting. Tidak ada model yang sukses dan keduanya memiliki kesalahan yang sama. Kecepatan sudut putarnya terlalu lambat untuk target yang bergerak cepat dan amunisinya terbukti kurang bertenaga, meskipun propelan pelurunya memberikan ledakan yang cukup kuat untuk menyilaukan bidikan di siang hari bolong. Kartrid yang relatif berat (selongsongnya saja seberat 2,2 kg ketika dimuat dalam klip 5 peluru.[3]

Meriam ini otomatis, dioperasikan dengan gas dan dikunci oleh blok sungsang jatuh yang melibatkan penuntun penopang pada blok terhadap penuntun pada selubungnya. Mundurnya sungsang saat menembak akan menjalankan mekanisme pengisian ulang. Buffer dipasang secara terpusat pada penopang, di antara dua pegas dari pemulih balik (recuperator).

Secara keseluruhan 60 unit dari 5 cm Flak 41 diproduksi, mulai tahun 1941, dan hanya 24 yang masih digunakan pada tahun 1945.[4]

Upaya Jerman untuk membuat senjata antipesawat selanjutnya difokuskan pada pengembangan senjata kaliber 55 mm (2,2 in) (Gerät 58) dan turunan dari 5 cm Pak 38, Gerät 241.

Referensi

  1. ↑ "5cm FlaK 41". 14 Mei 2019. Diakses tanggal 19 Juni 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "5 cm Flak 41: Antiaircraft Gun Materiel. Technical Manual, War Department, June 29, 1943". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-01-11. Diakses tanggal 2019-08-13.
  3. ↑ Bishop, Chris (1998). The Encyclopedia of Weapons of World War II. New York: Barnes £ Noble Books. hlm. 168. ISBN 0-7607-1022-8.
  4. ↑ Bishop, Chris (1998). The Encyclopedia of Weapons of World War II. New York: Barnes £ Noble Books. hlm. 168. ISBN 0-7607-1022-8.
Artileri Jerman pada Perang Dunia II
Meriam tank
Meriam antitank
Meriam infanteri dan gunung
Meriam tanpa tolak balik
Mortir
Mortir berat
Artileri roket
Artileri medan, sedang, dan berat
Artileri superberat dan pengepungan
Artileri jalur kereta
Artileri laut
Meriam antipesawat
Peledak
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan