Peta 88 kuil Buddha di jalur Ziarah ShikokuPeziarah di Zentsū-ji, Kuil 75 dan tempat lahirnya KūkaiSeorang aruki-henro atau peziarah jalan kaki, ditandai dari caping yang khas, kaus putih, dan kongō-zue. Rute henro-michi melalui pedesaan dan sejumlah kota.
Ziarah Shikoku (四国遍路, Shikoku Henro) atau Shikoku Junrei (四国巡礼) adalah rangkaian ziarah multisitus yang meliputi 88 wihara yang terkait dengan biksu BuddhaKūkai (Kōbō Daishi) di Shikoku, Jepang. Ziarah bernilai sejarah yang menjadi ciri khas kebudayaan Shikoku ini mengundang sejumlah besar peziarah, yang dikenal sebagai henro (遍路) untuk tujuan asketis maupun wisata.[1] Ziarah ini secara tradisional dilakukan dengan berjalan kaki, tetapi peziarah modern menggunakan mobil, taksi, bus, sepeda, atau sepeda motor, dan sering kali menyelingi perjalanan mereka dengan bertransportasi umum. Rute berjalan kaki standar memiliki panjang sekitar 1.200 kilometer (750mi) dengan menghabiskan waktu antara 30 hingga 60 hari untuk diselesaikan.
Selain 88 kuil "resmi", terdapat 20 kuil bekkaku (別格), yang secara resmi terkait dengan Ziarah Shikoku (beserta ratusan kuil bangai (番外) yang artinya "di luar angka", yang tidak dianggap sebagai bagian dari daftar resmi 88 wihara).[2][3] Untuk menyelesaikan ziarah, tidak perlu mengunjungi kuil-kuil secara berurutan; dalam beberapa kasus, peziarah menyelesaikan perjalanan secara terbalik, sebuah praktik yang dikenal sebagai gyaku-uchi (逆うち).[4]
Henro (遍路) adalah istilah dalam bahasa Jepang yang berarti peziarah,[5] di mana warga setempat di sepanjang rute memanggil para peziarah sebagai o-henro-san (お遍路さん). Mereka mudah dikenali dari pakaian putih, caping, dan kongō-zue atau tongkat. Sedekah atau osettai (お接待) sering diberikan kepada para peziarah oleh penduduk Shikoku.
Sebelum mencapai Kuil ke-88, para peziarah yang berjalan kaki dan bersepeda dapat menerima sertifikat "Duta Henro Ziarah Kuil Shikoku 88" dari Maeyama Ohenro Koryu Salon. Di Kuil ke-88, seseorang dapat membeli sertifikat penyelesaian ziarah yang disebut kechi-gan-shō (結願証).[6] Banyak peziarah juga memulai dan mengakhiri perjalanan dengan mengunjungi Gunung Kōya di Prefektur Wakayama, yang didirikan oleh Kūkai sebagai pusat aliran Buddhisme Shingon. Jalur pendakian sepanjang 21 kilometer (13mi) menuju Kōya-san masih ada, tetapi sebagian besar peziarah sudah menggunakan kereta api.
Sejarah
Latar belakang
Ziarah (巡礼 (Junrei)) telah memainkan peran penting dalam praktik keagamaan di Jepang setidaknya sejak zaman Heian. Ziarah umumnya berpusat pada gunung keramat, dewa-dewa tertentu, atau individu karismatik, yang biasanya dilakukan dengan menyambangi situs-situs Buddha dengan pengecualian ziarah ke kuil Shinto Kumano Kodō dan Ise.[1][7]
Kōbō Daishi
Kūkai, lahir di Zentsū-ji (Kuil 75) pada tahun 774, sempat belajar di Tiongkok, dan sekembalinya ke Jepang, berpengaruh dalam pengajaran Buddhisme esoteris. Ia mendirikan tempat retret Shingon di Kōya-san, menjadi seorang penulis yang aktif, melaksanakan program pekerjaan umum, dan saat berkunjung ke pulau kelahirannya disebut telah mendirikan atau mengunjungi banyak kuil dan mengukir banyak patung. Ia dikenal secara anumerta sebagai Kōbō Daishi.[8][9]
Perkembangan
Legenda dan pemujaan Kōbō Daishi, seperti Emon Saburō, dipelihara dan dikembangkan oleh para biksu di Kōya-san yang melakukan perjalanan untuk mewartakan Shingon dan aktif bersama para biksu lainnya di Shikoku.[10] Selama zaman Edo, kebijakan tochi kinbaku (土地緊縛) membatasi dan mengatur pergerakan orang awam. Para peziarah diharuskan memiliki izin perjalanan, mengikuti jalur utama, dan melewati daerah dalam batas waktu tertentu, dengan buku stempel kuil atau nōkyō-chō sebagai bukti kunjungan.[11]
Praktik
Tahapan
Shikoku secara harfiah berarti "empat provinsi", yaitu Awa, Tosa, Iyo, dan Sanuki, yang direorganisasi pada zaman Meiji menjadi Prefektur Tokushima, Kōchi, Ehime, dan Kagawa. Perjalanan ziarah melalui empat wilayah ini melambangkan empat tahap menuju pencerahan, dengan kuil 1–23 berarti kebangkitan (発心 (hosshin)), 24–39 pertapaan dan kedisiplinan (修行 (shugyō)), 40–65 pencerahan (菩提 (bodai)), dan 66–88 nirwana (涅槃 (nehan)).[12]
Peralatan
Peziarah memakai pakaian tradisional yang terdiri dari kemeja putih (白衣 (oizuru)), caping (すげ笠 (suge-kasa)), dan tongkat (金剛杖 (kongō-zue)). Perlengkapan lainnya seperti selempang (輪袈裟 (wagesa)), tas (頭陀袋 (zuda-bukuro)) berisi kertas nama (納札 (osame-fuda)), japamala (数珠 (juzu)), buku kecil (納経帳 (nōkyō-chō)) untuk mengumpulkan cap (朱印 (shuin)), dupa (線香 (senkō)), dan koin persembahan (お賽銭 (o-saisen)). Peziarah yang lebih religius bisa juga membawa kitab sutra (経本 (kyōbon)) dan lonceng (go-eika (ご詠歌)).[13]
Ritus
Setibanya di kuil, peziarah menyucikan diri sebelum masuk ke Hondō. Setelah menyerahkan koin, dupa, dan osame-fuda, Sutra Hati (般若心経 (Hannya Shingyō)) dibacakan bersama dengan Mantra rupa utama (本尊 (honzon)) dan Mantra Cahaya (光明真言 (Kōmyō Shingon)). Setelah kigan dan ekō (doa dan pelimpahan jasa), peziarah melanjutkan ke kuil Kobo Daishi (大師堂 (Daishidō)). Koin dan fuda dipersembahkan dengan cara yang sama, dan sekali lagi Sutra Hati dilantunkan, bersamaan dengan perapalan Mantra.[13]
Upaya Pengajuan Status Warisan Dunia UNESCO
Sejak tahun 2010, pemerintah prefektur di Shikoku, anggota LSM, dan pemimpin lokal telah berupaya untuk meraih status Warisan Dunia UNESCO untuk Ziarah Shikoku. Saat ini, ziarah ini diakui sebagai "Calon Tentatif" oleh Badan Urusan Kebudayaan Jepang, atau kekayaan budaya yang belum ditambahkan ke Daftar Tentatif Warisan Dunia Jepang karena harus 'dilanjutkan persiapannya.'[14]
Versi tiruan
Sebagai bukti popularitas ziarah Shikoku, sejak abad ke-18 sejumlah versi tiruan yang lebih kecil telah diselenggarakan.[7] Termasuk sirkuit sepanjang 150 kilometer (93mi) di Pulau Shōdo di timur laut Takamatsu;[15] rute sepanjang 3 kilometer (1,9mi) di sekitar Ninnaji di Kyoto;[16] rute di Semenanjung Chita, dekat Nagoya;[17] dan rute sirkuit di Edo dan Prefektur Chiba.[7] Di luar Jepang, versi lain terdapat di Kauai, Hawaii.[18]
Sibley, Robert C. (2013). The Way of the 88 Temples: Journeys on the Shikoku Pilgrimage. Charlelottesville: University of Virginia Press. ISBN978-0-8139-3472-3.