Sabtu, 03 Oktober 2026
04:18 WIB
TERKINI
Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri
Zhao Chongguo

Zhao Chongguo

Bagikan:
Dalam artikel ini, nama keluarganya adalah Zhao.
Zhao Chongguo
250px-Zhao_Chongguo%2C_Gu_Shengxian_Xiang_Zhuanl%C3%BCe_%28cropped%29.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penggambaran Zhao tahun 1830
Lahir137 SM
Shanggui, Komanderi Longxi, Tiongkok Han
Meninggal52 SM (umur 84 atau 85)
PengabdianDinasti Han
Lama dinasca 115–60 SM
Perang
HubunganZhao Yu (ayah)
AnakZhao Ang [en]
Zhao Chongguo
Hanzi tradisional: 趙充國
Hanzi sederhana: 赵充国
Alih aksara
Mandarin
- Hanyu Pinyin: Zhào Chōngguó
- Wade-Giles: Chao4 Ch'ung1-kuo2
Nama kehormatan
Hanzi tradisional: 翁孫
Hanzi sederhana: 翁孙
Alih aksara
Mandarin
- Hanyu Pinyin: Wēngsūn
- Wade-Giles: Weng1-sun1

Zhao Chongguo (Hanzi:趙充國; Pinyin:Zhào Chōngguó, 137–52 SM) adalah panglima militer dan pejabat Tiongkok pada masa Dinasti Han Barat. Ia lahir dari keluarga pejabat di kawasan yang kini menjadi bagian timur Gansu, lalu mempelajari ilmu militer pada masa mudanya. Sekitar tahun 100 SM, ia bergabung dengan Pengawal Yulin (羽林; Yǔlín, secara harfiah berarti "Hutan Bulu" atau "Sayap Pelindung"), satuan kavaleri elite yang baru dibentuk dan direkrut dari distrik-distrik barat laut. Pada tahun berikutnya, ia mengikuti kampanye Jenderal Li Guangli [en] melawan konfederasi Xiongnu dan menderita luka parah dalam pertempuran. Kaisar Wu dari Han terkesan oleh dedikasi Zhao, lalu memberinya kenaikan pangkat. Ia kemudian menjabat sebagai kepala staf bagi panglima tertinggi satuan kavaleri. Pada tahun 80 SM, Zhao ditunjuk untuk mengelola taman-taman kekaisaran serta mengawasi pencetakan koin uang logam [en].

Pada tahun 74 SM, Zhao bekerja sama dengan tokoh politik Huo Guang untuk menggulingkan kaisar yang baru naik takhta, Liu He dan menggantikannya dengan Kaisar Xuan dari Han. Atas jasanya tersebut, ia diangkat menjadi Markis [en] Yingping dan dipromosikan sebagai Jenderal Pasukan Belakang. Setelah terlibat dalam berbagai pertempuran melawan Xiongnu, ia secara sukarela memimpin kampanye militer melawan orang Qiang (di wilayah yang kini menjadi Qinghai) pada tahun 62 SM. Bersama putranya, ia berhasil merangsek jauh ke dalam wilayah Qiang dan memanfaatkan perpecahan antarsuku dengan memberikan amnesti kepada orang-orang Qiang yang membelot ke pihak Han. Zhao menolak desakan rekan-rekan jenderalnya maupun kaisar untuk melancarkan penyerangan langsung, karena meyakini bahwa pendudukan jangka panjang akan menundukkan Qiang melalui strategi pelemahan bertahap (atrisi).

Ia berhasil menerapkan kebijakannya, yakni Tuntian (koloni militer agraris), meski pada saat bersamaan kaisar juga mengizinkan operasi penyerangan oleh jenderal-jenderal lainnya. Metode garnisun Zhao terbukti berhasil sehingga menuai banyak pujian dan memengaruhi para pakar strategi pada masa-masa berikutnya. Ia pensiun pada tahun 60 SM setelah putranya memicu skandal dan bunuh diri. Riwayat hidup dan karier Zhao sebagian besar diketahui melalui catatan biografinya dalam Kitab Han.

Kehidupan awal dan karier

Pada tahun 137 SM, Zhao Chongguo lahir di Prefektur Shanggui, Komanderi Longxi, yang terletak di sepanjang perbatasan barat dinasti Han Barat (sekarang Tianshui di Gansu timur).[1][2] Sebuah prasasti yang didirikan untuk salah seorang anggota keluarganya pada tahun 180 M menyatakan bahwa keluarga ini berasal dari percabangan wangsa penguasa Negara Zhao pada Zaman Negara-negara Berperang.[3] Kakek buyutnya, Zhao Zhongkuang, pernah menjabat sebagai bendahara istana (少府; shǎofǔ) pada masa pemerintahan Kaisar Wen dan Kaisar Jing. Putra Zhongkuang Zhao Sheng menjabat sebagai penasihat istana (諫議大夫; jiànyì dàfū) di istana kekaisaran. Putra Sheng Zhao Yu yang merupakan ayah Zhao Chongguo, sempat menjadi abdi istana, tetapi ia diasingkan ke Shanggui akibat melakukan suatu pelanggaran berat.[4][5]

Tidak banyak yang diketahui mengenai kehidupan awal Zhao maupun pengalaman militernya sebelum ia bergabung dengan satuan kavaleri Pengawal Yulin (羽林; yǔlín) sekitar tahun 100 SM. Catatan sejarah di kemudian hari menuliskan bahwa ia telah memupuk cita-cita besar sejak belia dan bertekad menjadi seorang jenderal. Wilayah "Enam Komanderi",[α] termasuk Longxi, memiliki tradisi kedaerahan dalam dinas kavaleri militer Han.[6][7] Zhao mempelajari Ilmu militer dan pengetahuan mengenai Empat Suku Barbar.[6] Ia kemungkinan mengawali dinas militernya sebagai prajurit kavaleri dalam satuan pertahanan setempat, lalu dikenal sebagai 'Putra Keluarga Terhormat dari Enam Komanderi' (六郡良家子; liùjùn liángjiāzǐ),[β] yakni kelompok yang melahirkan banyak jenderal terkemuka Han. Ia dianugerahi Nama kehormatan Wengsun yang berarti 'cucu kakek tua' meski latar belakang makna di balik nama ini tidak diketahui. Pada suatu masa, Zhao berpindah ke Kabupaten Lingju di Komanderi Jincheng (kini Kabupaten Yongdeng di Gansu tengah). Kepindahan ini kemungkinan berkaitan dengan tugas militernya, sebab Lingju baru saja jatuh ke tangan kekuasaan Han dalam kampanye penaklukan bangsa Qiang.[1][2][8]

Dinas militer

Pada tahun 104 SM, sebuah kesatuan kavaleri elite bernama Pengawal Yulin dibentuk di ibu kota kekaisaran Chang'an. Satuan ini merupakan salah satu dari lima unit di bawah naungan Menteri Rumah Tangga Kekaisaran yang bertugas melindungi Kaisar. Para anggota perwira unit ini, yang bergelar Yulinlang (羽林郎; yǔlínláng, perwira pengawal kekaisaran), sebagian besar direkrut dari wilayah barat laut, dengan penekanan khusus pada keturunan para prajurit yang gugur dalam tugas militer. Zhao bergabung dengan unit ini sekitar tahun 100 SM.[9][6] Pada tahun 99 SM, ia bergabung dengan 30.000 pasukan kavaleri dalam kampanye militer Jenderal Li Guangli [en] melawan Xiongnu di utara dan mengemban pangkat penjabat mayor. Pasukan Han terpaksa mundur serta menderita kerugian besar, hingga akhirnya terkepung oleh serbuan tentara Xiongnu setelah bertempur sengit selama beberapa hari. Zhao memimpin sekitar 100 prajurit untuk menerobos barisan pertahanan Xiongnu demi membuka jalan mundur bagi sisa pasukan Han, kendati ia menderita dua puluh luka sabetan pedang selama pertempuran. Setelah Jenderal Li memuji jasa-jasa Zhao, Kaisar Wu mengundang Zhao ke suatu audiensi pribadi untuk melihat langsung luka-luka tempurnya. Sang kaisar begitu terkesan sehingga mempromosikannya ke pangkat Tuan Rumah Tangga Istana (中郎; zhōngláng).[6][10]

Berbagai model keramik kuno prajurit penunggang kuda di balik kaca etalase museum
Model keramik kavaleri dari zaman Han awal

Zhao tak lama kemudian dipromosikan kembali menjadi kepala staf untuk Jenderal Kereta Perang dan Kavaleri (車騎將軍; jūjì jiāngjūn), yang kemungkinan besar dijabat oleh Jenderal Besar Huo Guang, dan kariernya melesat pesat selama kediktatoran Huo sesudahnya.[γ] Pada tahun 80 SM, Zhao memimpin pasukan untuk menundukkan suku Di yang memberontak di Komanderi Wudu di kawasan yang kini menjadi bagian tenggara Gansu. Dalam kampanye militer ini, ia menyandang gelar Komandan Utama Pelindung Tentara (護軍都尉; hùjūn dūwèi), yang kemungkinan merupakan posisi penasihat bagi Jenderal Besar. Ia kemudian dikirim untuk memimpin garnisun di Komanderi Shanggu (kini di wilayah Mongolia Dalam), kemungkinan hanya sebagai tugas inspeksi singkat.[11]

Masih pada tahun 80 SM, Zhao diangkat menjadi Komandan Utama Perairan dan Taman (水衡都尉; shuǐhéng dūwèi), jabatan yang ia pegang hingga tahun 60 SM. Selaku komandan utama, ia mengelola Taman Shanglin di sebelah utara ibu kota. Jabatan ini juga memberinya wewenang untuk mengatur percetakan koin tunai, mengingat tempat percetakan uang pusat berlokasi di dalam kawasan taman tersebut.[13] Menjelang tahun 74 SM, Jenderal Barisan Depan (前將軍; qián jiāngjūn) Han Zeng turut mendampingi Zhao dalam jabatan ini.[13][14] Pada Agustus 74 SM, Zhao bekerja sama dengan Huo untuk menggulingkan kaisar yang baru saja naik takhta, Liu He, yang dinilai oleh sejumlah pejabat gemar berfoya-foya dan tidak layak memimpin. Zhao menandatangani surat dakwaan terhadap sang kaisar bersama Penasihat Kekaisaran dan Han Zeng, lalu Kaisar Xuan (cicit dari Kaisar Wu) ditakhtakan untuk menggantikannya. Sekitar dua ratus pejabat dieksekusi atas tuduhan membantu tindakan-tindakan berlebihan selama masa pemerintahan singkat Liu He. Kekuasaan Huo Guang pun tetap berlanjut pascakudeta tersebut.[15][16]

Sebagai anugerah atas jasanya dalam kudeta tersebut, Zhao dianugerahi gelar bangsawan turun-temurun Markis Yingping (營平侯; yíngpíng hóu). Sekitar kurun waktu ini, ia dipromosikan menjadi Jenderal Barisan Belakang (後將軍; hòu jiāngjūn), di samping tetap merangkap jabatan sipilnya sebagai komandan utama.[13] Dari tahun 72 SM hingga 71 SM, Zhao menjadi salah satu dari lima jenderal Han yang terjun dalam ekspedisi kavaleri besar melawan Xiongnu atas permintaan suku Wusun di wilayah barat laut.[13][17] Selama ekspedisi tersebut, ia bergelar Jenderal Pulei (蒲類將軍; púlèi jiāngjūn).[δ][20] Menyusul penyerbuan besar-besaran ke Shanxi pada tahun 70 SM, seorang komandan Xiongnu yang membelot menyarankan kepada tentara Han untuk menempatkan Zhao, yang dilaporkan sangat ditakuti di kalangan bangsa Xiongnu, sebagai pemegang komando di komanderi-komanderi perbatasan utara. Pasukan Xiongnu akhirnya mundur pada tahun berikutnya. Huo Guang wafat dua tahun berselang, dan keluarga Huo kemudian disingkirkan demi menegakkan kekuasaan langsung Kaisar Xuan. Di tengah pergolakan tersebut, Zhao tetap mempertahankan kedudukan terhormat di mata pemerintah kekaisaran.[13]

Kampanye melawan Qiang

Mencegah hubungan dan persekutuan antara masyarakat pastoralis Qiang Barat dan Xiongnu telah menjadi tujuan geopolitik Han sejak masa pemerintahan Kaisar Wu, sekaligus pendorong utama penaklukan Koridor Hexi. Pada pertengahan dekade 60-an SM, seorang kepala suku Xianlian dari Qiang Barat meminta izin untuk menggembalakan ternak mereka di Lembah Huangshui [en], tempat mereka pernah diusir sebelumnya. Zhao murka setelah usulan tersebut diteruskan secara positif ke istana Han oleh utusan Yiqu Anguo. Ia menuduh bangsa Qiang sekadar mencari celah untuk berhubungan dengan Xiongnu sehingga merekomendasikan serangan pendahuluan. Tanggapan resmi pemerintah Han terhadap usulan tersebut tidak diketahui, tetapi garnisun setempat tidak mampu mencegah pemukiman kembali suku Qiang di kawasan itu.[21][22]

Pada tahun 63 SM, kepala suku Xianlian bergabung dengan sekelompok besar kepala suku Qiang Barat untuk menangguhkan perselisihan antarsuku dan membentuk persekutuan. Zhao memberi masukan kepada Kaisar Xuan mengenai masalah tersebut. Ia menggambarkan persatuan Qiang sebagai ancaman khusus bagi Han serta memperkirakan bahwa Xiongnu akan segera berusaha bersekutu dengan mereka. Ia meyakini unifikasi tersebut dapat digagalkan melalui pengaruh Han, seraya menulis, "Bangsa Qiang relatif mudah dikendalikan karena mereka terpecah menjadi banyak suku yang gemar berperang dan selalu saling menyerang. Sudah bukan watak mereka untuk bersatu."[23][24]

Pada tahun 62 SM, pihak Han mengetahui bahwa bangsawan Qiang Langhe telah mengirim utusan ke pihak Xiongnu demi membentuk aliansi untuk menyerang kota Dunhuang dan wilayah Shanshan di gurun barat. Mengantisipasi serangan yang kian dekat, Zhao mendesak agar perwira Xin Wuxian, Gubernur Komanderi (太守; tàishǒu) Jiuquan, dikirim ke wilayah Qiang sebagai bagian dari ekspedisi penghukuman. Namun, Kanselir dan Sekretaris Kekaisaran justru mengirim Yiqu Anguo ke wilayah Qiang, dengan dalih misi diplomatik. Kampanye militernya yang brutal menyulut kemarahan luas, hingga semakin banyak suku Qiang yang bangkit memberontak. Ia pun terpaksa mundur kembali ke wilayah Han.[24]

Jalannya kampanye

Lukisan Kaisar Xuan dari Han mengenakan penutup kepala dan jubah kekaisaran
Lukisan Kaisar Xuan dari Han dari abad ke-17

Kaisar Xuan mengutus Sekretaris Kekaisaran Bing Ji untuk meminta pertimbangan Zhao mengenai kepemimpinan ekspedisi bantuan yang akan dikerahkan. Kendati telah berusia tujuh puluhan tahun, Zhao berhasil meyakinkan para petinggi kekaisaran bahwa pengalamannya menjadikannya sosok yang paling cakap untuk memimpin ekspedisi tersebut. Ia kemudian bergabung dengan rombongan sekitar 10.000 prajurit kavaleri yang dimobilisasi di Komanderi Jincheng. Pasukan ini bergerak ke arah barat menyusuri Sungai Kuning pada April atau Mei 61 SM untuk menyeberang ke tepi utara di sebelah timur pertemuan alirannya dengan Sungai Huangshui [en]. Pada malam hari, Zhao mengirim tiga resimen untuk menyeberang dan membangun benteng lapangan di sepanjang tepi utara guna melindungi sisa pasukan. Garis depan ini diserang oleh sekelompok kecil penunggang kuda Qiang tak lama kemudian. Curiga akan kemungkinan penyergapan, Zhao menarik pasukannya dan mengutus sebuah regu untuk mengintai lokasi yang mudah dipertahankan di sepanjang sungai yang dikenal sebagai Daerah Sempit Siwang.[ε] Setelah memastikan tidak ada pasukan Qiang di daerah sempit tersebut, tentara bergerak menyusuri Sungai Huangshui melewati Luodu (kini Ledu) dan beristirahat selama beberapa hari di Benteng Longzhi, sebelah tenggara wilayah modern Xining.[23][25][26]

Sesaat sebelum kedatangan Zhao di Longzhi, seorang utusan Qiang bernama Diaoku dari suku Kai ditahan di benteng. Zhao menyatakan bahwa utusan tersebut tidak bersalah dan mengutusnya kembali sebagai pembawa pesan kepada orang-orang Qiang, dengan menjanjikan pengampunan serta imbalan uang dalam jumlah besar bagi siapa pun yang memenggal para pelaku pemberontakan. Mereka juga akan diberi hak kepemilikan atas istri, anak-anak, dan harta benda orang-orang yang dipenggal tersebut.[27] Saat Zhao bergerak ke arah hulu, putranya, Zhao Ang, selaku komandan Pengawal Rumah Tangga Istana, mengerahkan barisan bantuan yang dihimpun secara tergesa-gesa dengan kekuatan dua resimen tentara reguler dari Chang'an. Tertahan oleh pasukan Qiang di Lianju dan terputus dari jalur pasokannya, pasukan ini kelak diperkuat oleh rombongan sekitar 5.000 prajurit kavaleri. Gubernur Komanderi Jincheng, yang membawahkan 10.000 kavaleri komanderi, juga dikirim untuk memperkuat Zhao Ang.[26][28][ζ] Satuan-satuan narapidana [en] dari ibu kota turut dikirim untuk membantu tentara Han sehingga total kekuatan militer mencapai sekitar 60.000 prajurit.[26][30]

Xin Wuxian menyurati Zhao Chongguo untuk mengusulkan penyerangan terhadap suku Qiang Han[η] dan suku Kai di dekat Danau Qinghai. Ia berpendapat bahwa perbudakan atas keluarga mereka serta penyitaan ternak mereka akan sangat melemahkan bangsa Qiang. Langkah ini dinilai akan membuka jalan bagi penghancuran mereka oleh pasukan utama pada musim dingin. Zhao menyatakan bahwa rencana tersebut akan membuat perbatasan utara tanpa pertahanan terhadap potensi serangan Xiongnu. Selain itu, banyaknya perbekalan yang dibutuhkan untuk ekspedisi semacam itu hanya akan membebani kuda-kuda mereka tanpa memberi manfaat. Kendati suku Qiang Han dan suku Kai dianggap paling bertanggung jawab atas pemberontakan, ia meyakini bahwa menundukkan dan memperoleh kesetiaan suku Xianlian di dekat sana justru akan mengamankan perbatasan dari ancaman suku-suku Qiang lainnya.[32]

Setelah bermusyawarah, Tiga Adipati dan Sembilan Menteri menasihati kaisar agar menolak usulan Zhao. Yiqu Anguo diutus untuk menyampaikan tanggapan kaisar kepada Zhao, seraya menegurnya karena tidak berupaya mencegah penyerbuan suku Qiang Han dan suku Kai ke Gansu. Kaisar juga menganugerahi Xin Wuxian gelar 'Jenderal Penumpas Qiang' (破羌將軍; pòqiāng jiāngjūn). Zhao menolak teguran tersebut dan membalasnya dengan rancangan rencana dua belas bagian yang lebih terperinci pada Juli atau Agustus 61 SM. Ia menegaskan kembali niatnya untuk menyerang suku Xianlian terlebih dahulu, dan baru akan menyerang suku Qiang Han dan suku Kai apabila mereka tetap melanjutkan permusuhan setelahnya. Ia mengingatkan bahwa serangan dini terhadap suku Qiang Han dan suku Kai justru akan memastikan persekutuan mereka dengan suku Xianlian, padahal mereka sebenarnya dapat dibujuk untuk berbalik melawan Xianlian. Setelah mempertimbangkannya dalam waktu singkat, kaisar mengalah dan menyetujui rencana Zhao.[33]

Zhao kemudian bergerak lebih jauh ke wilayah Qiang. Pasukan Xianlian kocar-kacir saat tentara Han mendekat, meninggalkan ternak, kereta, dan gerobak mereka. Tentara kekaisaran Han terus maju ke wilayah suku Qiang Han, yang kemungkinan berada di sebelah timur laut Danau Qinghai, tetapi menahan diri dari penjarahan. Tindakan ini membuat suku Qiang Han menaruh simpati kepada tentara kekaisaran. Sekitar bulan September, kepala suku Qiang bernama Miwang mengirim utusan kepada Zhao untuk meminta agar rakyatnya diizinkan kembali ke wilayah asal mereka.[θ] Meskipun sebagian besar perwiranya menolak pemberian ampunan bagi Miwang karena telah bersekutu dengan Xianlian, Zhao mengesampingkan keberatan mereka dan memberikan pengampunan kepadanya beserta suku Han.[34]

Garnisun pertanian

Zhao jatuh sakit sekitar dua bulan kemudian, tetapi didesak oleh Kaisar Xuan untuk tetap melancarkan serangan. Berdasarkan pertanda astrologi yang dinilai menguntungkan, kaisar menitahkan Xin Wuxian untuk menggabungkan pasukan garnisunnya ke dalam barisan tentara Zhao, seraya menginstruksikan Zhao agar melancarkan serangan pada sekitar Januari 60 SM. Jika penyakit Zhao memburuk, kaisar memerintahkan Xin bersama Jenderal Busur Silang Xu Yanshou untuk memimpin serangan menggantikannya. Perintah ini membuat Zhao keberatan karena ia memang tidak berniat segera melancarkan serangan besar-besaran, sehingga tidak memerlukan tambahan pasukan di bawah komandonya. Menjelang akhir tahun, Zhao memimpin pasukan berkekuatan sekitar 60.000 prajurit yang membutuhkan perbekalan gandum dan garam dalam jumlah besar. Zhao Ang mengirim seorang ajudan kepada ayahnya untuk memohon agar ia mematuhi perintah kaisar kendati sedang sakit. Namun, Zhao membalas bahwa ia berniat meneruskan rencananya seraya menegaskan bahwa "penguasa kita yang cemerlang dapat menilai apakah kata-kataku setia."[35][36][37]

Zhao merancang strategi pendudukan jangka panjang atas wilayah Qiang melalui sistem Tuntian (harfiah: 'garnisun pertanian'). Ia meminta izin untuk membubarkan sebagian besar pasukannya dan hanya menyisakan 10.281 prajurit, yang terdiri atas pasukan dari Kerajaan Huaiyang dan Runan serta mantan narapidana dari wilayah ibu kota. Pasukan yang tersisa ini tidak akan dikerahkan untuk menyerang, melainkan membangun pos-pos pertahanan terdepan, parit irigasi, dan waduk guna meningkatkan kapasitas pertanian di sepanjang Lembah Huangshui. Zhao memperkirakan bahwa langkah ini dapat memperluas jangkauan administrasi Han hingga ke Danau Qinghai. Selain itu, sekelompok pasukan berkuda yang terdiri atas 1.000 prajurit kavaleri disiagakan untuk hidup dari hasil bumi setempat selama musim semi dan musim panas demi melindungi lahan-lahan pertanian militer tersebut.[30]

Kaisar Xuan bingung dengan usulan Zhao dan membalas dengan pertanyaan: "Jenderal macam apa yang merencanakan hal seperti ini? Kapan musuh akan ditumpas? Kapan pasukan kita akan meraih kemenangan yang menentukan? Jika kau dapat menunjukkan alasan rencana ini menguntungkan kita, ajukan petisi lagi!"[38] Zhao menanggapi dengan mengajukan petisi baru yang memerinci dua belas keunggulan rencananya. Ia menjelaskan bahwa rencana tersebut akan merampas wilayah-wilayah tersubur milik bangsa Qiang dan menyingkirkan mereka ke dataran tinggi yang gersang sehingga memicu perpecahan dan kelaparan di kalangan pasukan Qiang. Rencana ini juga memungkinkan pembangunan infrastruktur agar pasokan logistik pasukan senantiasa terjamin, alih-alih memaksa prajurit mengangkut perbekalan sendiri melintasi pegunungan yang rawan disergap atau terputus dari jalur pasokan.[37][39]

Zhao menepis kekhawatiran istana bahwa pengurangan jumlah personel akan menempatkan pasukan dalam bahaya serangan besar-besaran bangsa Qiang. Ia menegaskan bahwa menunggu musuh justru akan semakin mengikis kemampuan tempur mereka akibat ketiadaan pasokan. Kaisar menyerahkan usulan Zhao kepada beberapa pejabat tinggi untuk ditinjau, termasuk Tiga Adipati dan Sembilan Menteri.[ι] Sebanyak 18 pejabat tinggi mendukung petisi ketiga Zhao, dari keseluruhan pejabat istana yang tidak diketahui jumlah pastinya. Ketika kaisar memerintahkan mereka untuk meninjau kembali petisi-petisi tersebut, Kanselir Wei Xiang mendesaknya untuk memercayai keahlian Zhao. Kaisar pun mengirimkan persetujuan atas rencana Zhao, tetapi pada saat bersamaan tetap mengizinkan rencana penyerangan pasukan yang dipimpin oleh Xin Wuxian, Xu Yanshou, dan Zhao Ang.[41] Ketiga pasukan tersebut kelak kembali dengan membawa total sekitar 5.000 tawanan dan 3.000 penggalan kepala, dan pada periode yang sama, 5.000 orang Qiang telah menyerah kepada pasukan Zhao Chongguo. Mengingat tingginya biaya operasi penyerangan sedangkan hasil yang diperoleh terbatas, kaisar membubarkan mobilisasi pasukan-pasukan lainnya seraya tetap mempertahankan garnisun Zhao.[37][42] Dinasti Han kemudian membentuk wilayah dependensi Jincheng (Hanzi:属国; Pinyin:shǔguó; harfiah: 'daerah khusus suku taklukan') pada tahun 60 SM dan menempatkan suku-suku Qiang yang telah menyerah di sana.[37]

Orang-orang Qiang terus menyerahkan diri kepada pasukan Zhao. Banyak prajurit Qiang yang tidak mati kelaparan atau gugur dalam pertempuran melarikan diri ke tempat lain. Sekitar Juli 60 SM, Zhao memperoleh persetujuan untuk membubarkan garnisunnya. Ia kembali ke ibu kota, sedangkan jabatan jenderal Xin Wuxian dicopot dan ia dikirim kembali untuk memerintah Jiuquan.[43] Para prajurit garnisun pulang ke rumah masing-masing, mengakhiri kehadiran kolonial Han di wilayah tersebut. Upaya kedua untuk mendirikan koloni pertanian dilakukan beberapa tahun setelah penarikan mundur pasukan Zhao. Upaya serupa tidak pernah dilakukan lagi hingga abad ke-2 M, saat pecah serangkaian pemberontakan dan perlawanan di kalangan bangsa Qiang.[44]

Masa tua

Gambar hitam-putih dua istana bertembok besar yang dikelilingi tembok yang lebih besar
Penggambaran abad ke-18 mengenai Istana Weiyang di Chang'an, istana kekaisaran Dinasti Han

Sepulang ke Chang'an, Zhao menjabat sebagai Komandan Pengawal, salah satu dari Sembilan Menteri. Dalam jabatan ini, ia membawahkan pasukan wajib militer yang bertugas menjaga gerbang istana kekaisaran Weiyang di Chang'an. Pada tahun itu, Kaisar Xuan membentuk kembali jabatan Kolonel Pelindung Qiang yang sempat lowong setelah dibentuk pertama kali oleh Kaisar Wu. Xin Tang, adik Xin Wuxian, ditunjuk menduduki jabatan tersebut. Kendati sedang sakit dan tidak dapat menghadiri pertemuan-pertemuan sebelumnya, Zhao mengirimkan petisi resmi yang menyatakan bahwa Xin Tang tidak layak memangku jabatan tersebut karena kecanduan alkohol. Mengikuti rekomendasi Zhao, kaisar membatalkan pengangkatan Xin Tang dan menunjuk kakak laki-lakinya, Xin Linzhong, sebagai gantinya.[43]

Dalam sebuah perjamuan makan malam, Zhao Ang menceritakan pertemuan pribadinya terdahulu dengan Kaisar Wu kepada Xin Wuxian. Xin yang hendak membalas dendam karena jabatannya diturunkan kembali menjadi Gubernur Komanderi Jiuquan melaporkan pembocoran rahasia kekaisaran tersebut sehingga Zhao Ang dijatuhi hukuman pengawasan percobaan. Pada pengujung tahun 60 SM, Zhao Ang melanggar masa percobaan ini dengan mendatangi markas ayahnya dan memicu kekacauan besar di kalangan prajurit. Akibatnya, Zhao Ang diturunkan pangkatnya menjadi pejabat rendahan dan kemudian bunuh diri. Zhao Chongguo menggelar pemakaman bagi sang putra. Untuk keperluan upacara tersebut, ia dianugerahi kereta berkuda empat serta emas seberat enam puluh kati (sekitar 1.332 kilogram (2.937 pon)).[43]

Kematian dan warisan

Pada tahun 60 SM, Zhao pensiun dan kembali ke kediamannya di komanderi barat laut, serta dianugerahi kekayaan yang berlimpah. Ia terus berpartisipasi dalam pembahasan kenegaraan mengenai kebijakan luar negeri hingga wafat pada tahun 52 SM. Menyusul pecahnya kembali pertikaian dengan bangsa Qiang, Kaisar Cheng (m. 33 – 7 SM) memakamkan kembali jasad Zhao Chongguo di Mausoleum Duling (makam Kaisar Xuan) di Chang'an. Kaisar Cheng menghormatinya dengan menempatkan sebuah potret di istana kekaisaran, disertai kidung eulogi gubahan penyair Yang Xiong.[45][46]

Wilayah kemarkisan Yingping milik Zhao diwariskan kepada Qin, putra Zhao Ang. Sepeninggal Zhao Qin, wilayah kemarkisan tersebut beralih kepada Zhao Cen, putra angkat dari istrinya, Putri Jingwu. Hak milik ini kemudian dicabut pada tahun 10 SM menyusul perselisihan antara Jingwu dan ayah kandung Cen. Pada masa pemerintahan Kaisar Ping (m. 1–6 M), gelar kemarkisan tersebut dipulihkan dan dianugerahkan kepada cicit Zhao Chongguo, Zhao Ji. Gelar ini dihapus pada suatu waktu sebelum runtuhnya rezim kaisar perebut takhta Wang Mang pada tahun 23 M.[45][47]

Meskipun istilah tuntian telah muncul sebelum kampanye militer Zhao, rancangan strategi yang ia paparkan kepada Kaisar Xuan menjadi rujukan strategis mendasar bagi penerapannya. Strategi ini kelak diterapkan oleh dinasti Wei Utara, Sui, dan Tang sebagai sistem fubing, serta oleh Dinasti Ming melalui sistem weisuo [en].[48] Pada tahun 1700, semasa Perang Zunghar–Qing, Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing menginstruksikan para jenderalnya untuk mempelajari kampanye-kampanye militer Zhao Chongguo ketika berupaya mendirikan koloni militer di Xinjiang.[49]

Kitab Han (catatan sejarah Dinasti Han Barat dari abad ke-2) memuat biografi Zhao Chongguo, yang tetap menjadi satu-satunya sumber primer mengenai kehidupan dan kariernya[50] di luar penyebutan singkat pada prasasti silsilah keluarga berangka tahun 180 M yang ditemukan kembali pada tahun 1942.[51]

Catatan

  1. ↑ "Enam Komanderi" adalah enam divisi administratif di sepanjang perbatasan barat laut Han, yang mencakup komanderi Longxi, Tianshui, Anding, Beidi, Shang, dan Xihe.[6]
  2. ↑ Cendekiawan abad ke-3 M, Ru Shun, mendefinisikan "keluarga terhormat" sebagai keluarga yang tidak berkecimpung dalam bidang pengobatan, sihir, perniagaan, atau pembuatan kerajinan tangan.[2]
  3. ↑ Jenderal Besar Huo Guang, kemenakan Wei Qing dan Permaisuri Wei Zifu, memerintah secara diktatorial sejak wafatnya Kaisar Wu pada tahun 87 SM hingga kematiannya sendiri pada tahun 68 SM.[11][12]
  4. ↑ Gelar ini kemungkinan merujuk pada sebuah lokasi di dekat Danau Barkol [en] sebagai sasaran militer dari kampanye tersebut.[18][19]
  5. ↑ Lokasi Daerah Sempit Siwang belum dapat dipastikan secara jelas, tetapi berada di hilir Ledu.[25]
  6. ↑ Sebagian besar dari jumlah ini kemungkinan pernah menjadi bagian dari pasukan awal Zhao Chongguo.[29]
  7. ↑ Hanzi: 罕; Pinyin: Hǎn, salah satu suku dari bangsa Qiang Barat; jangan disamakan dengan Dinasti Han atau kelompok etnis Tionghoa Han[31]
  8. ↑ Lokasi wilayah suku Qiang Han (罕) tidak diketahui secara pasti, dan wilayah mereka mungkin berada di sebelah utara atau selatan Sungai Huangshui.[34]
  9. ↑ Hanya dua pejabat yang memegang posisi adipati pada masa itu. Selain kedua adipati dan sembilan menteri tersebut, tidak diketahui pejabat mana saja yang mendukung atau mungkin menentang rencana Zhao.[40]

Referensi

  1. 1 2 Knechtges & Chang 2014, hlm. 2206.
  2. 1 2 3 Dreyer 2008, hlm. 670.
  3. ↑ Vankeerberghen 2021, hlm. 43–44.
  4. ↑ Tse 2018, hlm. 67.
  5. ↑ Loewe 2000, hlm. 689–690, 701, 716–717.
  6. 1 2 3 4 5 Dreyer 2008, hlm. 671–672.
  7. ↑ Tse 2018, hlm. 58.
  8. ↑ Tse 2018, hlm. 35, 67–68.
  9. ↑ Loewe 2000, hlm. 701.
  10. ↑ Tse 2018, hlm. 81–82.
  11. 1 2 Dreyer 2008, hlm. 672–674.
  12. ↑ Loewe 1978, hlm. 181–185.
  13. 1 2 3 4 5 Dreyer 2008, hlm. 673–675.
  14. ↑ Loewe 2004, hlm. 195–196.
  15. ↑ Loewe 2004, hlm. 197.
  16. ↑ Loewe 1978, hlm. 183–185.
  17. ↑ Loewe 2004, hlm. 188.
  18. ↑ Loewe 2004, hlm. 188–189, 196.
  19. ↑ Hulsewé 1979, hlm. 79.
  20. ↑ Loewe 2004, hlm. 188–189.
  21. ↑ Pankenier 2000, hlm. 11–12. sfn error: tanpa target: CITEREFPankenier2000 (bantuan)
  22. ↑ Dreyer 2008, hlm. 675–678.
  23. 1 2 Pankenier 2000, hlm. 11. sfn error: tanpa target: CITEREFPankenier2000 (bantuan)
  24. 1 2 Dreyer 2008, hlm. 675–679, 685, 693.
  25. 1 2 Dreyer 2008, hlm. 679–680.
  26. 1 2 3 Loewe 2000, hlm. 702.
  27. ↑ Dreyer 2008, hlm. 682, 688.
  28. ↑ Dreyer 2008, hlm. 680–681, 688.
  29. ↑ Dreyer 2008, hlm. 679–681.
  30. 1 2 Dreyer 2008, hlm. 694–696.
  31. ↑ Dreyer 2008, hlm. 685.
  32. ↑ Dreyer 2008, hlm. 681–684.
  33. ↑ Dreyer 2008, hlm. 685–691.
  34. 1 2 Dreyer 2008, hlm. 691.
  35. ↑ Pankenier 2000, hlm. 12. sfn error: tanpa target: CITEREFPankenier2000 (bantuan)
  36. ↑ Dreyer 2008, hlm. 691–695.
  37. 1 2 3 4 Loewe 2000, hlm. 702–703.
  38. ↑ Dreyer 2008, hlm. 696.
  39. ↑ Dreyer 2008, hlm. 696–699.
  40. ↑ Dreyer 2008, hlm. 702–703.
  41. ↑ Dreyer 2008, hlm. 699–703.
  42. ↑ Dreyer 2008, hlm. 703–704.
  43. 1 2 3 Dreyer 2008, hlm. 704–707.
  44. ↑ Lewis 2007, hlm. 254–255. sfn error: tanpa target: CITEREFLewis2007 (bantuan)
  45. 1 2 Dreyer 2008, hlm. 707–708.
  46. ↑ Loewe 2000, hlm. 638, 703.
  47. ↑ Loewe 2000, hlm. 74.
  48. ↑ Dreyer 2008, hlm. 711.
  49. ↑ Perdue 2005, hlm. 343. sfn error: tanpa target: CITEREFPerdue2005 (bantuan)
  50. ↑ Dreyer 2008, hlm. 667–669.
  51. ↑ Loewe 2000, hlm. 703.

Daftar pustaka

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan