Sabtu, 17 Oktober 2026
21:43 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Tari Yosakoi

Tari Yosakoi

Bagikan:
250px-Its-tama-chan-yosakoi-surabaya.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tari Yosakoi yang dibawakan oleh tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember di Surabaya, Indonesia

Yosakoi (よさこい) adalah gaya tari khas Jepang yang energik dan dinamis, ditampilkan dalam berbagai festival dan acara di seluruh negeri. Festival Yosakoi pertama digelar pada tahun 1954 di Kōchi, Pulau Shikoku. Sejak itu, gaya tari ini telah menyebar luas ke hampir seluruh Jepang. Yosakoi memadukan gerakan tari tradisional Jepang dengan iringan musik modern, biasanya dipentaskan oleh kelompok besar dengan koreografi yang terkoordinasi. Selain didukung oleh sekolah tari profesional dan tim kota, Yosakoi juga menjadi acara favorit dalam festival olahraga sekolah dasar, SMP, dan SMA. Pesertanya mencakup pria dan wanita dari berbagai rentang usia, sering kali tampil dalam satu tim yang sama.

Kostum

Kostum yang dikenakan oleh para penari Yosakoi menunjukkan beragam gaya, mulai dari pakaian tradisional seperti mantel happi dan yukata, hingga busana bertema modern atau futuristik dengan warna-warna terang dan aksesori tambahan seperti bendera, kipas, serta alat musik. Biasanya, semua anggota tim mengenakan kostum yang serupa.[1] Ciri paling menonjol dari tarian ini adalah penggunaan naruko, alat kecil dari kayu yang dibunyikan untuk menciptakan irama, yang asalnya merupakan perkakas petani untuk menakuti burung di sawah.[2] Penggunaan naruko diharuskan dalam tarian yosakoi tradisional, tetapi banyak kelompok juga menggunakan instrumen atau alat peraga genggam lainnya, seperti drum, alat musik perkusi lainnya, bendera, tongkat, dan kendaraan hias mereka.

Gerakan

Walaupun dalam tarian yosakoi setiap tim memiliki kebebasan dalam berkreasi, terdapat sejumlah prinsip dasar yang tetap harus diikuti, seperti kewajiban penari untuk memegang naruko dan terus bergerak maju selama pertunjukan.[3] Dasar gerakannya berakar pada tarian rakyat Jepang serta festival tradisional seperti Awa Odori, tetapi Yosakoi juga memadukan unsur modern seperti musik pop, rok, dan hip-hop, sehingga menghasilkan perpaduan gaya klasik dan kontemporer.[4] Gerakan tradisional menjadi fondasi utama, tetapi tiap tim biasanya menambahkan improvisasi, variasi, dan nuansa kompetitif yang membuat koreografinya semakin beragam.[3] Dalam Yosakoi, fokus utama bukan pada pakem gerakan, melainkan pada sinkronisasi dan kekompakan tim selama menari.

Dalam budaya populer

Tarian Yosakoi muncul dalam berbagai macam budaya populer seperti film dan manga. Contoh tarian yosakoi dapat dilihat dalam film The Harimaya Bridge, yang difilmkan di Prefektur Kōchi.[5] Serial manga Hanayamata tahun 2011, yang diadaptasi menjadi anime pada Juli 2014, juga berfokus pada yosakoi.[6]

Referensi

40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
  1. ↑ "Yosakoi Festival Home Page - About Yosakoi Festival". www.yosakoi.com. Diakses tanggal 2025-11-04.
  2. ↑ "Yosakoi — A Captivating, High-Energy Dance: July 2023". Highlighting Japan. Diakses tanggal 2025-11-04.
  3. 1 2 MATCHA. "The Charm of Yosakoi: Festival Dance Bursting with Color and Excitement - Japan Travel Guide MATCHA". MATCHA - Your Essential Guide to Japan Travel, Culture, Hotels, and More (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-04.
  4. ↑ "Yosakoi: Japan's Vibrant Dance Festival Blending Tradition and Innovation". Japambience (dalam bahasa American English). 2025-05-01. Diakses tanggal 2025-11-04.
  5. ↑ "Harimaya Bridge". KOCHI CITY TRAVEL GUIDE. Diakses tanggal 2025-11-04.
  6. ↑ Pinhead (2014-06-11). "Anime TV Bertema Tari Yosakoi "Hanayamata" Akan Tayang 7 Juli". Japanese Station. Diakses tanggal 2025-11-04.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan