Jumat, 30 Oktober 2026
17:45 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Xia Nanyang

Bagikan:
Migrasi orang Tionghoa ke Asia TenggaraTemplat:SHORTDESC:Migrasi orang Tionghoa ke Asia Tenggara
Xia Nanyang
Nama asli 下南洋
DurasiAkhir Dinasti Qing hingga masa awal Republik Tiongkok
LokasiTiongkok, Asia Tenggara
Nama lainGuofang (Hanzi: 過番, Bepergian ke negeri asing)
JenisEmigrasi besar-besaran orang Tionghoa
PenyebabPerang saudara, agresi asing, dan kemiskinan

Istilah Xia Nanyang (Hanzi:下南洋; Pinyin:Xià Nányáng; harfiah: 'menuju Samudra Selatan'), juga dikenal dengan istilah "Guofan" (过番), mengacu kepada migrasi besar-besaran orang Tionghoa ke Asia Tenggara yang berlangsung selama satu abad, mulai dari pertengahan abad ke-19 pada masa akhir Dinasti Qing hingga berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949. Migrasi yang getir ini terutama disebabkan oleh perang dan kemiskinan. Segera setelah menetap di negeri asing, sebagian besar para imigran baru mulai mengirimkan Qiaopi (surat yang disertai uang) untuk menopang keluarga mereka di Tiongkok.[1][2][3][4][5]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ "下南洋:血泪铸就的移民史诗 (Migration to Southeast Asia: An Epic of Blood and Tears)". Xinmin Weekly (dalam bahasa Tionghoa). 2026-06-09.
  2. ↑ "从侨批看华侨"下南洋"之路 (A Look at the Journey of Overseas Chinese to Southeast Asia Through Qiaopis)" (dalam bahasa Tionghoa). Chinaqw (中国侨网). Maret 10, 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-10-03. Diakses tanggal 2017-03-10.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Terence Chong (2024-01-09). Leo Suryadinata and Benjamin Loh (ed.). "2 - Contemporary Chinese Immigration into Mainland Southeast Asia". Cambridge University Press.
  4. ↑ "Chinese in Southeast Asia". Encyclopedia.com. Diakses tanggal 2026-06-14.
  5. ↑ "下南洋:海外移民的辛酸历程 (Xia Nanyang: The Bitter Journey of Overseas Immigrants)" (dalam bahasa Tionghoa). Phoenix News. 2013-04-17.

Bibliografi

  • Benton, Gregor; Liu, Hong (2018). Dear China: Emigrant Letters and Remittances, 1820–1980. University of California Press. ISBN 978-0-520-29841-5.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan