Rabu, 30 September 2026
20:19 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh
Wahid Chan

Wahid Chan

pemeran asal Indonesia

Bagikan:
Wahid Chan
250px-Wahid_Chan%2C_Film_Varia_2.6_%28Jun_1955%29%2C_p14.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wahid Chan, 1955
Lahir
A. Wahid Chaniago

(1921-07-14)14 Juli 1921
Meninggal20 Desember 1971(1971-12-20) (umur 50)
Pekerjaan
Masa aktif1950-1971

Wahid Chan atau A. Wahid Chaniago (14 Juli 1921 - 20 Desember 1971)[1] adalah seorang pemeran asal Indonesia. Ia memulai kariernya lewat film Budi Utama pada tahun 1951.

Masa muda

Wahid Chan dilahirkan dengan nama A. Wahid Chaniago. Ia dilahirkan pada tanggal 14 Juli 1921 di di Matur, Agam. Nama Chaniago merupakan nama gelar atau nama sukunya. Wahid Chan merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Wahid Chan dibesarkan di Kuta Raja, Banda Aceh, Aceh.[butuh rujukan]

Wahid Chan menamatkan pendidikan di Sekolah Taman Siswa dan HIS. Selama bersekolah, ia suka mengikuti olahraga seperti sepak bola, tenis, pingpong, berenang dan tinju. Ia bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Namun membatalkan niatnya setelah mengalami kecelakaan yang membuat lututnya cedera.[butuh rujukan]

Pekerjaan

Sejak tahun 1937, Wahid Chan bekerja di berbagai tempat sebagai pemain sandiwara di Sumatra. Setelah belajar dan menekuni peran sebagai pemain sandiwara selama 10 tahun, ia pindah ke Jakarta. Kepindahannya setelah Konferensi Meja Bundar selesai diselenggarakan.[butuh rujukan]

Pada awal kedatangannya ke Jakarta, Wahid Chan ditolak oleh beberapa studio film di Kecamatan Senen. Ia kemudian diterima di studio Golden Arrow yang dimiliki oleh Tuan Chang San. Sutradara studio Golden Arrow saat itu adalah R. Ariffien.

Wahid Chan menjadi pemeran dalam film sejak tahun 1951. Film pertama yang yang ia bermain peran di dalamnya adalah Budi Utama dengan peran sebagai seorang seniman tua. Wahid Chan tetap bekerja di studio Golden Arrow untuk lima film yaitu Budi Utama, Pembalasan, Simpang Djalan, Seruni Laju, dan Merebut Kasih.

Setelah itu, ia bekerja untuk Semeru Film Co. dalam film Musim Melati. Ia juga bermain peran dalam fiilm Ditepi Bengawan Solo dan Njiur Melambai yang diproduksi oleh Asiatic Film Coy. Setelah itu, Wahid Chan bermain peran dalam film Tenang Menanti yang diproduksi oleh Surja Film Co. Pada produksi kedua Surja Film Co, ia diserahkan membuat cerita dengan pimpinan dan bantuan Tuan R.S. Madhy. Cerita ini dibuat untuk film Mati Sebelum Sendja.

250px-Wahid_Chan_and_I_Sukarno_in_Penjelundup_Dunia_Film_15_May_1955_p12.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wahid Chan dan Iscandar Soekarno di film Penjelundup (1952)

Wahid Chan kemudian bekerja secara tidak teriikat untuk Studio Bintang Surabaja, Golden Arrow, dan Persari Film. Film-film terpenting Wahid Chan adalah Penjelundup (1952), Krisis (1953), Harimau Tjampa (1953), Puteri Dari Medan (1954), Djudi (1955), Tudjuan (1956), Sendja Indah (1957), Tugas Baru Inspektur Rachman (1960), Tudjuh Pradjurit (1962), Diambang Fadjar (1964), Matjan Kemajoran (1965) dan lain-lain.

Kematian

Namun, salah satu insiden yang terjadi padanya, dia jatuh dan mengalami sakit encok yang cukup parah. Akibatnya, dia harus berhenti di Dunia Film untuk memulihkan rasa sakinya. Setelah ia beransur pulih, dia baru muncul kembali pada 1970, dimulai dengan Samiun dan Dasima, kemudian tampil lagi dalam film-film Duel (1970), Latando di Toradja (1970) dan Lisa (1971). Telah menyelesaikan lebih dari 30 buah film dengan Sanrego (1971) sebagai filmnya yang terakhir. Sehingga ia wafat pada tanggal 20 Desember 1971 di Ujung Pandang, Makassar, Sulawesi Selatan di usia 50 tahun akibat sakit yang dia derita.

Filmografi

250px-Rd_Sukarno_and_Wahid_Chan_in_Penjelendup%2C_Film_Varia_2.3_%28March_1955%29%2C_p21.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rendra Karno dan Wahid Chan di film Penjelendup (1952)
250px-Moh_Mochtar_and_Wahid_Chan_in_Sungai_Darah%2C_Film_Varia_1.11_%28November_1954%29%2C_p9.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Moh Mochtar dan Wahid Chan di film Sungai Darah (1954)

Referensi

  1. ↑ "IdFilmCenter". www.indonesianfilmcenter.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-05-10.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan