Selasa, 13 Oktober 2026
23:14 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM

Waduk Prijetan

salah satu danau di dunia

Bagikan:
Waduk Prijetan
osm-intl,13,a,a,270x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Waduk_Prijetan&revid=29342780&groups=_68d946d7e5b300fd156c5da5dac32b08f046ef39&parser=parsoid
Peta interaktif dari Waduk Prijetan
TujuanIrigasi
StatusBeroperasi
Dibangun olehPemerintah Hindia Belanda
Didesain olehPemerintah Hindia Belanda
PemilikKementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Bendungan dan saluran pelimpah
Jenis saluran pelimpahOgee
Kapasitas saluran pelimpah170 m3 / detik
osm-intl,14,-7.22369,112.21208,300x300.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Waduk_Prijetan&revid=29342780&groups=_b78f14b6e80034c9be66baedb643c7734e503bd6&parser=parsoid
Lokasi Waduk Prijetan

Waduk Prijetan adalah sebuah waduk yang dibangun di Mlati, Kedungpring, Lamongan untuk menampung air dari salah satu cucu Bengawan Solo, yakni Sungai Prijetan. Waduk ini adalah waduk tertua di Jawa Timur, karena telah beroperasi sejak tahun 1917. Waduk ini terutama dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian seluas sekitar 600 hektar. Selain itu, waduk ini juga dimanfaatkan sebagai objek wisata dan sarana budidaya ikan.[1]

Waduk ini dapat dicapai dengan mengendarai sepeda motor melewati kebun jati dan tebu milik warga, dengan jalan yang masih belum begitu bagus. Di sepanjang perjalanan, juga dapat dijumpai sejumlah sendang (telaga kecil). Kondisi waduk ini cukup baik, dengan bangunan yang kokoh dan jalan di bagian utama waduk sudah berupa paving, serta terdapat akses melewati jalan beranak tangga.

Sejarah

Sebelum waduk ini dibangun, pada musim hujan, debit air Sungai Prijetan menjadi sangat tinggi, sehingga menyebabkan banjir. Tetapi, pada musim kemarau, debit air Sungai Prijetan menjadi sangat rendah, sehingga tidak dapat digunakan untuk mengairi lahan pertanian. Guna mengatasi hal tersebut, pada tahun 1910, pemerintah Hindia Belanda pun merencakan pembangunan tujuh waduk di hilir Bengawan Solo, salah satunya adalah waduk ini, yang mulai dibangun pada tahun 1910 dan dapat diselesaikan pada tahun 1917.[1]

Karena telah beroperasi selama lebih dari satu abad, performa waduk ini pun mulai menurun, salah satunya akibat terjadinya sedimentasi yang sudah melampaui elevasi ambang pengambilan air irigasi, sehingga tiap musim kemarau, perlu dilakukan pengerukan di sekitar ambang pintu pengambilan air irigasi. Badan bendungan dari waduk ini juga mulai menurun, sehingga tinggi puncaknya tidak lagi rata. Saluran pelimpah dari waduk ini juga tidak lagi memadai.[1]

Lihat pula


Referensi

  1. 1 2 3 Sinaro, Radhi (2007). Menyimak Bendungan di Indonesia (1910-2006) (dalam bahasa Indonesia). Tangerang Selatan: Bentara Adhi Cipta. ISBN 978-979-3945-23-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan