Rabu, 30 September 2026
18:46 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh
Vaginismus

Vaginismus

pengencangan otot di sekitar vagina secara tidak sadar, disfungsi seksual

Bagikan:
250px-1116_Muscle_of_the_Female_Perineum.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Anatomi otot pada organ seksual perempuan.

Vaginismus adalah salah satu jenis gangguan nyeri seksual. Ciri utamanya adalah kontraksi otot pada bagian vagina ketika bersenggaman atau ketika vagina mengalami aktivitas penetrasi lain, seperti misalnya penggunaan tampon, atau spekulum saat pemeriksaan medis.[1][2][3][4] Di banyak kasus, vaginismus terasa di saat melakukan hubungan seksual untuk pertama kali.[5]

Penyebab vaginismus yang banyak ditemukan adalah ketakutan atau kekhawatiran terhadap munculnya rasa sakit saat berhubungan seksual.[6] Penyebab lain yang dapat menjadi penyebab timbulnya gangguan ini di antaranya adalah adanya pengalaman kekerasan seksual, endometriosis, vaginitis, or a prior episiotomi.[7] Diagnosa akan ditegakkan berdasarkan gejala yang ada dan juga pemeriksaan pelvis.[7]

Penanganan gangguan ini dapat dilakukan dengan terapi perilaku,[8][9] dan tindakan bedah atau operasi biasanya tidak diperlukan.[10] Penelitian lebih jauh mengenai penggunaan botox sebagai terapi kontraksi otot masih dilakukan.[9] Saat ini perkiraan mengenai seberapa sering gangguan ini terjadi pada perempuan masih beragam.[11] Salah satu sumber menyatakan bahwa diperkirakan sekitar 0,5% perempuan mengalami gangguan ini.[9] Namun, perkiraan di dunia medis menyatakan bahwa 5-17% perempuan mengalami vaginismus.[12]

Jenis

Vaginismus diklasifikasikan menjadi dua jenis:

Vaginismus primer

Vaginismus jenis primer terjadi ketika hubungan seksual atau aktivitas penetrasi lain pada vagina menimbulkan rasa sakit. Hal ini biasanya terjadi pada remaja perempuan dan perempuan di usia 20-an, karena pada usia ini perempuan biasanya mulai menggunakan tampon, berhubungan seksual, atau menjalani pemeriksaan seksual secara medis. Pengidap gangguan ini biasanya tidak sadar hingga aktivitas penetrasi pada vagina dilakukan.[13]

Vaginismus sekunder

Vaginismus sekunder terjadi ketika seseorang yang sebelumnya tidak memiliki masalah dengan aktivitas penetrasi pada vagina mulai merasakan gejala gangguan vaginismus. Hal ini dapat disebabkan karena adanya infeksi jamur pada vagina atau trauma saat melahirkan. Namun, faktor psikologi atau hal lain juga dapat menjadi penyebab timbulnya gangguan ini. Penanganan vaginismus sekunder sama dengan penanganan vaginismus primer. Vaginismus peri-menopaus dan menopaus, dapat terjadi karena mengeringnya bagian vulva dan jaringan tisu di sekitar vagina akibat menurunnya hormon esterogen. Hal ini menyebabkan robekan kecil di dinding vagina yang menyebabkan rasa sakit dan dapat menjadi pemicu vaginismus saat aktivitas penetrasi terjadi.[14]

Kategori diagnosis

Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental Edisi ke-4 (DSM-IV) menetapkan vaginismus dalam kategori gangguan nyeri seksual. Kondisi yang ditetapkan dalam kategori ini bagi vaginismus adalah terjadinya kejang-kejang pada bagian luar vagina. Tingkat kekejangannya minimal sepertiga bagian luar vagina. Pada kategori diagnosis DSM-IV, diagnosis vaginismus tidak memerlukan adanya pengalaman nyeri.[15] Ini karena kondisi nyeri di bagian luar vagina sering terjadi tetapi tidak selalu menyakitkan.[16]

Referensi

  1. ↑ Ferri, Fred F. (2016). Ferri's Clinical Advisor 2017 E-Book: 5 Books in 1. Elsevier Health Sciences. hlm. 1330. ISBN 9780323448383.
  2. ↑ Ferri, Fred F. (2016). Ferri's Clinical Advisor 2017 E-Book: 5 Books in 1. Elsevier Health Sciences. hlm. 1330. ISBN 9780323448383.
  3. ↑ "Vaginismus". NHS. 2018-01-11. Diakses tanggal 15 Oktober 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ "Vaginismus". Merck Manuals Professional Edition. April 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Januari 2021. Diakses tanggal 15 Oktober 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Nazario, Brunilda, MD. (2012). "Women's Health: Vaginismus". WebMD. Diakses tanggal Desember 22, 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ "Vaginismus". Merck Manuals Professional Edition. April 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Januari 2021. Diakses tanggal 15 Oktober 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. 1 2 Ferri, Fred F. (2016). Ferri's Clinical Advisor 2017 E-Book: 5 Books in 1. Elsevier Health Sciences. hlm. 1330. ISBN 9780323448383.
  8. ↑ "Vaginismus". Merck Manuals Professional Edition. April 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Januari 2021. Diakses tanggal 15 Oktober 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. 1 2 3 Ferri, Fred F. (2016). Ferri's Clinical Advisor 2017 E-Book: 5 Books in 1. Elsevier Health Sciences. hlm. 1330. ISBN 9780323448383.
  10. ↑ "Vaginismus". NHS. 2018-01-11. Diakses tanggal 15 Oktober 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ Lahaie, MA; Boyer, SC; Amsel, R; Khalifé, S; Binik, YM (Sep 2010). "Vaginismus: a review of the literature on the classification/diagnosis, etiology and treatment". Women's Health. 6 (5): 705–19. doi:10.2217/whe.10.46. PMID 20887170.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ Lahaie M-A, Boyer SC, Amsel R, Khalifé S, Binik YM. Vaginismus: A Review of the Literature on the Classification/Diagnosis, Etiology and Treatment. Women’s Health. 2010;6(5):705-719. doi:10.2217/WHE.10.46
  13. ↑ Pacik PT (Desember 2009). "Botox treatment for vaginismus". Plast. Reconstr. Surg. 124 (6): 455e–6e. doi:10.1097/PRS.0b013e3181bf7f11. PMID 19952618.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. ↑ Pacik, Peter (2010). When Sex Seems Impossible. Stories of Vaginismus & How You Can Achieve Intimacy. Manchester, NH: Odyne. hlm. 8–16. ISBN 978-0-9830134-0-2. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-02-19. Diakses tanggal 2011-12-29.
  15. ↑ Crowley, T., Goldmeier, D., dan Hiller, J. (2009). "Diagnosing and Managing Vaginismus" (PDF). BMJ. 339: 225. doi:10.1136/bmj.b2284. The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, fourth edition (DSM-IV) categorises vaginis- mus as a sexual pain disorder along with dyspareunia. It describes vaginismus as occurring when "recurrent or persistent involuntary spasm of the musculature of the outer third of the vagina" interferes with intercourse.2 According to this definition, the experience of pain is not necessary for the diagnosis.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  16. ↑ Astari, R., dan Triana, W. Fatmawati, Fatimah (ed.). Kamus Kesehatan Indonesia-Arab (PDF). Sleman: Trussmedia Grafika. hlm. 440. ISBN 978-602-5747-22-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan