Minggu, 27 September 2026
17:46 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda
Odisseus

Odisseus

Raja Yunani legendaris dari Ithaca

Raja Yunani legendaris yang berasal dari ItakaTemplat:SHORTDESC:Raja Yunani legendaris yang berasal dari Itaka
Odiseus
250px-Head_Odysseus_MAR_Sperlonga.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kepala Odiseus dari kelompok marmer Helenistik periode Romawi yang menggambarkan Odiseus membutakan Polifemos, ditemukan di villa Tiberius di Sperlonga, Italia
Informasi dalam cerita
GelarRaja Itaka
KewarganegaraanYunani
PasanganPenelope
AnakTelemakhos, Telegonus, Kassiphone, Agrius, Anteias, Ardeas, Rhomos, Poliporthes, Latinus, Nausinous, Nausithous, Euryalus
KerabatLaertes (ayah)
Antikleia (ibu)
Ktimene (saudara perempuan)
KekasihKirke
Kalipso

Dalam mitologi Yunani dan Romawi, Odiseus (/əˈdɪsiəs/ simakⓘ;[1] Yunani Kuno: Ὀδυσσεύς, Ὀδυσεύς, alih aksara: Odysseús, Odyseús, IPA:[o.dy(s).sěu̯s]), juga dikenal dalam bahasa Latin yaitu Ulysses (/juˈlɪsiz/, Latin: Ulysses, Ulixes), adalah raja Yunani legendaris dari Itaka dan tokoh utama dalam puisi epos Odisseia karya Homeros. Odiseus juga berperan penting dalam Ilias karya Homeros dan karya-karya lain dalam siklus epik yang sama.

Sebagai putra Laërtes dan Antikleia, suami Penelope, serta ayah Telemakhos, Acusilaus, dan Telegonus,[2] Odiseus terkenal karena kecerdasan intelektual, tipu daya, dan keserbagunaannya (polytropos), sehingga ia dikenal dengan epitet Odiseus yang Cerdik (bahasa Yunani Kuno:μῆτις, translit. mêtis, har. 'kecerdasan yang penuh siasat'[3]). Ia paling terkenal karena nostos-nya atau "kepulangannya", yang memakan waktu sepuluh tahun dan dipenuhi berbagai peristiwa setelah berakhirnya Perang Troya yang berlangsung selama satu dekade.[4]

Nama, etimologi, dan epitet

Bentuk nama Ὀδυσ(σ)εύς (Odys(s)eus) digunakan sejak periode epik hingga periode klasik, tetapi ditemukan juga berbagai bentuk lain. Pada berbagai inskripsi vas, terdapat varian Oliseus (Ὀλισεύς), Olyseus (Ὀλυσεύς), Olysseus (Ὀλυσσεύς), Olyteus (Ὀλυτεύς), Olytteus (Ὀλυττεύς) dan Ōlysseus (Ὠλυσσεύς). Varian Oulixēs (Οὐλίξης) tercatat dalam sebuah sumber awal di Magna Graecia (Ibikos, menurut Diomedes Grammaticus), sedangkan ahli tata bahasa Yunani Aelius Herodianos menyebutnya Oulixeus (Οὐλιξεύς).[5]

Etimologi nama Odiseus tidak diketahui. Para penulis kuno mengaitkan nama tersebut dengan kata kerja Yunani odussomai (ὀδύσσομαι), yang berarti "murka terhadap, membenci",[6] atau oduromai (ὀδύρομαι), yang berarti "meratap, meratapi",[7][8] atau bahkan ollumi (ὄλλυμι), yang berarti "binasa, hilang".[9][10] Homeros menghubungkan nama Odiseus dengan berbagai bentuk kata kerja tersebut melalui sejumlah kiasan dan permainan kata. Dalam Buku XIX Odisseia, yang menceritakan masa kecil Odiseus, Eurikleia meminta kakek Odiseus, Autolykos, untuk memberinya nama. Eurikleia tampaknya mengusulkan nama seperti Polyaretos, yang berarti "karena dia telah banyak didoakan" (πολυάρητος). Namun, Autolykos, yang "tampaknya sedang bersikap sinis", memutuskan untuk memberi anak itu nama lain yang mencerminkan "pengalamannya hidupnya sendiri":[11] "Karena aku telah menimbulkan kemarahan (ὀδυσσάμενος odyssamenos) dari banyak orang, baik laki-laki maupun perempuan, biarlah anak itu bernama Odiseus".[12] Odiseus juga sering disebut dengan epitet patronimik Laertiades (Λαερτιάδης), yang berarti "putra Laërtes".

Ada pula yang berpendapat bahwa nama ini berasal dari unsur non-Yunani, bahkan mungkin bukan berasal dari rumpun bahasa Indo-Eropa, meskipun etimologinya masih belum diketahui.[13] Robert S. P. Beekes berpendapat bahwa nama Odiseus berasal dari suatu bahasa Pra-Yunani.[14]

Dalam bahasa Latin, Odiseus dikenal dengan nama Ulixēs atau (yang dianggap kurang tepat) Ulyssēs. Beberapa orang menduga bahwa "pada awalnya mungkin terdapat dua tokoh yang berbeda, satu bernama kurang lebih Odiseus dan yang lainnya bernama kurang lebih Ulixes, yang kemudian digabungkan menjadi satu tokoh yang kompleks."[15] Asal-usul nama dalam bahasa Latin telah dijelaskan melalui berbagai teori. Pada abad ke-19, bentuk tersebut dianggap berasal dari bahasa Etruria, mengikuti pendapat K. O. Müller, atau sebagai alternatif dari bentuk Sikeloi, Oulixēs (Οὐλίξης).[16] Kajian yang lebih mutakhir mengaitkannya dengan bentuk-bentuk Yunani yang menggunakan huruf l: Beekes memasukkan bentuk Latin Ulixēs ke dalam kelompok varian tersebut, bersama bentuk-bentuk yang ditemukan dalam inskripsi pada vas serta bentuk Oulixeus (Οὐλιξεύς) yang dicatat oleh Herodianos.[17] Sementara itu, Maras berpendapat bahwa bentuk Latin tersebut berasal dari bentuk Yunani hasil rekonstruksi, *Olixes, yakni bentuk nama yang beredar di luar tradisi Homerik.[18]

Di Etruria, nama dan kisah-kisah mengenai Odiseus diadopsi dalam sejumlah varian, seperti utuse, utuśe, utuze, utzte, uθste, uθuste and uθuze. Bentuk-bentuk tersebut muncul sebagai keterangan pada penggambaran tokoh Odiseus di atas skarabeus, cermin, dan guci abu jenazah yang berasal dari abad ke-5 hingga abad ke-2 SM.[19] Sebaliknya, Maras berpendapat bahwa bentuk dalam bahasa Etruria tersebut dipinjam dari varian nama yang masih mempertahankan bunyi d, yakni bentuk nama yang beredar dalam tradisi epos Homerik.[18]

Dalam Ilias dan Odisseia, Homeros menggunakan beberapa epitet untuk menggambarkan Odiseus, dimulai dengan pembukaan, di mana ia digambarkan sebagai "orang yang memiliki banyak akal" (dalam terjemahan Murray tahun 1919). Kata Yunani yang digunakan adalah polytropos, yang secara harfiah berarti "orang dengan banyak cara", dan penerjemah lain telah mengusulkan terjemahan alternatif dalam bahasa Inggris, termasuk "man of twists and turns" (har. "pria yang penuh lika-liku", Fagles 1996) dan "a complicated man" (har. "pria yang kompleks", Wilson 2018).

Deskripsi

Dalam kisah karya Dares Frygios, Odiseus digambarkan sebagai sosok yang "tangguh, licik, periang, memiliki tinggi badan sedang, fasih, dan bijaksana."[20] Dalam Buku III Ilias karya Homeros, Priamos menggambarkannya sebagai sosok yang "lebih pendek sekitar satu kepala daripada Agamemnon, putra Atreus, / tetapi dadanya tampak lebih bidang dan bahunya tampak lebih lebar /... / Sungguh, aku akan menyamakannya dengan seekor domba jantan berbulu lebat / yang melangkah di tengah kawanan domba yang berkilau."[21] Dalam buku yang sama, Antenor mengenang bahwa "Menelaos yang berbahu bidang bertubuh lebih tinggi, tetapi Odiseus tampak lebih berwibawa ketika keduanya sedang duduk."[22] Dalam Buku VI Odisseia, ia digambarkan memiliki "rambut lebat" yang "menjuntai dari kepalanya setebal kelopak bunga eceng gondok yang sedang mekar".[23] Dalam Buku XVI, dia disebut memiliki "kulit kecokelatan seperti perunggu"[24] sedangkan dalam Buku XVIII dikisahkan bahwa Odiseus "menyingkap pahanya yang besar dan indah. Bahunya yang bidang, dadanya, dan lengannya yang kekar pun tampak."[25]

Silsilah

Latar belakang fiktif Odiseus hanya sedikit dijelaskan dalam sumber-sumber kuno. Menurut Pseudo-Apollodoros, kakek dari pihak ayahnya atau kakek tirinya adalah Arkeisios, putra Kefalos dan cucu Aiolos, sedangkan kakek dari pihak ibunya adalah Autolykos yang terkenal sebagai pencuri, putra Hermes[26] dan Khione. Berdasarkan silsilah ini, Odiseus merupakan cicit dewa Olimpus, Hermes. Namun, dalam Odisseia, meskipun Hermes mewariskan keahliannya dalam mencuri kepada Autolykos, tidak ada petunjuk mengenai hubungan silsilah di antara keduanya.[27][28]

Menurut Ilias dan Odisseia, ayah Odiseus adalah Laertes[29] dan ibunya adalah Antikleia, meskipun terdapat tradisi non-Homerik[30][31][32] yang menyatakan bahwa Sisifos adalah ayah kandungnya.[33] Menurut tradisi tersebut, Laërtes membeli Odiseus dari raja yang licik tersebut.[34] Odiseus juga dikatakan memiliki seorang adik perempuan bernama Ktimene, yang pergi ke Same untuk menikah dengan Eurilokhos. Ktimene disinggung oleh penggembala babi Eumaios, yang tumbuh bersamanya, dalam Buku XV Odisseia.[35] Odiseus sendiri, ketika menyamar sebagai seorang pengemis tua, menceritakan sebuah silsilah fiktif kepada penggembala babi di Itaka:

"Dari Kreta yang luas aku berasal, putra seorang pria kaya. Banyak putra lainnya juga lahir dan dibesarkan di rumahnya, putra-putra sah dari seorang istri yang sah. Namun ibu yang melahirkanku adalah seorang selir yang dibeli. Meski demikian, Kastor, putra Hylas, yang kuakui sebagai ayahku, menghormatiku sebagaimana putra-putranya yang sah."[36]

Mitologi

Sebelum Perang Troya

Sebagian besar sumber yang mengisahkan sepak terjang Odiseus sebelum Perang Troya—terutama karya-karya mitografer Pseudo-Apollodoros dan Hyginus—ditulis berabad-abad setelah masa Homeros. Dua kisah yang paling terkenal adalah sebagai berikut:

Ketika Helene dari Troya diculik, Menelaos memanggil para mantan pelamar Helene untuk menepati sumpah yang pernah mereka ucapkan dan membantunya merebut kembali Helene, yang kemudian memicu Perang Troya. Odiseus berusaha menghindari perang dengan berpura-pura gila, karena telah dinubuatkan bahwa apabila ia berangkat ke Troya, kepulangannya akan sangat lama tertunda. Ia menyambungkan seekor keledai dan seekor lembu pada bajaknya (karena keduanya memiliki panjang langkah yang berbeda sehingga mengurangi efektivitas pembajakan) dan (menurut beberapa sumber modern) mulai menaburi ladangnya dengan garam. Palamedes, atas perintah Agamemnon, saudara Menelaos, berusaha membuktikan bahwa Odiseus hanya berpura-pura gila dengan meletakkan Telemakhos, putra Odiseus yang masih bayi, tepat di depan bajak tersebut. Odiseus membelokkan bajaknya menjauhi putranya, sehingga tipu muslihatnya pun terbongkar.[37] Sejak saat itu, Odiseus menaruh dendam kepada Palamedes karena telah memaksanya meninggalkan rumahnya untuk ikut berperang.

Odiseus dan utusan Agamemnon lainnya pergi ke Skyros untuk merekrut Akhilles karena terdapat sebuah ramalan yang menyatakan bahwa Troya tidak mungkin ditaklukkan tanpa dirinya. Menurut sebagian besar versi kisah, Thetis, ibu Akhilles, mendandani putranya seperti seorang perempuan untuk menyembunyikannya dari para utusan, karena sebuah orakel telah menubuatkan bahwa Akhilles akan menjalani kehidupan yang panjang tanpa peristiwa berarti atau memperoleh kemasyhuran abadi dengan gugur pada usia muda. Dengan cerdik, Odiseus menyingkap penyamaran Akhilles ketika ia menjadi satu-satunya di antara para perempuan yang tertarik memeriksa senjata-senjata yang diselipkan di antara berbagai hadiah perhiasan untuk putri-putri tuan rumah. Odiseus kemudian mengatur agar sangkakala perang dibunyikan, yang membuat Akhilles secara naluriah meraih sebuah senjata dan memperlihatkan naluri keprajuritannya. Setelah penyamarannya terbongkar, Akhilles pun bergabung dengan Agamemnon dan pasukan Helenes untuk berperang melawan Troya.[38]

Selama Perang Troya

Perang Troya
250px-Akhilleus_Patroklos_Antikensammlung_Berlin_F2278.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perang

Medan:
Troya (sekarang Hisarlik, Turki)

Kurun waktu:
Zaman Perunggu

Pertanggalan tradisional:
ca. 1194–1184 Pramasehi

Pertanggalan modern:
ca. 1260–1180 Pramasehi

Hasil:
Kemenangan pihak Yunani
kebinasaan Troya

Baca juga:
Kesejarahan Ilias
Sumber sastrawi
Baca juga:
Perang Troya dalam budaya populer
Babak
Pihak Yunani dan sekutunya
Baca juga:
Katalog Kapal
Pihak Troya dan sekutunya
Baca juga:
Gugus tempur Troya
Dewa-dewi yang terlibat

Memicu perang:

Memihak Yunani:

Memihak Troya:

Topik terkait

Ilias

Artikel utama: Ilias
250px-Patroclus_corpse_MAN_Firenze.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Menelaos dan Meriones mengangkat jenazah Patroklos ke atas kereta sementara Odiseus menyaksikan, pada guci alabaster Etruria dari Volterra, Italia, abad ke-2 SM

Dalam kisah karya Homeros, Odiseus digambarkan sebagai salah satu pahlawan Yunani yang paling terkemuka dalam Perang Troya. Bersama Nestor dan Idomeneus, ia merupakan salah satu penasihat yang paling dipercaya. Dalam berbagai kesempatan, Odiseus senantiasa memperjuangkan kepentingan pihak Akhaia, terutama ketika tokoh-tokoh lain mulai mempertanyakan kepemimpinan Agamemnon, seperti ketika Thersites menyuarakan ketidaksetujuannya. Ketika Agamemnon, untuk menguji semangat juang pasukan Akhaia, mengumumkan niatnya meninggalkan Troya, Odiseus berhasil memulihkan ketertiban di perkemahan Yunani.[39] Kemudian, setelah banyak pahlawan meninggalkan medan perang akibat luka-luka (termasuk Odiseus dan Agamemnon), Odiseus sekali lagi membujuk Agamemnon agar tidak menarik pasukannya. Bersama dua utusan lainnya, ia dipilih dalam misi diplomatik yang akhirnya gagal untuk membujuk Akhilles agar kembali bertempur.[40]

Ketika Hektor mengusulkan duel satu lawan satu, Odiseus menjadi salah satu pahlawan Danaan yang, meskipun enggan, mengajukan diri untuk menghadapinya. Namun, Aias Telamonios ("Aias Besar") akhirnya menjadi sukarelawan yang bertarung melawan Hektor.[41] Odiseus membantu Diomedes dalam misi malam hari untuk membunuh Rhesos, karena telah dinubuatkan bahwa apabila kuda-kuda Rhesos sempat meminum air Sungai Skamandros dan merumput di padang Troya, Troya tidak akan dapat ditaklukkan.[42]

250px-Rhesos_MNA_Naples.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Odiseus dan Diomedes mencuri kuda-kuda Raja Rhesos dari Trakia setelah membunuhnya. Situla bergambar figur merah dari Apulia, ditemukan di Ruvo

Setelah Patroklos terbunuh, Odiseuslah yang menasihati Akhilles agar mengizinkan pasukan Akhaia makan dan beristirahat terlebih dahulu, alih-alih menuruti dorongan amarahnya untuk segera melancarkan serangan balik dan membunuh orang-orang Troya. Pada akhirnya, meskipun dengan enggan, Akhilles menyetujui nasihat tersebut.[43] Dalam pertandingan pemakaman untuk menghormati Patroklos, Odiseus mengikuti pertandingan gulat melawan Aias "Besar" serta lomba lari melawan Aias "Kecil", putra Oileus dan Antilokhos, putra Nestor. Pertandingan gulat berakhir imbang, sedangkan dalam lomba lari, Odiseus keluar sebagai pemenang berkat bantuan Dewi Athena.[44]

Perang Troya
250px-Akhilleus_Patroklos_Antikensammlung_Berlin_F2278.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perang

Medan:
Troya (sekarang Hisarlik, Turki)

Kurun waktu:
Zaman Perunggu

Pertanggalan tradisional:
ca. 1194–1184 Pramasehi

Pertanggalan modern:
ca. 1260–1180 Pramasehi

Hasil:
Kemenangan pihak Yunani
kebinasaan Troya

Baca juga:
Kesejarahan Ilias
Sumber sastrawi
Baca juga:
Perang Troya dalam budaya populer
Babak
Pihak Yunani dan sekutunya
Baca juga:
Katalog Kapal
Pihak Troya dan sekutunya
Baca juga:
Gugus tempur Troya
Dewa-dewi yang terlibat

Memicu perang:

Memihak Yunani:

Memihak Troya:

Topik terkait

Dalam Ilias, Odiseus secara tradisional dipandang sebagai antitesis Akhilles.[45] Sementara amarah Akhilles begitu besar hingga mengarah pada kehancurannya sendiri, Odiseus sering digambarkan sebagai sosok yang memilih jalan tengah, menjadi suara akal sehat, serta dikenal karena pengendalian diri dan kecakapan diplomatiknya. Dalam beberapa hal, ia juga merupakan antitesis Aias Telamonios (Aias yang oleh Shakespeare disebut sebagai "beef-witted Ajax" ["Aias yang lamban berpikir"]). Jika Aias hanya mengandalkan kekuatan fisiknya, Odiseus bukan saja cerdik—sebagaimana terlihat dari gagasannya mengenai Kuda Troya—tetapi juga seorang orator ulung, kemampuan yang mungkin paling jelas tampak dalam misi diplomatik kepada Akhilles pada Buku IX Ilias. Hubungan keduanya bukan hanya dimaksudkan untuk saling mempertentangkan karakter masing-masing, tetapi juga tercermin dalam alur cerita, karena mereka beberapa kali berhadapan secara langsung.

Cerita-cerita lain dari Perang Troya

250px-05-Mosaico_del_Oecus._Aquiles_en_Skyros_alta.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Mosaik Romawi yang menggambarkan Odiseus di Skyros berhasil membongkar penyamaran Akhilles;[46] dari La Olmeda, Pedrosa de la Vega, Spanyol, abad ke-5 M

Karena terdapat nubuat bahwa Perang Troya tidak akan dapat dimenangkan tanpa Akhilles, dalam Achilleid, dikisahkan bahwa Odiseus dan beberapa pemimpin Akhaia lainnya pergi ke Skyros untuk mencarinya. Odiseus berhasil mengungkap penyamaran Akhilles dengan menawarkan hadiah berupa perhiasan dan alat musik serta senjata kepada putri-putri raja. Setelah itu, ia menyuruh rekan-rekannya menirukan suara serangan musuh ke pulau tersebut (yang paling terkenal, dengan membunyikan sangkakala perang), sehingga Akhilles tanpa sadar membuka penyamarannya dengan mengambil sebuah senjata untuk melawan. Setelah penyamarannya terbongkar, mereka pun berangkat bersama menuju Perang Troya.[47]

Kisah kematian Palamedes memiliki banyak versi. Menurut beberapa di antaranya, Odiseus tidak pernah memaafkan Palamedes karena telah membongkar kepura-puraannya berpura-pura gila, dan kemudian berperan dalam kematian Palamedes. Salah satu tradisi mengisahkan bahwa Odiseus membujuk seorang tawanan Troya untuk menulis sepucuk surat yang seolah-olah berasal dari Palamedes. Surat tersebut menyebutkan bahwa sejumlah emas telah dikirim sebagai imbalan atas pengkhianatan Palamedes. Odiseus kemudian membunuh tawanan itu dan menyembunyikan emas yang dimaksud di dalam tenda Palamedes. Ia memastikan surat itu ditemukan dan sampai ke tangan Agamemnon, sekaligus memberi petunjuk yang mengarahkan orang-orang Akhaia kepada emas tersebut. Bukti itu dianggap cukup oleh pasukan Yunani sehingga mereka melempari Palamedes dengan batu hingga tewas. Versi lain menyatakan bahwa Odiseus dan Diomedes membujuk Palamedes turun ke dalam sebuah sumur dengan alasan bahwa terdapat harta karun di dasarnya. Setelah Palamedes mencapai dasar sumur, keduanya melemparinya dengan batu hingga tewas, lalu menguburnya dengan timbunan batu.[48]

Ketika Akhilles gugur di medan perang di tangan Paris, Odiseus dan Aiaslah yang mengambil jenazah Akhilles beserta perlengkapan perangnya di tengah sengitnya pertempuran. Dalam pertandingan pemakaman untuk menghormati Akhilles, Odiseus kembali bersaing dengan Aias. Thetis menyatakan bahwa perlengkapan perang Akhilles akan diberikan kepada orang Yunani yang paling gagah berani, tetapi hanya kedua pahlawan inilah yang berani mengeklaim diri menyandang predikat tersebut. Keduanya pun terlibat dalam perselisihan sengit mengenai siapa yang paling layak menerima hadiah itu. Pasukan Yunani bimbang menentukan pemenangnya karena mereka tidak ingin menyinggung salah satu di antara keduanya dan menyebabkan pihak yang kalah meninggalkan peperangan. Nestor mengusulkan agar para tawanan Troya dibiarkan menentukan pemenangnya.[49] Namun, Odisseia memberikan kisah yang berbeda, dengan menyatakan bahwa orang-orang Yunani sendiri mengadakan pemungutan suara secara rahasia.[50] Pada akhirnya, Odiseus dinyatakan sebagai pemenang. Merasa marah dan dipermalukan, Aias dibuat menjadi gila oleh Dewi Athena. Setelah kembali sadar dan merasa malu karena telah membantai ternak dalam kegilaannya, Aias mengakhiri hidupnya dengan pedang yang sebelumnya dihadiahkan Hektor kepadanya setelah duel mereka sebagai tanda saling menghormati.[51]

250px-Odysseus_Ajax_Louvre_F340.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Oinochoe, ca 520 SM, Odiseus dan Aias memperebutkan perisai Akhilles

Bersama Diomedes, Odiseus menjemput putra Akhilles, Pirros, untuk membantu pasukan Akhaia, karena sebuah orakel menyatakan bahwa Troya tidak dapat ditaklukkan tanpa dirinya. Sebagai seorang pejuang yang tangguh, Pirros juga dikenal dengan nama Neoptolemos (bahasa Yunani: "pejuang baru"). Setelah misi tersebut berhasil, Odiseus menyerahkan perlengkapan perang Akhilles kepadanya.

Kemudian diketahui bahwa perang tidak mungkin dimenangkan tanpa panah-panah beracun milik Herakles yang berada di tangan Filoktetes, yang sebelumnya telah ditinggalkan. Odiseus dan Diomedes (atau, menurut beberapa versi, Odiseus dan Neoptolemos) berangkat untuk menjemputnya. Setibanya di sana, Filoktetes, yang masih menderita akibat lukanya, tampak tetap menyimpan kemarahan terhadap pasukan Danaan, terutama kepada Odiseus, karena telah meninggalkannya. Meskipun pada awalnya ia berniat memanah Odiseus, kemarahannya akhirnya mereda berkat kemampuan Odiseus membujuknya serta campur tangan para dewa. Odiseus kemudian kembali ke perkemahan Argos bersama Filoktetes dan panah-panahnya.[52]

Mungkin sumbangsih Odiseus yang paling terkenal bagi kemenangan Yunani dalam Perang Troya adalah gagasannya mengenai Kuda Troya, yang memungkinkan pasukan Yunani menyusup ke dalam Kota Troya dengan memanfaatkan kegelapan malam. Kuda tersebut dibuat oleh Epeios dan diisi oleh para prajurit Yunani yang dipimpin oleh Odiseus.[53] Odiseus dan Diomedes juga mencuri Palladion yang disimpan di dalam tembok Troya karena telah dinubuatkan bahwa pasukan Yunani tidak akan dapat menaklukkan kota itu tanpa benda tersebut. Beberapa sumber Romawi di kemudian hari menyebutkan bahwa Odiseus berencana membunuh Diomedes dalam perjalanan pulang, tetapi usaha tersebut berhasil digagalkan oleh Diomedes.

Stesikhoros menyebutkan bahwa Odiseus menggunakan perisai berlambang lumba-lumba, suatu tradisi yang juga dipertahankan oleh Euphorion.[54]

250px-Wall_painting_-_rape_of_the_palladion_-_Pompeii_%28I_2_26%29_-_Napoli_MAN_109751_-_02.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Odiseus (mengenakan topi pilos) membawa lari palladion dari Troya dengan bantuan Diomedes, meskipun dihalangi oleh Kassandra dan warga Troya lainnya. Fresko Romawi kuno dari Pompeii.

"Ulixes yang kejam dan penuh tipu muslihat" dalam tradisi Romawi

Dalam Ilias dan Odisseia karya Homeros, Odiseus digambarkan sebagai seorang pahlawan budaya. Namun, bangsa Romawi, yang menganggap diri mereka sebagai pewaris Pangeran Aineias dari Troya, memandangnya sebagai sosok yang culas serta tidak segan memutarbalikan fakta. Dalam Aeneis karya Vergilius, yang ditulis antara tahun 29 hingga 19 SM, ia berulang kali disebut sebagai "Odiseus yang kejam" (Latin: dirus Ulixes) atau "Odiseus yang penuh tipu muslihat" (pellacis, fandi fictor). Dalam Buku IX Aeneis, Turnus mencela Askanios, putra Aineias, dengan menonjolkan kebajikan bangsa Latin yang keras dan terus terang, sambil menyatakan (dalam terjemahan John Dryden), "Di sini engkau tidak akan menemukan putra-putra Atreus, ataupun perlu takut terhadap tipu muslihat Ulysses yang licik." Orang Yunani mengagumi kecerdikan dan kelihaian Odiseus, tetapi bangsa Romawi, yang menjunjung tinggi kehormatan, tidak memandang sifat-sifat tersebut sebagai sesuatu yang patut dikagumi. Dalam tragedi Ifigeneia di Aulis karya Euripides, setelah berhasil membujuk Agamemnon untuk menyetujui pengorbanan putrinya, Ifigeneia, demi meredakan murka Dewi Artemis, Odiseus mempermudah pelaksanaan pengorbanan itu dengan menipu Klitemnestra, ibu Ifigeneia, dengan mengatakan bahwa putrinya akan dinikahkan dengan Akhilles. Upaya Odiseus untuk menghindari sumpah sucinya dalam membela Menelaos dan Helene bertentangan dengan pandangan bangsa Romawi mengenai kewajiban, sementara berbagai siasat dan tipu muslihat yang digunakannya untuk mencapai tujuannya dianggap bertentangan dengan nilai kehormatan yang mereka junjung.

Perjalanan pulang ke Itaka

Odiseus paling dikenal sebagai tokoh utama eponim dalam Odisseia. Epos ini mengisahkan pengembaraannya selama sepuluh tahun ketika ia berusaha pulang setelah berakhirnya Perang Troya dan kembali menegakkan kembali kedudukannya sebagai raja Itaka yang sah.

250px-Odysseus_vecht_met_de_Kikonen_De_werken_van_Odysseus_%28serietitel%29%2C_RP-P-OB-66.735.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Odiseus dan anak buahnya bertempur melawan bangsa Kikones (sekutu Troya) ketika menjarah kota mereka. Setelah merampas harta benda dan menawan para perempuan, Odiseus akhirnya dipukul mundur oleh bala bantuan bangsa Kikones.

Dalam perjalanan pulang dari Troya, Odiseus bersama dua belas kapalnya mula-mula menyerbu Ismaros di negeri bangsa Kikones, sekutu Troya. Setelah berhasil merebut Kota Ismaros melalui serangan mendadak, Odiseus dan anak buahnya menjarah kota tersebut serta membantai para prajuritnya. Rampasan mereka berupa harta benda, ternak, dan para perempuan. Hanya Maron, imam Apollo, beserta keluarganya yang dibiarkan hidup oleh Odiseus. Sebagai ungkapan terima kasih, Maron menghadiahkan kepadanya tujuh talenta emas, sebuah mangkuk perak, serta dua belas tempayan berisi anggur murni. Karena tidak segera meninggalkan kota itu pada malam yang sama, anak buah Odiseus diserang oleh bangsa Kikones yang telah pergi meminta bantuan kepada bangsa-bangsa tetangga. Setelah kehilangan enam orang anak buahnya, Odiseus terpaksa melarikan diri dengan tergesa-gesa.[55][56]

250px-Arnold_B%C3%B6cklin_-_Odysseus_and_Polyphemus.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Odysseus and Polyphemus (1896) karya Arnold Böcklin: Odiseus dan anak buahnya melarikan diri dari Kiklops Polfemus.

Setelah selama tiga hari diterpa badai hingga keluar dari jalur pelayaran, mereka singgah di negeri para Penyantap Teratai yang membuat mereka melupakan keinginan untuk pulang, lalu ditangkap oleh Kiklops Polifemos ketika mengunjungi pulaunya. Setelah Polifemos memakan beberapa orang anak buah Odiseus, keduanya terlibat dalam percakapan, dan Odiseus memperkenalkan dirinya kepada Polifemos dengan nama Outis ("Tak Seorang Pun"). Ia kemudian menyuguhkan anggur pemberian Maron kepada Polifemos hingga sang Kiklops mabuk dan tertidur. Selagi Polifemos terlelap, Odiseus dan anak buahnya mengambil sebuah pasak kayu, memanaskannya di atas api, lalu menghunjamkannya ke mata Polifemos hingga ia menjadi buta. Ketika mereka melarikan diri, Polifemos menjerit kesakitan dan para Kiklops lainnya bertanya apa yang terjadi. Polifemos menjawab, "Tak Seorang Pun telah membutakanku!" sehingga mereka mengira ia telah kehilangan akal. Odiseus dan anak buahnya berhasil melarikan diri. Namun, setelah mereka berlayar menjauh dari pulau itu, Odiseus dengan gegabah meneriakkan nama aslinya kepada Polifemos. Polifemos kemudian memohon kepada ayahnya, Poseidon, agar membalas dendam kepada Odiseus. Setelah itu mereka singgah di tempat Aiolos, penguasa angin, yang menghadiahkan kepada Odiseus sebuah kantong kulit berisi seluruh angin kecuali angin barat, sehingga seharusnya mereka dapat berlayar pulang dengan selamat. Akan tetapi, ketika Odiseus tertidur, para awak kapal membuka kantong itu karena mengira isinya emas. Seluruh angin pun lepas, dan badai yang ditimbulkan angin-angin tersebut pun mengembalikan mereka ke tempat semula, tepat ketika Itaka telah tampak di kejauhan.[57]

Setelah memohon dengan sia-sia kepada Aiolos agar kembali menolong mereka, mereka kembali berlayar dan bertemu dengan bangsa Laistrigones yang kanibal. Hanya kapal Odiseus yang berhasil lolos. Dari sana, ia berlayar menuju pulau dewi penyihir Kirke. Setelah menjamu para anak buah Odiseus dengan keju dan anggur, Kirke mengubah separuh dari mereka menjadi babi. Hermes memperingatkan Odiseus tentang bahaya Kirke dan memberinya herba ajaib bernama moly yang melindunginya dari sihir sang dewi. Karena terpikat oleh kekebalan Odiseus terhadap sihirnya, Kirke jatuh cinta kepadanya dan mengembalikan para anak buah Odiseus ke wujud semula. Odiseus beserta rombongannya tinggal selama satu tahun di pulau itu sambil berpesta dan menikmati jamuan. Akhirnya, anak buah Odiseus berhasil meyakinkannya untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Itaka.

Mengikuti petunjuk Kirke, Odiseus dan anak buahnya menyeberangi samudra hingga mencapai sebuah pelabuhan di tepi paling barat dunia. Di sana, Odiseus mempersembahkan kurban kepada arwah orang mati dan memanggil roh peramal tua Teiresias untuk meminta petunjuk. Setelah itu, ia bertemu dengan arwah ibunya sendiri yang telah meninggal karena kesedihan selama kepergiannya yang panjang. Dari ibunya, Odiseus untuk pertama kalinya mengetahui keadaan rumah tangganya di Itaka yang terancam oleh keserakahan para pelamar Penelope. Ia juga bercakap-cakap dengan arwah rekan-rekannya yang gugur dalam perang serta bayangan arwah Herakles.

250px-Mosa%C3%AFque_d%27Ulysse_et_les_sir%C3%A8nes.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Odiseus dan para Siren, mosaik Ulixes di Museum Nasional Bardo, Tunis, Tunisia, abad ke-2 M

Odiseus dan anak buahnya kemudian kembali ke pulau Kirke. Sang dewi memberikan petunjuk mengenai tahapan perjalanan berikutnya. Mereka melewati wilayah para Siren, kemudian berlayar di antara monster berkepala enam Skilla dan pusaran air Kharibdis. Saat kapal melintas di antara keduanya, Skilla menarik kapal itu dengan mencengkeram dayung-dayungnya dan memangsa enam orang awak kapal.

Mereka kemudian mendarat di Pulau Thrinakia. Di sana anak buah Odiseus mengabaikan peringatan Teiresias dan Kirke, lalu menyembelih ternak suci milik dewa matahari, Helios. Helios mengadukan perbuatan itu kepada Zeus dan menuntut agar para anak buah Odiseus dihukum; jika tidak, ia mengancam akan membawa matahari ke Dunia Bawah. Zeus mengabulkan permintaan Helios dengan mendatangkan badai petir yang menghancurkan kapal Odiseus dan anak buahnya, sehingga seluruh awak kapal tewas tenggelam kecuali Odiseus. Ia kemudian terdampar di Pulau Ogigia, tempat nimfa Kalipso memaksanya menjadi kekasihnya selama tujuh tahun. Baru setelah Zeus mengutus Hermes untuk menyampaikan perintah agar Kalipso membebaskan Odiseus, ia akhirnya dapat melanjutkan perjalanannya.[58]

Odiseus kembali mengalami karam dan kemudian diterima sebagai tamu bangsa Faiakia. Setelah mendengarkan kisah pengembaraannya, bangsa Faiakia, yang dipimpin Raja Alkinoos, sepakat membantunya pulang. Pada malam hari, ketika Odiseus masih tertidur lelap, mereka mengantarkannya ke sebuah teluk tersembunyi di Itaka. Dari sana ia menuju gubuk mantan hambanya, Eumaios, sang penggembala babi, dan kemudian bertemu kembali dengan putranya, Telemakhos, yang baru pulang dari Sparta. Athena menyamar­kan Odiseus sebagai seorang pengemis kelana agar ia dapat mengetahui keadaan rumah tangganya tanpa dikenali.

250px-The_return_of_Ulysses.gif?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kepulangan Ulysses, sebuah ilustrasi karya E. M. Synge dari seri buku anak tahun 1909, Story of the World (buku 1: On the shores of Great Sea)

Setelah pulang ke Itaka untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Odiseus yang menyamar hanya dikenali oleh anjingnya yang setia, Argos. Penelope kemudian mengumumkan bahwa siapa pun yang mampu memasang tali pada busur Odiseus dan melepaskan anak panah menembus lubang pada dua belas mata kapak yang disusun berjajar berhak mempersuntingnya. Menurut Bernard Knox, seorang pakar di bidang klasik, "Bagi alur Odisseia, keputusan Penelope inilah yang menjadi titik balik, langkah yang memungkinkan terwujudnya kemenangan yang sejak lama dinubuatkan bagi sang pahlawan yang pulang".[59] Identitas Odiseus kemudian diketahui oleh pelayan tua, Eurikleia, ketika ia membasuh kaki Odiseus dan menemukan bekas luka lama yang diperolehnya saat berburu babi hutan. Odiseus memaksanya bersumpah untuk merahasiakan hal itu dengan ancaman akan membunuhnya apabila ia membocorkan identitasnya.

Ketika perlombaan busur dimulai, tidak satu pun pelamar berhasil memasang tali pada busur tersebut. Setelah semua pelamar menyerah, Odiseus yang masih menyamar meminta izin untuk ikut mencoba. Meskipun para pelamar pada awalnya menolak, Penelope turun tangan dan mengizinkan "orang asing" itu ikut serta. Odiseus dengan mudah memasang tali busurnya dan memenangkan perlombaan. Setelah itu ia, dibantu oleh Telemakhos serta dua orang pelayannya—Eumaios sang penggembala babi dan Filoitios sang penggembala sapi—membantai seluruh pelamar, dimulai dari Antinoos yang sedang minum menggunakan cawan miliknya. Odiseus kemudian memerintahkan para pelayan perempuan yang telah tidur dengan para pelamar untuk membersihkan mayat-mayat mereka sebelum akhirnya menghukum mati mereka dengan digantung. Ia juga mengatakan kepada Telemakhos bahwa persediaan harta bendanya akan dipulihkan dengan menyerbu pulau-pulau di sekitarnya. Kini, Odiseus telah memperlihatkan jati dirinya sepenuhnya, bahkan dibuat semakin mengagumkan oleh Athena. Namun, Penelope masih belum yakin bahwa orang itu benar-benar suaminya; ia khawatir bahwa itu hanyalah seorang dewa yang menyamar, sebagaimana dalam kisah Alkmene, ibu Herakles. Karena itu ia menguji Odiseus dengan memerintahkan Eurikleia memindahkan ranjang mereka dari kamar pengantin. Odiseus protes, mengatakan bahwa hal itu mustahil untuk dilakukan karena ia sendiri yang membuat ranjang tersebut, dengan salah satu kakinya berasal dari pohon zaitun yang masih hidup. Penelope akhirnya menerima bahwa pria itu benar-benar suaminya, sebuah momen yang menegaskan homophrosýnē mereka ("keselarasan pikiran dan hati").

Keesokan harinya, Odiseus dan Telemakhos mengunjungi tanah pertanian milik ayahnya yang telah lanjut usia, Laërtes. Sementara itu, warga Itaka mengejar Odiseus untuk membalas kematian para pelamar yang merupakan putra-putra mereka. Dewi Athena dan Dewa Zeus kemudian turun tangan dan membujuk kedua belah pihak untuk berdamai.[60]

Kisah-kisah lain

Menurut beberapa sumber di kemudian hari, yang sebagian besar bersifat silsilah semata, Odiseus memiliki banyak anak selain Telemakhos. Sebagian besar silsilah tersebut bertujuan menghubungkan Odiseus dengan pendirian berbagai kota di Italia.[61] Hal ini tampaknya bertentangan dengan Odisseia, yang menyatakan bahwa garis keturunan Odiseus, berdasarkan ketetapan Zeus, hanya dapat menghasilkan seorang anak dalam setiap generasi, dengan Telemakhos sebagai satu-satunya ahli waris.[62][63] Namun demikian, Odisseia juga menyebutkan keberadaan adik perempuan Odiseus, Ktimene.[35]

Anak-anak Odiseus yang paling terkenal adalah:

  • dari Penelope: Poliporthes (lahir setelah Odiseus kembali dari Troya);
  • dari Kirke: Telegonos, Ardeas, Latinus, serta Auson dan Kasifone.[64] Xenagoras menulis bahwa Odiseus dan Kirke juga memiliki tiga orang putra, yakni Romos (Yunani Kuno: Ῥώμος), Anteias (Yunani Kuno: Ἀντείας) dan Ardeias (Yunani Kuno: Ἀρδείας), yang masing-masing mendirikan tiga kota dan menamakannya sesuai nama mereka sendiri, yaitu Roma, Antium, dan Ardea.[65]
  • dari Kalipso: Nausithoos dan Nausinoos;
  • dari Kallidike: Polipoites;
  • dari Euippe: Eurialos;
  • dari putri Thoas: Leontofonos.

Odiseus juga muncul menjelang akhir kisah Raja Telefos dari Misia.

Puisi terakhir dalam Siklus Epik berjudul Telegonia, tetapi kini telah hilang. Berdasarkan fragmen-fragmen yang masih tersisa, karya tersebut mengisahkan pelayaran terakhir Odiseus ke negeri bangsa Thesprotia. Di sana, ia menikahi ratunya, Kallidike. Selanjutnya ia memimpin bangsa Thesprotia dalam perang melawan tetangga mereka, bangsa Brygoi (Brygi atau Brygia), dan berhasil mengalahkan bangsa Brygoi beserta bangsa-bangsa tetangga lain yang menyerangnya. Setelah Kallidike meninggal, Odiseus kembali ke Itaka dan menyerahkan pemerintahan Thesprotia kepada putra mereka, Polipoites.[66] Bertentangan dengan nubuat Teiresias dalam Odisseia yang menyatakan bahwa Odiseus akan meninggal dengan tenang pada usia lanjut setelah kembali ke tanah airnya,[62][67] Telegonia mengisahkan bahwa ia tewas di tangan Telegonos, putranya dari Kirke, akibat suatu kesalahpahaman. Dengan tombak berujung duri ikan pari beracun yang diberikan Kirke, Telegonos menikam ayahnya. Menjelang ajalnya, Odiseus menyadari bahwa orang yang menikamnya adalah putranya sendiri. Setelah itu, Telegonos membawa jenazah ayahnya ke Aiaia bersama Penelope dan Telemakhos, putra Odiseus dari Penelope. Seusai memakamkan Odiseus, Kirke menjadikan ketiga orang lainnya abadi. Atas nasihat Athena,[68] Kirke kemudian menikahi Telemakhos, sedangkan Telegonos menikahi Penelope.[66] Versi lain mengenai kematian Odiseus akibat duri ikan pari muncul dalam Psychagogoi (Pemanggil Arwah), sebuah tragedi karya Aiskhilos dari abad ke-5 SM yang kini telah hilang dan terinspirasi oleh episode nekyia dalam Odisseia. Dalam tragedi tersebut, arwah Teiresias meramalkan bahwa suatu hari, kotoran seekor bangau yang mengandung duri ikan pari akan jatuh ke kepala Odiseus yang telah botak karena usia tua dan menyebabkan kulitnya membusuk.[69]

Menurut tradisi yang tampaknya berasal dari masa kemudian, Odiseus dibangkitkan kembali oleh Kirke setelah kematiannya di tangan Telegonos. Sesudah itu, ia menikahkan Telemakhos dengan Kasifone, putrinya bersama Kirke.[70][71] Namun, Telemakhos kemudian membunuh Kirke setelah terjadi pertengkaran, sehingga Kasifone membunuh Telemakhos sebagai balas dendam. Menyaksikan rangkaian peristiwa malang tersebut, Odiseus meninggal untuk kedua kalinya, kali ini karena kesedihan.[72]

Pada abad ke-5 SM di Athena, kisah-kisah Perang Troya merupakan tema yang sangat populer dalam tragedi. Odiseus tampil sebagai tokoh utama ataupun sebagai tokoh yang berperan secara tidak langsung dalam sejumlah drama Aiskhilos, Sofokles (Aias, Filoktetes), dan Euripides (Hekabe, Rhesos, Kiklops), serta muncul pula dalam banyak drama lain yang kini telah hilang. Dalam Aias karya Sofokles, Odiseus digambarkan sebagai sosok yang mewakili penalaran yang lebih modern dibandingkan tokoh utama drama tersebut yang mencerminkan nilai-nilai kepahlawanan kuno yang lebih kaku.

Dalam dialog Hippias Minor, Plato mengangkat persoalan sastra mengenai siapakah yang dimaksud Homeros sebagai tokoh yang lebih unggul, Akhilles atau Odiseus.

250px-Odysseus_-01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kepala Odiseus yang mengenakan topi pilos pada koin Itaka dari abad ke-3 SM

Dalam Deskripsi Yunani, Pausanias menulis bahwa di Pheneos terdapat sebuah patung perunggu Poseidon yang berjuluk Hippios (Yunani Kuno: Ἵππιος), yang berarti berkaitan dengan kuda, yang menurut tradisi dipersembahkan oleh Odiseus. Di tempat yang sama juga terdapat tempat suci Artemis yang disebut Heurippa (Yunani Kuno: Εὑρίππα), yang berarti penemu kuda, yang konon didirikan oleh Odiseus.[73] Menurut legenda, Odiseus kehilangan kuda-kuda betinanya dan mengembara ke seluruh Yunani untuk mencarinya. Ia akhirnya menemukannya di tempat tersebut, di Pheneos.[73] Pausanias menambahkan bahwa menurut penduduk Pheneos, setelah menemukan kembali kuda-kudanya, Odiseus memutuskan untuk memelihara kuda di wilayah Pheneos sebagaimana ia memelihara ternaknya. Penduduk Pheneos juga memperlihatkan kepadanya sebuah tulisan yang konon berisi petunjuk Odiseus bagi orang-orang yang merawat kuda-kuda betinanya.[74]

Dengan nama Ulysses, Odiseus kerap disebut dalam Aeneis karya Vergilius yang ditulis antara tahun 29 hingga 19 SM. Dalam epos tersebut, Aineias menyelamatkan salah seorang awak kapal Ulysses yang tertinggal di pulau para Kiklops. Awak kapal itu kemudian menceritakan secara langsung beberapa peristiwa yang juga dikisahkan Homeros, termasuk kemunculan Ulysses sendiri. Ulysses versi Vergilius mencerminkan pandangannya terhadap bangsa Yunani: ia licik, tidak menghormati kewajiban suci, serta pada akhirnya bersifat jahat dan gemar mengejar kesenangan.

Ovidius mengisahkan kembali sebagian perjalanan Ulysses dengan menitikberatkan pada hubungan asmaranya dengan Kirke dan Kalipso, serta menggambarkannya, menurut ungkapan Harold Bloom, sebagai "salah satu petualang sekaligus penggoda wanita terbesar". Ovidius juga memberikan uraian terperinci mengenai persaingan antara Ulysses dan Aias dalam memperebutkan perlengkapan perang Akhilles.

Telefos dari Pergamon adalah penulis Tentang Pengembaraan Odiseus (Περὶ τῆς Ὀδυσσέως πλάνης), sebuah karya yang kini telah hilang dan hanya diketahui melalui rujukan-rujukan pada masa kemudian.[75]

Legenda Yunani menyebut Ulysses sebagai pendiri kota Lisboa di Portugal dengan nama Ulisipo atau Ulisseya dalam pengembaraannya selama dua puluh tahun di Laut Tengah dan Samudra Atlantik.[butuh rujukan] Olisipo merupakan nama Lisboa pada masa Kekaisaran Romawi. Etimologi rakyat ini diceritakan oleh Strabo berdasarkan keterangan Asklepiades dari Myrleia,[butuh rujukan] kemudian oleh Pomponius Mela,[butuh rujukan] dan Gaius Julius Solinus (abad ke-3 M)[butuh rujukan], serta diulangi kembali oleh Camões dalam epos Os Lusíadas (pertama kali diterbitkan pada tahun 1572).[butuh rujukan]

Dalam salah satu versi mengenai akhir hayatnya, Athena pada akhirnya mengubah Odiseus menjadi seekor kuda.[76]

Dalam Pertanyaan-Pertanyaan Yunani karya Plutarkhos, disebutkan bahwa setelah pembantaian para pelamar Penelope, Neoptolemos diminta oleh kedua belah pihak, baik keluarga para pelamar yang terbunuh maupun pihak Odiseus, untuk menjadi penengah. Ia memutuskan bahwa Odiseus harus meninggalkan Itaka dan menjalani pembuangan dari Kefalonia, Zakynthos, dan Itaka akibat pembunuhan tersebut, sementara para kerabat dan orang-orang yang berpihak kepada para pelamar diwajibkan memberikan ganti rugi tahunan kepada Odiseus atas kerugian yang telah mereka timbulkan terhadap harta miliknya. Odiseus kemudian menyerahkan haknya atas ganti rugi itu kepada putranya, Telemakhos, lalu berangkat ke Italia untuk hidup dalam pembuangan.[77]

Menurut Istros, murid Kallimakhos, Antikleia melahirkan Odiseus di dekat Alalkomenai di Boiotia. Oleh sebab itu, Odiseus kemudian menamai sebuah kota di Itaka dengan nama Alalkomenai sebagai kenangan akan tempat kelahirannya.[78]

Dalam tradisi pascaklasik

Odiseus merupakan salah satu tokoh yang paling sering muncul dalam kebudayaan Barat.

Abad Pertengahan dan Renaisans

Dalam Canto XXVI bagian Inferno dari Divina Commedia (1308–1320), Dante Alighieri bertemu dengan Odiseus ("Ulisse" dalam bahasa Italia) di dekat dasar Neraka. Bersama Diomedes, ia berjalan terbungkus nyala api di lingkaran kedelapan (para penasihat yang menipu) dalam Lingkaran Kedelapan (dosa-dosa karena niat jahat) sebagai hukuman atas tipu muslihat dan persekongkolan mereka yang membawa kemenangan Yunani dalam Perang Troya. Dalam sebuah bagian yang terkenal, Dante menampilkan Odiseus menceritakan mengenai pelayaran dan kematiannya dalam versi berbeda dengan yang dikisahkan Homeros. Ia berkisah bahwa setelah meninggalkan pulau Kirke bersama anak buahnya, ia berlayar untuk menjelajahi lautan melampaui Pilar-Pilar Herkules menuju Samudra Barat demi mengetahui petualangan apa yang menantinya. Menurut Ulisse, manusia tidak diciptakan untuk hidup seperti binatang, melainkan untuk mengejar kebajikan dan pengetahuan.[79]

Setelah berlayar ke arah barat dan selatan selama lima bulan, mereka melihat dari kejauhan sebuah gunung besar yang menjulang dari laut (dalam kosmologi Dante, gunung itu adalah Purgatorium) sebelum akhirnya badai menenggelamkan mereka. Dante tidak memiliki akses kepada naskah Yunani asli epos Homeros, sehingga pengetahuannya mengenai kisah tersebut hanya bersumber dari karya-karya yang lebih kemudian, terutama Aeneis karya Vergilius, serta Ovidius. Karena itu, terdapat perbedaan antara kisah Dante dan Homeros.[80]

Odiseus juga muncul dalam drama Troilus and Cressida (1602) karya Shakespeare, yang berlatar Perang Troya.

Literatur modern

Puisi

Dalam puisinya 20px-Wikisource-logo.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnailSite of the Castle of Ulysses. (diterbitkan pada tahun 1836), Letitia Elizabeth Landon menyajikan versinya sendiri atas The Song of the Sirens beserta penjelasan mengenai tujuan, struktur, dan maknanya. Puisi tersebut ditulis sebagai ilustrasi bagi sebuah lukisan karya Charles Bentley yang diukir oleh R. Sands, dengan Pegunungan Hitam di Kefalonia tampak di latar belakang.[81] Ilustrasi puitis lainnya, yang juga dimuat dalam Fisher's Drawing Room Scrap Book, 1837, dibuat untuk mengiringi ukiran berdasarkan lukisan Charles Bentley, 20px-Wikisource-logo.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnailTown and Harbour of Ithaca. dan mengenang kembali pulau "tempat Ulysses menjadi raja".[82]

Puisi Ulysses karya Alfred, Lord Tennyson (diterbitkan pada tahun 1842) menampilkan seorang raja yang telah menua dan terlalu banyak melihat dunia sehingga tidak lagi merasa puas hanya duduk di atas takhta dan menghabiskan hari-harinya tanpa berbuat apa-apa. Setelah menyerahkan tugas membimbing rakyatnya kepada putranya, ia mengumpulkan sekelompok sahabat lamanya untuk "berlayar melampaui matahari terbenam".

The Odyssey: A Modern Sequel (1938) karya Nikos Kazantzakis, sebuah puisi epos yang terdiri atas 33.333 baris, diawali dengan kisah Odiseus membersihkan tubuhnya dari darah para pelamar Penelope. Tak lama kemudian, Odiseus meninggalkan Itaka untuk mencari petualangan baru. Sebelum meninggal, ia menculik Helene, mengobarkan pemberontakan di Kreta dan Mesir, bersekutu dengan Tuhan, serta bertemu dengan tokoh-tokoh sejarah dan sastra terkenal seperti Lenin, Don Quixote, dan Yesus.

Pada tahun 1986, penyair Irlandia Eilean Ni Chuilleanain menerbitkan puisi The Second Voyage, yang memanfaatkan kisah Odiseus sebagai dasar ceritanya.

Novel

250px-Bay_of_Palaiokastritsa_from_Bellavista.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Teluk Palaiokastritsa di Korfu, terlihat dari Bella Vista di Lakones, secara tradisional dianggap sebagai tempat Odiseus mendarat dan pertama kali bertemu dengan Nausikaa. Batu karang di laut dekat cakrawala, di bagian kiri atas tengah, dipercaya oleh penduduk setempat sebagai kapal Odiseus yang telah membatu dalam mitologi.

Novel The Weird of the Wanderer (1912) karya Frederick Rolfe mengisahkan tokoh Nicholas Crabbe (yang didasarkan pada diri pengarang sendiri) melakukan perjalanan kembali ke masa lampau, menemukan bahwa dirinya merupakan reinkarnasi Odiseus, menikahi Helene, diangkat menjadi dewa, dan pada akhirnya menjadi salah satu dari Tiga Orang Majus.

Novel Ulysses karya James Joyce (pertama kali diterbitkan antara tahun 1918–1920) memanfaatkan berbagai teknik sastra modern untuk mengisahkan satu hari dalam kehidupan seorang pengusaha Dublin bernama Leopold Bloom. Hari yang dijalani Bloom memiliki banyak kesamaan yang rumit dengan sepuluh tahun pengembaraan Odiseus.

Return to Ithaca (1946) karya Eyvind Johnson merupakan pengisahan ulang peristiwa-peristiwa dalam Odisseia yang diperkaya dengan telaah psikologis terhadap tokoh-tokoh Odiseus, Penelope, dan Telemakhos. Secara tematis, novel ini menggunakan latar belakang dan perjuangan Odiseus sebagai metafora untuk menghadapi dampak perang (novel tersebut ditulis segera setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua).[83]

Dalam bab kesebelas memoar If This Is a Man (1947) karya Primo Levi yang berjudul "The Canto of Ulysses", penulis menceritakan pelayaran terakhir Ulysses sebagaimana dikisahkan Dante dalam Inferno kepada seorang sesama tahanan ketika mereka sedang menjalani kerja paksa di kamp konsentrasi Auschwitz milik Nazi.

Odiseus merupakan tokoh utama dalam The Luck of Troy (1961) karya Roger Lancelyn Green, yang judulnya merujuk pada pencurian Palladion.

Dalam Against the Tide of Years (1998) dan On the Oceans of Eternity, bagian kedua dan ketiga dari seri novel sejarah alternatif Nantucket karya S. M. Stirling, Odikweos ("Odiseus" dalam bahasa Yunani Mikenai) digambarkan sebagai tokoh "sejarah" yang sama liciknya dengan tokoh legendaris tersebut dan menjadi salah satu dari sedikit penghuni Zaman Perunggu yang menyadari asal-usul sebenarnya para penjelajah waktu. Pada mulanya Odikweos membantu William Walker naik ke tampuk kekuasaan di Akhaia, tetapi kemudian turut menjatuhkannya setelah menyaksikan tanah airnya berubah menjadi negara polisi.

The Penelopiad (2005) karya Margaret Atwood mengisahkan kembali cerita Odiseus dari sudut pandang istrinya, Penelope.

Seri novel Percy Jackson & the Olympians karya Rick Riordan, yang mengisahkan keberadaan mitologi Yunani di abad ke-21, memuat sejumlah unsur dari kisah Odiseus. Novel keduanya, The Sea of Monsters (2006), secara khusus merupakan adaptasi longgar dari Odisseia, dengan tokoh utama Percy dan Annabeth berusaha menyelamatkan sahabat satir mereka, Grover, dari Polifemos, serta menghadapi banyak rintangan yang sama seperti yang dihadapi Odiseus dalam pengembaraannya.

Filsuf dan esais Ukraina Volodymyr Yermolenko menulis Ocean Catcher: The Story of Odysseus (Stary Lev, 2017), sebuah adaptasi longgar dari Odisseia. Dalam kisah tersebut, setelah kembali ke Itaka dan tidak menemukan Penelope maupun Telemakhos, Odiseus memutuskan melakukan perjalanan balik menuju Troya.[84][85]

Kritik sastra

Teoretikus sastra Núria Perpinyà mengemukakan dua puluh penafsiran berbeda terhadap Odisseia dalam sebuah kajian yang diterbitkan pada tahun 2008.[86]

Televisi dan film

Para aktor yang pernah memerankan Odiseus dalam film layar lebar antara lain Kirk Douglas in dalam film Italia Ulysses (1955), Torin Thatcher dalam Helen of Troy (1956), John Drew Barrymore dalam The Trojan Horse (1961), Piero Lulli dalam The Fury of Achilles (1962), George Clooney dalam O Brother, Where Art Thou? (2000), Sean Bean dalam Troy (2004), Ralph Fiennes dalam The Return (2024), dan Matt Damon dalam The Odyssey.[87][88]

Dalam miniseri televisi, Odiseus diperankan oleh Bekim Fehmiu dalam L'Odissea (1968), Armand Assante dalam The Odyssey (1997), Nigel Whitmey dalam Helen of Troy (2003), serta Joseph Mawle dalam Troy: Fall of a City (2018).

Ulysses 31 merupakan serial televisi animasi Prancis–Jepang (1981) yang memindahkan mitologi Yunani mengenai Odiseus ke abad ke-31.[89]

Musik

Opera Ulysse ou le beau périple (1961) karya Henri Tomasi.

Grup musik Britania Raya Cream merekam lagu "Tales of Brave Ulysses" pada tahun 1967.

Album The Odyssey (1976) karya komponis Inggris David Bedford merupakan penggubahan musikal atas kisah Odisseia.

Lagu "Calypso" karya Suzanne Vega dalam album Solitude Standing (1987) mengisahkan Odiseus dari sudut pandang Kalipso dan menceritakan kedatangannya ke pulau Kalipso serta kepergiannya dari sana.

Grup progressive metal asal Amerika Serikat Symphony X merilis adaptasi kisah tersebut berdurasi 24 menit dalam album The Odyssey (2002).

Odiseus disebutkan dalam salah satu bait lagu "Journey of the Magi" pada album Poetry of the Deed (2009) karya Frank Turner.[90]

Rolf Riehm menggubah sebuah opera berdasarkan mitos tersebut berjudul Sirenen – Bilder des Begehrens und des Vernichtens ("Siren – Gambaran Hasrat dan Kehancuran"), yang dipentaskan perdana di Oper Frankfurt pada tahun 2014.

Odiseus tampil sebagai tokoh utama dalam Epic: The Musical, sebuah adaptasi musikal yang seluruh dialognya dinyanyikan berdasarkan Odisseia, yang diciptakan oleh Jorge Rivera-Herrans. Rivera-Herrans sendiri mengisi suara tokoh Odiseus.[91][92][93]

Mitologi perbandingan dan folkloristik

Seiring berjalannya waktu, kisah Odiseus sering dibandingkan dengan kisah para pahlawan dari berbagai mitologi dan agama lainnya. Kisah serupa terdapat dalam mitologi Hindu mengenai Nala dan Damayanti, ketika Nala terpisah dari Damayanti dan kemudian dipertemukan kembali dengannya.[94] Kisah mengenai membentangkan busur juga memiliki kemiripan dengan penggambaran Rama dalam Ramayana yang membentangkan busur untuk mempersunting Sita.[95]

Aeneis karya Vergilius memiliki banyak kemiripan dengan Odisseia. Vergilius mengisahkan perjalanan Aineias menuju wilayah yang kelak menjadi Roma. Dalam perjalanannya, ia menghadapi berbagai cobaan yang sebanding dengan yang dialami Odiseus. Namun, tujuan perjalanan keduanya berbeda: Aineias digerakkan oleh rasa kewajiban yang dianugerahkan para dewa dan harus dipatuhinya. Ia senantiasa mengingat masa depan bangsanya, sebagaimana layaknya calon Bapak Pendiri Roma.

Dalam folkloristik, kisah perjalanan Odiseus kembali ke tanah kelahirannya di Itaka dan kepada istrinya, Penelope, termasuk ke dalam tipe cerita ATU 974, "The Homecoming Husband" [de], dalam Indeks Aarne–Thompson–Uther untuk klasifikasi cerita rakyat.[96][97][98][99]

Peran sebagai tokoh yang dipuja

Sejumlah bukti menunjukkan adanya kultus yang dipersembahkan bagi Odiseus di Itaka. Bukti-bukti tersebut meliputi penyelenggaraan pesta olahraga umum yang disebut Odysseia (τά Ὀδύσσεια) serta keberadaan sebuah tempat pertemuan umum[100] atau tempat suci,[101] yang dikenal sebagai Odysseion (τό Ὀδύσσειον). Pada tahun 2025, para peneliti mengidentifikasi apa yang diyakini sebagai tempat suci Odiseus di situs Agios Athanasios–Sekolah Homeros di Itaka bagian utara (yang sejak abaprad ke-19 dikenal sebagai "Sekolah Homeros"). Dua prasasti dari periode Helenistik Akhir ditemukan dengan tulisan "ΟΔΥCCEOC" (genitif) dan "ΟΔΥCCEI" (datif). Kedua prasasti tersebut selaras dengan sebuah prasasti yang ditemukan pada dekade 1930-an di gua Teluk Polis yang bertuliskan "ΕΥΧΗΝ ΟΔΥCCΕΙ" ("Terima kasih Odiseus"). Temuan lain, seperti patung dada miniatur Odiseus dari perunggu, 34 pecahan benda nazar dari tanah liat, pemberat alat tenun, perhiasan, serta lebih dari seratus keping uang logam, menunjukkan peran keagamaan dan sosial situs tersebut selama periode Helenistik dan awal Romawi (abad ke-3 SM hingga abad ke-2 M). Teras bawah situs itu, yang memuat sisa-sisa bangunan, relung-relung pahatan untuk persembahan, serta genting bertuliskan rujukan kepada Apollo Agyieus dan lambang "ΔΗ" (yang mungkin berarti "milik umum"), menegaskan fungsi tempat tersebut dalam pelaksanaan ritual keagamaan resmi. Hal ini menunjukkan bahwa tempat suci tersebut melayani baik para pemuja setempat maupun peziarah dari luar.[102]

Strabo menulis bahwa di Pulau Meninx (Yunani Kuno: Μῆνιγξ) yang kini merupakan Pulau Djerba di Tunisia, terdapat sebuah altar yang dipersembahkan bagi Odiseus.[103]

Plinius Tua menulis bahwa di Italia terdapat beberapa pulau kecil (kini Torricella, Praca, Brace, dan sejumlah batu karang lainnya)[104] yang disebut Ithacesiae karena adanya sebuah menara pengawas yang dibangun oleh Odiseus.[105]

Menurut tradisi Yunani Kuno, Odiseus mendirikan sebuah kota di Iberia yang bernama Odysseia (Ὀδύσσεια)[106][107] atau Odysseis (Ὀδυσσεῖς)[108] yang memiliki sebuah tempat suci bagi Dewi Athena.[106][107][109] Para penulis kuno mengidentifikasi kota tersebut dengan Olisipo (kini Lisboa), tetapi para peneliti modern berpendapat bahwa bahkan keberadaan kota itu sendiri masih belum dapat dipastikan.[109]

Hellanikos dari Lesbos menulis bahwa Roma didirikan oleh Aineias dan Odiseus yang datang ke sana bersama-sama. Sejumlah sejarawan kuno lainnya, termasuk Damastes dari Sigeion, juga sependapat dengannya.[110][111]

Menurut tradisi, setelah menerima petunjuk dari sebuah orakel yang memerintahkannya pergi kepada orang-orang "yang tidak mengenal laut", Odiseus mendirikan Bouneima di Epiros, dekat Trampya, sebuah kota yang dikaitkan dengan kepulangannya. Setelah tiba di sana, ia mempersembahkan seekor lembu jantan sebagai kurban dan mendirikan permukiman. Sumber-sumber kuno juga menyatakan bahwa Odiseus dihormati di Trampya.[112]

Skolia atas Alexandra karya Lykofron memuat rujukan kepada Konstitusi Orang-Orang Itakboa karya Aristoteles yang kini telah hilang, yang menyebutkan bahwa terdapat sebuah orakel Odiseus di antara bangsa Eurytanes di Aitolia.[113]

Di Sparta, terdapat sebuah tempat suci yang dipersembahkan bagi Odiseus, yang asal-usulnya dijelaskan melalui sebuah tradisi yang dilestarikan oleh Plutarkhos. Menurut kisah tersebut, Erginos, keturunan Diomedes, mencuri Palladion dari Argos dengan bantuan Leagros, seorang sahabat Temenos. Setelah berselisih dengan Temenos, Leagros melarikan diri ke Sparta sambil membawa benda suci tersebut, yang kemudian diterima oleh raja-raja Sparta dan ditempatkan di dekat tempat suci putri-putri Leukippos. Ketika orang-orang Sparta meminta petunjuk kepada Orakel Delfi mengenai cara menjaga Palladion, mereka diberi tahu bahwa salah seorang pelaku pencurian benda itu harus menjadi penjaganya. Sebagai tanggapan, mereka mendirikan sebuah tempat suci bagi Odiseus di samping Palladion, berdasarkan tradisi bahwa Odiseuslah yang mencuri Palladion Troya. Kelayakannya sebagai penjaga juga diperkuat oleh anggapan bahwa ia memiliki hubungan erat dengan Sparta melalui pernikahannya dengan Penelope, yang oleh orang-orang Sparta dipandang mempunyai ikatan yang kuat dengan kota mereka.[114]

Referensi

  1. ↑ "Odysseus". Lexico UK English Dictionary. Oxford University Press. Diarsipkan dari asli tanggal 25 Juni 2021.
  2. ↑ Siklus Epik. Fragments on Telegony, 2 Diarsipkan 29 Agustus 2020 di Wayback Machine. seperti yang dikutip dalam Eustathios, 1796.35.
  3. ↑ "μῆτις – Liddell and Scott's Greek-English Lexicon". Perseus Project. Diarsipkan dari asli tanggal 4 September 2018. Diakses tanggal 18 April 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ "Greek & Roman Mythology - Homer". www2.classics.upenn.edu. Diakses tanggal 30 Juli 2024.
  5. ↑ Entri "Ὀδυσσεύς" Diarsipkan 5 Maret 2008 di Wayback Machine., dalam: Liddell and Scott, A Greek–English Lexicon, 1940.
  6. ↑ Entri "ὀδύσσομαι" Diarsipkan 6 Januari 2021 di Wayback Machine. dalam Liddell and Scott, A Greek–English Lexicon.
  7. ↑ "ὀδύρομαι" Diarsipkan 6 Agustus 2020 di Wayback Machine. dalam Liddell dan Scott, A Greek–English Lexicon.
  8. ↑ Helmut van Thiel, ed. (2009). Homers Odysseen. Berlin: Lit. hlm. 194.
  9. ↑ "ὄλλυμι" Diarsipkan 6 Agustus 2020 di Wayback Machine. dalam Liddell and Scott, A Greek–English Lexicon.
  10. ↑ Marcy George-Kokkinaki (2008). Literary Anthroponymy: Decoding the Characters in Homer's Odyssey (PDF). Vol. 4. Antrocom. hlm. 145–157. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 22 April 2018. Diakses tanggal 4 Mei 2017.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ Stanford, William Bedell (1968). The Ulysses theme. hlm. 11.
  12. ↑ Odisseia 19.400–405 Diarsipkan 17 Juni 2021 di Wayback Machine.
  13. ↑ Dihle, Albrecht (1994). A History of Greek Literature. From Homer to the Hellenistic Period. Diterjemahkan oleh Clare Krojzl. London dan New York: Routledge. hlm. 19. ISBN 978-0-415-08620-2. Diakses tanggal 4 Mei 2017.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  14. ↑ Robert S. P. Beekes, Etymological Dictionary of Greek, Brill, Leiden 2009, hlm. 1048.
  15. ↑ Stanford, William Bedell (1968). The Ulysses theme. A Study in the Adaptability of a Traditional Hero. New York: Spring Publications. hlm. 8.
  16. ↑ Lewis, Charlton T.; Short, Charles (1879). A Latin Dictionary. Oxford: Clarendon Press. s.v. Ulixes.
  17. ↑ Beekes, Robert S. P. (2010). Etymological Dictionary of Greek. Leiden and Boston: Brill. hlm. 1048. ISBN 978-90-04-17418-4.
  18. 1 2 Maras, Daniele F. (2002). "Note sull'arrivo del nome di Ulisse in Etruria". Studi Etruschi (dalam bahasa Italia). LXV–LXVIII: 237–249.
  19. ↑ Camporeale, Giovannangelo (1992). "Odysseus/Uthuze". Lexicon Iconographicum Mythologiae Classicae (dalam bahasa Italia). Vol. VI.1. Zurich and Munich: Artemis. hlm. 970–983.
  20. ↑ Dares Frygios, History of the Fall of Troy 13 Diarsipkan 7 April 2023 di Wayback Machine.
  21. ↑ Homer; Lattimore, Richmond; Martin, Richard P. (2011). The Iliad of Homer. Chicago; London: University of Chicago Press. hlm. Buku III Baris 192–199. ISBN 978-0-226-47048-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  22. ↑ Homeros; Rieu, E.V.; Rieu, D.C.H.; Jones, Peter (2003). The Iliad. Penguin. hlm. Buku III Baris 209–211. ISBN 978-0-140-44794-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  23. ↑ Homeros; Rieu, E.V.; Rieu, D.C.H. (2003). The Odyssey. Penguin. hlm. Buku VI Baris 230–231. ISBN 978-0-140-44911-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  24. ↑ Homeros; Rieu, E.V.; Rieu, D.C.H. (2003). The Odyssey. Penguin. hlm. Buku XVI Baris 175. ISBN 978-0-140-44911-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  25. ↑ Homeros; Rieu, E.V.; Rieu, D.C.H. (2003). The Odyssey. Penguin. hlm. Buku XVIII Baris 66–69. ISBN 978-0-140-44911-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  26. ↑ Apollodoros, Bibliotheca Library 1.9.16 Diarsipkan 31 Desember 2020 di Wayback Machine.
  27. ↑ Gantz, Timothy, Early Greek Myth: A Guide to Literary and Artistic Sources, Baltimore, Johns Hopkins University Press, 1993. ISBN080184410X. hlm. 109.
  28. ↑ Homeros, Odyssey 19.394–398.
  29. ↑ Homeros tidak mencantumkan Laërtes sebagai salah satu Argonaut.
  30. ↑ Skholion pada Aias 190 karya Sofokles, tercantum dalam Karl Kerényi, The Heroes of the Greeks, 1959:77.
  31. ↑ "Dongeng-dongeng itu disebarkan oleh raja-raja yang berkuasa, // dan oleh keturunan Sisifos yang termasyhur karena kelicikannya" (κλέπτουσι μύθους οἱ μεγάλοι βασιλῆς // ἢ τᾶς ἀσώτου Σισυφιδᾶν γενεᾶς): Koor dalam Aias 189–190, diterjemahkan Diarsipkan 18 April 2005 di Wayback Machine. oleh R. C. Trevelyan.
  32. ↑ "Ada ribuan orang, dan Odiseus memimpin mereka." "Putra Sisifos itu?" "Ya, orang yang sama.": Akhilleus dan Klytaimnestra dalam Ifigenia di Aulis, Diarsipkan 19 Agustus 2024 di Wayback Machine.
  33. ↑ "Sebuah cawan minum yang disebut sebagai 'Homeros' menggambarkan dengan cukup jelas Sisifos di kamar tidur putri tuan rumahnya; sang mahapenipu duduk di atas ranjang, sedangkan sang gadis memegang gelendongnya." The Heroes of the Greeks 1959:77.
  34. ↑ "Dijual oleh ayahnya, Sisifos" (οὐδ᾽ οὑμπολητὸς Σισύφου Λαερτίῳ): Filoktetes dalam Filoktetes 417, diterjemahkan Diarsipkan 6 Januari 2011 di Wayback Machine. oleh Thomas Francklin.
  35. 1 2 "Women in Homer's Odyssey". Records.viu.ca. 16 September 1997. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Oktober 2011. Diakses tanggal 25 September 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  36. ↑ Hom. Od. 14.199–200. Dikutip dari Homeros. The Odyssey with an English Translation oleh A.T. Murray, PH.D. dalam dua volume. Cambridge, MA., Harvard University Press; London, William Heinemann, Ltd. 1919.
  37. ↑ Hyginus, Fabulae 95 Diarsipkan 12 Februari 2017 di Wayback Machine. Cf. Apollodorus, Epitome 3.7 Diarsipkan 3 Juli 2007 di Wayback Machine.
  38. ↑ Hyginus, Fabulae 96 Diarsipkan 12 Februari 2017 di Wayback Machine.
  39. ↑ Ilias 2.
  40. ↑ Ilias 9.
  41. ↑ Ilias 7.
  42. ↑ Ilias 10.
  43. ↑ Ilias 19.
  44. ↑ Ilias 23.
  45. ↑ D. Gary Miller (2014 ), Ancient Greek Dialects and Early Authors, De Gruyter ISBN978-1-61451-493-0. hlm. 120–121
  46. ↑ Dokumentasi "Villa romana de Olmeda" Diarsipkan 4 Desember 2016 di Wayback Machine., menampilkan foto keseluruhan mosaik yang berjudul "Aquiles en el gineceo de Licomedes" (Akhilles dalam 'seraglio' Lykomedes).
  47. ↑ Achilleid, buku 1.
  48. ↑ Apollodoros, Epitome 3.8; Hyginus 105.
  49. ↑ Skholion untuk Odisseia 11.547.
  50. ↑ Odisseia 11.543–47.
  51. ↑ Sofokles, Aias 662, 865.
  52. ↑ Apollodoros, Epitome 5.8.
  53. ↑ Lihat, misalnya, Odisseia 8.493; Apollodoros, Epitome 5.14–15.
  54. ↑ Tzetzes, Ad Lycophronem, 658
  55. ↑ "The Departure from Troy and the Raid on the Cicones: the end of all 'hard' work (Book IX)". Greek Mythology Interpretation (dalam bahasa Inggris (Britania)). 25 September 2020. Diakses tanggal 18 Juli 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  56. ↑ Christopoulos, Ménélaos (8 Agustus 2019). "Formes de violence dans le monde d'Ulysse". Dialogues d'histoire ancienne (dalam bahasa Prancis). 451 (1): 13–22. doi:10.3917/dha.451.0013. ISSN 0755-7256.
  57. ↑ "Odysseus | Myth, Significance, Trojan War, & Odyssey | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). 11 Oktober 2025. Diakses tanggal 4 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  58. ↑ Blankenborg, Ronald (2018). "Odysseus' return to a real world". Universitas Radboud Nijmegen.
  59. ↑ Bernard Knox (1996): Introduction to Robert Fagles' translation of The Odyssey, hlm. 55.
  60. ↑ "Odyssey Summaries". people.duke.edu. Diakses tanggal 16 April 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  61. ↑ Bell, Sinclair; Carpino, Alexandra A. (10 Desember 2015). A Companion to the Etruscans. John Wiley & Sons. hlm. 397. ISBN 978-1-118-35495-7. Diakses tanggal 17 November 2025. ...[Kallikrates] juga memberi anak-anaknya nama yang sama dengan tokoh-tokoh yang dekat dengan Odiseus (misalnya Telegonos dan Antikleia) untuk mengesankan bahwa keluarganya merupakan keturunan pahlawan tersebut. Legenda-legenda pendirian kota-kota Yunani Barat dan Italia, yang mengisahkan putra-putra para pahlawan Yunani terkenal sebagai pendirinya, juga banyak ditemukan dalam sastra Yunani dan Romawi.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  62. 1 2 "Zeus in the Odyssey: After the Odyssey". Center for Hellenic Studies in Greece, Harvard University. 2008. Diarsipkan dari asli tanggal 10 Agustus 2024. Diakses tanggal 22 November 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  63. ↑ Odisseia, Buku 16.117 - 16.120
  64. ↑ "Khiliades, 5.23 baris 568–570". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Oktober 2018. Diakses tanggal 29 Oktober 2018.
  65. ↑ "Dionysius of Halicarnassus, Roman Antiquities, 1.72.5". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Juni 2022. Diakses tanggal 20 Februari 2021.
  66. 1 2 Kinaithon dari Sparta, ringkasan Telegonia
  67. ↑ Odisseia, Buku 11.135 - 11.136
  68. ↑ Hyginus, Fabulae 127
  69. ↑ Sommerstein, Alan H., ed. (2009). Aeschylus: Fragments. Loeb Classical Library 505. Cambridge, MA: Harvard University Press. hlm. 272–3. ISBN 978-0-674-99629-8.
  70. ↑ Visser, Edzard (2006). "Cassiphone". Dalam Cancik, Hubert; Schneider, Helmuth (ed.). Brill's New Pauly. Diterjemahkan oleh Christine F. Salazar. Basle: Brill Reference Online. doi:10.1163/1574-9347_bnp_e610200. Diakses tanggal 30 Mei 2024.
  71. ↑ Salazar, Christine (2002–2003). Brill's New Pauly Volume 2. Belanda: Brill Leiden Boston. hlm. 1164. ISBN 9004122656.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  72. ↑ Tzetzes ad Lycophron, 808
  73. 1 2 "Pausanias, Deskripsi Yunani, 8.14.5". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 April 2022. Diakses tanggal 20 Februari 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  74. ↑ "Pausanias, Deskripsi Yunani, 8.14.6". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 April 2022. Diakses tanggal 20 Februari 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  75. ↑ Suda, Telefos
  76. ↑ Servius, Komentar atas Aeneis Vergilius 2.44 Diarsipkan 7 Januari 2023 di Wayback Machine.
  77. ↑ The Roman and Greek Questions, by Plutarch, tr. Frank Cole Babbitt, [1936, di sacred-texts.com, 14]
  78. ↑ The Roman and Greek Questions, by Plutarch, tr. Frank Cole Babbitt, [1936, di sacred-texts.com, 43]
  79. ↑ Dante, Divina Commedia, canto 26: "fatti non-foste a viver come bruti / ma per seguir virtute e conoscenza".
  80. ↑ Magnaghi-Delfino, Paoloa; Norando, Tullia (2015). "The Size and Shape of Dante's Mount Purgatory". Journal of Astronomical History and Heritage. 18 (2): 123–134. doi:10.3724/SP.J.1440-2807.2015.02.02. hdl:11311/964116.
  81. ↑ Landon, Letitia Elizabeth (1836). Fisher's Drawing Room Scrap Book, 1837. Fisher, Son & Co. hlm. 18–19. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Desember 2022. Diakses tanggal 5 Desember 2022.
  82. ↑ Landon, Letitia Elizabeth (1836). Fisher's Drawing Room Scrap Book, 1837. Fisher, Son & Co. hlm. 47–48. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Desember 2022. Diakses tanggal 9 Desember 2022.
  83. ↑ Nordgren, Elisabeth (14 Juli 2004). "Sommarklassiker: Med fokus på det närvarande. Eyvind Johnson: Strändernas svall, Bonniers 2004". Lysmasken (dalam bahasa Swedish). Diarsipkan dari asli tanggal 1 September 2004.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  84. ↑ Yermolenko, Volodymyr (2017). Ловець океану : Історія Одіссея [Ocean Catcher: The Story of Odysseus] (dalam bahasa Ukraina). Lviv: Old Lion Publishing House. hlm. 216. ISBN 9786176793717.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  85. ↑ "Ловець океану Володимир Єрмоленко купити у ВСЛ". Видавництво Старого Лева (dalam bahasa Ukraina). Diakses tanggal 23 Mei 2024.
  86. ↑ Núria Perpinyà (2008): The Crypts of Criticism: Twenty Readings of The Odyssey (Judul asli dalam bahasa Spanyol: Las criptas de la crítica: veinte lecturas de la Odisea, Madrid, Gredos).
  87. ↑ "THE RETURN | Directed by Uberto Pasolini". bleeckerstreetmedia.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 12 Desember 2024.
  88. ↑ Chitwood, Adam (17 Februari 2025). "Matt Damon Is Odysseus in First Look at Christopher Nolan's 'The Odyssey'". TheWrap. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Februari 2025. Diakses tanggal 17 Februari 2025.
  89. ↑ "Ulysses 31 webpage". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 April 2019. Diakses tanggal 21 Juni 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  90. ↑ "Genius Lyrics – Frank Turner, Journey of the Magi". Genius Lyrics. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 April 2021. Diakses tanggal 26 April 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  91. ↑ Rabinowitz, Chloe. "EPIC: THE TROY SAGA Passes 3 Million Streams in First Week of Release". BroadwayWorld (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 November 2024. Diakses tanggal 30 November 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  92. ↑ McKinnon, Madeline. "Music Review: "EPIC: The Musical"". The Spectrum (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 November 2024. Diakses tanggal 30 November 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  93. ↑ "Epic: The Musical – Cast". All Musicals. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Februari 2026. Diakses tanggal 7 April 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  94. ↑ Wendy Doniger (1999). Splitting the difference: gender and myth in ancient Greece and India. University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-15641-5. hlm. 157ff
  95. ↑ Harry Fokkens; et al. (2008). "Bracers or bracelets? About the functionality and meaning of Bell Beaker wrist-guards". Proceedings of the Prehistoric Society. 74. Universitas Leiden. hlm. 122.
  96. ↑ Clark, Raymond J. (1980). "The Returning Husband and the Waiting Wife: Folktale Adaptations in Homer, Tennyson and Pratt". Folklore. 91 (1): 46–62. doi:10.1080/0015587X.1980.9716155. ISSN 0015-587X. JSTOR 1259818.
  97. ↑ Ready, Jonathan L. (2014). "Atu 974 the Homecoming Husband, the Returns of Odysseus, and the End of Odyssey 21". Arethusa. 47 (3): 265–285. ISSN 0004-0975. JSTOR 26314683.
  98. ↑ Shaw, John. "Mythological Aspects of the 'Return Song' Theme and their Counterparts in North-western Europe". Dalam: Nouvelle Mythologie Comparée Diarsipkan 8 Desember 2021 di Wayback Machine. nº. 6 (2021).
  99. ↑ Hansen, William P. Ariadne's Thread: A Guide to International Tales Found in Classical Literature Diarsipkan 26 Maret 2023 di Wayback Machine. Cornell University Press, 2002. hlm. 202–210. ISBN9780801436703.
  100. ↑ Christopher P. Jones (2010). New Heroes in Antiquity: From Achilles to Antinoos. Harvard University Press. hlm. 14. ISBN 978-0674035867.
  101. ↑ Henry George Liddell, Robert Scott, A Greek-English Lexicon, Odusseus
  102. ↑ "Archaeologists Unveil Sanctuary of Odysseus on Ithaca: A Monumental Discovery Rooted in Myth and History". 15 Juni 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Juni 2025. Diakses tanggal 15 Juni 2025.
  103. ↑ "Strabo, Geografi, §17.3.17". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Agustus 2020. Diakses tanggal 20 Februari 2021.
  104. ↑ "Plinius Tua, Sejarah Alam, 3.13, catatan 21". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Januari 2022. Diakses tanggal 13 Januari 2022.
  105. ↑ "Plinius Tua, Sejarah Alam, 3.13". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Januari 2022. Diakses tanggal 13 Januari 2022.
  106. 1 2 "Strabo, Geografi, 3.2.13". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Oktober 2021. Diakses tanggal 12 Februari 2022.
  107. 1 2 "Strabo, Geografi, 3.4.3". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Oktober 2021. Diakses tanggal 12 Februari 2022.
  108. ↑ "Stephanos dari Byzantion, Ethnika, O484.7". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 April 2021. Diakses tanggal 12 Februari 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  109. 1 2 "Dictionary of Greek and Roman Geography (1854), Odysseia". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Februari 2022. Diakses tanggal 12 Februari 2022.
  110. ↑ "Dionysios dari Halikarnassos, Purbakala Romawi, Buku I, 72". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Maret 2021. Diakses tanggal 10 April 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  111. ↑ Solmsen, Friedrich (1986). "Aeneas Founded Rome with Odysseus". Harvard Studies in Classical Philology. 90: 93–110. doi:10.2307/311463. JSTOR 311463. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 April 2022. Diakses tanggal 10 April 2022.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  112. ↑ Tzetzes, Ad Lycophronem, 800
  113. ↑ Tzetzes, Ad Lycophronem, 799
  114. ↑ The Roman and Greek Questions, by Plutarch, tr. Frank Cole Babbitt, [1936, di sacred-texts.com, 48]

Bacaan lebih lanjut

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Odysseus.
Akhaia
Troya

Templat:Karakter pada Odisseia

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan