Kamis, 15 Oktober 2026
22:43 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M

Ubo rampe

Bagikan:
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Februari 2026)

Ubo rampe adalah istilah dalam tradisi Jawa yang merujuk pada seperangkat perlengkapan atau sesaji yang digunakan dalam berbagai upacara adat dan ritual tradisonal. Ubo rampe umumnya disiapkan sebagai simbol doa, ungkapan rasa syukur, serta penghormatan terhadap kekuatan spiritual dan leluhur dalam kepercayaan masyarakat Jawa.

Dalam praktiknya, ubo rampe digunakan dalam beragam kegiatan adat, seperti selametan, mitoni, pernikahan adat, sedekah bumi, hingga ritual tertentu yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia. Setiap unsur dalam Ubo rampe memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan nilai-nilai budaya, spiritual, dan filosofi hidup masyarakat Jawa.

Etimologi

Istilah Ubo rampe berasal dari bahasa Jawa, yang secara umum dimaknai sebagai perlengkapan atau kelengkapan suatu keperluan. Dalam konteks adat, istilah ini mengacu pada rangkaian sesajen yang disusun sesuai dengan ritual yang dilaksanakan.[1]

Fungsi dan Makna

Ubo rampe berfungsi sebagai media simbolik dalam pelaksanaan ritual adat. Sebagai sarana doa dan permohonan keselamatan, ubo rampe juga dimaknai sebagai bentuk pelestarian tradisi leluhur serta wujud hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

Makna ubo rampe dapat berbeda-beda tergantung wilayah dan jenis upacara. Namun secara umum, ubo rampe dipahami sebagai simbol keseimbangan hidup, ketentraman batin, dan rasa syukur atas rezeki yang diterima.

Unsur-unsur Ubo rampe

Beberapa unsur yang umum ditemukan dalam ubo rampe antara lain:

• Ingkung Ayam, yang melambangkan kepasrahan dan doa.

• Nasi Tumpeng, sebagai simbol rasa syukur dan harapan akan kehidupan yang sejahtera.

• Kembang Setaman, yang dimaknai sebagai lambang kesucian dan penghormatan.

• Jajanan pasar, sebagai simbol kebersamaan dan sedekah.

• Air kendi, yang melambangkan kesucian dan sumber kehidupan.

• Kemenyan, yang digunakan sebagai sarana pendukung dalam prosesi ritual.[2]

Komposisi ubo rampe dapat berbeda sesuai dengan adat setempat dan tujuan ritual yang dijalankan.

Pelestarian Tradisi

Hingga kini, ubo rampe masih digunakan oleh sebagian masyarakat Jawa sebagai bagian dari pelaksanaan adat dan tradisi. Praktik ini dipandang sebagai bentuk pelestarian warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun, meskipun dalam beberapa konteks mengalami penyesuaian dengan perkembangan zaman.

Referensi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan