Minggu, 11 Oktober 2026
01:44 WIB
TERKINI
Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober
Tur Agung

Tur Agung

Pengertian Grand Tour

Bagikan:
250px-Batoni_-_Francis_Basset%2C_1st_Baron_de_Dunstanville.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Turis Agung, seperti Francis Basset menjadi akrab dengan barang-barang antik, meskipun altar ini adalah penemuan pelukis Pompeo Batoni, 1778.[butuh rujukan]

Tur Agung adalah kebiasaan tradisional perjalanan Eropa abad ke-17 dan ke-18 yang dilakukan oleh para pemuda kelas atas dengan kekayaan dan kedudukan yang cukup (biasanya disertai oleh pendamping, seperti anggota keluarga) ketika mereka beranjak dewasa (sekitar 21 tahun).

Kebiasaan - yang berkembang dari sekitar 1660 sampai munculnya transportasi kereta api skala besar pada tahun 1840-an dan dikaitkan dengan rencana perjalanan standar - berfungsi sebagai pendidikan ritus peralihan. Meskipun Tur Agung terutama dikaitkan dengan bangsawan Inggris dan tuan tanah yang kaya raya, perjalanan serupa dilakukan oleh para pemuda yang kaya dari negara-negara Eropa Utara Protestan seperti Raja Gustav III dari Swedia yang melakukan Tur Agung pada tahun 1783-84,[1] dan mulai paruh kedua abad ke-18, oleh beberapa orang kaya Amerika Utara dan Selatan.

Pada pertengahan abad ke-18, Tur Agung juga telah menjadi fitur reguler pendidikan bagi para bangsawan di Eropa Tengah meskipun terbatas pada bangsawan dengan gelar yang lebih tinggi. Tradisi Tur Agung mulai menurun ketika antusiasme terhadap budaya neo-klasik berkurang dan dengan munculnya perjalanan menggunakan kereta api dan kapal uap yang dapat diakses - sebuah era ketika Thomas Cook membuat "Tur Cook" pada masa awal munculnya pariwisata.

Catatan kaki

  1. ↑ "Gustav III and the Museum of Antiquities - Kungliga slotten". www.kungligaslotten.se (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2019-06-03. Diakses tanggal 2019-06-03.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan