Senin, 21 September 2026
12:10 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya
Tur Agung

Tur Agung

Pengertian Grand Tour

250px-Batoni_-_Francis_Basset%2C_1st_Baron_de_Dunstanville.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Turis Agung, seperti Francis Basset menjadi akrab dengan barang-barang antik, meskipun altar ini adalah penemuan pelukis Pompeo Batoni, 1778.[butuh rujukan]

Tur Agung adalah kebiasaan tradisional perjalanan Eropa abad ke-17 dan ke-18 yang dilakukan oleh para pemuda kelas atas dengan kekayaan dan kedudukan yang cukup (biasanya disertai oleh pendamping, seperti anggota keluarga) ketika mereka beranjak dewasa (sekitar 21 tahun).

Kebiasaan - yang berkembang dari sekitar 1660 sampai munculnya transportasi kereta api skala besar pada tahun 1840-an dan dikaitkan dengan rencana perjalanan standar - berfungsi sebagai pendidikan ritus peralihan. Meskipun Tur Agung terutama dikaitkan dengan bangsawan Inggris dan tuan tanah yang kaya raya, perjalanan serupa dilakukan oleh para pemuda yang kaya dari negara-negara Eropa Utara Protestan seperti Raja Gustav III dari Swedia yang melakukan Tur Agung pada tahun 1783-84,[1] dan mulai paruh kedua abad ke-18, oleh beberapa orang kaya Amerika Utara dan Selatan.

Pada pertengahan abad ke-18, Tur Agung juga telah menjadi fitur reguler pendidikan bagi para bangsawan di Eropa Tengah meskipun terbatas pada bangsawan dengan gelar yang lebih tinggi. Tradisi Tur Agung mulai menurun ketika antusiasme terhadap budaya neo-klasik berkurang dan dengan munculnya perjalanan menggunakan kereta api dan kapal uap yang dapat diakses - sebuah era ketika Thomas Cook membuat "Tur Cook" pada masa awal munculnya pariwisata.

Catatan kaki

  1. "Gustav III and the Museum of Antiquities - Kungliga slotten". www.kungligaslotten.se (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2019-06-03. Diakses tanggal 2019-06-03.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan