Tunipallangga | |
|---|---|
| I Manriogau Daeng Bonto Lakiung | |
| Lahir | I Manriogau Daeng Bonto Lakiung |
| Meninggal | 1565 M Kerajaan Gowa |
Penyebab kematian | Gangguan makan |
| Kewarganegaraan | Kerajaan Gowa |
| Pekerjaan | Raja Gowa |
| Masa aktif | 1546-1565 M |
| Era | Kerajaan suku Makassar di Sulawesi Selatan |
| Gelar | Karaeng Bonto Lakiung |
| Pendahulu | Tumapa'risi' Kallonna |
| Penerus | I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data |
| Gerakan | Makkanama nu mammio (aku bertitah, kamu patuhi) |
| Anak | Karaeng Bone (putri), Karaeng Bili Tangngayya (putri) |
| Ayah | Tumapa'risi' Kallonna |
| Keluarga | I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data (adik) |
Tunipallangga adalah Raja Gowa ke-10 yang memerintah Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo sejak tahun 1546 M hingga 1565 M. Ia merupakan anak dari Raja Gowa ke-9 yaitu Tumapa'risi' Kallonna. Pada masa pemerintahannya, pusat pemerintahan dan istana Kerajaan Gowa dipindahkan dari Bukit Tamalate ke Somba Opu. Tunipallangga memperluas wilayah Kerajaan Gowa hingga ke bagian utara wilayah Sulawesi Selatan dan menaklukkan seluruh kerajaan yang tergabung dalam Konfederasi Ajatappareng dan Konfederasi Tellu Limpoe. Tunipallangga meneruskan kegiatan pembangunan benteng di wilayah Kerajaan Gowa untuk mempertahankan wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa.
Tunipallangga menerapkan kebijakan perdagangan maritim yang disebut makkanama nu mammio (aku bertitah dan kamu taati) bagi kerajaan taklukannya. Kebijakan ini membuat bandar niaga Somba Opu mengalami kemajuan pesat karena para pedagang mulai berdatangan untuk berdagang di Kerajaan Gowa. Pada masa Tunipallangga, masyarakat Kerajaan Gowa mulai memiliki pekerjaan khusus yang bersifat ahli berkaitan dengan kegiatan ekonomi.
Selama masa pemerintahan Tunipallangga, penduduk asli dari suku Makassar di Kerajaan Gowa hidup pada permukiman yang terpisah dengan penduduk pendatang dari suku Melayu. Sementara itu, permukiman penduduk dari wilayah taklukan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo pada masa pemerintahan Tunipallangga didirikan di dua pelabuhan yaitu Pelabuhan Somba Opu dan Pelabuhan Tallo. Kedua permukiman terpisah tersebut lama-kelamaan menyatu dan menjadi cikal bakal terbentuknya Kota Makassar.
Silsilah dan keluarga
Tunipallangga dilahirkan dengan nama I Manriogau Daeng Bonto Lakiung.[1] Nama ayahnya ialah Tumapa'risi' Kallonna. Ayah Tunipallangga merupakan Raja Gowa ke-9 yang memerintah sejak tahun 1510 Masehi hingga tahun 1546 Masehi.[2] Ayahnya juga merupakan pemersatu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo pada tahun 1528 melalui sumpah penghentian perang sekaligus sumpah penyatuan kedua kerajaan.[2][3] Tumapa'risi' Kallonna menjadi raja untuk Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo dengan Raja Tallo sebagai mangkubumi Kerajaan Gowa. Kedudukan ini berlanjut untuk raja-raja setelahnya termasuk pada masa pemerintahan Tunipallangga.[4]
Ayah Tunipallangga yaitu Tumapa'risi' Kallonna diperkirakan berasal dari keturunan keluarga Kerajaan Bantaeng dari jalur silsilah ibunya atau istrinya. Dugaan tersebut berasal dari sejarah penaklukan Kerajaan Gowa terhadap kerajaan-kerajaan di pesisir selatan wilayah Sulawesi Selatan. Dalam penaklukan oleh Tumapa'risi' Kallonna dan Tunipallangga, Kerajaan Bantaeng tidak pernah dinyatakan sebagai kerajaan taklukan maupun kerajaan sahabat bagi Kerajaan Gowa.[5]
Tunipallangga memiliki seorang anak perempuan yang menjadi salah satu istri dari I Mangngarai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa yang berstatus sebagai Raja Tallo. Nama putrinya ialah Karaeng Bone. Pernikahan antara Karaeng Bone dan Karaeng Bontolangkasa menghubungkan silsilah kekeluargaan antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.[6]
Tunipallangga juga memiliki seorang putri bernama I Daeng Takammoe Karaeng Bili Tangngayya. I Daeng Takammoe menjadi istri dari I Pasiri' Daeng Mangasi Karaeng Labbua Tali Bannangna yang berstatus sebagai Raja Bangkala ke-3 untuk Kerajaan Bangkala yang pernah berkuasa di wilayah Kabupaten Jeneponto. Dari pernikahan putrinya, Tunallangga memiliki seorang cucu bernama I Mannyarang.[7]
Masa pemerintahan
Pusat pemerintahan
Ketika Tumapa'risi' Kallonna meninggal, Tunipallangga sebagai anaknya menggantikan posisinya sebagai Raja Gowa.[8] Tunipallangga memerintah sebagai Raja Gowa ke-10 bagi Kerajaan Gowa.[9] Pelantikannya sebagai Raja Gowa ke-10 dilakukan oleh Bate Salapang.[10] Sebagai Raja Gowa ke-10, Tunipallangga diberi gelar Daeng Bonto Karaeng Lakiung.[2] Ia memulai masa pemerintahannya sejak tahun 1546 Masehi hingga tahun 1565 Masehi.[11] Pusat pemerintahan Kerajaan Gowa pada masa pemerintahannya terletak di Somba Opu yang merupakan pusat pemerintahan bersama bagi Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo sebagai satu kekuasaan politik dan ekonomi.[12] Istana Kerajaan Gowa yang awalnya terletak di Bukit Tamalate tidak lagi digunakan dan istana yang baru didirikan di Somba Opu. Nama istana Kerajaan Gowa yang baru ialah Maccini Sombala.[13]
Perluasan wilayah kekuasaan
Rencana dan persiapan penaklukan
Pada masa pemerintahannya, Tunipallangga meneruskan rencana perluasan wilayah Kerajaan Gowa yang telah dirintis oleh Tumaparrisi’ Kallonna.[13] Tunipallangga memiliki keberanian dan menerapkan kebijaksanaan dalam melakukan perang penaklukan.[14] Proses penaklukan yang dilakukan oleh Tunipallangga dirancang secara sistematis dan terencana.[13] Penaklukan yang diadakan oleh Tunipallangga sebagai Raja Gowa dibantu oleh I Mappasomba I Daeng Uraga yang merupakan sepupu dari Raja Tallo pada masa kekuasaan Tunipallangga. I Mappasomba I Daeng berstatus sebagai raja bagi Kerajaan Marusu ketika Tunipallangga mengadakan penaklukan atas daerah-daerah di sekitarnya.[15]
Tunipallangga mengadakan penaklukan di wilayah-wilayah bagian utara Sulawesi Selatan yang secara umum merupakan wilayah kekuasaan kerajaan dari suku Bugis, suku Mandar dan suku Toraja. Penaklukan atas wilayah utara Sulawesi Selatan dilakukan oleh Tunipallangga untuk memperluas wilayah pertanian dan komoditas dari alam untuk memperkuat kegiatan perdagangan dan pelayaran di Somba Opu.[16] Dalam upaya penaklukan, Tunipallangga mengutamakan penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan pesisir yang menjadi pesaing Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo dalam perdagangan maritim.[17]
Pasukan Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Tunipallangga dibagi-bagi dengan masing-masing seorang pimpinan tertinggi sebagai pemimpinnya. Pemimpin tertinggi dalam Pasukan Kerajaan Gowa disebut Anrong Guru. Selain pasukan biasa, Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Tunipallangga membentuk pasukan istimewa yang terdiri dari putra raja dan putra-putra dari keluarga bangsawan Kerajaan Gowa. Pimpinan tertinggi pasukan istimewa Kerajaan Gowa disebut Karaeng Tumakkajannangngang.[18]
Penaklukan Konfederasi Ajatappareng
Dua kerajaan di wilayah Konfederasi Ajatappareng telah ditaklukkan sejak masa Raja Gowa ke-9 yaitu Tumapa'risi' Kallonna. Keduanya ialah Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Karena itu, Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang membantu penaklukan Kerajaan Gowa selama masa pemerintahan Tunipallangga.[19] Selain itu, Tunipallangga menaklukkan Kerajaan Bacukiki.[20] Sejak dasawarsa 1550-an, Tunipallangga telah memperluas pengaruh kekuasaan Kerajaan Gowa ke Kerajaan Bacukiki, Kerajaan Alitta, Kerajaan Sawitto dan Kerajaan Sidenreng.[20]
Pada tahun 1552, Kerajaan Gowa menaklukkan Kerajaan Suppa dan Kerajaan Sawitto.[21] Pada masa pemerintahan Tunipallangga, Kedatuan Suppa dan Kerajaan Sawitto merupakan pusat perdagangan maritim di kawasan selat Makassar bagi Konfederasi Ajatappareng.[22] Alasan penaklukan Kerajaan Suppa dan Kerajaan Sawitto ada dua yaitu penolakan La Makkawari sebagai Datu Suppa dalam menerima lamaran dari putra Tunipallangga untuk putrinya yang bernama We Lampeweluwa. Penolakan ini karena La Paleteang selaku Addatuang Sawitto juga melamar We Lampeweluwa untuk anaknya yaitu La Cella Mata. Lamaran La Cella Mata diterima karena adanya hubungan saudara beda ibu antara La Makkawari dan La Paleteang.[23] Alasan kedua ialah Kerajaan Gowa menganggap Kedatuan Suppa dan Kerajaan Sawitto sebagai pesaing bagi perdagangan maritim Kerajaan Gowa. Kedatuan Suppa dan Kerajaan Sawitto saat itu memiliki sawah yang luas dan dimukimi oleh para pedagang suku Melayu.[24]
Penaklukan Kerajaan Sawitto oleh Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Tunipallangga juga didasari oleh hubungan baik Kerajaan Sawitto dengan Kedatuan Luwu. Penyerangan terhadap Kerajaan Sawitto dilakukan oleh Kerajaan Gowa secara besar-besaran akibat dari kemarahan Tunipallangga terhadap Kerajaan Luwu. Kerajaan Sawitto merupakan penghasil pasokan beras untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan bagi rakyat Kerajaan Luwu selama tujuh tahun masa kekeringan. Karena itu, Kerajaan Luwu menyatakan bahwa gelar Sombaya tidak sepatutnya diberikan kepada Tunipallangga sebagai Raja Gowa tetapi lebih layak diberikan kepada La Cella Mata sebagai Raja Sawitto ke-5. Pernyataan tersebut dinyatakan oleh Payungnge ri Luwu. Pasukan Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Tunipallangga akhirnya menyerang istana Raja Sawitto dan menguasai wilayah Kerajaan Sawitto sebagai taklukan Kerajaan Gowa dan menetapkan We Passulle sebagai Raja Sawitto ke-6 menggantikan La Cella Mata.[25] Sedangkan Kedatuan Suppa ditaklukkan oleh Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan We Lampeweluwa.[26] Setelah penaklukan seluruh wilayah Konfederasi Ajatappareng, Tunipallangga menetapkan putrinya yang bernama We Tosappai sebagai Datu Suppa dan menikahkannya dengan La Pattiroi yang merupakan Addatuang Sidenreng. Pernikahan ini memperkuat pengaruh kekuasaan Kerajaan Gowa atas seluruh wilayah Ajatappareng.[19]
Penaklukan Konfederasi Tellu Limpoe
Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang menaklukkan wilayah Kerajaan Otting, Kerajaan Bulucenrana dan Kerajaan Wajo sebagai taklukan Kerajaan Gowa.[19] Tunipallangga sebagai Raja Gowa juga memperluas wilayah Kerajaan Gowa hingga ke sebagian wilayah Bulukumba. Kerajaan Gowa pada masa pemerintahannya berhasil menguasai wilayah Palioi, Gantarang, Ujungloe Ujung Loe, Panynyikkokang, Wero, Kajang, hingga Bira.[27] Tunipallangga juga menjadikan Kerajaan Tiro dan Kerajaan Bira sebagai palili Kerajaan Gowa.[28]
Politik perluasan wilayah kekuasaan yang diadakan oleh Kerajaan Gowa ditentang oleh Kerajaan Bone sebagai salah satu kerajaan tetangga Kerajaan Gowa yang saling bersaing dalam memperluas wilayah kekuasaan masing-masing.[29] Kerajaan Gowa dalam masa pemerintahan Tunipallangga terus melakukan penyerangan terhadap wilayah Kerajaan Bone yang merupakan salah satu kerajaan terkuat dari kalangan suku Bugis.[30] Namun peperangan selama enam tahun lebih tujuh bulan oleh Kerajaan Gowa dalam masa pemerintahan Tunipallangga tidak dapat menaklukkan Kerajaan Bone.[31]
Pada tahun 1561 M, Latenrirawe Bongkange selaku Raja Bone mengusulkan pembentukan Konfederasi Tellu Limpoe melalui Perjanjian Topekkong.[32] Konfederasi Tellu Limpoe terdiri dari tiga kerajaan yaitu Kerajaan Lamatti, Kerajaan Tondong dan Kerajaan Bulo-Bulo.[33] Sebelum pembentukan Konfederasi Tellu Limpoe, kerajaan-kerajaan yang tergabung di dalamnya telah menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Bone.[34] Tujuan pembentukan Konfederasi Tellu Limpoe untuk mencegah penaklukan daerah SInjai oleh Kerajaan Gowa pada masa kekuasaan Tunipallangga.[35]
Tunipallangga mengadakan penaklukan daerah Sinjai dengan dibantu oleh La Pakkoko Topabbele selaku Arung Matowa Wajo ke-10 dan oleh La Mungkace Toudama selaku panglima perang Kerajaan Wajo. Di sisi lain, pasukan perlawanan dari Konfederasi Tellu Limpoe terbagi tiga dan dipimpin oleh masing-masing raja dari Kerajaan Lamatti, Kerajaan Tondong dan Kerajaan Bulo-Bulo. Pasukan Kerajaan Lamatti dipimpin oleh Lamapadering sealku Raja Lamatti ke-5. Pasukan Kerajaan Tondong dipimpin oleh Lottong Daeng Marumpa selaku Raja Tondong ke-7. Sedangkan pasukan Kerajaan Bulo-Bulo dipimpin oleh Lamappasokok selaku Raja Bulo-Bulo ke-6. Namun perlawanan pasukan Konfederasi Tellu Limpoe berhasil dikalahkan oleh pasukan Kerajaan Gowa.[36]
Pada Februari 1564, Konfederasi Tellu Limpoe dibentuk kembali oleh Kerajaan Tondong, Kerajaan Bulo-Bulo dan Kerajaan Lamatti melalui Perjanjian Topekkong. Pembentukan ulang Konfederasi Tellu Limpoe menandakan bahwa wilayah Konfederasi Tellu Limpoe telah menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Gowa.[29] Pada tahun 1565 M, Kerajaan Gowa sepenuhnya mengakhiri persaingan dengan Kerajaan Bone dalam hal perluasan wilayah kekuasaan di wilayah Konfederasi Tellu Limpoe dengan mengadakan Perjanjian Caleppa. Isi Perjanjian Caleppa menyatakan bahwa sungai Tangka yang berada di daerah Sinjai atau di wilayah Konfederasi Tellu Limpoe menjadi batas wilayah kekuasaan antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Seluruh wilayah di selatan sungai Tangka menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa dan seluruh wilayah di utara sungai Tangka menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Bone.[37] Perjanjian Caleppa secara de facto menjadikan wilayah Konfederasi Tellu Limpoe sebagai wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa dengan status negeri bawahan (palili).[38] Selain itu, isi Perjanjian Caleppa menjadi penanda batas terluas wilayah Kerajaan Gowa selama masa pemerintahan Tunipallangga yaitu hingga ke bagian selatan sungai Tangka.[39]
Penaklukan lain dan masa akhir penaklukan

Selain kerajaan-kerajaan di wilayah Sulawesi Selatan, Kerajaan Gowa dalam masa pemerintahan Tunipallangga menaklukkan kerajaan-kerajaan di daerah Mandar. Kekuasaan Kerajaan Gowa di daerah Mandar meliputi daerah Bungka, Mapilli, Poda-poda dan Campalagian. Daerah lain di luar Sulawesi Selatan yang ditaklukkan oleh Kerajaan Gowa dalam masa pemerintahan Tunipallangga ialah Kerajaan Toli-Toli dan Kerajaan Kaili.[40]
Tunipallangga merupakan Raja Gowa yang paling banyak menaklukkan kerajaan-kerajaan di dataran Sulawesi Selatan melalui perang.[41] Selama masa pemerintahan Tunipallangga, Kerajaan Gowa berhasil menaklukkan sebanyak 48 kerajaan lain di sekitarnya. Kerajaan-kerajaan yang ditaklukkan merupakan kerajaan-kerajaan yang didirikan oleh suku Makassar maupun suku Bugis. Penaklukan Kerajaan Gowa atas kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya merupakan penaklukan paling sukses yang pernah terjadi dalam sejarah Kerajaan Gowa.[42] Kerajaan Bone menjadi satu-satunya kerajaan di wilayah Sulawesi Selatan yang tidak berhasil ditaklukkan melalui peperangan oleh Kerajaan Gowa selama masa pemerintahan Tunipallangga.[13]
Pembentukan jabatan-jabatan pemerintahan
Meluasnya wilayah Kerajaan Gowa dengan kondisi masyarakat yang komplek pada masa pemerintahan Tunipallangga, membuat dibentuknya jabatan-jabatan baru dalam pemerintahan Kerajaan Gowa yaitu Tumabicara Butta, Tumailalang dan Sabannara.[43] Tumabicara Butta merupakan jabatan yang berperan sebagai pendamping Raja Gowa sekaligus perwakilannya dalam pengambilan keputusan atas kepentingan Raja Gowa dan rakyat Kerajaan Gowa.[44] Jabatan Tumailalang merupakan jabatan yang setara dengan menteri urusan dalam negeri. Pejabat pertamanya bernama Daeng Pamatte.[45] Sedangkan Sabannara adalah jabatan yang mengerjakan tugas-tugas syahbandar.[43] Jabatan ini dibentuk bersamaan dengan pendirian Kesyahbandaran Somba Opu dengan pejabat pertamanya yaitu Karaeng Mangewai.[45] Ketika masa Tunipallangga, bandar Somba Opu merupakan bandar perdagangan yang pertama didirikan dan menjadi satu-satunya bandar perdagangan bagi Kerajaan Gowa.[22]
Pertahanan atas wilayah kekuasaan
Pada tahun 1548 M, Tunipallangga memperbaiki teknologi pembangunan benteng pertahanan yang dibuat pada masa pemerintahan ayahnya selama proses perluasan wilayah Kerajaan Gowa. Sejak masa pemerintahan Tunipallangga, penggunaan tanah liat sebagai bahan bangunan pembuatan dinding benteng pertahanan diganti dengan penggunaan batu bata.[43][10] Penggunaan batu bata menggantikan tanah liat pada dua benteng pertahanan yaitu Benteng Somba Opu dan Benteng Kale Gowa yang merupakan istana bagi Kerajaan Gowa pada masa Tunipallangga.[46]
Setelah merombak benteng-benteng yang telah ada, Tunipallangga meneruskan kegiatan pembangunan benteng di wilayah Kerajaan Gowa yang sebelumnya dirintis oleh ayahnya yaitu Tumapa'risi’ Kallonna. Pembangunan benteng-benteng baru di wilayah Kerajaan Gowa dilakukan untuk digunakan sebagai infrastuktur pendukung ekonomi dan politik monarki Kerajaan Gowa. Selain itu, benteng-benteng baru dibangun sebagai infrastuktur pertahanan dari serangan-serangan saingan politik Kerajaan Gowa di wilayah Sulawesi Selatan.[16]
Pembangunan benteng-benteng menggunakan tenaga kerja dari wilayah taklukan Kerajaan Gowa terutama dari Kerajaan Suppa, Kerajaan Sawitto, dan Kerajaan Bacukiki.[47] Benteng-benteng pertahanan yang selesai dibangun pada masa pemerintahan Tunipallangga ialah Benteng Tallo, Benteng Ujung Tana, Benteng Ujung Pandang, Benteng Mariso, Benteng Panakkukang, Benteng Garassi, Benteng Barombong dan Benteng Galesong.[48]
Hubungan baik dengan suku Melayu membuat kemampuan militer dari pasukan Kerajaan Gowa pada masa Tunipallangga mengalami peningkatan. Para pakar militer dari suku Melayu di Kerajaan Gowa melatih para prajurit Kerajaan Gowa dalam pembuatan dan penggunaan senjata. Para prajurit Kerajaan Gowa dilatih menjadi tukang potong dan poles untuk membuat senjata berupa sumpit dan mesiu.[49] Tunipallangga juga merintis penggunaan meriam secara berbaris pada benteng-benteng berukuran besar di Kerajaan Gowa.[50]
Penduduk dan permukiman
Setelah Kesultanan Melaka ditaklukkan oleh Imperium Portugis pada tahun 1511, para pedagang muslim dari suku Melayu mengungsi ke pelabuhan-pelabuhan pesisir di wilayah Nusantara.[51] Keruntuhan Kesultanan Malaka membuat para pedagang dari suku Melayu akhirnya mulai berpindah tempat berdagang ke wilayah bagian selatan dari Pulau Sulawesi termasuk ke wilayah Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.[52] Salah satu tujuan pengungsian suku Melayu ialah Kota Somba Opu yang merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa. Keberadaan suku Melayu di Pelabuhan Somba Opu berlangsung pula pada masa pemerintahan Tunipallangga sejak tahun 1561 M.[51]
Tunipallangga menetapkan kebijakan bersifat terbuka terhadap para pedagang pendatang suku Melayu di wilayah kekuasaannya.[45] Karena itu, penduduk asli dari suku Makassar di wilayah Kerajaan Gowa maupun penduduk pendatang dari suku Melayu dapat mendirikan permukiman di Kerajaan Gowa.[53] Pada masa pemerintahan Tunipallangga, pedagang muslim pendatang dari suku Melayu mengawali pembentukan perkampungan muslim di Kerajaan Gowa. Para pedagang muslim dari suku Melayu berasal dari Kerajaan Champa, Kerajaan Pattani, Kesultanan Johor dan dari wilayah Minangkabau.[54] Kedatangan pedagang muslim suku Melayu dari wilayah Minangkabau, Pahang, Pattani dan Johor ke Kerajaan Gowa dipimpin oleh Nakhoda Bonang.[55] Dalam Lontara' Bilang, dinyatakan bahwa Nakhoda Bonang merupakan seorang dari suku Jawa.[56]
Lokasi permukiman antara suku Makassar dan suku Melayu di Kerajaan Gowa dibuat terpisah.[53] Tunipallangga mengizinkan para pedagang dari suku Melayu untuk mendirikan perkampungan di Mangallekana dalam wilayah Somba Opu untuk didirikan sebagai permukiman khusus bagi para pendatang dari suku Melayu.[57][45][58] Mangallekana merupakan sebuah wilayah di bagian muara sungai Jeneberang pada bagian utara Somba Opu.[59] Pemisahan permukiman suku Melayu merupakan hasil perjanjian antara Tunipallangga selaku Raja Gowa dengan Nakhoda Bonang sebagai perwakilan permukiman suku Melayu di Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Pihak Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo hanya menetapkan satu orang syahbandar untuk mengurusi permukiman dan para pedagang suku Melayu di wilayah kekuasaannya. Pengurusan ini juga disertai dengan penunjukan seorang penerjemah untuk menerjemahkan bahasa Melayu dalam penulisan administrasi keuangan untuk keperluan perdagangan.[53]
Sementara itu, permukiman penduduk dari wilayah taklukan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo pada masa pemerintahan Tunipallangga didirikan di dua pelabuhan yaitu Pelabuhan Somba Opu dan Pelabuhan Tallo.[17] Para rakyat dari kerajaan taklukan Kerajaan Gowa pada pemerintahan Tunipallangga ditawan untuk dipekerjakan secara paksa dalam pembuatan batu bata dalam pembangunan istana Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.[41]
Kedua permukiman terpisah terbentuk di Pelabuhan Somba Opu dan Pelabuhan Tallo. Namun lama-kelamaan jumlah permukiman bertambah dan membentuk jejeran permukiman yang memanjang dari selatan ke utara pada kawasan pesisir Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Permukiman bagian selatan dimulai dari muara sungai Jeneberang dan berjejer hingga ke permukiman bagian utara di muara sungai Bira. Permukiman-permukiman di kawasan pesisir Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo ini yang kemudian menjadi cikal bakal pembentukan Kota Makassar.[60]
Perekonomian
Perdagangan maritim
Pada masa pemerintahan Tunipallangga, didirikan sebuah kota pelabuhan bernama Somba Opu yang menjadi pusat perdagangan di Kerajaan Gowa. Pendirian Somba Opu mengubah Kerajaan Gowa dari sebuah kerajaan yang mengutamakan pertanian, menjadi kerajaan yang mengutamakan perdagangan maritim.[61] Tunipallangga menerapkan kebijakan perdagangan yang disebut makkanama nu mammio yang berarti aku bertitah dan kamu patuhi.[62] Pemberlakuan kebijakan tersebut diterapkan secara paksa atas wilayah kerajaan-kerajaan taklukan Kerajaan Gowa yang ditandai dengan pernyataan ikrar.[63] Dalam kebijakan ini, barang-barang maupun pekerja dari wilayah kerajaan taklukan dipindahkan ke bandar niaga Somba Opu yang berada dalam kekuasaan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.[64][17]
Kebijakan makkanama nu mammio membuat bandar niaga di kerajaan-kerajaan lain pada wilayah Sulawesi Selatan tidak mengalami perkembangan. Sebaliknya, bandar niaga Somba Opu mengalami kemajuan pesat karena para pedagang mulai berdatangan untuk mengadakan kegiatan perdagangan [17] Pada paruh kedua abad ke-16 Masehi, bandar Tallo dan bandar Somba Opu menjadi satu-satunya bandar pelabuhan di pesisir barat pada bagian semenanjung selatan Sulawesi.[65]
Tunipallangga melanjutkan pembolehan kedatangan para pedagang muslim untuk berdagang di pelabuhan milik Kerajaan Gowa. Kedatangan para padegang muslim ke wilayah Kerajaan Gowa telah berlangsung sejak awal abad ke-16 M akibat penaklukan Kesultanan Melaka oleh Portugis. Kedatangan para pedagang muslim meningkatkan jumlah bea cukai yang diperoleh Kerajaan Gowa sebagai biaya berlabuh di pelabuhan.[66]
Di sisi lain, Kerajaan Gowa dalam masa pemerintahan Tunipallangga juga mengizinkan orang Portugis untuk mendirikan loji di wilayahnya. Penduduk Kerajaan Gowa membeli kain yang diperoleh para pedagang Portugis dari wilayah Benggala.[67] Selain itu, penduduk Kerajaan Gowa juga membeli kain sutra dan emas yang dibeli oleh para pedagang Portugis dari Tiongkok. Barang-barang tersebut kemudian dijual secara lokal di sekitar wilayah Kerajaan Gowa dan kepulauan di sekitarnya. Sementara itu, para pedagang Portugis di Kerajaan Gowa membeli barang-barang yang berasal dari Kepulauan Maluku, Pulau Ambon, dan Kalimantan. Barang yang dibeli antara lain sandal kayu, lilin, kulit kura-kura, dan bezoar.[67]
Pelayaran penduduk lokal
Setelah kedatangan para pedagang suku Melayu di Kerajaan Gowa pada masa Tunipallangga, para pedagang Kerajaan Gowa juga mulai mengadakan kegiatan pelayaran untuk perdagangan ke arah timur. Sebelum masa Tunipallangga, para pedagang Kerajaan Gowa hanya mengadakan perdagangan dengan berlayar ke arah barat, yaitu ke Kalimantan, Pulau Jawa, Melaka, Pahang dan Siam. Produk yang dijual berupa beras putih dan emas. Pada masa Tunipallangga, pedagang dari Kerajaan Gowa mulai berdagang rempah-rempah ke Maluku bersama pedagang dari suku Melayu.[68]
Pertukangan
Tunipallangga sebagai Raja Gowa juga meningkatkan kemampuan rakyatnya dalam pertukangan. Ia mendirikan tempat peleburan besi serta tempat pembuatan meriam dan bedil. Para pekerja di kedua tempat tersebut diperkirakan dikirim belajar kepada orang Portugis untuk menguasai keahlian dalam pertukangan.[69] Selain itu, Tunipallangga memanfaatkan hubungan baik dengan suku Melayu di Kerajaan Gowa untuk meningkatkan keterampilan masyarakatnya dalam bidang teknologi dan pembangunan.[70] Salah satu produk manufaktur yang pertama kali dibuat di wilayah Kerajaan Gowa pada masa Tunipallangga yaitu batu bata.[71]
Pada masa Tunipallangga, masyarakat Kerajaan Gowa mulai memiliki pekerjaan khusus yang berkaitan dengan ekonomi.[43] Di Kerajaan Gowa pada masa Tunipallangga telah ada pekerjaan sebagai pandai emas, pandai besi, pembuat perahu, juru bangunan, pembuat benteng dan pembuat timbangan.[49] Selain itu, terdapat para pengrajin kapal di Kerajaan Gowa yang bekerja dalam pembuatan kapal dan pembuatan tali.[43]
Setiap keahlian dalam bidang teknologi memiliki jabatan tersendiri dan kedudukannya dinamakan Anrong Guru.[49] Seorang pejabat yang disebut jannang juga dilantik oleh Tunipallangga sebagai pemimpin dalam setiap pekerjaan yang bersifat profesional di Kerajaan Gowa. Beberapa pekerjaan yang memiliki jannang ialah tukang besi, tukang emas, arsitek rumah, ahli perahu, ahli penombak, ahli senjata tiup, ahli penembak, ahli pemotongan besi, ahli pengukir dan ahli pembuat tali.[45]
Keagamaan
Pada masa pemerintahan Tunipallangga, wilayah Kerajaan Gowa belum mengalami islamisasi. Namun Tunipallangga menjalin hubungan baik dengan komunitas muslim yang menjadi penduduk pendatang di wilayah Kerajaan Gowa.[72] Dalam naskah Pattorioloanga ri Togowaya yang merupakan salah satu Lontara Gowa, dijelaskan bahwa penerimaan Islam telah dimulai pada masyarakat Kerajaan Gowa setelah kedatangan seorang utusan dari Dunia Melayu asal suku Jawa bernama Nakhoda Bonang untuk menemui Tunipallangga. Selama pertemuan, Nakhoda Bonang memberikan hadiah khas suku Melayu kepada Tunipallangga sekaligus mengajukan permintaan berupa pemberian hak kawasan bagi suku Melayu di wilayah yang kini termasuk wilayah Kota Makassar.[73] Tunipallangga membolehkan suku Melayu mengadakan penyebaran agama Islam sambil berdagang di wilayah Kerajaan Gowa.[74]
Kematian
Tunipallangga berkuasa sebagai Raja Gowa selama 19 tahun.[75] Masa kekuasaannya berakhir setelah ia menderita sakit dan meninggal. Tunipallangga mengalami sakit setelah dirinya kembali dari ekspedisi penaklukan Kerajaan Bone yang berakhir dengan kegagalan.[76] Penyakit yang dialami oleh Tunipallangga ialah tidak dapat menelan makanan. Setelah Karaeng Tumenanga ri Makkoayang selaku Raja Tallo ke-4 sekaligus mangkubumi Kerajaan Gowa mengetahui kondisi penyakit Tunipallangga semakin parah, ia meminta Tunipallangga untuk kembali ke wilayah Kerajaan Gowa. Tunipallangga yang sedang berada di Benteng Papolong memenuhi permintaan tersebut dan kembali ke wilayah Kerajaan Gowa. Setelah 48 malam berada di wilayah Kerajaan Gowa, Tunipallangga meninggal. Ia meninggal dalam usia 54 tahun.[31] Jenazah Tunipallangga dikuburkan di wilayah Kerajaan Gowa.[77] Penggantinya sebagai Raja Gowa ialah I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data.[78] I Tajibarani merupakan adik dari Tunipallangga.[76]
Peninggalan bersejarah
Benteng Somba Opu
Benteng Somba Opu terletak di Jalan Daeng Tata dalam wilayah Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa. Pembangunan Benteng Somba Opu dimulai sejak masa Raja Gowa ke-9 yaitu Tumapakrisi' Kallonna. Namun penguatan struktur Benteng Somba Opu dilakukan oleh Tunipallangga pada tahun 1545 dengan statusnya sebagai anggota keluarga Kerajaan Gowa.[79] Tunipallangga menggunakan batu bata untuk menguatkan struktur Benteng Somba Opu.[80] Batu bata merupakan salah satu jenis barang yang pertama kali dibuat di wilayah Kerajaan Gowa dengan Tunipallangga sebagai raja pertama yang merintis pembuatannya.[71]
Bagian dalam Benteng Somba Opu berfungsi sebagai tempat tinggal bagi kerabat dan abdi raja Kerajaan Gowa.[79] Pada tahun 1669 M, Belanda menghacurkan Benteng Somba Opu setelah menaklukkan Kerajaan Gowa pada tahun 1667 M.[81] Fungsi Benteng Somba Opu kini berubah dari benteng menjadi museum daengan hak kepemilikan dan pengelolaan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Gowa. Di dalam Benteng Somba Opu kini terdapat berbagai rumah tradisional dari suku-suku di Sulawesi Selatan yaitu suku Luwu, suku Toraja, suku Bugis, dan suku Makassar. Rumah tradisional di dalam Benteng Somba Opu diamerkan sebagai koleksi museum.[79]
Benteng Ujung Pandang
Pada tahun 1550 M, Tunipallangga membangun benteng dengan dinding tanah bernama Benteng Ujung Pandang. Namun dinding tanah pada Benteng Ujung Pandang telah digantikan dengan batu bata selama pembangunan ulang pada tahun 1634.[82] Pembangunan ulang dilakukan dalam masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 yaitu I Mangerangi Daeng Manrabia yang bergelar Sultan Alauddin. Kini Benteng Ujung Pandang dijadikan sebagai lokasi bagi Museum La Galigo sekaligus Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) Makassar.[83]
Lontara' Alloping-loping
Lontara' Alloping-loping (Kitab Hukum Pelayaran) disusun oleh Amana Gappa selama masa pemerintahan Tunipallangga. Amana Gappa adalah syahbandar ketiga bagi Kerajaan Gowa. Penulisan Lontara' Alloping-loping dipengaruhi oleh peraturan kelautan dari suku Melayu dan suku Bugis.[84]
Referensi
Catatan kaki
- ↑ Abu Hamid (Januari 2005). Syekh Yusuf Makassar, Seorang Ulama, Sufi, dan Pejuang. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. hlm. 19. ISBN 979-461-175-1.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 3 Bahri (Agustus 2015). "Perebutan Tahta di Sulawesi Selatan". Sulawesi Selatan Tempo Doeloe: Mozaik Sejarah Lokal (PDF). Makassar: Rayhan Intermedia. hlm. 35. ISBN 978-602-95545-6-4.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Sirajuddin 2010, hlm. 2.
- ↑ Sirajuddin 2010, hlm. 3.
- ↑ Mahmud, M. I., dkk. (Desember 2007). Akhmar, Andi M. (ed.). Bantaeng: Masa Prasejarah ke Masa Islam (PDF). Mala: Masagena Press. hlm. 135. ISBN 978-979-97977-9-7.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Manan, Abdul (September 2019). Pengadilan Agama: Cagar Budaya Nusantara Memperkuat NKRI (PDF). Jakarta: Prenadamedia Group. hlm. 143. ISBN 978-623-218-237-0.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ridho, Muhammad Akil (2021). Andriany (ed.). "Potensi dan Sebaran Cagar Budaya di WIlayah Adat Toddo Limayya ri Marusu Kabupaten Maros" (PDF). Buletin Somba Opu. 24 (28). Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan: 47. ISSN 1411-2930.
- ↑ Cummings, William (ed.). A Chain of Kings: The Makassarese chronicles of Gowa and Talloq (PDF) (dalam bahasa Inggris). Leiden: KITLV Press. hlm. 33. ISBN 978-90-67182-87-7.
{{cite book}}: Periksa nilai|isbn=: checksumPemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Sewang, Ahmad M. (April 2005). Islamisasi Kerajaan Gowa Abad XVI sampai Abad XVII. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. hlm. 1. ISBN 979-461-530-7.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Hadrawi 2021, hlm. 48.
- ↑ Cummings, William (25 Mei 2025). "Biblical Traces in a Muslim Chronicle from Makasar, Indonesia". Archipel: Études interdisciplinaires sur le monde insulindien (dalam bahasa Inggris) (109). Association Archipel: 269. doi:10.4000/144xn. ISBN 978-2-910513-97-9. ISSN 0044-8613.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link) - ↑ Hadrawi 2021, hlm. 34.
- 1 2 3 4 Hadrawi 2020, hlm. 133.
- ↑ Departemen Penerangan (1959). Republik Indonesia: Propinsi Sumatera Utara. Kementerian Penerangan. hlm. 589.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|lay-url=diabaikanPemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan (1986). Laporan Pengumpulan Data Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Kabupaten Maros. Maros: Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan. hlm. 51.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|lay-url=diabaikanPemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 Hadrawi 2021, hlm. 35.
- 1 2 3 4 Amir 2013, hlm. 109.
- ↑ Sagimun 1992, hlm. 26.
- 1 2 3 Amir 2013, hlm. 117.
- 1 2 Amir 2013, hlm. 87.
- ↑ Amir 2013, hlm. 114.
- 1 2 Hasaruddin 2021, hlm. 4.
- ↑ Amir 2013, hlm. 111-113.
- ↑ Amir 2013, hlm. 115-116.
- ↑ Hafid, Rosdiana (2012). KIla, Syahrir (ed.). Toponimi Daerah Pinrang sebagai Sumber Sejarah (PDF). Makassar: De La Macca. hlm. 58. ISBN 978-979-3897-52-3.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Amir 2013, hlm. 113.
- ↑ Nasruddin, dkk. 2016, hlm. 142.
- ↑ Rahayu, Sri (Maret 2023). Hanapi, A. Rahmat (ed.). 30 Cerita Rakyat Indonesia tentang Asal-usul Penamaan Suatu Daerah di Indonesia (PDF). Solok: Penerbit PT Mafy Media Literasi Indonesia. hlm. 57. ISBN 978-623-09-2643-3.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 Sritimuryati 2016, hlm. 64.
- ↑ Hadrawi 2020, hlm. 91.
- 1 2 Sagimun 1992, hlm. 29.
- ↑ Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (1985). Peristiwa tahun-tahun bersejarah daerah Sulawesi Selatan dari abad ke XIV s/d XIX. Ujung Pandang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Sulawesi Selatan. hlm. 27.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Sritimuryati 2016, hlm. 7.
- ↑ Sritimuryati 2016, hlm. 115-116.
- ↑ Sritimuryati 2016, hlm. 115.
- ↑ Sritimuryati 2016, hlm. 61-62.
- ↑ Sritimuryati 2016, hlm. 64-65.
- ↑ Sritimuryati 2016, hlm. 65.
- ↑ Nasruddin, dkk. 2016, hlm. 142-143.
- ↑ Sagimun 1992, hlm. 23.
- 1 2 Hadrawi 2021, hlm. 36.
- ↑ Kramadibrata, Dewaki, ed. (September 2017). Aksara, Naskah, dan Budaya Nusantara. Tangerang: Indigo Media. hlm. 168. ISBN 978-602-74720-6-8.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 Effendy, Muslimin A.R. Dari Kale Gowa ke Somba Opu: Merajut Simpul-simpul Pertahanan Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan (PDF). Makassar: Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar. hlm. 5.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Paeni, M., dkk. (Juni 1984). Sejarah Sosial Daerah Sulawesi Selatan: Mobilitas Sosial Kota Makassar 1900 - 1950 (PDF). Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. hlm. 72.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 3 4 5 Hadrawi 2021, hlm. 37.
- ↑ Hadrawi 2021, hlm. 51.
- ↑ Sagimun 1992, hlm. 25.
- ↑ Syarifuddin, Tika, Z., dan Nasuhan, N. (2007). Rakyat Gowa Menentang Penjajah. Pustaka Refleksi. hlm. 6.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|lay-url=diabaikanPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 3 Hadrawi 2020, hlm. 87.
- ↑ Sagimun 1992, hlm. 24.
- 1 2 Ahmadin (Januari 2024). "Chapter 3 - Become Makassar: History of Ethnic Arrival". Dalam Masruroh, Aas (ed.). Sociologizing Urban Space: Makassar in the Colonial and Post-Colonial Period (PDF) (dalam bahasa Inggris). Bandung: Widina Media Utama. hlm. 51. ISBN 978-623-500-033-6.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Bowring, Philip (Maret 2022). Primanda, Andya (ed.). Nusantaria: Sejarah Asia Tenggara Maritim [Empire of the Winds] (dalam bahasa Inggris). Diterjemahkan oleh Prasetyo, Febri Ady. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 248. ISBN 978-602-481-802-9.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 3 Reid, Anthony (2011). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 2: Jaringan Perdagangan Global [Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680]. Diterjemahkan oleh Leirissa, R. Z., dan Soemitro, P. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 151. ISBN 978-979-461-330-6.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penerjemah (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Murniah, Dad (2010). Ayam Jantan dari Timur (PDF). Jakarta: Pusat Bahasa. hlm. 44. ISBN 978-979-069-045-5.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Jamil, M. Mukhsin (Februari 2020). Spiritualisasi Budaya: Intelektualisme dan Jalan Moderasi Ulama Nusantara (PDF). Semarang: Southeast Asian Publishing. hlm. 43–44. ISBN 978-623-96405-3-8.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Sila, Muhammad Adlin (2015). Maudu': A Way of Union with God (dalam bahasa Inggris). Acton: ANU Press. hlm. 28. ISBN 978-1-9250-2271-1.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Mattulada (2011). Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak. hlm. 35. ISBN 978-602-8335-72-X.
{{cite book}}: Periksa nilai|isbn=: karakter tidak validPemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Razaq, Abdur Rahim (Maret 2024). Qadhi Sidenreng (PDF). Sukabumi: Penerbit Haura Utama. hlm. 18. ISBN 978-623-492-821-1.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Supriyanto, dkk. (Februari 2018). Islam dan Kearifan Lokal: Ekspresi Keberagaman di Asia Tenggara. Sleman: Deepublish. hlm. 315. ISBN 978-602-401-867-2.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Amir 2013, hlm. 109-110.
- ↑ Hasaruddin 2021, hlm. 126.
- ↑ Putrohari, dkk. 2015, hlm. 282.
- ↑ Poelinggomang, Edward L. (September 2016). Udiani, Christina M. (ed.). Makassar Abad XIX: Studi tentang Kebijakan Perdagangan Maritim. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 21. ISBN 978-602-424-164-3.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Surya, B., dan Taibe, P. (Desember 2022). Sobirin (ed.). Transormasi Spasial dan Perubahan Sosial Komunitas Lokal: Perspektif Dinamika Pembangunan Kawasan Kota Baru. Makassar: Chakti Pustaka Indonesia. hlm. 76. ISBN 978-623-09-1002-9.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Putrohari, dkk. 2015, hlm. 275.
- ↑ Mukhlis P., dkk. (1995). R.Z. Leirissa (ed.). Sejarah Kebudayaan Sulawesi (PDF). Jakarta: Proyek lnventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. hlm. 89.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 Agussalim (September 2017). Prasejarah-Kemerdekaan di Sulawesi Selatan. Sleman: Deepublish. hlm. 51. ISBN 978-602-401-358-5.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Putrohari, dkk. 2015, hlm. 283.
- ↑ Departemen Penerangan (1953). Propinsi Sulawesi. Kementerian Penerangan. hlm. 589.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|lay-url=diabaikanPemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Hadrawi 2020, hlm. 86-87.
- 1 2 Reid, Anthony (Februari 2014). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Tanah di Bawah Angin [Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680]. Diterjemahkan oleh Pabotingi, Mochtar. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 156. ISBN 978-979-461-108-1.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Hasram, Khaidir (Maret 2020). Birokratisasi Islam di Indonesia: Meninjau Ulang Hubungan Negara dan Minoritas Muslim (PDF). Kabupaten Cirebon: Penerbit Nusa Litera Inspirasi. hlm. 89–90. ISBN 978-623-7276-71-5.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Jaffar, Hilful Fudhul Sirajuddin (Oktober 2020). Fakih, Muhammad Ali (ed.). Jaringan Ulama dan Islamisasi Indonesia Timur: Peta dan Jejak Islam di Nusantara. Yogyakarta: IRCiSoD. hlm. 31. ISBN 978-623-7378-80-8.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Hadrawi 2020, hlm. 134.
- ↑ Amin, Kasma F. (2017). Para Tawanan Perang: Kisah Syekh Yusuf Al-Makasari dan Arung Palakka. Makassar: Celebes Media Perkasa. hlm. 96. ISBN 978-602-609-925-9.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|lay-url=diabaikanPemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 Amir, Amrullah (November 2020). "Wabah dalam Perang Makassar". Dalam Sutrisno, R. M., Suyono, S. J., dan Muhtarom, I. (ed.). Bhūmiśodhana: Ekologi dan Bencana dalam Refleksi Kebudayaan Nusantara (Sebuah Bunga Rampai Tulisan) (PDF). Borobudur Writers and Cultural Festival 2020 & CV. Sulur Pustaka. hlm. 249. ISBN 978-623-6791-08-0.
{{cite book}}: line feed karakter dalam|title=pada posisi 70Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Usmar, A., dan Mattalitti, M. A. (1981). Bunga Rampai Sastra Bugis: Bacaan Sejarah Sulawesi Selatan. Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah. hlm. 124.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Murtadho, Ahmad Ali, ed. (April 2020). Bedag Bedug Penguasa: Antologi Literasi Sejarah Indonesia. Guepedia. hlm. 56. ISBN 978-623-7953-26-5.
{{cite book}}:|first=tidak memiliki|last=Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Doe, John (2018). Hermanto, Unggul (ed.). Toraja: Guide the Magnificient Sight and Attraction of the Sacred Highlands (PDF) (dalam bahasa Inggris). Tana Toraja: Toraja DMO. hlm. 201. ISBN 978-3-9523834-3-8.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Mannan, Syahrawi (November 2014). Effendy, Muslimin A. R. (ed.). Zonasi Benteng Somba Opu (PDF). Makassar: Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar. hlm. 6.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Balai Arkeologi Yogyakarta (September 2014). Benteng Dulu, Kini dan Esok (PDF). Kepel Press: Kepel Press. hlm. 190. ISBN 978-602-1228-65-4.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Caldwell, I., dan Volkman, T. A., ed. (1990). Sulawesi: Island Crossroads of Indonesia (dalam bahasa Inggris). Passport Books. hlm. 68. ISBN 978-0-8442-9906-8.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Wulandari, T., dkk. (2005). Lawatan Sejarah Tingkat Nasional Ketiga: Makassar-Selayar (PDF). Jakarta: Asisten Deputi Urusan Sejarah Nasional. hlm. 12.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Hadrawi 2020, hlm. 27.
Daftar pustaka
- Amir, Muhammad (2013). Abdul Latif (ed.). Konfederasi Ajatappareng: Kajian Sejarah Persekutuan Antarkerajaan di Sulawesi Selatan Abad ke-16 (PDF). Makassar: Balai Pelestarian Nilai Budaya & Penerbit De La Macca. ISBN 978-602-263-038-8.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - Hadrawi, Muhlis (2020). Integrasi Melayu di Sulawesi Selatan: Kajian Berdasarkan Lontara (PDF) (dalam bahasa Melayu). Jakarta: Perpusnas Press. ISBN 978-623-31305-3-0.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|lay-url=diabaikanPemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - Hadrawi, Muhlis (2021). Sumantri, Iwan (ed.). Fort Rotterdam: Benteng di Simpang Masa (PDF). Makassar: Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan. hlm. 33–78. ISBN 978-623-99092-0-8.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - Hasaruddin (2021). Yani, A. (ed.). Menyusuri Jejak Historis Kedatuan Sawitto di Pesisir Barat Jazirah Sulawesi Abad XVI-XVII (PDF). Gowa: Alauddin University Press. ISBN 978-602-328-400-9.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - Nasruddin, dkk. (2016). Sejarah dan Budaya Lokal: Dari Sulawesi sampai Bima (PDF). Makassar: Gunadarma Ilmu. ISBN 978-602-1347-45-4.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|lay-url=diabaikanPemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - Putrohari, R. D., dkk. Abdullah, T., dan Paeni, M. (ed.). Diaspora Melanesia di Nusantara (PDF). Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya. ISBN 978-602-1289-19-8.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - Sagimun M.D. (1992). Benteng Ujung Pandang (PDF). Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|lay-url=diabaikanPemeliharaan CS1: Status URL (link) - Sirajuddin, Ilham Arief (November 2010). Patarai, M. I., dan Dwidjowijoto, R. N. (ed.). Kota Dunia Makassar dan Kota-kota Lain: Sebuah Telaah (PDF). Makassar: De La Macca. ISBN 978-979-3897-35-6.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Sritimuryati (Mei 2016). Kila, Syahrir (ed.). Islamisasi di Sinjai (PDF). Makassar: Pustaka Sawerigading & Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar. ISBN 978-602-9248-37-1.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)