Senin, 12 Oktober 2026
01:21 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka

Tu quoque

Bagikan:

Tu quoque (/tjuːˈkwoʊkwiː/, juga dibaca /tuːˈkwoʊkweɪ/;[1] dalam bahasa Latin berarti "kamu juga") adalah kesesatan logika tidak resmi yang dilakukan untuk mendiskreditkan argumen lawan dengan menegaskan bahwa ia telah gagal bertindak sesuai dengan apa yang ia sampaikan.

Kesesatan Tu quoque mengikuti pola berikut:

  1. A membuat klaim X.
  2. B menyatakan bahwa tindakan atau masa lalu A tidak sejalan dengan X.
  3. Maka X salah.[2]

Contohnya adalah

Joko: "Menurut saya, membunuh hewan untuk dimakan atau untuk membuat pakaian itu salah."
Hesti: "Tapi kamu memakai jaket kulit dan kamu memegang roti daging di tanganmu! Bagaimana mungkin kamu bisa berkata bahwa membunuh hewan untuk dimakan dan membuat pakaian itu salah?"[2]

Contoh lain di panggung perpolitikan internasional adalah negara A telah melakukan kejahatan perang, lalu ketika negara B mengkritiknya negara A akan mengatakan bahwa negara B juga pernah melakukan hal yang sama 50 tahun yang lalu.

Tu quoque dianggap sebagai kesesatan karena karakter moral atau tindakan masa lalu lawan tidak relevan dengan logika suatu argumentasi.[3] Taktik ini sering digunakan sebagai "hering merah" untuk mengalihkan subjek perbincangan dan juga dapat dianggap sebagai kesesatan ad hominem karena malah menyerang orangnya daripada isi argumennya.[4]

Catatan kaki

  1. ↑ "tu quoque, n." Oxford English Dictionary. Oxford University Press. 2012. Diakses tanggal 24 April 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 "Fallacy: Ad Hominem Tu Quoque". Nizkor project. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-09-12. Diakses tanggal 24 November 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Bluedorn, Nathaniel (2002). The Fallacy Detective. hlm. 54. ISBN 0-9745315-0-2.
  4. ↑ "Logical Fallacy: Tu Quoque". Fallacyfiles.org. Diakses tanggal 2014-06-17.

Bacaan lanjut

Wiktionary logo
Lihat entri tu quoque di kamus bebas Wikikamus.

Pranala luar

Ikon rintisan

Artikel bertopik filsafat ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan