Senin, 28 September 2026
09:44 WIB
TERKINI
Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID

Tri tangtu

Tri Tangtu (aksara Sunda: ᮒᮢᮤ ᮒᮀᮒᮥ) adalah cara berpikir masyarakat tradisional Sunda. Tri tangtu berasal dari bahasa Sunda, di mana kata tri atau tilu yang artinya tiga dan tangtu yang artinya pasti atau tentu.[1] Masyarakat tradisional Sunda memaknai tri tangtu sebagai falsafah hidup yang berpedoman pada tiga hal yang pasti yakni; Batara Tunggal yang terdiri dari Batara Keresa, Batara Kawasa dan Batara Bima Karana.[1] Cara berpikir dalam pola pembagian tiga adalah umum untuk masyarakat Indonesia,karena orang Indonesia hidup dalam pertanian ladang.[2] Dalam pandangan hidup orang Sunda, ditegaskan bahwa orang Sunda tidak mengandalkan keyakinan hidupnya itu pada kekuatan diri sendiri saja, melainkan pada kuasa yang lebih besar, pengguasa tertinggi, sumber dan tujuan dari segalanya, yang disebut dengan berbagai nama, antara lain Gusti Nu Murbeng Alam.[3]

Tri Tangtu dalam sistem pemerintahan Sunda

Menurut Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Tri Tangtu di Buana merupakan konsep yang berkaitan dengan tata pemerintahan dan kehidupan masyarakat Sunda. Konsep tersebut terdiri atas tiga unsur utama, yaitu Sang Prabu, Sang Rama, dan Sang Resi.[4]

Dalam konsep ini, Sang Prabu dilambangkan sebagai Wisnu dan berperan sebagai pemimpin pemerintahan. Sang Rama dilambangkan sebagai Brahma dan mewakili kelompok masyarakat yang dituakan serta berfungsi sebagai perwakilan rakyat. Adapun Sang Resi dilambangkan sebagai Iswara dan berperan sebagai kelompok cendekiawan, pendidik, dan pemuka agama yang bertugas memberikan tuntunan kepada masyarakat.[4]

Ketiga unsur tersebut dipandang saling melengkapi dalam mewujudkan keselarasan kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan pemerintahan. Konsep ini juga dikaitkan dengan nilai adil palamarta, bener, dan daulat yang menjadi landasan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.[4]

Sang Prabu

Sang Prabu merupakan unsur yang menjalankan pemerintahan. Dalam konteks ini, Sang Prabu dipahami sebagai pemimpin formal yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pemerintahan, birokrasi, serta pengambilan kebijakan. Karakter yang harus dimiliki Sang Prabu digambarkan sebagai ngagurat batu, yaitu berpegang teguh pada aturan dan hukum.[4] Seorang pemimpin dituntut untuk menjalankan hukum agama, hukum nurani, hukum adat, dan hukum positif secara konsisten. Kepatuhan terhadap aturan tersebut diyakini dapat membawa masyarakat pada kehidupan yang tertib dan terarah.

Sang Rama

Sang Rama merupakan kelompok masyarakat yang dituakan dan berfungsi sebagai perwakilan masyarakat. Unsur ini mencakup keluarga serta para tokoh masyarakat. Dalam konsep Tri Tangtu, keluarga dipandang sebagai unit dasar yang menentukan kekuatan dan kesejahteraan masyarakat. Watak Sang Rama digambarkan sebagai ngagurat lemah, yaitu kemampuan menentukan dan menjaga keselarasan dalam kehidupan bersama.[4] Peran Sang Rama berkaitan dengan upaya mewujudkan kehidupan keluarga dan masyarakat yang harmonis.

Sang Resi

Sang Resi merupakan kelompok yang berperan dalam bidang keagamaan, pendidikan, dan pengetahuan. Kelompok ini terdiri atas kalangan intelektual, cendekiawan, ulama, pendidik, dan pengajar.[4] Watak Sang Resi digambarkan sebagai ngagurat cai, yang mencerminkan sikap menyejukkan dan kemampuan memberikan tuntunan bagi masyarakat.[4] Tugas utamanya adalah membimbing serta mengarahkan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik dan sejahtera, baik secara lahir maupun batin.

Penerapan

Dalam masyarakat Sunda,tri tangtu diterapkan dalam sejumlah hal, antara lain:

  • Senjata kujang, yang mempunyai tiga fungsi sekaligus yakni; pukul, potong, dan tusuk
  • Kujang sebagai pusaka, memiliki makna tritangtu:
    • a. Buana luhur, buana panca tengah, buana handap (larang)
    • b. Ratu, Rama, Resi
    • c. hirup, rasa, adeg
    • d. Gusti, manusa, alam
  • Kampung Sunda, yakni pemilik, pelaksana, dan penjaga.
  • Rumah adat Sunda yang terdiri dari ruang tengah, ruang belakang, dan ruang depan, dan strukturnya terdiri atas Suhunan (atap / buana luhur, imah (rumah) /buana tengah, dan ), kolong (ruang kosong di bawah rumah/buana handap)
  • Boboko atau wadah nasi yang dibuat dari jalinan bambu yang memilki tiga bentuk yakni bundar, segi delapan, dan bujur sangkar.
  • Aseupan, - segitiga dari atas ke bawah, dan seeng - segitiga dari bawah ke atas (hirup-hurip, hirup patunjang-tunjang)
  • iket / totopong Sunda

Pemikiran

Tri tangtu juga diterapkan dalam pemikiran masyarakat tradisional Sunda, antara lain:

  • Silih asah, silih asuh, silih asih, dengan menggunakan silih wangi
  • Tekad, ucap, lampah
  • Naluri, nurani, nalar
  • Leuweung larangan, leuweung tutupan, dan leuweung garapan.
  • Dunia atas, dunia bawah, dan dunia tengah
  • Langit pemberi hujan, tanah yang menumbuhkan tanaman dan manusia yang memungkinkan itu, dengan mengawinkan langit dan bumi.

Geografis

Tri tangtu dalam wilayah geografis orang Sunda juga terdiri dari tiga aspek.

Referensi

  1. 1 2 Jakob Sumardjo (2010). Estetika Paradoks. Bandung: Sunan Ambu Press. hlm. 58, 369. ISBN 978-979-8967-27-6.
  2. ↑ Aminudin TH. Siregar (2010). Modern Miring. Bandung: 567 Bandung. hlm. 41.{{cite book}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |1=
  3. ↑ Thomas Maman Suharman (2005). Melintas Jurnal Filsafat dan Teologi. Bandung: 75 Bandung. hlm. 41. ISSN 0852-0089.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 Darwis, Riadi (2020). Khazanah Kuliner Kabuyutan Galuh Klasik. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Press. hlm. 656. ISBN 978-623-7776-67-7.{{cite book}}: Periksa nilai |isbn=: checksum
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan