Kamis, 22 Oktober 2026
02:43 WIB
TERKINI
Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama

Tri tangtu

Bagikan:

Tri Tangtu (aksara Sunda: ᮒᮢᮤ ᮒᮀᮒᮥ) adalah cara berpikir masyarakat tradisional Sunda. Tri tangtu berasal dari bahasa Sunda, di mana kata tri atau tilu yang artinya tiga dan tangtu yang artinya pasti atau tentu.[1] Masyarakat tradisional Sunda memaknai tri tangtu sebagai falsafah hidup yang berpedoman pada tiga hal yang pasti yakni; Batara Tunggal yang terdiri dari Batara Keresa, Batara Kawasa dan Batara Bima Karana.[1] Cara berpikir dalam pola pembagian tiga adalah umum untuk masyarakat Indonesia,karena orang Indonesia hidup dalam pertanian ladang.[2] Dalam pandangan hidup orang Sunda, ditegaskan bahwa orang Sunda tidak mengandalkan keyakinan hidupnya itu pada kekuatan diri sendiri saja, melainkan pada kuasa yang lebih besar, pengguasa tertinggi, sumber dan tujuan dari segalanya, yang disebut dengan berbagai nama, antara lain Gusti Nu Murbeng Alam.[3]

Tri Tangtu dalam sistem pemerintahan Sunda

Menurut Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Tri Tangtu di Buana merupakan konsep yang berkaitan dengan tata pemerintahan dan kehidupan masyarakat Sunda. Konsep tersebut terdiri atas tiga unsur utama, yaitu Sang Prabu, Sang Rama, dan Sang Resi.[4]

Dalam konsep ini, Sang Prabu dilambangkan sebagai Wisnu dan berperan sebagai pemimpin pemerintahan. Sang Rama dilambangkan sebagai Brahma dan mewakili kelompok masyarakat yang dituakan serta berfungsi sebagai perwakilan rakyat. Adapun Sang Resi dilambangkan sebagai Iswara dan berperan sebagai kelompok cendekiawan, pendidik, dan pemuka agama yang bertugas memberikan tuntunan kepada masyarakat.[4]

Ketiga unsur tersebut dipandang saling melengkapi dalam mewujudkan keselarasan kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan pemerintahan. Konsep ini juga dikaitkan dengan nilai adil palamarta, bener, dan daulat yang menjadi landasan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.[4]

Sang Prabu

Sang Prabu merupakan unsur yang menjalankan pemerintahan. Dalam konteks ini, Sang Prabu dipahami sebagai pemimpin formal yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pemerintahan, birokrasi, serta pengambilan kebijakan. Karakter yang harus dimiliki Sang Prabu digambarkan sebagai ngagurat batu, yaitu berpegang teguh pada aturan dan hukum.[4] Seorang pemimpin dituntut untuk menjalankan hukum agama, hukum nurani, hukum adat, dan hukum positif secara konsisten. Kepatuhan terhadap aturan tersebut diyakini dapat membawa masyarakat pada kehidupan yang tertib dan terarah.

Sang Rama

Sang Rama merupakan kelompok masyarakat yang dituakan dan berfungsi sebagai perwakilan masyarakat. Unsur ini mencakup keluarga serta para tokoh masyarakat. Dalam konsep Tri Tangtu, keluarga dipandang sebagai unit dasar yang menentukan kekuatan dan kesejahteraan masyarakat. Watak Sang Rama digambarkan sebagai ngagurat lemah, yaitu kemampuan menentukan dan menjaga keselarasan dalam kehidupan bersama.[4] Peran Sang Rama berkaitan dengan upaya mewujudkan kehidupan keluarga dan masyarakat yang harmonis.

Sang Resi

Sang Resi merupakan kelompok yang berperan dalam bidang keagamaan, pendidikan, dan pengetahuan. Kelompok ini terdiri atas kalangan intelektual, cendekiawan, ulama, pendidik, dan pengajar.[4] Watak Sang Resi digambarkan sebagai ngagurat cai, yang mencerminkan sikap menyejukkan dan kemampuan memberikan tuntunan bagi masyarakat.[4] Tugas utamanya adalah membimbing serta mengarahkan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik dan sejahtera, baik secara lahir maupun batin.

Penerapan

Dalam masyarakat Sunda,tri tangtu diterapkan dalam sejumlah hal, antara lain:

  • Senjata kujang, yang mempunyai tiga fungsi sekaligus yakni; pukul, potong, dan tusuk
  • Kujang sebagai pusaka, memiliki makna tritangtu:
    • a. Buana luhur, buana panca tengah, buana handap (larang)
    • b. Ratu, Rama, Resi
    • c. hirup, rasa, adeg
    • d. Gusti, manusa, alam
  • Kampung Sunda, yakni pemilik, pelaksana, dan penjaga.
  • Rumah adat Sunda yang terdiri dari ruang tengah, ruang belakang, dan ruang depan, dan strukturnya terdiri atas Suhunan (atap / buana luhur, imah (rumah) /buana tengah, dan ), kolong (ruang kosong di bawah rumah/buana handap)
  • Boboko atau wadah nasi yang dibuat dari jalinan bambu yang memilki tiga bentuk yakni bundar, segi delapan, dan bujur sangkar.
  • Aseupan, - segitiga dari atas ke bawah, dan seeng - segitiga dari bawah ke atas (hirup-hurip, hirup patunjang-tunjang)
  • iket / totopong Sunda

Pemikiran

Tri tangtu juga diterapkan dalam pemikiran masyarakat tradisional Sunda, antara lain:

  • Silih asah, silih asuh, silih asih, dengan menggunakan silih wangi
  • Tekad, ucap, lampah
  • Naluri, nurani, nalar
  • Leuweung larangan, leuweung tutupan, dan leuweung garapan.
  • Dunia atas, dunia bawah, dan dunia tengah
  • Langit pemberi hujan, tanah yang menumbuhkan tanaman dan manusia yang memungkinkan itu, dengan mengawinkan langit dan bumi.

Geografis

Tri tangtu dalam wilayah geografis orang Sunda juga terdiri dari tiga aspek.

Referensi

  1. 1 2 Jakob Sumardjo (2010). Estetika Paradoks. Bandung: Sunan Ambu Press. hlm. 58, 369. ISBN 978-979-8967-27-6.
  2. ↑ Aminudin TH. Siregar (2010). Modern Miring. Bandung: 567 Bandung. hlm. 41.{{cite book}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |1=
  3. ↑ Thomas Maman Suharman (2005). Melintas Jurnal Filsafat dan Teologi. Bandung: 75 Bandung. hlm. 41. ISSN 0852-0089.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 Darwis, Riadi (2020). Khazanah Kuliner Kabuyutan Galuh Klasik. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Press. hlm. 656. ISBN 978-623-7776-67-7.{{cite book}}: Periksa nilai |isbn=: checksum
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan