Selasa, 03 November 2026
23:51 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare

Tradisi Smong

Bagikan:

Semong (Bahasa Simeulue: Smong) adalah tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun sejak tsunami besar tahun 1907. Melalui nyanyian, cerita rakyat, hingga syair nandong, masyarakat Simeulue belajar mengenali tanda-tanda alam sebelum tsunami yakni air laut surut drastis, gempa kuat, dan perilaku hewan. Anak-anak diajarkan sejak dini bahwa jika fenomena itu terjadi, mereka harus segera berlari ke tempat yang lebih tinggi.[1]

Smong merupakan salah satu kearifan lokal Aceh, khususnya bagi masyarakat Simeulue yang tinggal di daerah pesisir. Istilah ini digunakan sebagai sistem peringatan dini terhadap ancaman bencana tsunami yang berpotensi terjadi di wilayah tersebut. Kata smong berasal dari bahasa Simeulue, dari dialek Devayan, yang berarti hempasan gelombang air laut. Istilah ini sudah akrab di telinga masyarakat Simeulue sejak lebih dari seratus tahun lalu.[2][3]

Asal usul Smong

Kemunculan smong berawal dari bencana tsunami yang terjadi di pesisir Pulau Simeulue pada tahun 1907 silam. Kala itu ombak besar menghantam pesisir-pesisir pulau Simeulue terutama di Kecamatan Teupah Barat. Tsunami dengan magnitude 7,6 tersebut menjadi mimpi buruk sekaligus pelajaran berharga bagi masyarakat Simeulue. Ribuan nyawa melayang, rumah dan surau hancur, serta harta benda pun lenyap. Jejak bencana itu masih terlihat pada sebuah kuburan yang terletak di pelataran masjid Desa Salur, Kecamatan Teupah Barat. Oleh para tetua dan tokoh adat, kisah smong itu pun diceritakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi melalui nafi-nafi. Nafi sendiri merupakan budaya lokal masyarakat Simeulue berupa adat tutur atau cerita yang berisi nasihat dan petuah kehidupan, tak terkecuali smong.[2][4]

Cerita smong disampaikan kepada generasi muda dalam berbagai kesempatan. Misalnya, saat memanen cengkeh, setelah mengaji, juga di malam hari sebagai pengantar tidur buah hati. Harapannya, kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tragedi serupa tidak terulang lagi. Di era sekarang, smong tidak hanya diceritakan melalui nafi-nafi. Para tetua dan tokoh adat menyampaikan nafi-nafi kepada kaum muda untuk menjadi pelajaran. Mereka juga menceritakan kisah tersebut melalui nanga-nanga dan kesenian Nandong. Kisah itu pun disenandungkan melalui lagu dan puisi, salah satunya yang diciptakan oleh Muhammad Riswan alias Moris, salah satu tokoh adat sekaligus pemerhati budaya Simeulue.[2][4]

Syair tentang Smong

Berikut bunyi bait syair lagu karya Moris yang bercerita tentang Smong:[4]

Enggel mon sao curito
Inang maso semonan
Manoknop sao fano
Uwi lah da sesewan
Unen ne alek linon
Fesang bakat ne mali
Manoknop sao hampong
Tibo-tibo mawi
Anga linon ne mali
Uwek suruik sahuli
Maheya mihawali
Fano me singa tenggi
Ede smong kahanne
Turiang da nenekta
Miredem teher ere
Pesan dan navi da

dengarlah sebuah cerita
pada zaman dahulu
tenggelam satu desa
begitulah mereka ceritakan
diawali oleh gempa
disusul ombak yang besar sekali
tenggelam seluruh negeri
tiba-tiba saja
jika gempanya kuat
disusul air yang surut
segeralah cari
tempat kalian yang lebih tinggi
itulah smong namanya
sejarah nenek moyang kita
ingatlah ini betul-betul
pesan dan nasihatnya

Peran Smong pada tsunami Aceh 2004

Ketika gempa 26 Desember 2004 mengguncang Aceh, penduduk Simeulue yang sudah dibekali pengetahuan Smong segera berlari ke perbukitan. Hasilnya, meski pulau itu berada dekat episentrum, korban jiwa hanya ratusan dibandingkan ratusan ribu di Banda Aceh dan wilayah pesisir lain.[1]

Smong sebagai warisan budaya

Secara antropologis, Smong bukan sekadar pengetahuan praktis, tetapi juga warisan budaya yang memperkuat identitas Simeulue. Melalui nandong, masyarakat tidak hanya mengingat bencana, tetapi juga merayakan ketahanan kolektif mereka. Smong menjadi simbol solidaritas dan gotong royong dalam menghadapi krisis.[1]

Seiring perkembangan teknologi, Smong juga mengalami transformasi. Smong mulai diadaptasi ke dalam bentuk media digital seperti film pendek, komik, hingga konten media sosial. Bahkan, ada penelitian terbaru yang mendokumentasikan penggunaan Smong dalam musik populer dan seni kontemporer. Namun, modernisasi ini membawa tantangan tersendiri, proses adaptasi kearifan lokal ke dalam format baru dapat berisiko mengurangi nilai substantifnya. Oleh karena itu, perlu ada keseimbangan antara menjaga autentisitas pesan Smong dengan menyesuaikannya untuk generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi digital.[1]

Rujukan

  1. 1 2 3 4 "Kearifan Lokal Simeulue sebagai Warisan Budaya Mitigasi Tsunami". Portal Literasi Sejarah Bencana (dalam bahasa Inggris). 2025-09-08. Diakses tanggal 2025-11-12.
  2. 1 2 3 "Mengenal Smong, Kearifan Lokal yang Jadi Mitigasi Bencana di Aceh". kumparan. Diakses tanggal 2025-11-12.
  3. ↑ Aminah, Afiqa Aulia; Apriliya, Seni; Setiadi, Pidi Mohammad (2025-07-31). "SMONG: SASTRA LOKAL SEBAGAI STRATEGI MITIGASI BENCANA BERBASIS BUDAYA". Taroa: Jurnal Pengabdian Masyarakat (dalam bahasa Inggris). 4 (2): 208–217. doi:10.52266/taroa.v4i2.4362. ISSN 2828-3600.
  4. 1 2 3 Perhubungan, PPID (2020-02-07). "Smong, Kearifan Lokal untuk Mitigasi Bencana". Dishub (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-12.
Legenda dan cerita rakyat Nusantara
Aceh
Sumatera Utara
Riau
Sumatera Barat
Kepulauan Riau
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
Sulawesi Selatan
Papua
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan