Selasa, 20 Oktober 2026
11:56 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari
Thio Thiam Tjong

Thio Thiam Tjong

Bagikan:
Thio Thiam Tjong
張添聰
250px-Thio_Thiam_Tjong.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Thio Thiam Tjong sebagai Penasehat di Kabinet Plt. Gubernur Jenderal H. van Mook
Lahir4 April 1896 (1896-04-04)
Meninggal19 September 1969(1969-09-19) (umur 73)
AlmamaterUniversitas Teknologi Delft
PekerjaanPolitisi, pemimpin komunitas
Masa aktif1920-an – 1960-an
Pasangan menikahGoei Lee Ging
AnakTidak ada
Ayah
Keluarga

Thio Thiam Tjong (lahir pada tanggal 4 April 1896 – meninggal pada tanggal 19 September 1969)[1] dulu adalah seorang politisi, pemimpin komunitas, dan pebisnis asal Indonesia yang karier publiknya membentang mulai akhir era kolonial hingga awal dekade kemerdekaan.[2][3][4][5] Pada tahun 1928, Thio menjadi salah satu pendiri dari Chung Hwa Hui, sebuah partai politik Tionghoa Indonesia. Thio lalu menjadi presiden dari penerus partai tersebut, yakni Persatoean Tionghoa, yang dibentuk pada tahun 1948, dan kemudian diubah namanya menjadi Partai Demokrat Tionghoa Indonesia pada tahun 1950.[2][3]

Karier awal dan latar belakang keluarga

250px-Thio_Thiam_Tjong_and_his_siblings_at_their_family_house_in_Semarang.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Thio Thiam Tjong bersama saudaranya di rumah keluarganya di Semarang pada dekade 1910-an

Thio lahir pada tahun 1896 di Semarang, Jawa Tengah pada pasangan suami istri yang berasal dari keluarga terpandang.[2][3][6] Ayahnya, pebisnis kaya Thio Sing Liong (1871–1940), adalah seorang Tionghoa Peranakan generasi ketiga dan pendiri dari Handel Maatschappij Thio Sing Liong, sebuah perusahaan ekspor-impor terkemuka.[4] Sementara itu, ibunya, Tan Tien Nio, berasal dari kelompok ‘Cabang Atas’ sebagai cucu dari Tan Ing Kie, Kapitan tituler Cina (1835–1895).[4][6] Melalui ibunya, Thio pun merupakan keturunan langsung dari Tan Yok Sing, Kapitan Cina Semarang (1737–1800) di bawah VOC.[4][6] Tan Yok Sing datang ke Hindia Belanda pada pertengahan dekade 1700-an sebagai keturunan dari keluarga Tan (Chen dalam bahasa Mandarin) asal Zhangzhou, Fujian. Seperti sebagian besar orang di kelas sosialnya, Thio mengenyam pendidikan berbasis bahasa Belanda di Semarang. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di sebuah Hogere Burgerschool (HBS) di Leiden, Belanda.[2][3] Ia lalu berkuliah teknik di Universitas Teknologi Delft, tetapi kemudian keluar dari kampus tersebut pada tahun 1922 untuk bergabung ke perusahaan milik ayahnya.[2][3] Setelah ayahnya pensiun pada tahun 1933, Thio pun mengambil alih perusahaan tersebut dan mengembangkannya.[2][3] Thio juga menjadi anggota dewan direksi dari sejumlah perusahaan lain.[2][3]

Kehidupan publik

Thio muncul sebagai seorang pemimpin komunitas pada akhir dekade 1920-an, dan memainkan peran penting dalam Kongres Chung Hwa tahun 1927, yang kemudian mengarah pada pembentukan asosiasi politik Chung Hwa Hui (CHH) pada tahun 1928.[7][8] CHH lalu dikritik oleh sayap kiri sebagai 'Packard Club', yakni sebutan untuk kepentingan dari perusahaan-perusahaan milik Tionghoa pada masa kolonial, terutama konglomerat Kian Gwan, yang dimiliki oleh ipar Thio, yakni keluarga Oei.[8]

250px-Chung_Hwa_Congress_of_1927.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Thio (pertama dari kiri) sebagai bagian dari Komisi Persiapan Kongres Chung Hwa tahun 1927

Pada dekade 1930-an, Thio menjadi anggota dewan pusat CHH yang dipimpin oleh H. H. Kan, serta menjadi presiden dari cabang CHH di Semarang.[2][3][7][8] Mulai tahun 1930 hingga 1934, Thio menjabat sebagai Chairman Siang Hwee, atau Kamar Dagang Tionghoa, di Semarang.[2][3] Ia juga menjabat sebagai anggota Provincialen Raad van Midden-Java atau Dewan Provinsi Jawa Tengah.[2][3]

Sebelum invasi Jepang ke Hindia Belanda selama Perang Dunia II, Thio memimpin sebuah kelompok anti-Jepang.[2][3] Sehingga selama sebagian besar pendudukan Jepang mulai tahun 1943 hingga 1945, Thio pun ditahan bersama pemimpin politik lain di Cimahi.[2][3] Ia menghabiskan waktunya di sana dengan mempelajari bahasa Mandarin, dan menjadi pemimpin informal bagi para tahanan yang berlatar belakang Tionghoa.[2][3]

Setelah Jepang kalah pada Perang Dunia II, Sukarno dan Hatta pun memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, tetapi proklamasi kemerdekaan tersebut tidak diakui oleh otoritas Belanda maupun oleh Sekutu.[9][10] Saat Belanda kembali ke Hindia Belanda pada bulan Maret 1946, Thio ditunjuk sebagai Penasehat pada Kabinet Darurat NICA yang dipimpin oleh temannya, yakni H. van Mook, Plt. Gubernur Jenderal Hindia Belanda.[9][10][11] Walaupun terlibat dalam visi van Mook untuk membentuk Republik Indonesia Serikat, Thio berupaya tidak mengkritik Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dipimpin oleh Sukarno dan Hatta.[9][10]

Pada tahun 1947, Thio menikahi Goei Lee Ging, sesama keturunan Cabang Atas. Goei adalah keturunan langsung dari Goei Poen Kong, Letnan Cina (1765–1806).[6][12] Mertua Thio adalah Goei Khek Ho dan Oei Bok Nio, yang menikah sebagai bagian dari pernikahan ganda yang juga melibatkan saudari dan saudara mereka masing-masing, yakni Goei Bing-nio dan Oei Tiong Ham, Mayor Cina.[6] Sehingga istri Thio adalah keponakan ipar dari Mayor Oei Tiong Ham, dan sepupu pertama dari anak Oei Tiong Ham, yakni Oei Tjong-lan dan Oei Hui-lan, atau lebih dikenal sebagai Madame Wellington Koo.[6]

Pada tahun 1948, Thio menjadi Presiden dari Persatoean Tionghoa (PT), sebuah komunitas dan organisasi politik Tionghoa Indonesia yang dibentuk pada tahun 1948 menjelang berakhirnya Revolusi Indonesia (1945–1949).[3][9][10][13] Revolusi tersebut meliputi perang kemerdekaan melawan NICA dan revolusi sosial melawan elit pro-Belanda.[3][9][10][13] PT, yang dianggap sebagai penerus CHH, bertujuan untuk mewakili aspirasi politik dari komunitas Tionghoa Indonesia pada akhir revolusi dan penyerahan kekuasaan dari NICA ke otoritas Indonesia.[9][10][13] Setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, di bawah kepemimpinan Thio, PT ditransformasi menjadi Partai Demokrat Tionghoa Indonesia (PDTI) pada tahun 1950.[9][10][13] Liem Koen Hian, pendiri Partai Tionghoa Indonesia, pun menganggap PT dan PDTI sebagai organisasi yang elitis dan tidak dapat berurusan dengan pribumi Indonesia.[8][10] Pasca era kolonial, asosiasi PDTI dengan CHH membuatnya kesulitan. Keterlibatan Thio di organisasi politik pra-revolusi juga membuatnya tidak dapat memainkan peran signifikan di kancah politik Indonesia pasca-revolusi.[8][9][10][13]

Thio Thiam Tjong akhirnya meninggal dalam pengasingannya di Belanda pada tanggal 22 September 1969. Hingga meninggal, Thio belum memiliki anak.[2][3]

Referensi

  1. ↑ "Thio Thiam Tjong - Begraafplaats Westerveld - graf 1112030". Online-Begraafplaatsen.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2022-03-25.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Suryadinata, Leo (1995). Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches (dalam bahasa Inggris). Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 191–193. ISBN 978-981-3055-03-2. Diakses tanggal 31 Maret 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Suryadinata, Leo (2012). Southeast Asian Personalities of Chinese Descent: A Biographical Dictionary, Volume I & II (dalam bahasa Inggris). Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 1171–1173. ISBN 978-981-4345-21-7. Diakses tanggal 31 Maret 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. 1 2 3 4 Galikano, Silvia (25 Januari 2020). "Thio Thiam Tjong dan Arus Politik Sang Penerus". gaya hidup. CNN Indonesia. CNN Indonesia. Diakses tanggal 31 Maret 2021.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Leo Suryadinata (1995). Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches. Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 191–. ISBN 978-981-3055-03-2.
  6. 1 2 3 4 5 6 Haryono, Steve (2017). Perkawinan Strategis: Hubungan Keluarga Antara Opsir-opsir Tionghoa Dan 'Cabang Atas' Di Jawa Pada Abad Ke-19 Dan 20 (dalam bahasa Inggris). Utrecht: Steve Haryono. ISBN 978-90-90-30249-2. Diakses tanggal 31 Maret 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. 1 2 Liem, Hoo Soei (1 Februari 2013). "The Chung Hwa Congress of 1927". Chinese Indonesian Heritage Center. Leiden University. Diakses tanggal 31 Maret 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. 1 2 3 4 5 Suryadinata, Leo (1976). Peranakan Chinese Politics in Java, 1917–42 (dalam bahasa Inggris). Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. Diakses tanggal 31 Maret 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lee, Khoon Choy (1993). Diplomacy of a Tiny State (dalam bahasa Inggris). Singapore: World Scientific. ISBN 978-981-02-1219-3. Diakses tanggal 31 Maret 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lev, Daniel S. (2011). No Concessions: The Life of Yap Thiam Hien, Indonesian Human Rights Lawyer (dalam bahasa Inggris). Washington: University of Washington Press. ISBN 978-0-295-80177-3. Diakses tanggal 31 Maret 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ "Het Parool". Adviseurs van dr. Van Mook (dalam bahasa Belanda). Het Parool. Het Parool. 20 Juli 1947. Diakses tanggal 31 Maret 2021.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ "Een Huwelijk". www.delpher.nl (dalam bahasa Belanda). De Groot, Kolff & Co. De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad. 20 Oktober 1947. Diakses tanggal 31 Maret 2021.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. 1 2 3 4 5 McIntyre, Angus (1993). Indonesian Political Biography: In Search of Cross-cultural Understanding (dalam bahasa Inggris). Centre of Southeast Asian Studies, Monash University. ISBN 978-0-7326-0474-5. Diakses tanggal 31 Maret 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan