Mahyiddin di Tiro | |
|---|---|
| Wali Negara Aceh ke-7[a] | |
| Masa jabatan 21 Mei 1910[b] –5 September 1910 | |
| Pendahulu | Muhammad Ali Zainal Abidin di Tiro |
| Pengganti | Maat di Tiro |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Mahyiddin bin Muhammad Saman |
| Meninggal | 5 September 1910 |
| Sebab kematian | Gugur akibat tembakan dalam Pertempuran Pucok Alue Simi |
| Makam | Pulo Masjid, Tangse, Pidie[c] |
| Suami/istri |
|
| Anak |
|
| Orang tua | |
| Kerabat |
|
| Pekerjaan | Ulama, pemimpin agama, panglima perang |
Dikenal karena | Pemimpin perlawanan keluarga Tiro pada fase akhir Perang Aceh |
| Karier militer | |
| Pihak | Kesultanan Aceh |
| Pertempuran/perang | Perang Aceh
|
Teungku Chik Mahyiddin di Tiro (meninggal 5 September 1910), juga ditulis Mahyeddin, Mahjeddin, dan dikenal sebagai Teungku Chik Mayed atau Teungku Chik Mayet, adalah seorang ulama, pemimpin perang dan tokoh perlawanan Aceh terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda pada fase akhir Perang Aceh. Ia merupakan salah seorang putra Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman dan salah satu anggota generasi kedua keluarga Tiro yang meneruskan perjuangan bersenjata setelah meninggalnya Muhammad Saman pada 1891.[1]
Mahyiddin merupakan kakek dari Hasan di Tiro melalui putrinya, Fathimah atau Teungku Pocut. Istrinya yang lain adalah Pocut Mirah Gambang, putri Cut Nyak Dhien dan Teuku Ibrahim Lamnga. Bersama keluarga Tiro lainnya, Mahyiddin tetap melakukan perang gerilya di pegunungan Pidie dan Tangse ketika sebagian besar pemimpin utama Aceh telah menghentikan perlawanan terbuka.
Pada 21 Mei 1910 ia terlibat dalam Pertempuran Gunung Alimon atau Gunung Halimon. Pocut Mirah Gambang, saudaranya Teungku di Buket, dan sejumlah pemimpin Aceh gugur dalam pertempuran tersebut, sedangkan Mahyiddin berhasil meloloskan diri bersama Pang Rabo.[2]
Setelah beberapa bulan diburu pasukan Marsose di bawah H.J. Schmidt, Mahyiddin akhirnya ditemukan dan gugur pada 5 September 1910 dalam Pertempuran Pucok Alue Simi di kawasan Tangse. Hasan di Tiro menyebutnya sebagai kepala negara Aceh ketika gugur dan menyatakan bahwa kepemimpinan kemudian diteruskan oleh keponakannya, Ma'ad atau Maat di Tiro.[2]
Nama dan lakap
Nama tokoh ini ditulis dengan berbagai bentuk dalam sumber.
Ibrahim Alfian mencatatnya sebagai:
- Tgk. Mahiddin alias Chik Mayét
dan menyatakan ia gugur di Tangse pada 5 September 1910.[1]
Hasan di Tiro menggunakan bentuk:
- Tengku Tjhik Mahyeddin (Mayed) di Tiro.[2]
Dalam silsilah keluarga Tiro yang terdapat pada arsip keluarga, namanya ditulis:
- Tengku M. Mahjeddin
dan diberi keterangan sebagai Head of State 1904–1910 serta gugur pada 1910.[3]
Silsilah keluarga Teungku Chik di Tiro tahun 1970 menggunakan bentuk Mahjiddin (Tgk. Sjhik Maad). Variasi Maad, Mayed, dan Mayet perlu dibedakan dari Ma'ad/Maat bin Muhammad Amin, yaitu keponakan Mahyiddin yang kemudian menggantikannya dalam kepemimpinan perjuangan.
Keluarga

Mahyiddin adalah salah seorang putra Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman. Silsilah keluarga mencatat enam anak Muhammad Saman:
- Fathimah;
- Muhammad Amin atau Teungku Mat Amin;
- Mahyiddin atau Teungku Chik Mayed;
- Ubaidillah atau Teungku Bet;
- Zainal Abidin atau Teungku Buket; dan
- Sulaiman atau Teungku Lambada.
Silsilah M.H. du Croo yang direproduksi Ibrahim Alfian juga mencatat Mahyiddin sebagai salah seorang putra Muhammad Saman dan menyebutnya gugur di Tangse pada 5 September 1910.[1]
Hampir seluruh putra laki-laki Muhammad Saman terlibat secara langsung dalam perang melawan Belanda dan gugur dalam pertempuran.
Pernikahan
Mahyiddin diketahui menikah setidaknya dengan Cut Asiah dan Pocut Mirah Gambang.
Pocut Mirah Gambang adalah putri Cut Nyak Dhien dari perkawinannya dengan Teuku Ibrahim Lamnga. Ia ikut bergerilya bersama Mahyiddin di pegunungan Pidie dan Tangse sampai gugur dalam Pertempuran Gunung Halimon pada 21 Mei 1910.[4]
Menurut keterangan Zainal Abidin, cucu Mahyiddin, Abdullah merupakan putra Mahyiddin dari perkawinannya dengan Pocut Mirah Gambang, sedangkan Teungku Umar Tiro dan Fathimah merupakan anaknya dari perkawinan dengan Cut Asiah.[4]
Anak dan keturunan
Mahyiddin mempunyai tiga orang anak yang dicantumkan dalam silsilah keluarga:
- Teungku Umar Tiro;
- Fathimah atau Teungku Pocut; dan
- Abdullah atau Teungku Amin Tiro.
Fathimah kemudian menjadi ibu dari Hasan di Tiro. Dengan demikian, Mahyiddin adalah kakek Hasan di Tiro dari pihak ibu.
Hasan berulang kali menyebut Mahyiddin sebagai my grandfather dalam catatan hariannya dan menjadikan pertempuran terakhir kakeknya sebagai salah satu peristiwa penting dalam ingatan sejarah keluarganya.[2]
Latar belakang keluarga Tiro
Keluarga Tiro merupakan salah satu keluarga ulama yang mempunyai pengaruh besar dalam Perang Aceh. Jaringan dayah Tiro di Pidie menjadi pusat pendidikan agama sekaligus salah satu basis mobilisasi Prang Sabi.
Ayah Mahyiddin, Muhammad Saman, tampil sebagai salah seorang pemimpin utama perlawanan sejak awal dasawarsa 1880-an. Setelah Muhammad Saman meninggal pada 1891, perjuangan diteruskan secara berturut-turut oleh putra-putranya.
Muhammad Amin gugur pada 1896, Ubaidillah gugur pada 1899, dan Sulaiman atau Teungku Lambada gugur pada 1904.
Mahyiddin dan saudaranya, Muhammad Ali Zainal Abidin atau Teungku di Buket, menjadi dua tokoh keluarga Tiro yang masih mempertahankan perlawanan sampai 1910.
Fase akhir Perang Aceh
Menjelang dasawarsa 1910, keadaan perang telah berubah secara drastis. Pusat-pusat pemerintahan dan pertahanan besar Aceh sebagian besar telah dikuasai pemerintah kolonial.
Sultan Muhammad Daud Syah telah menyerahkan diri pada 1903 dan kemudian dibuang dari Aceh. Panglima Polem juga menghentikan perlawanan terbukanya.
Namun perang tidak sepenuhnya berakhir. Kelompok-kelompok ulama, panglima lokal dan gerilyawan masih bergerak di daerah pedalaman dan pegunungan.
Di Pidie, keluarga Tiro merupakan salah satu jaringan utama yang masih menolak menghentikan perlawanan.
Perang gerilya di Tangse
Mahyiddin kemudian menjadikan kawasan pegunungan Tangse dan daerah sekitarnya sebagai salah satu medan gerilyanya.
Medan tersebut terdiri dari hutan, lembah sungai, perbukitan dan jalur-jalur pegunungan yang sulit ditembus pasukan kolonial. Kelompok Aceh dapat bergerak melalui rute-rute tersembunyi dan memperoleh logistik dari penduduk yang masih mendukung perjuangan.
Pemerintah kolonial kemudian mengerahkan pasukan Marsose untuk melakukan pengejaran secara langsung terhadap kelompok Mahyiddin.
Menurut H.C. Zentgraaff sebagaimana dikutip kemudian oleh sejumlah penulis, operasi khusus terhadap para pemimpin Tiro di kawasan tersebut dipimpin oleh H.J. Schmidt.[4]
Operasi H.J. Schmidt tahun 1910
Operasi besar untuk memburu Mahyiddin dan para pemimpin gerilya lainnya dimulai pada 28 Februari 1910.
Sasaran operasi Schmidt antara lain:
- Mahyiddin di Tiro;
- Teungku di Buket;
- Teungku Dagang Blang Jeurat atau Teungku di Tangse;
- Peutua Gam Masen; dan
- sejumlah pemimpin serta pengikut gerilya lain.[4]
Pasukan Marsose menggunakan satuan kecil yang bergerak melalui hutan untuk menghindari diketahui masyarakat. Mereka mengikuti jalur suplai, jejak kaki, tempat-tempat peristirahatan, ladang di pegunungan dan informasi yang diperoleh selama operasi.
Dukungan masyarakat terhadap kelompok Tiro membuat pengejaran berlangsung selama berbulan-bulan.
Pertempuran Gunung Halimon
Pada 21 Mei 1910 terjadi pertempuran besar di Gunung Alimon atau Gunung Halimon.
Menurut Hasan di Tiro, sejumlah anggota keluarganya terlibat langsung dalam pertempuran tersebut. Istrinya, Pocut Mirah Gambang, gugur dalam pertempuran pada usia sekitar 30 tahun.[2]
Saudara Mahyiddin, Teungku di Buket, yang oleh Hasan disebut sebagai kepala negara Aceh ketika itu, juga gugur dalam pertempuran tersebut.
Hasan turut menyebut Teungku Sjech Saman, keponakan Mahyiddin yang berusia sekitar 18 tahun dan merupakan kakak Ma'at di Tiro, sebagai salah seorang anggota keluarga yang gugur. Sejumlah pemimpin lain, termasuk Habib Teupin Wan dan putranya Habib Cut, juga disebut tewas.[2]
Mahyiddin sendiri tidak gugur di Gunung Halimon. Ia berhasil keluar dari medan pertempuran bersama Pang Rabo dan beberapa pengikut lainnya.[2]
Peristiwa ini penting karena menjelaskan kekeliruan yang kemudian muncul dalam sejumlah tulisan yang menempatkan kematian Mahyiddin di Gunung Halimon. Gunung Halimon merupakan medan pertempuran penting dalam perjuangannya, tetapi bukan lokasi kematian akhirnya.
Pengejaran setelah Gunung Halimon
Setelah Pertempuran Gunung Halimon, pasukan kolonial terus memburu Mahyiddin.
Pada 22 Mei 1910, pasukan di bawah Sersan Mollier menemukan sejumlah anggota kelompok gerilya, termasuk seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun yang ternyata merupakan anak Mahyiddin.[4]
H.C. Zentgraaff mencatat bahwa anak tersebut memberikan sejumlah keterangan dengan polos tanpa memahami akibat militernya. Ia mengatakan bahwa ayahnya menggunakan sepatu dan menyebut bahwa ladang jagung keluarganya berada di Alue Simi.[4]
Zentgraaff tidak menyebut nama anak tersebut. Berdasarkan silsilah dan urutan usia, sumber keluarga kemudian menduga bahwa anak itu adalah Abdullah, putra bungsu Mahyiddin.
Informasi mengenai Alue Simi kemudian mempunyai arti penting karena beberapa bulan berikutnya Mahyiddin akhirnya ditemukan tidak jauh dari kawasan tersebut.
Pertempuran Pucok Alue Simi
Pertempuran terakhir Mahyiddin berlangsung pada 5 September 1910 di Pucok Alue Simi, kawasan Tangse.
Hasan di Tiro menyebut peristiwa tersebut sebagai Battle of Putjok Alue Simi dan menjadikannya salah satu peristiwa utama dalam ingatan sejarah keluarga Tiro.[2]
Menurut catatan Hasan, Mahyiddin terkena dua tembakan di bagian dada atau jantung dan meninggal akibat luka tersebut.
Hasan mengutip laporan H.J. Schmidt yang menggambarkan Mahyiddin sebagai seorang pemimpin yang cakap, cerdik dan bertekad keras. Dalam kutipan tersebut Schmidt juga menyatakan bahwa masyarakat Aceh mengenal Mahyiddin dengan julukan:
- Tanglong Nanggroe — "Lampu Negeri".[2]
Schmidt memandang kematian Mahyiddin bukan hanya sebagai keberhasilan militer tetapi juga kemenangan politik, karena pengaruh pemimpin Tiro tersebut di tengah masyarakat dianggap sangat besar.
Upaya membujuk Mahyiddin menyerah
Menurut Hasan di Tiro, pada jenazah Mahyiddin ditemukan sebuah surat pemerintah kolonial yang sebelumnya menawarkan berbagai jaminan kepadanya apabila ia bersedia menghentikan perang dan berdamai dengan Belanda.[2]
Surat tersebut disebut tidak pernah dijawab.
Dalam tradisi keluarga Tiro, tidak dijawabnya surat itu kemudian dipandang sebagai simbol penolakan Mahyiddin terhadap penyerahan diri.
Keterangan mengenai surat tersebut berasal terutama dari catatan Hasan di Tiro yang menyatakan bahwa informasi itu terdapat dalam laporan Schmidt. Karena itu rincian isi dan konteks surat perlu dibedakan dari dokumen sezaman yang telah diverifikasi secara terpisah.
Wali Negara Aceh
Hasan di Tiro secara eksplisit menyebut Mahyiddin sebagai:
- Head of State of Acheh Sumatra
ketika ia gugur dalam Pertempuran Pucok Alue Simi pada 5 September 1910.[2]
Dalam susunan yang digunakan dalam rangkaian artikel ini, garis kepemimpinan adalah:
- Tuanku Hasyim Banta Muda;
- Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman;
- Muhammad Amin di Tiro;
- Ubaidillah di Tiro;
- Sulaiman atau Teungku Lambada;
- Muhammad Ali Zainal Abidin atau Teungku di Buket; dan
- Mahyiddin di Tiro.
Dalam susunan tersebut Mahyiddin merupakan Wali Negara Aceh ke-7.
Hasan menyatakan bahwa Teungku di Buket adalah kepala negara sebelum kakeknya. Karena Teungku di Buket gugur pada 21 Mei 1910, Mahyiddin dapat ditempatkan sebagai penerusnya sampai gugur pada 5 September 1910.[2]
Setelah Mahyiddin gugur, Hasan menyebut rakyat Aceh memilih keponakannya:
Teungku Chik Ma'at di Tiro
untuk menggantikannya.[2]
Perbedaan kronologi kepemimpinan
Terdapat persoalan historiografis dalam menentukan awal masa kepemimpinan Mahyiddin.
Pada uraian prosa dalam The Price of Freedom, Hasan di Tiro dengan jelas menyatakan bahwa Teungku di Buket merupakan:
- the Head of State of Acheh before my grandfather
dan dalam catatan 5 September 1977 menyebut Mahyiddin sebagai kepala negara ketika gugur.[2]
Berdasarkan keterangan itu, urutannya adalah:
Teungku di Buket → Mahyiddin → Ma'at.
Namun, bagan genealogis keluarga yang juga dimuat dalam buku yang sama memberikan susunan berbeda. Bagan tersebut mencantumkan:
- Tengku M. Mahjeddin — Head of State 1904–1910
sementara Muhammad Ali Zainul Abidin/Teungku di Buket hanya diberi keterangan gugur pada 1910 tanpa gelar kepala negara.[3]
Perbedaan internal tersebut belum sepenuhnya dapat dijelaskan.
Kemungkinan bagan menggunakan konsep kepala keluarga atau kepemimpinan utama Tiro yang lebih luas, sedangkan catatan harian Hasan merekam suatu urutan kepemimpinan politik yang lebih spesifik. Namun penjelasan tersebut masih bersifat interpretatif.
Karena itu artikel ini menggunakan Mei–September 1910 sebagai masa kepemimpinan Mahyiddin dalam urutan Wali Negara yang memasukkan Teungku di Buket sebagai pendahulunya, tetapi tetap mencatat versi keluarga yang memberikan masa 1904–1910.
Wafat dan pemakaman
Mahyiddin gugur pada 5 September 1910 akibat tembakan dalam Pertempuran Pucok Alue Simi.
Menurut Hasan di Tiro, setelah tertembak Mahyiddin sempat mendapatkan penanganan dari tenaga medis Belanda. Tubuhnya kemudian dibawa untuk dimakamkan di Tangse.[2]
Hasan mencatat bahwa ribuan orang Aceh mengikuti prosesi pemakamannya. Potongan kain pembalut yang berlumuran darah Mahyiddin juga disebut disimpan oleh sebagian masyarakat Tangse sebagai benda kenangan terhadap pemimpin tersebut.[2]
Dalam catatan Hasan pada 1977, Mahyiddin dan Ma'at di Tiro disebut dimakamkan berdampingan di Pulo Meuseudjid (Pulo Masjid), Tangse.[2]
Keterangan ini berbeda dengan sejumlah silsilah keluarga yang menghubungkan makam Mahyiddin secara lebih umum dengan kawasan Alue Simi atau Geumpang. Karena itu lokasi pemakamannya perlu dibedakan dari lokasi pertempuran terakhirnya.
Penerus
Kematian Mahyiddin belum mengakhiri perlawanan keluarga Tiro.
Hasan di Tiro menyatakan bahwa setelah Mahyiddin gugur, rakyat Aceh memilih keponakannya, Ma'ad/Maat bin Muhammad Amin, sebagai penerus kepemimpinan.[2]
Ma'at merupakan putra Muhammad Amin dan cucu Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman.
Ia masih berusia sangat muda ketika mengambil alih kepemimpinan. Perjuangannya berlangsung sampai ia gugur dalam Pertempuran Alue Bhot, Tangse, pada 3 Desember 1911.
Dengan kematian Ma'at, garis kepemimpinan bersenjata keluarga Tiro pada fase Perang Aceh mengalami pukulan besar.
Hubungan dengan Hasan di Tiro
Mahyiddin mempunyai kedudukan khusus dalam ingatan keluarga Hasan di Tiro.
Hasan adalah cucunya melalui Fathimah atau Teungku Pocut. Dalam The Price of Freedom, Hasan berulang kali mengenang pertempuran yang melibatkan kakeknya dan anggota keluarga Tiro lainnya.
Tanggal 5 September kemudian dijadikan dalam gerakan Hasan sebagai hari peringatan Pertempuran Pucok Alue Simi.
Hasan memandang perjuangan Mahyiddin sebagai bagian dari kesinambungan politik dan militer keluarga Tiro, yang kemudian digunakannya sebagai salah satu unsur dalam narasi sejarah perjuangan Aceh pada abad ke-20.
Julukan Tanglong Nanggroe
Salah satu keterangan menarik mengenai Mahyiddin adalah penyebutan Tanglong Nanggroe.
Dalam catatan Hasan yang mengutip H.J. Schmidt, julukan tersebut diterjemahkan sebagai "The Light of the Land" atau "Lampu Negeri".[2]
Istilah Aceh tanglong berarti pelita atau lampu, sedangkan nanggroe berarti negeri atau negara.
Julukan tersebut menggambarkan besarnya pengaruh Mahyiddin dalam jaringan perlawanan Aceh pada fase akhir perang.
Karena sumber yang tersedia menyampaikannya melalui kutipan Hasan atas Schmidt, status julukan tersebut lebih aman ditulis sebagai keterangan yang direkam dalam tradisi tersebut daripada sebagai gelar resmi.
Historiografi
Mayed, Mayet, Maad dan Maat
Nama Mahyiddin sering disertai lakap yang dieja Mayed, Mayet atau Maad.
Hal tersebut berpotensi menimbulkan kekeliruan dengan keponakannya, Ma'ad/Maat bin Muhammad Amin.
Keduanya merupakan orang berbeda:
- Mahyiddin/Mayed — putra Muhammad Saman, gugur 5 September 1910; dan
- Ma'ad/Maat — putra Muhammad Amin dan cucu Muhammad Saman, gugur 3 Desember 1911.
Tempat kematian
Ibrahim Alfian memberikan lokasi umum Tangse untuk kematian Mahyiddin.[1]
Hasan di Tiro memberikan lokasi lebih spesifik:
Pucok Alue Simi.
Karena itu bentuk yang lebih tepat adalah Pucok Alue Simi, kawasan Tangse, Pidie.
Gunung Halimon tidak sebaiknya dicantumkan sebagai tempat kematian Mahyiddin karena Hasan secara eksplisit menyatakan bahwa Mahyiddin selamat dari pertempuran di Gunung Alimon pada 21 Mei 1910 dan baru gugur pada 5 September.
Masa sebagai Wali Negara
Terdapat dua tradisi utama:
- prosa Hasan di Tiro: Teungku di Buket menjadi kepala negara sebelum Mahyiddin, sehingga Mahyiddin memimpin pada fase antara Mei dan September 1910;
- bagan genealogis keluarga: Mahyiddin dicantumkan sebagai Head of State 1904–1910.[3]
Karena kedua keterangan berasal dari lingkungan keluarga yang sama tetapi tidak sepenuhnya konsisten, perbedaan tersebut perlu tetap dicatat.
Makam
Hasan di Tiro secara eksplisit menyatakan Mahyiddin dan Ma'at dimakamkan berdampingan di Pulo Meuseudjid, Tangse.
Silsilah dan tradisi lokal lainnya memberikan lokasi yang dikaitkan dengan Alue Simi. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh penyebutan kawasan yang berbeda, pemindahan jenazah, atau variasi tradisi keluarga, tetapi belum dapat dipastikan tanpa penelitian situs makam.
Warisan
Mahyiddin termasuk di antara pemimpin terakhir generasi putra Muhammad Saman yang masih aktif dalam Perang Aceh.
Kematiannya dipandang penting oleh pihak Belanda karena besarnya pengaruh keluarga Tiro. Dalam catatan Hasan yang mengutip Schmidt, pasukan kolonial bahkan merayakan keberhasilan tersebut karena menganggap hilangnya Mahyiddin akan melemahkan perlawanan secara politik maupun militer.[2]
Namun perlawanan tetap berlanjut di bawah Ma'at di Tiro.
Kisah Mahyiddin juga memperlihatkan sifat perang Aceh pada fase akhirnya: perlawanan tidak lagi berpusat pada benteng dan pasukan besar, tetapi pada kelompok gerilya kecil yang bergerak di hutan serta pegunungan dan bergantung pada dukungan masyarakat setempat.
Melalui garis keturunannya, terutama Fathimah dan Hasan di Tiro, riwayat Mahyiddin kemudian mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan ingatan politik keluarga Tiro pada abad ke-20.
Lihat pula
- Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman
- Teungku Chik Muhammad Amin di Tiro
- Teungku Chik Ubaidillah di Tiro
- Teungku Chik Sulaiman di Tiro
- Zainal Abidin Teungku di Buket
- Teungku Chik Muadz di Tiro
- Pocut Mirah Gambang
- Cut Nyak Dhien
- Hasan di Tiro
- Perang Aceh
- Prang Sabi
- Wali Negara Aceh
- Wali Nanggroe
- Tangse, Pidie
Catatan
- ↑ Penomoran Wali Negara/Wali Nanggroe pada masa Perang Aceh tidak seragam. Dalam susunan yang menempatkan Tuanku Hasyim Banta Muda sebagai Wali Negara pertama, Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman sebagai kedua, Muhammad Amin sebagai ketiga, Ubaidillah sebagai keempat, Sulaiman/Lambada sebagai kelima, dan Muhammad Ali Zainal Abidin/Teungku di Buket sebagai keenam, Mahyiddin menjadi Wali Negara ketujuh. Bagan silsilah keluarga dalam The Price of Freedom, sebaliknya, mencantumkan Mahyiddin sebagai Head of State 1904–1910 tanpa memberikan jabatan serupa kepada Teungku di Buket.
- ↑ Tanggal ini merupakan rekonstruksi berdasarkan keterangan Hasan di Tiro bahwa Teungku di Buket, yang disebutnya kepala negara sebelum Mahyiddin, gugur dalam Pertempuran Gunung Alimon pada 21 Mei 1910. Bagan genealogis keluarga memberikan masa kepemimpinan Mahyiddin yang lebih panjang, yaitu 1904–1910.
- ↑ Hasan di Tiro menyatakan bahwa Mahyiddin dimakamkan di Pulo Meuseudjid/Pulo Masjid, Tangse, berdampingan dengan Ma'at di Tiro. Tradisi keluarga lain menghubungkan makamnya dengan kawasan Alue Simi.
Referensi
- 1 2 3 4 Alfian, Ibrahim (1987). Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873–1912. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. hlm. 275.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 di Tiro, Hasan Muhammad (1984). The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro. National Liberation Front of Acheh Sumatra. hlm. 70, 97.
- 1 2 3 di Tiro, Hasan Muhammad (1984). The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro. National Liberation Front of Acheh Sumatra. Genealogy of the Tengku Tjhik di Tiro.
- 1 2 3 4 5 6 Firdaus (9 Februari 2020). "Sepatu Teungku Mahyeddin di Tiro". SinarPidie.
Daftar pustaka
- Alfian, Ibrahim (1987). Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873–1912. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
- di Tiro, Hasan Muhammad (1984). The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro. National Liberation Front of Acheh Sumatra.
- du Croo, M.H. (1943). Maréchaussée in Atjeh.
- Van 't Veer, Paul (1985). Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje. Jakarta: Grafiti Pers.
- Zentgraaff, H.C. (1938). Atjeh.
- Firdaus (9 Februari 2020). "Sepatu Teungku Mahyeddin di Tiro". SinarPidie.