Senin, 12 Oktober 2026
22:30 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM

Teorema Stolper–Samuelson

Bagikan:

Teorema Stolper–Samuelson adalah teorema dasar dalam model Heckscher–Ohlin. Model ini mendeskripsikan hubungan antara harga relatif barang dengan perolehan faktor relatif, seperti gaji dan pendapatan modal.

Menurut teorema ini, berdasarkan beberapa asumsi ekonomi seperti skala hasil yang konstan, persaingan sempurna, dan kesetaraan jumlah faktor yang digunakan untuk sejumlah produk, peningkatan harga relatif suatu barang akan mengakibatkan peningkatan skala hasil faktor yang digunakan secara intensif untuk produksi barang tersebut, dan kejatuhan untuk skala hasil faktor lain.

Teorema ini dibuat oleh Wolfgang Stolper dan Paul Samuelson pada tahun 1941.[1]

Asal

Anggaplah ada suatu ekonomi yang hanya menghasilkan gandum dan pakaian, dengan buruh dan tanah sebagai satu-satunya faktor produksi. Gandum adalah industri yang menggunakan tanah secara intensif, sementara pakaian menggunakan buruh secara intensif. Asumsikan pula bahwa harga setiap produk sama dengan biaya marginalnya.

Harga baju adalah:

(1) P ( C ) = a r + b w , {\displaystyle P(C)=ar+bw,\,} {\displaystyle P(C)=ar+bw,\,}

dengan P(C) sebagai harga baju, r biaya sewa yang dibayarkan untuk pemilik tanah, w gaji, a jumlah tanah yang digunakan, dan b jumlah buruh yang digunakan.

Harga gandum adalah:

(2) P ( W ) = c r + d w {\displaystyle P(W)=cr+dw\,} {\displaystyle P(W)=cr+dw\,}

dengan P(W) sebagai harga gandum r sewa, w gaji, c jumlah tanah yang digunakan, dan d jumlah buruh yang digunakan.

Jika harga baju naik, paling tidak salah satu faktornya juga menjadi lebih mahal, karena jumlah relatif buruh dan tanah tidak dipengaruhi oleh harga yang berubah. Dapat diasumsikan bahwa yang menjadi lebih mahal adalah buruh, faktor yang digunakan secara intesif untuk produksi baju.

Ketika gaji naik, sewa harus turun agar persamaan 2 tetap benar. Namun jatuhnya harga sewa juga memengaruhi persamaan 1. Agar persamaannya tetap benar, peningkatan gaji harus lebih dari proporsional terhadap peningkatan harga baju.

Maka, peningkatan harga produk akan secara proporsional meningkatkan skala hasil faktor yang digunakan paling intensif, dan kejatuhan skala hasil faktor yang tidak digunakan secara intensif.

Referensi

  1. ↑ Stolper, W. F. & Samuelson, P. A. (1941), "Protection and Real Wages", Review of Economic Studies, 9 (1): 58–73, doi:10.2307/2967638.

Beyer, H., P. Rojas, and R. Vergara (1999), “Trade liberalization and wage inequality”, Journal of Development Economics, vol. 59, pp. 103-123.

Gonzaga, Gustavo, Menezes Filho, Naércio; and Terra, Christina (2006) "Trade Liberalization and the Evolution of Skill Earnings Differentials in Brazil" Journal of International Economics 68(2), March, pp. 345-367.

Lopez-Calva, Luis F. & Nora Lustig (eds) "Declining Inequality in Latin America: A Decade of Progress?" Brookings Institution Press, Baltimore, 2010.

Robertson, Raymond (2004) “Relative Prices and Wage Inequality: Evidence from Mexico” Journal of International Economics vol 64, n2 (December), pp. 387-409.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan